Century - 17

Diposting oleh Saiful bahri dari situbondo pada 11:54, 21-Sep-14

Novel Fantasi | Century | by Sarah Singleton | Century | Cersil Sakti | Century pdf

Bedded by the Boss - Lynda Chance Body in the Closet - Mayat Dalam Lemari - Mary Higgins Clark Cinta Itu (Tidak) Merah Jambu - www.YukNulis.com Ketika Angin Bertiup - When the Wind Blows - James Patterson Sebuah Bahu utk Menangis - Ria N. Badaria

d ke-18. Mungkin Claudius sudah bosan pada penelitiannya. Mungkin ia menghabiskan satu atau dua dekade menulis puisi, atau berburu, atau bermalas-malasan. Aneh sekali manusia yang bisa hidup panjang bisa menghabiskan banyak waktu menyibukkan diri dalam masalah kematian dan kelahiran kembali. Tetapi penelitian itu bukan tanpa sebab. Claudius berusaha mengerti mengapa ia dan keluarga Verga secara keseluruhan bisa mencurangi takdir yang harus dialami setiap tumbuhan, makhluk, dan manusia lain di permukaan bumi. Siapakah mereka? Mengapa keluarga ini memiliki bakat istimewa begitu besar?
  Mercy terus membaca. Catatan-catatan mulai bertebaran kembali di penghujung tahun 1788, hanya setahun sebelum sekarang. Sebelum Mercy bisa membaca lagi, Claudius membanting pintu menutup dan menguncinya dengan dua selot hitam besar. Keenam peti terletak di sekitarnya, dipaku rapat. Perangko dari negara-negara asing menempel pada kayu mentahnya. Claudius mengamati, satu demi satu; kotak-kotak itu dengan sabar menunggu perhatiannya. Ia mengambil pancang besi dari meja dan menusukkannya ke bawah tutup peti pertama, yang tiba dari Venesia. Kayunya pecah, paku-pakunya berderit saat ia mengungkit lepas tutupnya. Di dalamnya, dipak hati-hati di antara jerami, tergeletak telur kaca yang halus. Claudius melemparkan jerami ke lantai, dan mengangkat wadah itu dengan khidmat. Pipa panjang merupakan satu-satunya jalan masuk ke dalam gelembung kaca yang indah itu. Claudius mengangkat wadah itu ke tempat yang kena cahaya, mengaguminya. Ia menggunakan penggaris kayu untuk mengukurnya.
  Indah sekali, katanya keras-keras. Begitu indah. Mereka melakukan pekerjaan dengan sangat baik persis seperti yang kuminta. Ia mengembalikan wadah itu dengan hati-hati ke sarang jeraminya dan mulai membuka kotak-kotak lain. Peti kedua, berperangko Venesia, berisi peranti-peranti kaca lain yang lebih kecil dan dua bola kaca berwarna, dalam kotak beludru berlapis. Peti-peti lain berisi buku-buku tebal, gulungan-gulungan perkamen, gulung an-gulungan kain, tabung-tabung berisi kain yang mem bungkus kristal serta bubuk berwarna, botol-botol berisi berbagai jenis cairan, dan yang paling aneh, gaun palin g mengagumkan yang pernah Mercy lihat.
  Claudius mengangkat gaun itu dari peti terakhir. Mercy tak bisa menduga dari mana asal perangkonya. Tulisannya bisa saja berupa huruf Rusia. Gaun itu terbuka dari lipatannya tanpa suara. Mercy tersentak. Ia teringat cerita-cerita rakyat di mana peri dan ibu-ibu yang rajin membordir gaun yang terbuat dari cahaya bulan dan sutra laba-laba, bunga bintang, butiran embun. Gaun itu berwarna putih, kelabu, dan perak meski nama-nama warna tak mampu mendeskripsikan jalinan tak terlukiskan mutiara, butiran salju, kabut lautan, embun beku. Gaun musim dingin. Gaun pengantin. Claudius memeluk gaun itu, seakan calon pengantinnya sudah berada di dalamnya. Ia menelusuri permukaannya yang dibordir, jalinan-jalinan batu permata mungil. Ia membenamkan wajah pada rok sutranya yang dingin. Betapa ia mencintai Marietta. Mercy bisa melihatnya sekarang, dalam cara Claudius memperlakukan gaun itu dengan kelembutan luar biasa, gaun yang dibelinya untuk memuja Marietta, dalam gairah di wajahnya.
  Claudius membawa gaun itu ke ujung ruangan dan membuka kunci pintu di sana. Mercy melihat kilasan terakhir gaun itu ketika Claudius memasukkannya ke lemari kayu ek. Ia mengelusnya sekali lagi, dan kembali ke laboratorium, mengunci pintu itu lagi. Ia berdiri dekat meja, menatap peralatan yang berjejer, sibuk dengan pikirannya sendiri. Angin menekan jendela. Beberapa butir besar air hujan menerpa kacanya. Gerimis berubah menjadi deras hanya dalam beberapa menit. Ruangan redup itu jadi gelap, dan Claudius mulai menyalakan lilin-lilin yang bertebaran. Lilin cair mulai menetes, menelusuri kembali aliran beku dari lelehan sebelumnya, menjadi bentuk baru yang menjijikkan di dasar lilin, di atas meja dan lemari, dan di lantai.
  Claudius berdiri dalam lingkaran cahaya ini dan membolak-balik catatan di dalam buku bersampul kulitnya. Ia mulai bekerja.
  Mercy meringkuk dekat dinding dan menyaksikan. Gelombang pikiran atau gairah menguasai Claudius sekarang. Ia memulai pekerjaan panjang dan sulit mempersiapkan peralatannya, menggunakan komponen-komponen baru dari peti-peti tadi selain bagian-bagian yang sudah dimilikinya. Ia mencabut diagram-diagram dari dari dinding dan kembali menekuni catatan-catatannya. Ia tenggelam dalam buku-buku barunya. Tak sekalipun ia mengalihkan konsentrasi. Ia sangat bersungguh-sungguh lelaki yang terobsesi. Ia menjadi prosesnya, membaca dan mengasimilasi, memasang dan mencopot, menulis dan menaksir-naksir.
  Lilin-lilin mulai pendek, dan diganti. Hujan turun terus, dan matahari musim gugur mengintip sejenak menembus awan, sehingga butiran-butiran air hujan di jendela tampak gemerlap.
  Claudius membakar bubuk kuning di wadah batu. Mula-mula asap yang ditimbulkannya berbau tajam, kemudian manis, seperti melati. Ia mengaduk abu hasil pembakaran itu menjadi cairan bening, menaburkan kristal-kristal kecil berwarna merah darah. Ia membersihkan meja dan menggunakan ramuan itu untuk menggambar simbol-simbol di permukaannya yang berbintik-bintik. Lingkaran, empat penjuru, huruf-huruf kuno dalam jarak tertentu. Ia menata ulang susunan pipa-pipa kaca, menuju ke telur Venesia tadi, menetas dari peti pertama. Akhirnya ia berdiri menatap. Segalanya, rupanya, telah siap.
  Apa sekarang? Mercy beringsut, punggung kaku, kaki kram. Ia meregangkan tubuh dan berdiri. Apa sekarang? Mercy menunggu dalam kegelapan, terpesona.
  Claudius menyapu pandangan pada rangkaian peralatan sekali lagi, dan mengambil napas dalam-dalam, berulang kali. Wajahnya pucat sekali, dengan bercak-bercak kemerahan di pipinya. Bibirnya nyaris putih. Ia mengibaskan rambut dari wajahnya. Memutuskan sesuatu di dalam hati, ia berpaling dari meja dan menghilang lagi ke ruangan sebelah. Ia kembali membawa keranjang tertutup, di dalamnya terdapat makhluk bergerak dan mengeluarkan suara aneh seperti terisak.
  Claudius meletakkan keranjang itu di meja dan mengucapkan kata-kata menenangkan kepada hewan di dalamnya. Kucing putih dan kuning menempelkan wajahnya dengan murung ke dinding keranjang rotan dan mengeong. Mercy mencengkeramkan kuku ke telapak tangannya dengan khawatir apa yang akan dilakukan Claudius? Kucing itu terus mengeong, berputar-putar dalam keranjang, ketika lelaki itu masuk ke ruangan sebelah untuk terakhir kali, kembali dengan membawa mainan binatang. Ia meletakkannya di ujung meja. Mercy mendekat, untuk melihat.
  Tidak, itu bukan hewan yang diawetkan meski ilmu yang dipelajarinya memiliki hubungan. Claudius membuat replika kucing. Pekerjaan rekayasa yang rumit. Replika itu setengah tertutup kain hitam; wajah, tubuh, dan dua kakinya. Setengah lagi dibiarkan tak berkulit, menunjukkan konstruksinya yang cerdas terbuat dari kayu dan gading, kawat tembaga, kantong-kantong berisi sesuatu (mungkin serbuk gergaji) membentuk otot, dan mata yang tampak basah dari batu amber, seperti boneka binatang di dalam peti.
  Mercy hampir tak bisa bernapas. Jantungnya berdebar, seakan berada di kerongkongannya.
  Claudius meletakkan kucing di keranjang ke tengah-tengah lingkaran yang digambar di permukaan meja. Ia membuka salah satu buku barunya dan mengeluarkan secarik perkamen, cokelat dimakan usia dan penuh bercak bekas air. Ia melangkah mundur, berdiri tegak, dan mulai membaca keras-keras.
  Mercy tak mengerti kata-kata yang diucapkannya maupun asal bahasanya. Tapi kata-kata itu seakan berputar sendiri menerpa rambutnya dan masuk ke otaknya. Kata-kata sakti. Kata-kata berkekuatan gaib, seperti Shem, ditulis di secarik kertas di bawah lidah golem. Bukankan Tuhan membentuk alam semesta dari kehampaan menggunakan kekuatan kata-kataNya?
  Claudius terus membaca. Dunia di luar lenyap, ruang menyusut menjadi empat dinding, meja, kucing yang melolong di dalam keranjang. Lilin-lilin menyala jadi satu, dan padam, memenuhi ruangan dengan asap. Tetapi cahaya biru dingin memancar dari lingkaran yang digambar, menerangi ruangan. Peralatan di meja bergetar. Buku melayang di udara, halamannya berkibar-kibar. Mercy merasakan tulang-belulang di tubuhnya bergemeletuk. Claudius masih terus membaca.
  Kucing itu menjerit untuk terakhir kali, kemudian diam. Sinar biru memancar terang, dan bola cahaya yang sangat terang muncul dari dalam kerongkongan kucing tersebut, melalui lidahnya, ditangkap cerobong kaca yang kemudian membawa cahaya menyilaukan bagai cairan itu di sepanjang pipa, tampak enggan bergerak. Sentimeter demi sentimeter yang mantap cahaya biru itu bergerak, sampai terjatuh, seperti batu, ke dalam perut telur Venesia.
  Di dinding, kupu-kupu yang tertempel di kotak mengepakkan sayap. Ikan pike di wadah kaca mengatupkan rahang, menggeliatkan tubuhnya yang panjang. Papan lantai mengerang, paku-paku tercabut. Claudius melemah sekarang. Ilmu sihir itu membuatnya terkuras. Darah mengalir dari lubang hidung sebelah kiri, menetes melalui bibirnya. Ambang jendela berderak, kemudian satu lagi. Cahaya terang itu berenang-renang di dalam wadah kaca, membentuk diri seperti kucing mungil.
  Aliran kata-kata mencapai akhir. Seketika Claudius mencabut pipa kaca dan memasang sumbat kayu di lubang wadah kaca untuk mengurung roh si kucing. Wajah lelaki itu tampak gembira sekali. Ia mengusap darah di hidungnya, lebam berwarna ungu sekarang muncul di mata dan mulutnya. Apakah ia merasa sakit? Ia sama sekali tak menunjukkannya, melemparkan keranjang dan tubuh kucing mati ke lantai tanpa berpikir lagi. Cahaya biru yang berpendar itu mulai meredup, dan Claudius menyalakan kembali selusin lilin. Kupu-kupu masih berjengit. Ikan pike menggelepar sedikit, menunjukkan deretan gigi seperti jarum.
  Claudius memindahkan replika kucing ke tengah-tengah lingkaran. Ia menata perkakasnya, mengganti pipa kaca dengan yang lain, diarahkan ke tenggorokan kucing kain itu. Ia membungkuk, menatap roh biru berkilauan di dalam wadah kaca; kucing mungil itu melompat, dan telentang sambil memukul-mukulkan cakar depan ke butiran debu tak kasat mata.
  Roh bernyawa, Claudius berbisik. Orang-orang Mesir menyebutnya ka. Orang-orang Eskimo menyebutnya Inua. Jiwa abadi. Apakah kucing memiliki ka yang lebih kecil daripada manusia, kira-kira?
  Lelaki itu bergerak dari sisi ke sisi, mengintip roh kucing di wadah kaca. Ia memeriksa tatanan pipa dan penyumbat sekali lagi lalu mengambil perkamen kedua dari buku tua tadi.
  Mercy menguatkan diri, bersiap-siap menghadapi kata-kata yang akan merobek dan mengoyak. Ia menutup telinga dengan jemari. Claudius membuka jalan masuk ke pipa baru dan mulai bicara.
  Kali ini kata-katanya lebih lembut, untuk membangkitkan kembali. Ketegangan di dalam ruangan kini berkurang. Kupu-kupu dan ikan di kotak sekarang tak bergerak, kehilangan setengah kehidupan. Kata-kata itu menyejukkan. Di luar, cahaya matahari memancar melalui jendela, membuat berbagai benda di dalam ruangan tampak keemasan. Jiwa kecil itu, dengan suara seperti desahan, disedot dari wadahnya melintasi pipa menuju tenggorokan kucing kain. Pendaran biru terakhir lenyap. Claudius meletakkan perkamen. Ruangan hening sekali.
  Mercy mulai kembali bernapas dengan mudah. Claudius mengusap wajah dengan lengan baju putihnya, darah masih mengalir dari hidungnya. Ia tampak berantakan sekali, dengan lebam-lebam membiru. Sejumput rambut di dekat pelipis kirinya berubah menjadi putih.
  Claudius mengalihkan perhatiannya kepada si kucing kain. Ia menutup lubang di tenggorokan kucing tersebut dengan secarik perkamen, dan menyumbatnya dengan menjahitkan sepotong kain.
  Bangunlah, katanya. Bangunlah.
  Kucing itu masih lemas hanya berupa tumpukan kayu, kain, dan serbuk gergaji. Claudius mengelus wajah si kucing. Mengguncangnya.
  Bangunlah, ia berusaha lagi. Ia melangkah mundur. Ekspresi penuh harap dan gelisah bergumul di wajahnya. Kucing kain itu tidak bergerak. Semenit berlalu, kemudian semenit lagi. Ekor kucing kain itu berjengit. Mercy nyaris tak memercayai matanya. Claudius menatap. Ekor itu bergerak lagi. Kucing itu seperti bersin. Kaki-kakinya bergerak cepat tak beraturan. Ia mengangkat kepala, dan melihat sekeliling. Dengan gerakan mengantuk, ia berdiri, limbung dan miring. Ia terhuyung-huyung di atas keempat kakinya, kemudian melompat dari meja, terkapar