Si Teratai Merah (Ang-lian Li-hiap) - 87

Diposting oleh Saiful bahri dari situbondo pada 15:03, 03-Mei-15

Cerita Silat | Si Teratai Merah | By Asmaraman S. Kho Ping Hoo | Si Teratai Merah | Ang-lian Li-hiap | Si Teratai Merah pdf

Siluman Ular Putih ~ Lukisan Darah Pendekar Rajawali Sakti - 175. Manusia Lumpur Pendekar Rajawali Sakti - 177. Siluman Pemburu Perawan Pendekar Rajawali Sakti - 178. Satria pondok ungu Pendekar Rajawali Sakti - 179. Patung Dewi Ratih

semua tenaga dalam ke arah
  tangannya dan sambil berkata, “Lo-suhu, terima kasih
  atas budi kebaikanmu!” ia menggunakan tangannya
  mencabut cawan itu. Ia melihat betapa kedua lengan
  hwesio itu bergemetar dan akhirnya terpaksa hwesio
  itu melepaskan cawan ke tangan Cin Han.
  “Sungguh kau seorang pemuda yang luar biasa Lo-
  taihiap.” Hwesio itu memuji dan duduk kembali ke
  kursinya sambil menyusut beberapa tetes arak yang
  tadi tumpah ke tangannya.
  Si Bayangan Iblis tampaknya girang sekali melihat hal
  ini, dan ia mengangkat kursinya mendekat Cin Han.
  Wajahnya berseri-seri ketika ia bertanya, “Lo-taihiap,
  bolehkah kami mengetahui nama guru taihiap yang
  mulia?”
  Ketika Cin Han menyebut nama Gwat Liang Tojin,
  Hong Su mengangguk-anggukkan kepala dan Tie
  Bong menjulurkan lidahnya. “Oo, tidak tahunya
  taihiap adalah murid dari Kong-hwa-san! Pantas saja
  begitu lihai!”
  Pada saat itu Lie Thung datang menghampiri Cin Han
  dan menyerahkan baju luarnya, kemudian dengan
  perlahan sekali bekas bajak yang kini menjabat
  pangkat kepala bagian penyelidik dalam perkumpulan
  itu mendekati ketua Kwie-coa-pai dan berbisik. Kwie-
  eng-cu Hong Su tampak terkejut dan segera berdiri.
  “Saudara-saudara, ada urusan penting. Silakan
  berkumpul di kamar dalam dan kau juga dipersilakan
  ikut, Lo-taihiap.”
  Semua orang yang duduk di meja itu, yakni kedua
  pengemis aneh, hwesio, bekas pembesar, Thio Lok
  dan juga Lie Thung, berdiri dan beramai-ramai masuk
  ke ruangan sebelah dalam. Cin Han tadinya ragu-ragu,
  tapi melihat Lie Thung mengangguk kepadanya,
  terpaksa ia ikut juga. Mereka menuju ke sebuah
  kamar yang terletak di bagian paling dalam.
  Kamar itu terhias gambar-gambar indah, merupakan
  kamar tamu dan di tengah-tengah terdapat sebuah
  meja besar dikelilingi banyak kursi. Atas isyarat Hong
  Su, semua orang mengambil tempat duduk. Kemudian
  ketua itu, setelah memandang mereka seorang demi
  seorang dengan paras muka bersungguh-sungguh,
  berkata kepada Cin Han.
  “Saudara Lo yang gagah. Sebagai seorang baru tentu
  kau masih belum mengerti akan hal-hal kami, maka
  terlebih dulu biarlah kuuraikan secara singkat padamu.
  Kami yang duduk di sini adalah pendiri dan pengurus
  perkumpulan kami Kwie-coa-pai. Perkumpulan kami
  mendapat tunjangan dari rakyat dan pemerintah
  karena maksud dan tujuan perkumpulan kami adalah
  untuk melindungi rakyat dan membela pemerintah.
  “Kami mengumpulkan orang-orang gagah dari seluruh
  propinsi dan membuat gerakan membasmi para
  penjahat pengacau pemerintah dan pengganggu
  rakyat. Kita orang-orang kasar yang hanya
  mengandalkan tenaga untuk membuat jasa mengapa
  tidak menggunakan kesempatan ini untuk berbuat
  sedikit kebaikan dengan mengusir segala sumber
  kekacauan? Maka, melihat kepandaian dan
  kejujuranmu, kami suka sekali menerimamu sebagai
  seorang saudara seperjuangan. Bagaimana
  pendapatmu, saudara Lo?”
  Lo Cin Han biarpun memiliki kepandaian tinggi, namun
  ia masih sangat muda dan boleh dikata ia buta politik.
  Ia hampir tidak mengerti sama sekali tentang
  keadaan sebenar dari pemerintah bangsa Boan yang
  pada waktu itu menjajah seluruh permukaan bumi
  Tiongkok. Iapun tidak tahu sama sekali betapa para
  pembesar Boan dan para pembesar bangsa Han yang
  berjiwa rendah telah menjalankan peng hisapan dan
  penindasan kepada rakyat.
  Ia tidak menyangka sedikitpun juga bahwa Kaisar
  Boan yang cerdik, licin dan penuh tipu muslihat itu
  sedang mengadakan gerakan adu domba di antara
  para hohan yang mengancam kedudukannya. Maka
  kini melihat keadaan perkumpulan Kwie-coa-pai dan
  mendengar pembicaraan ketua perkumpulan itu, ia
  merasa kagum dan tertarik sekali. Seakan-akan
  dibangunkan semangat kepahlawanannya dan iapun
  ingin sekali menyumbangkan tenaganya guna rakyat
  dan negara.
  “Hong lo-enghiong,” jawabnya kemudian. “Para
  saudara di sini ternyata adalah orang-orang berjiwa
  besar yang membuat aku kagum sekali. Mana aku
  yang muda dan bodoh ini dapat disamakan dengan
  saudara-saudara? Tentu saja aku bersedia
  membantumu dalam usaha yang baik ini, karena
  memang telah menjadi kebiasaanku untuk
  membasmi penjahat dan pengacau keamanan
  rakyat.”
  Semua orang di situ merasa gembira sekali
  mendengar jawaban ini. Kemudian Hong Su
  menyatakan bahwa barusan dari para penyelidiknya
  ia mendapat berita bahwa malam nanti gedung
  Pangeran Coa Kok Ong akan diserbu penjahat, dan
  penjahat-penjahat itu kabarnya terdiri dari beberapa
  orang yang berkepandaian tinggi.
  “Cuwi enghiong,” kata Hong Su sambil memandang
  kawan-kawannya, “sekali ini kita menghadapi
  perkara besar karena diantara para penyerbu itu
  terdapat juga Kim-jiauw-eng Nyo Tiang Pek si Garuda
  Kuku Emas!”
  Terdengar seruan kaget dan Cin Han heran mengapa
  nama itu demikian berpengaruh, bahkan ia melihat
  wajah Thio Lok yang biasa tenang itu menjadi pucat.
  Dua pengemis aneh itu saling pandang dan tertawa.
  Si bongkok lalu berkata, “Hm, dia juga datang? Kami
  berdua pernah menguji kepandaiannya dan dengan
  kepandaian kami digabungkan menjadi satu maka
  baru dapat melayaninya. Baiknya di sini kita dibantu
  Lo Cin Han taihiap, maka kita tidak perlu berkhawatir
  lagi.”
  “Sebenarnya, siapakah Garuda Kuku Emas ini?” tanya
  Cin Han yang tidak dapat menahan keinginan
  tahunya lebih lama lagi.
  “Kau belum pernah mendengar namanya?” kata Tie
  Bong Hwesio. “Ia adalah murid dari Kang-lam-taihiap
  Kam Hong Tie dan kepandaiannya tinggi sekali.”
  “Murid Kang-lam-taihiap Kam Hong Tie? Kalau ia murid
  pendekar itu, mengapa kalian menyebut dia seorang
  jahat?” tanya Cin Han karena ia telah mendengar
  beta