Sisi Merah Jambu - 2

Diposting oleh Saiful bahri dari situbondo pada 10:12, 26-Jul-14

Cerita Cinta | Sisi Merah Jambu | by Mira W | Sisi Merah Jambu | Cersil Sakti | Sisi Merah Jambu pdf

Lelaki Kabut dan Boneka - Helvy Tiana Rosa Bukan di Negeri Dongeng - Helvy Tiana Rosa Hingga Batu Bicara - Helvy Tiana Rosa Sebab Aku Ingin - Helvy Tiana Rosa Ketika Cinta Berbuah Surga - Habiburrahman El-Shirazy

Arman pun jauh dari ramah. Heran kena wabah apa orang-orang di rumah ini! Semuanya sakit! Galak. Judes. Tandus. Gersang. Kering. Kemarau.
 
 "Nyapu dulu baru ngepel!" kata Arman yang tiba-tiba merasa mendapat asisten. Untung dia tidak suka menendang juniornya. "Yang bersih! Ibu galak!"
 
 Arman melemparkan sapu yang sedang dipegangnya ke hadapan Lea.
 
 Ketika Lea sedang menyapu, Arman datang lagi. Meletakkan ember di depannya.
 
 "Udah disapu terus dipel. Jangan basah. Ntar Ibu ngomel!"
 
 "Kerjain aja sendiri!" balas Lea judes. Enak saja. Dari tadi nyuruh melulu!
 
 "Eh, disuruh malah mbantah?" geram Arman antara kaget dan kesal. "Awas ya! Gue bilangin Ibu lu!"
 
 "Bilangin!" tantang Lea dengan mata beringas. Arman menghampiri Lea dengan gusar. Dia sudah mengangkat tangannya. Siap untuk menghajar anak kurang ajar ini. Tetapi Lea bukannya mundur. Bukannya kabur. Dia malah mengangkat sapunya. Siap membalas serangan Arman.
 
 Melihat sikap Lea yang menantang, ingat bagaimana dia menghajar kaki Panji, nyali Arman jadi ciut. Tidak sadar dia langsung mundur. Dan kepala Bi Asih melongok dari dapur. Matanya langsung membulat begitu melihat mereka.
 
 "Eh, mau berkelahi ya?" bentaknya sengit. "Bukannya bantuin Bibi malah mau berkelahi?"
 
 "Dia kurang ajar, Bi!" gerutu Arman uring-uringan. "Disuruh ngepel malah ngebantah!"
 
 Lea tidak berkata apa-apa. Tidak berusaha membela diri. Hanya wajahnya yang berkerut masam.
 
 "Jadi pembantu jangan bertingkah!" kata Bi Asih kasar. "Kalau nggak mau kerja, bilang! Biar dipulangin ke kampung!"
 
 Aku juga tidak betah di sini, keluh Lea ketika malam itu dia berbaring di ranjangnya. Semua orang memusuhiku. Semua orang! Kecuali Pak Tisna! Cuma dia yang baik.
 
 "Kamu bukan pembantu, Lea," katanya ketika dia menyuruh istrinya memberikan kamar di samping kamar anak-anaknya. Bukan di belakang bersama Bi Asih dan si Maman. "Kamu anak angkat Bapak. Mulai sekarang kamu panggil saya Ayah."
 
 Bi Asih yang sedang disuruh Ibu membersihkan kamar tamu itu mendadak tertegun. Dia menoleh ke arah majikannya dengan terkejut. Anak angkat? Astaga! Bapak mabuk jengkol kali ya?
 
 Tetapi melihat suramnya tampang Bu Nani, dia tidak jadi bertanya. Ibu juga pasti tidak setuju! Cuma dia tidak berani membantah!
 
 Lea sendiri diam saja. Dia merasakan aura permusuhan yang menyerang dari segala arah. Mengepung dirinya. Mengucilkannya.
 
 Ketika sedang berbaring di kamar yang sebesar pondoknya itu. Lea sudah merasa tidak betah. Ranjangnya memang besar. Kasurnya empuk. Seprainya bersih. Tapi dia terap tidak merasa nyaman.
 
 Di kampung Lea tinggal di pondok kecil bersama ibu dan adiknya. Makanan mereka terbatas.
 
 Hidup mereka sederhana. Tak pernah berlebihan.
 
 Tapi kalau ada yang dapat disebut rumah, di sanalah rumah Lea. Meskipun harus bekerja keras menggantikan almarhum ayahnya sepulangnya sekolah. Lea tidak pernah mengeluh. Dia anak sulung. Dia yang harus memikul tanggung jawab melindungi keluarganya. Tidak heran kalau sikapnya jadi kelaki-lakian. Kasar. Dingin.
 
 Ibu sering sakit-sakitan. Tubuhnya lemah. Adiknya masih kecil. Belum dapat membantu mencari nafkah.
 
 Untung Pak Tisna sangat baik. Uang santunan Ayah selalu sampai setiap akhir bulan. Mang Endang tak pernah terlambat mengantarkannya. Dengan uang itu dan sedikit hasil dari sepetak sawah, mereka dapat menyambung hidup. Sampai suatu hari, maut merenggut milik Lea yang tersisa.
 
 Ibu dan adiknya meninggal karena muntaber. Meninggalkan Lea seorang diri terbenam dalam kedukaan. Dan sekali lagi Pak Tisna muncul sebagai dewa penolong. Dia membawa Lea ke Jakarta. Ke rumahnya.
 
 Tetapi tampaknya, tak ada yang sungguh-sungguh menerimanya di rumah ini. Tidak istrinya. Anak-anaknya. Bahkan pembantunya. Kacungnya. Mereka semua memusuhinya.
 
 Hidup memang tak pernah ramah kepadanya. Sejak kecil Lea sudah harus berjuang. Ayahnya meninggalkannya ketika dia baru berumur tujuh tahun. Dan tampaknya perjuangannya belum selesai.
 
 Jakarta bukan kota yang ramah. Dan rumah Bu Nani bukan nirwana.
 
 Lebih celaka lagi, sekolah yang dipilih Pak Tisna juga bukan sekolah untuknya. Sekolah favorit itu terlalu mahal untuk anak desa seperti dirinya. Apalagi anak yang punya kelainan penampilan seperti Lea.
 
 
 
 BAB III
 
 
 
 "Pak DION ini wali kelasmu, Lea," kata Bu Kathi, kepala sekolahnya. Suaranya tidak terlalu ramah. Datar. Berwibawa. Maklum, kepala sekolah. Kalau terlalu baik, nanti anak-anak jadi kurang-ajar. Tuntutan profesi. "Beliau guru mate matika merangkap guru olahraga. Kalau ada kesulitan, kamu boleh minta nasihat beliau."
 
 Lalu Bu Kathi menoleh kepada laki-laki yang baru masuk ke kantor kepala sekolah itu. Seorang pria muda bertubuh tinggi tegap dengan penampilan sangat menawan. Bukan melecehkan penampilan umum guru. Tapi yang model begini biasanya artis. Dia pasti salah masuk kandang.
 
 "Pagi, Bu Kathi," sapanya ramah. Senyum tersungging di bibirnya. Dia menatap Lea sekilas. Tatapannya demikian bersahabat.
 
 Lea sampai kaget melihat senyumnya. Senyum itu begitu hangat. Begitu lembut. Begitu menghibur. Sejuk seperti tetes hujan di musim kemarau.
 
 "Pagi, Pak Dion. Ini murid baru kita. Lea Ku-suma adik angkat Panji dan Aris dari kelas IIA. Saya beri dia kesempatan tiga bulan masa percobaan di kelas satu. Ijazah SD-nya bagus. IQ-nya seratus empat puluh. Tapi saya tahu itu bukan jaminan dia bisa mengikuti pelajaran di sekolah kita dengan baik."
 
 Ketika mengucapkan kata-kata yang terakhir, Bu Kathi tidak menyembunyikan nada bangga dalam suaranya. Sekolah unggulan! Nggak sombong nih yee!
 
 Tapi sombong nggak selalu dosa, kan? Biasanya orang yang sombong itu rasa malunya besar. Dan di zaman defisit malu seperti sekarang, sombong malah perlu. Asal porsinya jangan terlalu banyak.
 
 "Selamat datang, Lea," kata Pak Dion ramah. "Jangan khawatir. Bapak akan membantumu."
 
 Senyum melebar di bibirnya. Dan entah ada apanya senyum itu. Lea sudah tertarik sejak pertama kali melihatnya.
 
 Pak Dion sungguh berbeda dengan guru-guru yang selama ini dikenalnya. Sudah tampangnya enak dilihat, badannya bagus, sikapnya ramah lagi. Sama sekali tidak menampilkan kesan galak atau angker.
 
 Barangkali dia satu dari sedikit guru yang berpendapat, berwibawa bukan berarti menakutkan. Buktinya hantu tidak berwibawa. Dan kuntilanak tidak pernah jadi kepala sekolah. Kalau jadi bintang film sering.
 
 "Mari, Bapak perkenalkan kamu dengan teman-teman sekelasmu."
 
 Tanpa membantah Lea mengikuti guru barunya. Ketika melewati deretan kelas-kelas di kiri-kanannya, Lea berdesah kagum dalam hati.
 
 Alangkah jauh berbeda dengan sekolahnya di desa! Di depannya terpampang gedung bertingkat yang megah. Kelas-kelas yang nyaman. Halaman yang luas dengan fasilitas olahraga yang memadai.
 
 Tidak ada bekas-bekas air hujan di tembok yang melukiskan peta pulau-pulau tak bernama. Tidak ada cat dinding yang terkelupas. Bangku reyot yang sudah hampir roboh. Dan pintu kelas yang menjerit setiap kali dibuka.
 
 "Ini kelasmu, Lea," kata Pak Dion sambil menyilakan Lea masuk. "Kelas IA."
 
 Kelas yang sedang hiruk-pikuk itu langsung sepi begitu Pak Dion masuk. Semua mata mengawasi paket yang dibawa Pak Dion dengan tatapan ingin tahu.
 
 "Cowok apa cewek sih?" bisik Ita bingung.
 
 "Bencong, kali!" Tya balas berbisik.
 
 Dan mereka tertawa cekikikan. Untung masih pagi. Dan bioskop jauh. Di sana sekarang banyak setan, kan?
 
 "Tampangnya oke," celetuk Guntur "Kebetulan nih, bangku sebelah gue kosong!"
 
 "Selamat pagi," sapa Pak Dion yang segera dibalas dengung tawon sekelas. "Ini teman baru kalian. Namanya Lea Kusuma."
 
 "Hah? Namanya Leak?" sambar Dino mena han tawa.
 
 "Hus! Kayak nama lu kebagusan aja! Masih nebeng iklan lu! Bau sponsor!"
 
 "Lho, bener, kan? Namanya Lea Kusuma? Disingkat Lea K. Dibaca... Leak!"
 
 Dan teman-temannya tertawa riuh.
 
 "Tenang sebentar," kata Pak Dion tegas. "Kalau kalian tidak bisa diam, ada bangku kosong di kantor kepala sekolah."
 
 Tahu, Pak! Anak-anak menjulukinya bangku panas! Kursi listrik!
 
 Wajah Lea memerah. Ternyata di sini pun dia tidak mendapat tempat! belum apa-apa teman-temannya sudah mengejeknya! menjungkirbalikkan namanya.
 
 "ini kelas percobaan untuk Lea. kalau dalam tiga bulan dia tidak dapat mengikuti pelajaran, dia harus mengulang tahun depan. jadi Bapak harap kalian mau membantu Lea."
 
 "Jangan khawatir, Pak!" cetus Guntur bersemangat sekali. "Dia boleh nyontek PR saya. asal ada imbalannya!"
 
 "Huuu, kecil-kecil udah mental amplop!" sela Tya mengejek.
 
 "Dia pasti betah di kelas kita, Pak!" sambar Dino. "Kalau nggak, uang kembali!"
 
 "Dasar cowok kaki lima!" tersenyum Ita.
 
 "Sudah, jangan ribut." kata Pak Dion, tenang dan sabar seperti biasa. "Duduk di bangku kosong itu, Lea."
 
 Tanpa membantah Lea melangkah ke bangku kosong di sebelah Guntur.
 
 Anak laki-laki itu langsung berdiri dan bergaya menyilakan duduk sambil tersenyum. Lea tidak mengacuhkan kelakarnya. Dia malah merasa muak. Padahal badan Guntur bagus. Kekar seperti kerbau. Mukanya juga oke, Bersih. mirip kuda habis mandi.
 
 "Buset, tampangnya asem banget!" gurau Guntur sambil berpaling pada Dino.
 
 "Ngapain juga lu ngeledek dia? Kesan pertama tuh penting bo!"
 
 "Ada PR?" tanya Pak Dion yang langsung di sambut desah putus asa seluruh kelas Seolah-olah mereka sudah siap bunuh diri massal.
 
 "Banyak, Pak." sahut Vera dengan gayanya yang manja-manja menggemaskan. Maksudnya manja minta diremas. Bukan digerus.
 
 Sudah lama dia naksir wali kelasnya yang gan-teng ini. Pak Dion memang masih muda. Baru dua lima. tubuhnya tinggi tegap seperti foto model. Wajahnya tampan mirip bintang iklan. Nah. guru langka macam ini mana boleh disia-siakan? Peluang harus ditangkap pada kesempatan pertama, kan? Itu kata para ahli menangkap tikus.
 
 "Pak Dion mana pernah sih nggak ngasih PR?" sambung Nuniek tidak mau kalah, Seakan-akan takut tidak kebagian lirikan Pak Dion yang maut itu. Maksudnya lirikan yang mendebarkan jan-tung. bukan memhuat jantung berhenti.
 
 "Yang nomor lima tuh, Pak!" sambar Vera beradu cepat. "Susah banget deh!"
 
 "Nomor satu saja belum, kan?" sahut Pak Dion sabar tanpa meninggalkan senyumannya yang membuat Vera sulit tidur. Bukan karena banyak utang, Tapi karena senyum itu selalu menggebah kantuknya. "Coba kamu ke depan. Vera. Kerjakan yang nomor satu."
 
 Vera merapikan roknya dulu sebelum maju ke depan. Ketika dia sedang melangkah seanggun-anggunnya ke depan. Guntur menimpuk pinggulnya dengan karet penghapus. Vera memekik seperti dipatuk ular. "Ada yang nimpuk, Pak!" geramnya gemas, separo untuk mengadu, separonya lagi untuk menarik perhatian.
 
 "Siapa yang menimpuk Vera?" tanya Pak Dion sabar. Menyadari untuk mengajar di kelas yang terkenal paling nakal ini dibutuhkan dua jantung cadangan.
 
 "Saya, Pak!" sahut Guntur menahan tawa. "Dia emang minta ditimpuk kok!"
 
 "Jangan bercanda di kelas, Guntur," suara Pak Dion berubah tegas. Membuat seisi kelas mendadak diam seperti disihir jadi batu. "Siapa yang masih mau bergurau, silakan keluar. Bergurau saja dengan matahari." Wah, bisa hangus, Pak! Emangnya Icarus! Keheran-heranan Lea menyaksikan efek kata-kata itu. Pak Dion tidak marah-marah. Tidak membentak-bentak. Tetapi sekali dia memperingatkan dengan suaranya yang berwibawa, tidak ada seekor jangkrik pun yang berani berbunyi lagi.
 
 Lea sedang kebingungan mencari mobil ayah angkatnya ketika Guntur lewat. Kata Pak Tisna tadi pagi, dia tidak boleh pulang sendiri. Harus pulang bersama Panji dan Aris. Dijemput Mang Dahim. Pakai mobil. Wah, sekarang dia jadi AKB jilid dua. Anak Kaya Baru. Bukan Anak Kotor Bau. Itu sih jilid satunya.
 
 Tetapi sampai pegal mata Lea mencari, dia tidak menemukan juga mobil yang mengantarnya tadi pagi. Padahal kelas IIA sudah kosong melompong.
 
 Ketika Lea sedang menoleh-noleh, teman-teman sekelasnya lewat.
 
 "Halo," sapa Guntur dengan suara mirip wadam. Disekanya rambutnya ke belakang dengan gaya yang membuat semua temannya tertawa gelak-gelak. "Cari tumpangan, Mbak?"
 
 Tanpa mengacuhkan kelakar Guntur, Lea memutar tubuhnya. Karena berbalik terlalu cepat, dia hampir menabrak Dahlan.
 
 "Minggir!" Sengaja Dino mendorong tubuh Dahlan ke arah Lea. "Koboi lewat!"
 
 "Auw!" Dahlan pura-pura sempoyongan menabrak Lea.
 
 Tetapi reaksi murid baru itu benar-benar di luar dugaan. Dia t