Imam Tanpa Bayangan II - 112

Diposting oleh Saiful bahri dari situbondo pada 07:18, 04-Apr-14

Cerita Silat | Imam Tanpa Bayangan II | oleh Xiao Say | Imam Tanpa Bayangan II | Cersil Sakti | Imam Tanpa Bayangan II pdf

Andrea Hirata - Dwilogi 1 - Padang Bulan Andrea Hirata - Dwilogi 2 - Cinta Dalam Gelas Kisah Para Nabi Allah Ketika Cinta Bertasbih 1 - Habiburrahman El Shirazy Ketika Cinta Bertasbih 2 - Habiburrahman El Shirazy

Pelbagai ingatan aneh berkecambuk dalam benaknya... membuat pemuda itu terpekur dengan wajah mendelong... perasaan hatinya yang bergolak perlahan-lahan jadi tenang kembali. Ia tarik napas panjang-panjang, lalu bertanya : "Ibuku sekarang berada dimana?" "Sudah tembuskah jalan pikiranmu?" jengek Cui Tiap Tiap sambil tertawa dingin, "Pek In Hoei! Sebelum kau berjumpa muka dengan ibumu, terlebih dahulu aku hendak memperingatkan dirimu, meskipun ibumu telah bertindak salah, kau sebagai puteranya harus bertindak sopan dan tunjukkan kebaktianmu... aku harap kau jangan bertindak gegabah tanpa berpikir panjang...." "Cukup! Luka yang menggores dalam hatiku sudah cukup parah," tukas Pek In Hoei sambil geleng kepala, "aku dapat memahami maksud hatimu itu, terima kasih, aku dapat pergi menjumpai dia orang tua dengan sikap yang hormat..." Mendengar pemuda itu telah berjanji, perasaan hati Cui Tiap Tiap pun lambat laun berubah jadi lega, katanya : "Karena kau bukan seorang perempuan maka kau tak akan memahami perasaan hati dari seorang wanita, aku harap kau bisa menyelami pula perasaan menderita pada tubuh orang lain, janganlah mengungkap-ungkap urusan yang sebenarnya sama sekali tak berguna...." Ia melirik sekejap ke samping kiri dan kanannya, lalu berseru : "Mari kita berangkat! Kali ini ibu akan bertemu dengan kau tanpa sepengetahuan ayahku, ia tidak mengharapkan orang lain pun mengetahui akan persoalan ini, ia cuma berharap agar bisa bercakap- cakap dengan dirimu secara baik-baik, nanti sewaktu kita berangkat ke situ aku harap kau suka bertindak hati-hati...." "Ehmmm! Ibuku bersiap-siap hendak bertemu dengan diriku dimana ?....." "Tuh, di dalam ruangan sebelah depan sana," sahut Ciu Tiap Tiap sambil menuding ke arah depan, "ikutilah aku dengan hati-hati, aku kuatir ayahku mengetahui akan peristiwa ini maka dalam tindak tandukmu nanti bersikaplah waspada dan hati-hati." Perlahan-lahan ia menggerakkan tubuhnya dan bergeser menuju kegelapan yang mencekam di seluruh jagad, Pek In Hoei mengikuti dari belakangnya, menyaksikan sikap sang gadis diam- diam ia tertawa dingin, senyuman dingin menghiasi ujung bibirnya.... Ketika tiba di depan sebuah bangunan, tiba-tiba Ciu Tiap Tiap menghentikan gerakan tubuhnya, ia menyapu sekejap sekeliling tempat itu lalu bisiknya kepada jago pedang berdarah dingin dengan suara lirih : "Ibumu berada di dalam bangunan tersebut, sekeliling tempat ini penuh dengan penjagaan yang ketat, tunggulah sebentar disini! Akan kuusir dahulu para penjaga itu kemudian kau baru masuk ke dalam." Ia memerintahkan si anak muda itu untuk bersembunyi di belakang sebuah pohon besar, ia sendiri perlahan-lahan bergerak menuju ke arah pintu depan. Belum jauh ia berjalan, dari tempat kegelapan meloncat keluar dua orang pria baju hitam, sambil menghadang jalan pergi gadis itu tegurnya : „Siapa ??" Suasana yang gelap gulita membuat pihak lawan tak jelas menyaksikan lawan, begitu teguran itu diutarakan keluar, Cui Tiap Tiap segera mendengus dingin. "Hmm! Loo Ma, masa aku pun tidak kau kenal?" tegurnya. Kedua orang pria itu terkesiap, lalu bongkokkan badan memberi hormat. „Oooh kiranya nona!" „Hmm ! Malam ini akulah yang akan menemani loo- hujin, kalian boleh pergi beristirahat, bila poocu telah kembali berilah kabar cepat-cepat kepadaku... " "Baik!" sahut pria yang ada di sebelah kiri dengan sikap hormat, "pesan nona pasti akan hamba laksanakan sebaik-baiknya." Menanti Cui Tiap Tiap ulapkan tangannya, kedua orang pria itu dengan ketakutan segera mengundurkan diri dari sana. Setelah bayangan punggung kedua lenyap dari pandangan, Cui Tiap Tiap baru menggape ke arah Pek In Hoei sambil ujarnya : "Masuklah ke dalam, kedua orang manusia yang memuakkan itu sudah kuusir pergi!" "Terima kasih atas bantuanmu," sahut Pek In Hoei sambil meloncat keluar dari tempat persembunyiannya, "bila kau tidak menunjukkan jalan bagiku, mungkin aku tak akan mendapatkan cara untuk tiba ditempat ini...." Mereka berdua segera melangkah masuk ke dalam pintu, tampak bau bunga harum semerbak tersiar di udara, di tengah kebun bunga yang luas muncullah sebuah bangunan rumah yang megah, cahaya lentera memancar keluar lewat celah-celah pintu dan jendela... "Masuklah ke dalam!" bisik Cui Tiap Tiap dengan suara lirih, "ibumu mungkin sudah lama menantikan kedatanganmu, inilah detik detik bersejarah yang menandakan pertemuan antara ibu dan anak, aku tidak ingin menyaksikan adegan yang memilukan hati itu, maka maafkanlah aku bila aku tak akan menemani dirimu lebih jauh." Dengan perasaan hati bergolak Pek In Hoei menghembuskan napas panjang, tiba-tiba ia merasa hatinya jadi tegang daripada sewaktu menghadapi suatu pertarungan.... Keringat dingin mengucur keluar membasahi seluruh tubuhnya, dia naik ke atas tangga batu dan mendorong pintu yang tertutup rapat. Kraak... ! Tatkala pintu itu terbuka, dengan perasaan sangsi ia tarik kembali tangannya. "Ibu..." bisiknya dengan suara lirih. Orang yang berada di dalam ruangan rupanya tak bisa mengendalikan golakan batinnya, ia menjerit tertahan.... ketika pintu terbuka, tampaklah seorang perempuan tua yang rambutnya telah beruban semua dengan air mata bercucuran berdiri di hadapannya... biji matanya jeli tiada hentinya menatap wajah Pek In Hoei. "Hoei.... kau.... kau adalah Pek In Hoei.... putraku..." bisik perempuan tua itu dengan suara parau. "Tidak salah!" jawab Pek In Hoei dengan air mata bercucuran, "seorang bocah yang belum pernah melihat raut wajah ibu sendiri..." Bagaikan terkena listrik tegangan tinggi, sekujur badan perempuan tua yang sedang berduka itu gemetar keras... ia ulurkan tangannya yang gemetar keras untuk membelai raut wajah si anak muda itu. "Kau... kau telah dewasa..." bisiknya lirih. "Aku tak pernah mati kelaparan, tentu saja tubuhku bertambah dewasa..." tukas Pek In Hoei sambil menyeka air mata yang membasahi pipinya. Jawaban tersebut sama sekali tidak bersikap persahabatan, dengan pandangan tercengang perempuan tua itu menatap sekejap wajah Pek In Hoei, air mukanya yang sudah pucat kini kian bertambah pucat hingga menyerupai mayat, dengan sedih ia menghela napas panjang. "Aku tahu... kau tak akan memaafkan diriku... sebelum berjumpa dengan kau aku telah memikirkan persoalan ini, mama tak salahkan dirimu, mama hanya salahkan nasib mama yang jelek." Dengan penuh kesedihan ia tutup wajah sendiri dengan tangannya lalu menangis, air mata jatuh bercucuran merembes dari celah-celah jarinya yang telah berkeriput... Pek In Hoei merasa hatinya jadi kecut, dengan hati pedih ia menghela napas panjang, kepalanya terkulai dan ia ikut menangis. Pemandangan yang terbentang ketika itu sangat mengenaskan sekali, meskipun ibu dan anak bisa berjumpa lagi namun perjumpaan itu tidak ditandai oleh kegembiraan atau kebahagiaan, melainkan hanya kepedihan serta kesedihan saja yang ada.... Lama sekali perempuan tua itu menangis kemudian sambil menahan isak tangisnya ia bertanya : "Nak, benarkah kau amat benci terhadap diriku ??" Pek In Hoei menggeleng. ",Aku tak akan membenci dirimu, aku hanya membenci terhadap diriku sendiri..." "Aaai..." aku tahu tindakanku ini keliru besar..." bisik perempuan tua itu lagi sambil menghela napas panjang. "Hmm! Tidak sewajarnya kalau kau kawin lagi dengan musuh besar dart ayah..." "Aaai...! Helaan napas berat kembali berkumandang memecahkan kesunyian, dengan wajah penuh kesedihan dan penyesalan perempuan tua yang patut dikasihani ini gelengkan kepalanya berulang kali. "Kau anggap mama adalah perempuan lonte yang tahu malu ?? Kau anggap mama rela merendahkan derajat untuk tunduk kepada Cui Tek Li?" serunya sambil menahan perih hatinya, "Nak... kau keliru... kau keliru besar... mama masih memiliki gengsi sebagai seorang perempuan, mama masih memiliki martabat hidup sebagai seorang istri yang setia... sekalipun selama hidup aku tak punya suami, aku lebih rela daripada mencintai keparat tua itu..." "Jadi kalau begitu poocu dari benteng Kiam poo yang memaksa kau untuk berbuat demikian..." seru Pek In Hoei dengan suara gemetar. Dengan penuh kesedihan perempuan tua itu menunduk. "Tindakan Cui Tek Li amat lihay dan luar biasa sekali, setelah ia menculik aku datang kemari maka ia sengaja menggunakan keselamatanmu serta keselamatan ayahmu untuk menggertak diriku, membuat batinku tertekan dan setiap hari aku jadi kuatir untuk keselamatan suamiku serta anakku." "Apa ? Ia berani menggunakan cara yang begitu rendah untuk menghadapi dirimu..." teriak Pek In Hoei dengan penuh kebencian, batinnya terpukul keras. Napsu membunuh yang amat tebal seketika melintas di atas raut wajah pemuda itu, wajahnya berubah jadi menyeringai dan tampak mengerikan sekali. ketika perempuan tua itu melihat keadaan putranya, ia terkesiap, dengan rasa takut bercampur ngeri segera tegurnya : "Nak, apa yang hendak kau lakukan?" "Oooh...! Tidak... jangan... jangan kau lakukan perbuatan itu... jangan kau lakukan pembunuhan itu..." seru perempuan tua itu dengan suara gemetar. Tertegun hati Pek In Hoei mendengar perkataan itu, hawa amarah sedang berkobar dalam rongga dadanya, ia tak mampu mengendalikan golakan dalam hatinya lagi, segera tegurnya : "Kenapa? Apakah hal itu disebabkan Cui Tek Li adalah suamimu?" Jelas pemuda ini sudah bikin salah paham oleh perkataan ibunya, ia sangat membenci pemilik benteng Kiam-poo yang telah menggunakan cara rendah untuk mengancam ibunya, maka dalam pembicaraan pun ia mulai pandang hina orang tua itu, teguran yang ditujukan kepada ibunya pun tanpa tedeng aling-aling.... "Tidak! Tidak nak, kau telah salah paham... kau telah salah mengartikan ucapanku itu!" seru perempuan tua itu dengan suara terkejut bercampur ketakutan. "Hmmm ! Apanya yang salah paham?" ejek Pek In Hoei sambil tertawa dingin, "dendam permusuhan antara Cui Tek Li dengan ayah dalam bagaikan samudra, kedua belah pihak tak mungkin bisa hidup berdampingan di kolong langit, ia telah menghina ayah, maka sekalipun kubunuh perbuatanku ini tidaklah kelewat batas, apalagi dia sudah memaksa kawin dengan dirinya." Ia berhenti sebentar, kemudian dengan suara gemetar sambungnya lagi : "Mama, aku ingin mengajukan satu pertanyaan kepadamu!" "Apa yang hendak kau tanyakan?? Katakanlah!" seru perempuan tua itu sambil menangis tersedu-sedu. "Bagaimana keadaan ayah waktu menemui ajalnya??" Perempuan tua itu merasa hatinya sakit bagaikan diiris dengan pisau, penderitaan serta siksaan batin membuat sekujur badannya gemetar keras, air mata jatuh bercucuran dengan derasnya, bibirnya bergerak meluncurkan beberapa patah kata yang serak dan parau. "Apakah kau belum tahu...." ",Kali ini dengan menempuh dan mempertaruhkan jiwa ragaku aku menerjang masuk ke dalam benteng Kiam-poo, tujuannya bukan lain adalah ingin menyelidiki sebab-sebab kematian dari ayah, aku rasa ibu tentu mengetahui akan rahasia ini....aku hendak membunuh semua para bajingan-bajingan terkutuk itu untuk membalaskan dendam sakit hati dari ayah....." „Hoa Pek Tuo...!" "Apa? Dia..." napsu membunuh menyelimuti seluruh wajahnya, dengan penuh kebencian ia berteriak, "sejak dahulu aku telah menaruh curiga terhadap orang ini. hanya aku kekurangan bukti." Perlahan-lahan ia cabut keluar pedang mestika penghancur sang surya, kemudian mengangkat ke tengah udara.... sambil menatap ujung pedang itu dengan sorot mata mengerikan, teriaknya kembali : "Aku hendak menggunakan pedang ini untuk mencuci bersih seluruh dendam sakit hati ini." Pedang berkelebat lewat, cahaya berkilauan menusuk pandangan mata, di antara menyambar bayangan senjata.... Krasak! Meja tebal yang berada di ruang tengah terbelah jadi dua bagian termakan oleh pecahan pedang itu. "Nak...!" jerit perempuan itu dengan suara gemetar. Sepasang mata Pek In Hoei berubah jadi merah berapi-api, sambil menatap wajah ibunya tajam- tajam ia menegur : "Siapa lagi yang terlibat dalam rencana pembunuhan ini?" Ia berhenti sejenak, kemudian desaknya lagi lebih jauh : "Apakah Cui Tek Li adalah otak dari rencana pembunuhan ini..." Dengan ketakutan perempuan tua itu duduk menjublak, sekujur badannya gemetar keras dan hatinya sakit bagaikan diiris-iris dengan pisau, air mata jatuh bercucuran membasahi pipinya yang telah penuh berkeriput, ujarnya sambil menghela napas panjang : "Aku mempertahankan hidupku hingga sekarang, tujuannya bukan lain adalah untuk menyelidiki siapakah pembunuh sebenarnya dari ayahmu, setelah kulakukan penyelidikan yang teliti dan seksama, dapat kuketahui Hoa Pek Tuo adalah pembunuh yang terutama, sedangkan Cui Tek Li benarkah merupakan otak dari rencana pembunuhan ini, sampai sekarang aku belum berani memastikannya tetapi aku tahu hubungannya dengan Hoa Pek Tuo pada akhir-akhir ini amat rapat dan akrab sekali, di kemudian hari aku pasti akan mencari kesempatan untuk menyelidiki persoalan ini." "Ooouw....! Mungkin kau tak berani membuktikannya sebab kau takut aku membinasakan dirinya, sehingga membuat kau kehilangan suamimu." "Tutup mulutmu...." bentak perempuan tua itu dengan suara nyaring, air mukanya berubah jadi mengenaskan sekali tanyanya : "Kau jangan mengira aku sedang memohonkan ampun bagi Cui Tek Li, terus terang kuberitahukan kepadamu selama hidup aku hanya tahu mencintai Pek Tiang Hong, dia adalah orang yang paling kucintai, akupun merasa mempunyai tugas serta kewajiban untuk menuntut balas bagi kematiannya. Asalkan Cui Tek Li terlibat dalam peristiwa berdarah ini, aku akan berusaha mencari akal untuk membinasakan dirinya. Nak, aku tak mau tahu bagaimanakah pandanganmu terhadap diriku, yang jelas apa yang barusan kukatakan adalah kata-kata yang muncul dari sanubariku, sedikit pun aku tiada maksud untuk membohongi dirimu." "Ooo, aku tahu...aku sudah tahu !"