Tikam Samurai - 400

Diposting oleh Saiful bahri dari situbondo pada 11:28, 13-Agu-15

Cerita Silat | Tikam Samurai | Karya Makmur Hendrik | Tikam Samurai | Cersil Sakti | Tikam Samurai pdf

A Walk To Remember - Nicholas Sparks Tikam Samurai II - Makmur Hendrik Fear Street - Haunted (Dihantui) Tikam Samurai III - Makmur Hendrik Fear Street - The Wrong Number (Salah Sambung)

ar bagi kita untuk mengawasi yang mana orang Amerika yang pro-Komunis dan mana yang tidak…”
  Para bekas sandera itu memang lebih suka berdiam diri dari pada harus di ancam marabahaya.Itulah sebabnya kenapa masing- masing,mereka umumnya berdiam diri saja ketika dikerubuti para wartawan untuk mendapatkan cerita dari drama pembajakan yang amat menegangkan itu.
  Saat para pembajak akan di naikan kepesawat,gadis Pramugari yang jadi pimpinannya tiba-tiba mengajukan permintaan.
  “Saya ingin mengajukan sebuah permintaan…”katanya ketika dia akan dipindahkan dari mobil tahan peluru kepesawat khusus Angkatan Udara Amerika yang telah menanti.
  Direktur CIA yang menyertai mereka mengangguk menyetujui permintaan untuk mendengarkan permintaan gadis itu.
  “Saya ingin bertemu dengan salah seorang dari penumpang pesawat itu tadi..”
  “Salah satu dari yang anda sandera itu?”
  “Benar…”
  Direktur CIA itu saling pandang dengan petugas keamanan.
  ‘’Jangan khawatir. Dia bukan bahagian dari kami. Dia benar- benar seorang penumpang biasa.
  Seorang lelaki. Saya harap Anda bisa mengerti..’’ Dan tiba-tiba saja Direktur CIA itu menjadi maklum. Dia punya seorang anak gadis yang sebaya dengan pramugari cantik ini.
  Gadisnya itu seorang yang manja.
  ‘’Baik, Anda bisa sebutkan namanya. Tapi kami hanya bisa memberi waktu lima menit. Tak lebih’’ ‘’Terimakasih. Saya justru hanya butuh waktu setengah menit..’’ ‘’Nona, bisa sebutkan namanya, agar kami bawa dia kemari..’’ ‘’Saya tak tahu namanya..’’ Direktur CIA itu tertegun heran.
  ‘’Ya saya tak tahu namanya. Namun saya bisa sebutkan ciri-cirinya’’.
  ‘’Baiklah. Anda sebutkan ciri- cirinya..’’ Yuanita menyebutkan ciri lelaki yang ingin dia temui itu. Di ruang khusus di salah satu tempat dekat lapangan itu, para bekas sandera masih ada yang menunggu pesawat.
  Sebahagian besar diantara mereka telah diterbangkan ke kota masing- masing. Seorang petugas bergegas ke sana. Menyeruak diantara petugas keamanan yang menjaga dengan ketat. Berbisik dan mencari-cari. Kemudian mendekati seorang lelaki.
  ‘’Tuan, Anda diminta datang ke ruang itu..’’ petugas tersebut bicara pada si lelaki. Lelaki itu, yang tak lain daripada si Bungsu , jadi kaget.
  ‘’Saya..?’’ ‘’Ya, Tuan..!’’ Si Bungsu memandang pada Tongky yang tengah duduk bersandar di kursi sambil menaikkan kaki ke meja. Di meja ada dua botol bir yang telah kosong. Sebuah piring yang penuh tulang ayam.
  ‘’Saya dengan teman saya ini?’’ ‘’Tidak, Anda sendirian..’’ Tongky mengedipkan mata. Dan si Bungsu mengikuti petugas itu. Dia segera dibawa ke luar ruangan. Ke sebuah jalan di depan ruang tunggu. Naik ke sebuah jip, kemudian jip itu dipacu ke sudut lapangan yang lain. Lalu berhenti di dekat sebuah pesawat jet kecil yang dijaga dengan ketat. Di dekat tangga, ada tiga orang tegak. Satu diantaranya adalah perempuan.
  Yang segera dikenali oleh si Bungsu sebagai Yuanita.
  ‘’Dia yang Anda maksud..?’’ tanya Direktur CIA itu begitu jip tersebut berhenti.
  Gadis itu mengangguk. Matanya tak lepas menatap si Bungsu yang termangu-mangu di atas jip. Si Bungsu benar-benar tak tahu akan mengapa. Dia turun dari jip itu.
  Kemudian melangkah mendekati gadis yang tetap saja memandangnya tak berkedip.
  Petugas-petugas, termasuk Direktur CIA, menatap setiap gerak kedua orang itu dengan diam. Sebenarnya adalah tak sopan berlaku demikian.
  Menatap sepasang anak muda yang barangkali entah akan mengapa.
  Tapi yang mereka hadapi ini bukan sembarang anak muda. Yang perempuan adalah gembong pembajak komunis yang amat militan.
  Siapa tahu, kesempatan seperti ini dia pergunakan untuk bunuh diri, atau melakukan penyanderaan lagi, misalnya. Jika gerakan mencurigakan seperti itu mereka lihat, mereka sudah siap sedia.
  Gadis ini merupakan salah satu tertuduh utama, dan merupakan mata rantai amat penting dalam menggulung sindikat terorisme internasional. Makanya dia tak boleh diabaikan.
  Itu pula sebabnya, meski dalam keadaan bagaimanapun, dia harus diawasi dengan ketat, walaupun terasa agak kurang sopan. Namun si Bungsu sama sekali tak tahu untuk apa dia datang ke sana.
  Kalaupun benar seperti yang diucapkan Direktur CIA, maka dia juga tak tahu kenapa gadis itu memintanya untuk datang. Dia mendekati gadis itu. Yang rambutnya tergerai ditiup angin di lapangan udara Mexico City itu.
  Kemudian tegak tiga langkah di depanya. Dia masih menatap sejenak. Menatap gadis yang sejak tadi memang telah menantinya.
  ‘’Anda meminta saya untuk kemari, Nona?’’ tanya si Bungsu pelan.
  Gadis itu tak menjawab, melainkan mendekat padanya. Menglurkan tangan untuk bersalaman. Si Bungsu ragu-ragu, namun akhirnya menyambut uluran tangan itu.
  Gadis itu menjabatnya dengan erat, dan tanpa diduga —dan tak dapat dielakkan si Bungsu— Yuanita menarik tangannya mendekat.
  Menyebabkan tubuh mereka saling merapat dan tubuhnya langsung dipeluk gadis itu. Tidak berhenti sampai di sana, gadis itu mencium bibirnya Si Bungsu gelagapan. Namun entah mengapa, dia tidak mau berlaku kurang sopan dan dianggap tidak gentelmen. Perlahan tangan nya membalas memeluk pinggang Yuanita,dan membalas ciumannya.
  Ketika peristiwa itu selesai, dengan masih memegang tangan si Bungsu, gadis itu merenggangkan diri.
  “Terima kasih Love, peluk ciummu kabawa mati. Sebentar lagi…”ujarnya dengan mata berkaca. Kemudian gadis itu berbalik, menuju kepesawat yang menunggu dari tadi. Setelah pesawat itu berangkat, si Bungsu kembali naik ke mobil jip yang tadi membawanya.
  Direktur CIA itu juga ikut naik, duduk disampingnya di kursi depan.Jip itu kembali keruang tunggu khusus. Direktur CIA berkata pelan pada si Bungsu ketika jip meluncur di avron menuju ruang tunggu.
  “Kalian pasti belum saling kenal…”
  “Belum…”jawab si Bungsu pelan.
  “Perempuan memang laut yang amat dalam. Yang amat sukar menduga isinya. Saya yakin dia mencintai anda, dengan amat sangat…”
  Si Bungsu menoleh kesampingnya, pada lelaki yang tidak diketahuinya bahwa orang itu adalah Direktur CIA. Sebuah lembaga Intelijen yang amat berpengaruh didunia. Dia diam tidak membari komentar atas ucapan itu, sungguh mati dia amat terguncang atas peristiwa sebentar ini. Dia bukan lelaki yang lemah iman, tapi tidak pula lelaki yang berpura-pura berlagak suci.
  Dia datang dan sampai ke negeri ini justru dalam usaha mencari gadis yang amat di kasihinya. Dalam sejarah hidupnya yang amat panjang dan berbelit ini, tak berapa yang pernah singgah di hatinya.
  Namun peristiwa dengan Yuanita yang barusan tadi, gadis yang tidak dia kenal itu,benar-benar membuncah perasaannya. Jip itu baru saja akan mencapai tempat dimana para penumpang yang pernah menjadi sandera itu menanti, ketika mereka mendengar suara seperti letupan bedil di udara.
  Letupan itu tak begitu menarik perhatian mereka yang ada di jip tersebut. Mereka baru tertarik tatkala beberapa petugas lapangan menunjuk kesuatu titik jauh dibelakang sana. Makin lama makin banyak yang melihat ,dan mereka juga melihat, kearah pesawat jet angkatan udara Amerika yang tadi membawa para pembajak komunis asal cuba itu. Jauh disana kelihatan sisa asap yang mengepul, kemudian.. lenyap! “Jet itu meledak…”kata seseorang.
  Kepastian tentang itu baru didapat ketika dua orang petugas tower berlarian mendekati Direktur CIA yang ada didekat si Bungsu.
  “Pesawat itu meledak…”katanya.