Pendekar Pedang Bayangan - 13

Diposting oleh Saiful bahri dari situbondo pada 07:18, 30-Mar-15

Cerita Silat | Pendekar Pedang Bayangan | Serial Pendekar Rajawali Sakti | Pendekar Pedang Bayangan | Cersil Sakti | Pendekar Pedang Bayangan pdf

Cersil mwb Kelelawar Hijau Pendekar Seratus Hari - S.D Liong Cersil indo Raja Iblis Tanpa Tanding Pendekar Gila - Istana Berdarah Pengemis Binal - Tabir Air Sakti

5
 
  Kediaman Ki Sukma Agung memang tidak terlalu jauh, sehingga bisa ditempuh hanya dalam waktu sepenanakan nasi dari tempat Pendekar Rajawali Sakri berada. Dibanding para tokoh lain, tempat kediaman tokoh itu memang terhitung dekat dari Lembah Darah. Sehingga tidak heran kalau segala kegiatan yang terjadi di lembah itu diketahuinya. Termasuk kegiatan anak buah lblis Rambut Merah yang sering mengganggunya.
  Kalangan persilatan mengenal Ki Sukma Agung sebagai Pendekar Tongkat Malaikat. Dan dia memang salah seorang tokoh tua yang disegani pada saat ini. Kepandaiannya cukup hebat. Permainan tongkatnya pun dikenal di mana-mana. Namun sejauh ini, Iblis Rambut Merah tidak begitu saja akan berhenti mengganggu, sampai keinginannya terpenuhi. Maka sebelum ancaman itu tiba, secara besar-besaran, orang tua ini menyuruh beberapa muridnya untuk memberitahukannya pada beberapa orang sahabatnya.
  Salah seorang sahabat Pendekar Tongkat Malaikat adalah Lesmana, yang saat ini bersama Rangga tengah menuju ke tempatnya, ditemani dua orang kawannya.
  Di tengah perjalanan, Lesmana bercerita kalau sebenarnya tengah melakukan perjalanan menuju tempat kediaman Ki Sukma Agung. Namun orang- orang Lembah Darah mencegat, lalu berhasil me- ringkusnya.
  "Jadi, sebenarnya kalian bertiga tidak jalan bersama ketika itu?" tanya Rangga yang terus menyimak.
  "Tidak. Kami kenal di sana. Mereka kuajak kabur. Dan sebelumnya, mereka memang telah berniat kabur.
  Rangga mengangguk.
  "Rangga, aku yakin kau adalah seorang pendekar berilmu tinggi. Kalau boleh kutahu, siapakah julukanmu” tanya Baruna.
  Rangga tersenyum.
  “Aku hanya seorang pengembara biasa. Lagi pula, julukan itu tak berarti sama sekali," kilah Pendekar Rajawali Sakti merendah.
  "Hm. Kau terlalu merendah. Tapi biasanya, seorang yang berilmu tinggi senantiasa merendahkan diri sepertimu. Bukankah begitu, Lesmana?" kata Baruna, langsung menoleh pada Lesmana.
  Lesmana mengangguk setuju. Sedang Rangga hanya tersenyum.
  "Hei, coba lihat! Apa yang tengah terjadi si sana!" tunjuk Palaga yang sejak tadi lebih banyak membisu.
  Mereka segera menoleh pada sebuah rumah yang tidak jauh di depan. Agaknya, di Sana tengah terjadi pertarungan hebat antara para penghuni rumah itu dengan orang-orang berseragam merah.
  "Celaka! Mereka rupanya telah lebih dulu ke sini!" seru Lesmana.
  "Apa maksudmu?" tanya Rangga.
  "Itulah rumah Ki Sukma Agung! Kita harus cepat membantu!" sahut Lesmana, segera berlari.
  Baruna dan Palaga ikut menyusul. Demikian pula Rangga. Dan begitu tiba, mereka segera membaur dalam pertarungan. Kedatangan mereka jelas membuat orang-orang berseragam merah itu terkejut. Namun keterkejutan itu tidak lama, sebab beberapa orang berseragam merah langsung menghadapinya.
  "Yeaaa...!"
  "Hup! Uts...! "
  Rangga bergerak cepat. Seorang laki- laki berseragam merah tersungkur dihajar tendangannya. Namun seketika itu juga, dua lainnya menyerang bersamaan. Pemuda itu bergerak gesit menghindari serangan.
  "Uts! Hiiih...! "
  Plak! Begkh!
  "Aaakh… ! "
  Salah seorang terhajar pukulan telak Pendekar Rajawali Sakti pada dada kiri, dan langsung tersungkur. Ketika kawannya mencoba membalas dengan satu tendangan dari arah belakang. Namun Rangga langsung membungkuk, lalu melompat sedikit ke samping. Kemudian dia balas menyerang lewat sapuan kakinya.
  Duk!
  "Uhhh…!"
  Ujung kaki Pendekar Rajawali Sakti tepat menghantam keras ke tengkuk lawan. Orang berbaju merah itu terjungkal ke depan. Sementara Pendekar Rajawali Sakti tak mau menunggu lama. Langsung dilabraknya lawan yang lain. Sehingga, membuat mereka jatuh bangun tak berdaya.
  Kehadiran keempat orang itu memang mem- bawa angin segar dan cukup merepotkan. Sehingga dalam waktu singkat, orang-orang berseragam merah merasa terpojok.
  "Awaaas...! "
  Lesmana berteriak mengingatkan ketika seorang lawan melempar sesuatu ke tanah.
  Busss...!
  Asap hitam segera mengepul ke udara, langsung mengaburkan pandangan. Perbuatan itu segera diikuti beberapa orang lainnya. Sehingga dalam waktu singkat, tercipta kabut hitam yang cukup tebal.
  "Heaaa… !"
  Rangga membentak keras sambil menghan- tamkan telapak tangan kanannya ke depan Seketika serangkum angin kencang dari aji 'Bayu Bajra berputar-putar membuyarkan asap hitam itu, sampai lenyap tak bersisa. Namun ketika asap hitam itu sirna, orang-orang berseragam merah itu telah lenyap dari tempat ini.
 
  ***
 
  "Kurang ajar...!" dengus Rangg a kesal dengan wajah geram.
  Lesmana dan kedua kawannya menghampiri Pendekar Rajawali Sakti dengan napas terengah-engah.
  "Gila! Apa yang kau lakukan, Rangga? Apakah kau hendak menerbangkan semua orang yang ada di sini? Untung saja aku berpegangan erat pada sebatang pohon. Kalau tidak, aku pasti celaka! " desis Lesmana kaget.
  Rangga tersenyum mendengarnya.
  "Maafkan aku, Ki Lesmana "
  "Hm, sungguh beruntung hari ini. Sebab, aku kedatangan seorang tokoh besar Pendekar Raja-wali Sakti, selamat datang di tempatku ini!"
  Tiba-tiba terdengar sebuah suara dari seorang laki-laki berbaju kuning dengan kumis tebal yang sebagian telah memutih.
  Rangga dan kawan-kawannya menoleh. Di belakang orang tua berbaju kuning itu, berdiri be-berapa orang laki-laki.
  "Terima kasih. Kalau tidak salah, bukankah saat ini aku tengah berhadapan dengan Pendekar Tongkat Malaikat yang amat kesohor?" sahut Rangga seraya balas memberi salam penghormatan.
  "Ha ha ha...! Kau terlalu berlebihan memuji, Pendekar Rajawali Sakti. Sesungguhnya, namaku tak ada artinya dibanding namamu. Angin apakah gerangan yang membawamu berkunjung ke sini?"
  "Ki Sukma Agung, Rangga telah membantuku dari cengkeraman anak buah Iblis Rambut Merah. Kemudian, dia kuajak ke sini," ujar Lesmana me-nyahut lebih dulu.
  "Oh, sungguh kebetulan!" seru Ki Sukma Agung.
  "Kukira kalian belum saling mengenal. Ter-nyata… hei? Benarkah kau Pendekar Rajawali Sakti?!"
  Rangga hanya tersenyum tanpa menyahut.
  "Hei?! Jadi kau sama sekali tidak tahu kawan seperjalananmu ini?!" tanya Ki Sukma Agung.
  'Tidak," sahut Lesmana, singkat.
  Ki Sukma Agung menepuk-nepuk pundak Lesmana seraya terkekeh-kekeh.
  "Sungguh keterlaluan kau, Lesmana! Mana mungkin kau tidak mengenalnya. Kawanmu ini pendekar besar. Dan semestinya, semua orang pernah mengenalnya. Aku sendiri belum mengenalnya secara langsung, tapi tahu betul siapa dia..."
  "Ah! Sungguh bodoh sekali aku ini!" seru Lesmana, langsung memukul kepalanya pelan.
  "Sudahlah. Tidak perlu dibesar-besarkan. Se-bab hanya akan membuatku ma