Panah Kekasih - 88

Diposting oleh Saiful bahri dari situbondo pada 19:40, 11-Peb-14

Cerita Silat | Panah Kekasih | Karya Gu Long | Panah Kekasih | Cersil Sakti | Panah Kekasih pdf

Pendekar Bodoh - 9. Sengketa Ahli Sihir Pendekar Bodoh - 10. Raja Alam Sihir Pendekar Bodoh - 11. Rahasia Sumur Tua Pendekar Bodoh - 12. Munculnya Sang Pewaris Gento Guyon - 28. Semerah Darah

Bab 26. Karena bencana mendapat berkah. Sewaktu ditengok, ternyata dalam tanah muncul sebuah peti besi kecil, maka dia pun mengayunkan kembali cangkulnya untuk mengeluarkan peti tadi. Sampai akhirnya pemuda itu benar-benar kehabisan tenaga, jatuh terduduk ditanah. Saat ini, bila dia diharuskan mengayunkan kembali cangkulnya, pada hakekatnya pemuda itu sudah tidak bertenaga lagi. Sampai lama kemudian, ia baru sanggup berteriak: “Sudah selesai . . . . . .. sudah selesai . . . . . . . ..” Kembali lewat berapa saat, Thian-heng lojin baru muncul dari balik rumahnya sambil bertanya: Il “Sudah selesai semuanya? Cepat betul cangkulanmu, cepat sekali . . . . . .. Sambil bergendong tangan dia periksa sekeliling tempat itu satu lingkaran, kemudian katanya: “Biar lohu kerjakan sendiripun paling tidak butuh dua tiga hari untuk menyelesaikannya, aku rasa kau main tipu muslihat!” “Bila kurang percaya, kenapa tidak kau cangkul sendiri?" teriak Tian Mong-pek gusar. Biarpun sedang kelelahan dan kehabisan tenaga, teriakan yang dilakukan dalam keadaan gusar ini tetap keras bertenaga. Mendengar itu, Thian-heng lojin tertawa terbahak-bahak. “Hahaha, baik, baiklah, anggap saja lohu percaya, bila ingin pergi dari sini, pungut peti besi itu dan segera tinggalkan bukit ini!" “Kenapa aku harus pungut peti besi itu?” “Sudah tahu apa isi peti itu?" “Biarpun berisikan zamrud, berlian atau mutu manikam, aku tak bakal sudi membawanya." Jerit Tian Mong-pek sewot. “Hahaha, boleh saja kau buang zamrud atau mutu man ikam, sayangnya dalam peti itu berisikan cara menanam bunga, kalau tidak kau ambil, lalu bagaimana caramu menanam bunga?" “Menanam bunga . . . . . . ..” Tian Mong-pek tertegun. “Betul, menanam bunga! Kalau hanya membalik tanah belum cukup." “Bawa kemari bibit bunganya!” teriak pemuda itu sambil melompat bangun. “Kalau tidak belajar bagaimana cara menanam bunga, dengan cara bagaimana kau hendak menanamnya?” “Masa menanam bunga pun harus belajar caranya?" Thian-heng lojin tertawa terbahak-bahak. “Hahaha, belajarlah barang dua tiga tahun cara menanam bunga seperti apa yang tercantum dalam peti itu, dengan begitu kau baru tahu harus menggunakan cara apa untuk menanam bungaku ini!” “Dua tiga tahun?" Tian Mong-pek bertambah gusar, “rupanya kau berniat membodohi aku . . . . . . . ..” Belum selesai ucapan itu, tiba tiba perempuan berbaju merah itu sudah muncul disampingnya seraya berseru: “Kalau disuruh belajar, cepatlah turun gunung dan mempelajarinya, apa lagi yang hendak kau bicarakan?" “Tapi . . . . . . ..” “Tidak ada tapi tapian, cepat pergi . . . . . ..” tiba tiba perempuan berbaju merah itu mengerlingkan matanya memberi tanda, lalu sambil menarik lengan pemuda itu beranjak pergi dari sana. Walaupun merasa keheranan, namun berhubung pemuda itu lemas tak bertenaga, tanpa terasa ia sudah terseret keluar dari kebun bunga itu. “Hujin, lepaskan tanganmu, aku bisa jalan sendiri." Protes anak muda itu. Perempuan berbaju merah itu tersenyum, sambil serahkan peti besi dan kantung sutera ketangan Tian Mong-pek, katanya seraya tertawa: “Cepatlah pergi dari sini, dua tiga tahun lagi datanglah menjumpai diriku." Pelbagai pertanyaan dan rasa curiga berkecamuk dalam benak Tian Mong-pek, tak tahan dia ingin bertanya, tapi tampaknya perempuan berbaju merah itu enggan mendengarkan lebih jauh, sambil tersenyum ia sudah membalikkan badan dan berlalu dari sana seringan asap putih. Untuk berapa waktu pemuda itu hanya berdiri melongo, dia merasa setiap penghuni gunung itu tampak begitu misterius, kendatipun sudah peras otak, dia gagal untuk menebak apa maksud dan tujuan dari orang-orang itu. Terdengar Thian-heng lojin dengan suaranya yang nyaring, berteriak dari kejauhan: “Hei bocah dungu, kalau kau gagal mempelajari cara menanam bunga, berarti kau memang goblok, manusia tak berguna, mengerti?" “Biar harus pertaruhkan nyawa pun, aku akan mempelajarinya.” Jawab Tian Mong-pek marah. “Hahaha, bagus, kalau sudah kau pelajari ilmu itu, jangan lupa untuk naik gunung dan bantu lohu menanam bunga." Suara gelak tertawa itu makin lama semakin menjauh sebelum akhirnya lenyap dari pendengaran. Tian Mong-pek dengan tangan kanan menjinjing peti, tangan kiri memegang kantung sutera, untuk berapa saat dia hanya bisa berdiri termangu sebelum akhirnya beranjak turun gunung. Ia merasa sepasang kakinya sangat berat, seperti digantungi beban beribu kati, setiap langkah harus dilakukan dengan bersusah payah dan menggunakan tenaga penuh. Dengan susah payah akhirnya ia berhasil turun dari pintu Mo-ji-bun, waktu itu langit sudah gelap, bintang dan rembulan mulai bergelantungan di angkasa, cahaya yang redup, bayangan bunga yang samar, seakan terselubung oleh kain sutera tipis. Ia bersandar disisi batu prasasti sambil beristirahat sejenak, ketika membuka kembali matanya, permukaan tanah terlihat lebih terang, rupanya cahaya bintang bertaburan di angkasa, rembulan mulai memancarkan cahaya keperakan. Begitu dekat taburan bintang dan rembulan, seakan ia dapat meraihnya dengan mudah dari tempatnya berada. Baru pertama kali ini dia merasa berada begitu dekat dengan angkasa, tubuhnya terasa makin lemas tak bertenaga, dalam keadaan seperti ini, dia sama sekali tak ingin bergerak. Lewat berapa saat lagi, ia baru mengambil peti besi itu dan perlahan lahan membukanya. Ternyata dalam peti itu berisikan dua buah botol, kecuali berwarna beda, bentuk maupun besar kecilnya sama satu dengan lainnya. Selain itu terdapat pula dua jilid kitab serta selembar surat, huruf dalam surat itu telihat tegas dan kuat. Dibawah sinar rembulan, terbaca surat itu berbunyi begini: “Obat berwarna putih dapat membantu untuk pulihkan kekuatan, kau bisa meneguknya sekarang, sementara obat berwarna merah punya kasiat membantumu melatih tenaga, gunakan disaat kau mulai berlatih ilmu yang tercatat dalam kitab itu.” Tian Mong-pek berkerut kening, dia tak tahu bunga seruni macam apa yang harus ditanam dan mengapa harus berbuat begitu, bahkan harus minum obat sambil berlatih tenaga, satu kejadian yang aneh sekali. Tapi saat ini dia benar-benar merasa kehabisan tenaga, dahaga bercampur lapar, tak tahan dia ambil obat putih itu, membuka penutupnya dan menelan semua isinya hingga habis. Ternyata benda dalam botol berupa cairan putih, mirip sekali dengan susu kambing, sejak dibuka penutupnya, terendus bau harum semerbak, apalagi setelah ditelan, seluruh badan terasa dingin dan nyaman, semua dahaga dan rasa lapar hilang lenyap, semua kepenatan tersapu ludas, begitu cepat daya kerjanya membuat Tian Mong-pek nyaris tertegun dibuatnya. Tapi tulisan yang tertera dalam surat itu membuatnya semakin kaget bercampur keheranan. “Seruni dingin dari Giok-hu merupakan bunga seruni dari jenis langka, bersifat dingin, hidup didalam gua bawah tanah, tumbuh karena tenaga panas bumi dan pupus bila dipindah ke tempat lain. “Bila ingin menanam bunga seruni ini ditempat lain, dibutuhkan tenaga pukulan berhawa positip untuk memeliharanya, tenaga pukulan berhawa positip itu tak lain adalah Kun-lun-lak-yang-jiu." Ketika ia membuka halaman kedua, maka terbacalah rahasia untuk berlatih ilmu tenaga dalam Kun-lun-lak-yang-jiu. Untuk berapa waktu Tian Mong-pek hanya berdiri tertegun, ia merasa kaget, keheranan dan terharu. Ternyata Thian-heng lojin menyiksanya dengan pelbagai cara, tak lain karena ingin mewariskan ilmu Lak-yang-sin-ciang yang maha sakti itu . . . . .. Coba kalau saat mencangkul tanah waktu itu dia main curang, tak mungkin ilmu silat maha sakti itu dapat dipelajari . . . . .. siapa pun tak menyangka kalau kesempatan emas semacam ini akhirnya justru jatuh ke tangannya. Sesudah termangu berapa waktu, mendadak ia bersorak sorai lalu melompat bangun, ia merasa hawa darah panas menggelora dalam dadanya, seluruh tubuh dipenuhi tenaga murni, bagaikan seekor burung walet dia melesat turun dari tanah perbukitan itu. Saat itu, Yo Swan yang berhati busuk masih menanti kedatangannya dibawah gunung. Menurut perkiraannya, Tian Mong-pek tak mungkin akan turun gunung lagi, meski masih ada perasaan ragu, namun dengan hati gembira ia bersiap siap meninggalkan tempat itu. Siapa sangka, saat itulah Tian Mong-pek telah muncul dari balik bukit, bukan saja tidak terluka atau mati, malahan wajahnya tampak berseri, penuh cahaya kegembiraan, malah jauh lebih bercahaya ketimbang sebelum naik gunung. Rasa kecewa, mendongkol, berkecamuk jadi hati, tapi Yo Swan berusaha tampil dengan perasaan terkejut bercampur girang, teriaknya sambil bertepuk tangan: “Hahaha, jite, akhirnya kau muncul juga, aku sudah tak sabar menantikan kedatanganmu!" “Terima kasih toako karena kau telah menyuruhku naik gunung!" sahut Tian Mong-pek sambil memberi hormat. Kuatir niat busuknya ketahuan, dengan wajah berubah tegur Yo Swan: “Apa maksudmu?” Tian Mong-pek menghela napas panjang, katanya lagi: “Toako, tahukah bahwa kau sudah tertipu oleh kebohongan orang? Diatas gunung sama sekali tak ada orang jahat yang pandai tenung orang, yang ada hanya Kun-lun-siang-coat.” “Bee.... benarkah begitu?” dengan hati tergetar sahut Yo Swan tergagap. “Buat apa siaute bohong." Yo Swan merasakan jantungnya hampir melompat keluar, buru buru dia tampar wajah sendiri sambil berteriak: ll “Kurangajar, betul betul kurangajar . . . . . .. Dalam keadaan panik bercampur kuatir, terpaksa ia harus bersandiwara lebih jauh. Tergopoh Tian Mong-pek menarik tangannya. “Toako tak usah kelewat menyalahkan diri sendiri,” bujuknya, “lagipula siaute bukan saja tidak rugi apa apa, malahan karena bencana aku mendapat rejeki." “Rejeki apa?" Yo Swan makin tercekat. Secara ringkas Tian Mong-pek menceritakan kembali semua pengalaman yang baru dialaminya, terakhir dia menambahkan: “Andaikata tak ada kesalah pahaman ini, mana mungkin siaute berkesempatan mempelajari ilmu pukulan Lak-yang-sin-ciang!" Pucat kehijauan paras muka Yo Swan, rasa dengki, jengkel, benci bercampur aduk jadi satu. Tian Mong-pek jadi kaget ketika melihat perubahan mimik mukanya itu, teriaknya: “Toako, kenapa kau?" II “Aah, tidak apa apa, sahut Yo Swan tergagap, cepat dia berusaha menenangkan hatinya, “mungkin lantaran kelewat gembira.... yaa, kelewat gembira . . . . . . ..” Perasaan hatinya saat ini bagaikan ditembusi berjuta batang anak panah beracun, begitu sakitnya membuat dia sulit untuk tertawa, biar akhirnya tertawa juga, sudah jelas senyumannya saat itu teramat jelek. Semakin dilihat, Tian Mong-pek merasa makin keheranan, tapi setelah berpikir sejenak, seakan menyadari akan sesuatu katanya: “Toako, setelah menunggu selama tiga hari, kau pasti kelelahan setengah mati, lebih baik kita segera turun gunung!" “Betul, betul sekali . . . . . . ..” Mereka berdua berjalan mengitari punggung bukit, medan terasa makin tinggi, hembusan angin dingin terasa tajam bagaikan sayatan pisau, permukaan tanah pun mulai muncul lapisan salju abadi yang makin lama semakin menebal. Ternyata tempat tinggal Kun-lun-siang-coat maupun lembah kaisar, berada diatas sebuah bukit kecil yang dikelilingi pegunungan tinggi. Tapi setelah berjalan keluar dari wilayah perbukitan, keadaan pun sama sekali berubah. Sebagaimana diketahui, tempat dimana mereka berada sekarang adalah wilayah pegunungan yang sangat tinggi dan sepanjang tahun berhawa dingin, biarpun saat itu musim panas, namun timbunan dan lapisan salju tetap menyelimuti gunung Kun-lun sepanjang tahun. Kedua orang ini memiliki ilmu silat yang cukup tangguh, tapi mereka butuh waktu semalaman sebelum berhasil mencapai kaki perbukitan. Suasana dibawah gunung terang benderang, suhu udara mulai terasa panas, Yo Swan pun membeli dua buah topi rumput yang lebar serta dua ekor kuda yang penampilannya meski bersahaja namun kemampuan larinya sangat hebat. “Dengan kemampuan lari kita berdua, buat apa harus membeli kuda?” tanya Tian Mong-pek. “Kita harus ambil jalan raya Cing-hay masuk tengah daratan, jite, selama berapa hari ini kau sudah menguras banyak tenaga, buat apa musti bersusah payah mengarungi padang rumput dengan berjalan kaki?” Meski diluar Tian Mong-pek mengiakan dengan hambar, hati kecilnya sangat berterima kasih, pikirnya sambil menghela napas: “Tak kusangka rasa persaudaraannya begitu kental, melebihi saudara II kandung sendiri . . . . .. Setelah meninggalkan wilayah Kun-lun, sehari kemudian mereka sudah tiba di wilayah Cing-hay. Sejauh mata memandang, hanya padang rumput yang tak bertepian, diantara ayunan lembut sang rumput yang dihembus angin, disana sini terlihat kumpulan sapi dan domba.