Mustika Gaib - 7

Diposting oleh Saiful bahri dari situbondo pada 10:03, 23-Apr-14

Cerita Silat | Mustika Gaib | oleh Buyung Hok | Mustika Gaib | Cersil Sakti | Mustika Gaib pdf

Goosebumps 42 Monster telur dari Mars Pendekar Mabuk - 91. Tantangan Anak Haram Pendekar Perisai Naga - 6. Pemanah Sakti Bertangan Seribu Animorphs 20 : Anggota baru animorphs Rahasia Bukit Iblis - Kauw Tan Seng

“ANAK GOBLOK,” pada suatu hari sang ibu menegor Siong In di dalam kamarnya. “Kau sekarang sudah berusia enambelas tahun dan badanmupun cukup besar, hingga kau boleh dikata bukan lagi seperti anak-anak, tapi sifatmu masih seperti anak kecil saja, setiap hari kau hanya bermain, kerjamu hanya pergi ke lain kampung keluyuran tidak keruan. Apa kau tidak pernah memikirkan tentang ayahmu yang pergi tanpa juntrungan? Sudah sepuluh tahun lamanya tiada kabar berita.” Berkata sampai di situ, sang ibu menghela napas, lalu katanya lagi, “Selama sepuluh tahun ini ayahmu tiada kabar berita. Mati atau masih hidup? Aih, kalau kau ini anak laki-laki, tentunya sudah lama aku suruh kau mencari jejak ayahmu itu. Tapi kau hanya seorang anak perempuan, meskipun kau telah mendapatkan pelajaran ilmu silat, tapi seorang anak perempuan mau sampai dimana kekuatannya bila menghadapi orang-orang jahat.” Siong In yang mendengar perkataan sang ibu, berkata, “Oh, ibu, meskipun aku bukan anak laki-laki, tapi aku sanggup untuk pergi mencari ayah. Lagi pula aku tokh bukan gadis pingitan yang hanya mengeram dalam rumah gedung, sejak kecil aku mendapat pelajaran ilmu silat, dan aku sendiri sering berlari-larian di ¬atas gunung. Hingga gunung dan hutan bukan lagi merupakan apa-apa bagiku, maka meskipun aku mengembara ke pelosok dunia juga tidak nanti takut pada orang.” Sang ibu yang mendengar ucapan putri¬nya berkata, “Anakku, kau tahu apa. Itu beberapa macam ilmu silat yang aku ajarkan padamu, sama sekali tidak ada artinya sedikitpun! Tempo dulu ayahmu bilang hendak pergi ke kotaraja, sedang perjalanan dari Ho-lam ke kotaraja mesti memakan waktu paling sedikit satu bulan, sedang di tengah jalan banyak orang jahat berkepandaian tinggi dan kepandaian yang kau miliki, mana bisa untuk menandingi mereka, itu hanya cukup untuk sekedar kau menjaga diri.” Mendengar ucapan ibunya itu, Siong In tertawa, “Oi, ibu,” seru Siong In “Ibu belum tahu, anakmu telah memiliki kepandaian silat tinggi, saat ini kepandaianku tidak berada di bawah lain orang, ibu tidak percaya? Bo¬leh coba! Agar ibu tidak merasa kuatir, dan mengizinkan aku mengembara mencari jejak ayah, mari kuperlihatkan kemajuan ilmu silatku.” Setelah berkata begitu Siong In menga¬jak ibunya keluar. Di luar rumah ia memandang ke langit. Kemudian sambil menunjuk ke arah seekor burung yang sedang terbang di udara ia berkata, “Ibu lihatlah burung itu. Sebentar lagi ia akan segera jatuh ke bumi!” Sang ibu memandang burung yang ditunjuk Siong In, berbarengan mana tangan si nona melempar sebuah Kim-piauw, maka piauw itu berkelebat menyambar burung yang sedang terbang, tepat mengenai dadanya dan tak ampun lagi burung itupun bergelepar di udara, lalu jatuh tepat di depan mereka. Sang ibu bisa menyaksikan, bagaimana putrinya memamerkan kepandaiannya, ia jadi melongo, dari mana anak ini belajar ilmu lempar piauw, ia sendiri belum per¬nah mengajarkan ilmu itu. Selagi sang ibu dibuat heran atas kepan¬daian putrinya itu, Siong In sudah berge¬rak lagi, kiat ia melakukan gerak-gerak ilmu silat yang pernah dilatihnya di atas puncak gunung. Dan sebagai penutup gerakan kepalan si nona yang telah disaluri kekuatan tenaga murni menghajar sebatang pohon cemara sebesar pelukan tangan. Pohon cemara sebesar pelukan tangan bergoyang keras, daun-daun pada rontok berguguran. “Ibu!” seru Siong In, “Apa sudah lihat ilmu tenaga dalamku belum sempurna betul kalau saja pada lima tahun lagi, pastilah pohon ini akan roboh berikut akar-akarnya terkena pukulanku.” Sang ibu yang menyaksikan kepandaian anaknya begitu hebat, ia bertambah heran, hingga karena herannya itu, ia berkata se¬tengah berteriak, “Anak, kau telah melatih ilmu itu se¬mua dari mana? Dengan kepandaian yang kau miliki itu, berarti kau memiliki ilmu silat jauh lebih tinggi dari pada aku sen¬diri, meskipun aku tidak tahu ilmu silat itu dari aliran mana, tapi aku dapat duga itulah ilmu silat dari aliran ternama dan bukan ilmu silat pasaran. Tapi di tempat su¬nyi ini, dari mana bisa muncul orang pandai? Dan bagaimana kau sampai mempelajari pelajaran itu secara diam- diam. Ayo ceritakan pada ibumu.” Siong In terpaksa menceritakan pada sang ibu, “Guruku seorang nikho, usianya mung¬kin baru mencapai tiga puluh tahunan, wajahnya cantik, hanya sayang ia tidak mau memberitahukan nama dan gelarannya, pa¬da lima tahun belakangan ini, aku sering bermain ke lain kampung, sebenarnya tidak lain pergi ke atas puncak gunung untuk melatih ilmu silat, anak terpaksa tidak memberitahu pada ibu karena begitulah kehendak suhu yang harus merahasiakan tentang anak belajar di dalam kelenteng Giok-lian-am, dan setelah tamat belajar barulah aku diijinkan untuk memberitahukan pada ibu, dan waktu itu sudah diliwati lima tahun, anak belajar secara diam-diam di bawah pimpinan suhu itu. Sekarang lima tahun sudah dilewati, bahkan suhu juga pernah berkata kalau anak telah selesai mempelajari ilmu yang diturunkan. Maka baru anak berani memberitahukan pada ibu. Hanya suhu memiliki sifat aneh, kalau ada orang menanyakan nama dan gelarannya, ia selalu menggelengkan kepala, itulah yang mem¬buat anak sampai hari ini tidak mengerti.” Mendengar cerita sang anak, ibu Siong In sangat girang, ia mengijinkan anaknya untuk pergi mengembara mencari sang ayah. Selanjutnya sang ibu juga memberikan sebilah pedang. “Anakku,” kata sang ibu ketika Siong In akan berangkat, “Pedang ini bukan pedang mustika tapi ketajamannva luar biasa, untuk menjaga diri guna menghadapi orang-orang jahat, dan ingat cepatlah kau kembali pulang, bertemu atau tidak dengan ayahmu.” “Anak mengerti, aku juga tidak tega hati meninggalkan ibu terlalu lama.” jawab Siong In, “Paling cepat anak akan pulang dalam satu atau dua bulan, dan paling lama dalam waktu setengah tahun, tentu anak, akan menengok ibu di sini.” Setelah menerima pemberian pedang dari ibunya, Siong In lalu pamitan pergi, sebelum ia meneruskan perjalanannya, ia mendaki ke atas puncak gunung Hong-san untuk menemui sang suhu. Tapi setelah ia tiba di atas sana keadaan kelenteng itu sudah kosong. Suhunya sudah tak tampak lagi. Siong In memeriksa ke setiap pelosok ke lenteng, di sana tak ditemui tanda-tanda kalau suhunya masih berdiam di situ, kemudian ia mencari kesekitar lereng gunung, kalau-kalau sang suhu pesiar kesana. Tapi setelah mencari ubekan ia tidak juga menemukan ba¬yangan suhunya. “Aneh, suhu memiliki sifat-sifat aneh,” pi¬kir Siong In. Kemudian ia melesat meninggalkan kelenteng Ciok-lian-am. Ia langsung turun gunung menuju ke arah utara. Demikianlah, hari demi hari dilewatinya, setelah memasuki daerah Kai-hong hu, keadaan jalan yang dilalui mulai menjadi sepi di sana sini hanya hutan belantara, karena baru pertama kali itulah Siong In keluar mengembara, tampak ia sedikit gugup. Siong In mengenakan pakaian serba merah wajahnya cantik menarik, tidak heran kalau dalam perjalanan ia sering mendapat gangguan dari laki- laki hidung belang yang coba-coba mengganggu dirinya. Tapi semua gangguan itu dengan mudahnya dapat di atasinya. Tidak sedikit dari laki-laki hidung belang yang mesti terjungkal di bawah terjangannya ilmu silat Tai-kek-koan, atau Pat-kwa-koan dari si nona baju merah. Pada suatu hari Siong In tiba di kampung Sip-lie-ho yang terletak di tepi sungai Hoang-ho. Hari itu masih pagi, sang matahari baru saja memancarkan sinarnya, hawa perkampungan itu sangat sejuk. Rumah-rumah penduduk berderetan di tepi jalan. Orang-orang kampung ramai lalu lalang dengan urusanuya masing-masing, para pedagang sibuk menjajakan dagangannya. Si nona baju merah Siong In melangkahkan kakinya memasuki pintu gerbang perkampungan yang dibangun dari pada kayu-kayu hutan. Orang-orang kampung begitu menampak munculnya nona asing baju merah, mereka memperhatikan gerak gerik Siong In, ada beberapa diantaranya berbisik-bisik, kemudian bergegas-gegas menjauhi, seperti mereka itu ketakutan melihat munculnya setan di siang hari bolong. Begitu memasuki pintu gerbang kam¬pung itu, Siong In juga sudah melihat adanya keanehan pada penduduk kampung ini, mereka memandang si nona dengan sikap seperti menghadapi setan atau musuh besar. Tak seorangpun yang mendekati dirinya. Dimana ia mendekati seseorang, orang itu segera berlalu dengan langkah terburu-buru. “Eh, apakah orang-orang ini takut karena aku membawa pedang?” pikir Siong In, tangannya meraba gagang pedang yang tersembul di belakang punggungnya. Berbarengan dengan gerakan tangan Siong In meraba gagang pedang, terjadilah satu keganjilan orang-orang yang melihat si nona baju merah meraba gagang pedang itu* mereka sudah lari ngacir. Kelakuan orang-orang itu ternyata telah membuat penduduk kampung lainnya lari serabutan. Berbarengan pula, terdengar suara berisik dari pintu-pintu rumah yang terbanting ditutup. Sebentar saja, kampung itu jadi sunyi sepi. Bahkan seekor anjingpun tak tampak berkeliaran. Di tengah jalan di dalam kampung itu Siong In judi berdiri mematung memper¬hatikan keadaan sekelilingnya, pikirnya, “Mengapa orang-orang kampung ini begitu ke¬takutan, melihat aku meraba gagang pedang? Aku toh bermaksud memasukkan gagang pedang ini ke dalam baju agar tak tampak, tapi mereka ini mengapa menyingkir pergi? Apakah anggap mereka aku seorang penjahat perempuan?” Jalan di dalam kampung ini jadi sunyi, angin pagi yang bertiup menerbangkan daun tua yang berserakan di jalan, bercampur kepulan debu. Baju merahnya si nona sedikit berkibar dihembus angin pagi itu. Siong In dengan membawa perasaan he¬rannya, ia melangkah maju, tiba di depan sebuah kedai, ia berdiri sebentar di sana memperhatikan piatu rumah makan yang tertutup rapat. Begitu Siong In berhenti dan memperhatikan keadaan kedai itu, dari dalam kedai terdengar suara berisik seperti ada bangku dan meja terbalik. Siong In tambah heran, ia melangkah maju menaiki tangga pintu rumah makan itu. Di depan pintu Siong In, berteriak, “Buka pintu! Buka pintu!” Berulang kali ia berteriak, tapi pintu itu belum ada orang membukanya. Karena kesalnya Siong In mendorong pintu tadi, ternyata sang pintu dikunci dari dalam. Ia jadi tertawa, lalu teriaknya lagi, “Hai, orang-orang di dalam sana, apa guna kalian mengunci pintu ini. Kalau kalian tidak menghendaki aku masuk ke dalam de¬ngan hanya mengunci pintu macam begini, inilah pekerjaan bodoh. Dengan sekali do¬brak saja pintu ini akan menjadi hancur berkeping-keping, nah pikirlah, dari pada pintu ini rusak kudobrak, sebaiknya buka sajalah, aku juga tidak akan berbuat jahat pada kalian, aku kebetulan saja lewat di¬ kampung ini. Ayo bukalah.” Setelah berkata demikian Siong In me¬nunggu sejenak. Kalau saja pintu itu masih belum juga dibuka apa boleh buat ia akan mendobraknya. Tidak lama benar saja pintu dibuka orang. Siong In tidak segera masuk, ia berdiri tentang di pintu, memperhatikan keadaan dalam kedai itu. Di sana banyak orang duduk termenung menundukkan kepala, sedang di atas meja masih ada hidangan makanan dan minuman tapi mereka tak berani menggegares makanan yang telah tersedia. Setelah memperhatikan keadaan aneh dalam kedai itu. Siong In memandang pada orang yang membuka pintu. Usia orang itu tiga puluh lima tahunan, wajahnya kurus, berjenggot, matanya sipit, karena terlalu sipitnya mata orang itu hampir tak kelihatan biji matanya. Orang tadi menunduk¬kan kepala sambil merangkapkan kedua tangannya di bawah jenggotnya yang hitam. “Hmmm. Aneh” gerutu Siong In, melangkah memasuki kedai, ia duduk di satu meja di sudut belakang, menghadap ke depan pintu. “Mana pelayan,” seru Siong In. Orang yang tadi membuka pintu, mendengar seruan tamu asingnya, ia segera lari menghampiri sambil membungkukkan badan berkata, “Nona mau pesan apa, makanan di sini kurang enak, harap maklum.” “Bawa kemari makanan apa saja yang bisa bikin kenyang perut.” kata Siong In tersenyum. Orang berjenggot itu membungkuk ba¬dan berlalu. Tak lama ia sudah balik lagi dengan membawa senampan makanan dan minuman, serentak dihidangkan di atas meja di depan si nona baju merah. Asap makanan masih mengepul, harum¬nya merangsang hidung. “Kau tukar saja arak ini dengan air teh hangat.” seru Siong In ketika di atas meja itu terdapat sepoci arak. Si pelayan berjenggot, membungkukkan badan, berulang kali ia mengucapkan maaf lalu mengangkat poci arak, ditukarnya dengan sepoci teh istimewa berikut cawan¬nya. “Silahkan nona . . . .” seru pelayan berjenggot. Siong In memandang pelayan itu, kemudian berkata sambil menunjuk ke arah tamu tamu lain yang duduk menundukkan ke¬pala. “Mereka itu bagaimana, mengapa hanya terpekur di depan meja menghadapi hidangan, tidak segera melahap makanannya yang sudah tersedia.” Pelayan tua berjenggot kaget, mende¬ngar pertanyaan si nona, matanya yang sipit memperhatikan ke arah meja-meja tamu lainnya, dengan suara gugup ia berkata, “Ini…... ini…. . dia orang …..” Siong In jadi tertawa geli, melihat sikap pelayan! tadi seperti ketakutan setengah mati. “Dia orang itu bagaimana?” tanya Siong In, “Mengapa begitu?” Setelah berkata demikian, Siong In ba¬ngun berdiri, lalu ia berteriak kepada para tamu, “Hai, kalian makanlah, jangan terpekur seperti itu!” Tamu-tamu tadi seperti tersentak bangun dari lamunannya, dengan rupa pucat, mereka memandan Siong In. “Ayo makan! Mau tunggu apa? Makan¬an kalian nanti keburu dingin.” kata Siong In. Setelah berkata begitu Siong In kem¬bali duduk di bangkunya, lalu ia melahap makanan yang ada di depannya. Sekali-sekali mata si nona melirik ke meja para tamu, kini mereka sudah mulai berani mengangkat sumpit menjejal makanan ke dalam mulut, tapi mata mereka sering-sering juga memandang si nona baju merah. Bilamana kalau kebetulan pandargan mereka kebentrok dengan sinar mata si nona, orang itu segera menundukkan wajahnya dalam-dalam sambil mengunyah makanannya perlahan-lahan. Si pelayan berwajah kurus berjenggot ma¬sih berdiri di pinggir meja Siong In ia belum berani berlalu sebelum sinoua baju merah memerintahkannya. “Eh, duduk!” kata Siong In pada pela¬yan tadi. Si pelayan kurus membungkuk, “Terima kasih” ucapnya. Siong In menarik bangku, menyuruh pelayan itu duduk. “Ayo duduk. Aku mau bicara!” Dengan sedikit gemetar pelayan kurus tadi duduk di bangku di samping depan Siong In, ia menundukkan kepala. “Kedai ini milik siapa?” tanya Siong In. “Ini ... ini ...” kata pelayan tadi gugup, “Pemiliknya ...... biar hamba panggil dulu. Ia ada di dalam.” “Tidak perlu.” kata Siong In, sambil menuang teh ke dalam cawan. Setelah menenggak isinya, ia memandang wajah kurus pelayan tadi, katanya, “Mengapa orang-orang di sini, tidak suka ke¬hadiranku? Mengapa mereka menyingkir, kalau melihat aku memasuki perkampungan?” “Ah, .... eh ....” kata si pelayan gugup. “Ini …... eh.....apakah nona ini satu golongan dengan orang- orang itu?” “Golongan apa?” tanya Siong In mengkerutkan kening. Menahan sumpit di depan mulutnya. Mendapat pertanyaan demikian, pelayan menyipitkan matanya, memandang ke arah meja- meja di depan Siong In, ia memperhati¬kan para tamu yang sudah kehilangan napsu makan. Siong In mengikuti arah pandangan si pelayan tadi, ia mengkerutkan kening, tanyanya, “Ayo golongan apa? Mengapa kalian sampai ketakutan tidak keruan?” “Apa nona sudah lihat di depan pintu kedai?” kata pelayan rumah makan itu. “Hmmm, ada apa di sana?” tanya Siong In heran. “Nona lihat sendiri di atas pintu itu. Nanti nona tahu.” Jawab si pelayan perlahan Siong In menganggukkan kepala, meletakkan sumpit di atas meja, kemudian ia bangkit dan berjalan keluar.