Pusaka Lidah Setan - 10

Diposting oleh Saiful bahri dari situbondo pada 20:46, 28-Mei-15

Cerita Silat | Pusaka Lidah Setan | Serial Pendekar Rajawali Sakti | Pusaka Lidah Setan | Cersil Sakti | Pusaka Lidah Setan pdf

Raja Petir ~ Asmara Sang Pengemis Raja Naga ~ Bunga Kemuning Biru Pendekar Rajawali Sakti - 188. Warisan Terkutuk Jaka Sembung ~ Menumpas Gerombolan Lalawa Hideung Pendekar Gagak Rimang ~ Siasat Yang Biadab

sambil berkelit dan langsung melancarkan serangan balasan.
  Sosok berbaju serba hitam itu hanya mendengus, serangannya semakin diperhebat. Namun, Rangga sudah tidak ingin mengulur waktu lagi.
  “Hiyaaa...”
  Tiba-tiba Rangga melompat ke depan. Kakinya bergerak menghantam ke bagian wajah lawannya.
  “Hup...”
  Tetapi sosok berbaju hitam ini cepat melompat mundur, sehingga tendangan Rangga hanya mengenai tempat kosong. Pada saat Pendekar Rajawali Sakti berusaha melanjutkan serangan dengan hantaman tangan kanan, golok orang itu menyodok ke bagian dada.
  “Uts”
  Pendekar Rajawali Sakti terpaksa membuang diri ke samping, lalu berguling- guling. Dan baru saja Rangga bangkit, sosok serba hitam itu telah meluruk kembali dengan serangan mematikan.
  Dalam keadaan terdesak seperti ini, Pendekar Rajawali Sakti jelas tidak punya pilihan lain lagi. Seketika tangannya membentuk paruh rajawali disertai tenaga dalam tinggi. Akibatnya, kedua tangannya berubah merah membara. Begitu serangan datang, Rangga mengegos sambil berputar ke kanan dengan kaki kiri sedikit terangkat. Dan tiba- tiba tangan kirinya mengibas ke belakang. Lalu....
  Desss...
  “Aaa...”
  Tidak ampun lagi, tubuh orang itu terguling-guling disertai jerit kematian. Rupanya, Rangga telah mempergunakan jurus ‘Pukulan Maut Paruh Rajawali’ untuk menghentikan perlawanan yang hampir saja membuatnya celaka.
 
  ***
  4
  Rangga segera memeriksa sosok yang menyerangnya. Sulit dikenali, karena tubuhnya telah berubah hangus. Segera diperiksanya bagian-bagian lain untuk mencari petunjuk. Dan ternyata pada salah satu saku sosok mayat ini ditemukan sebuah benda berbentuk kepala serigala terbuat dari perak berwarna putih. Rangga segera membawanya ke tempat yang terang untuk menelitinya lebih seksama.
  “Ini semacam perkumpulan. Atau, boleh jadi gerombolan tertentu. Kurasa mereka berada di kota Prabu Mulih ini juga. Mungkin inilah salah satu ancaman berbahaya yang dimaksudkan Malim Jenaka. Tetapi mengapa Malim Jenaka sampai mau bersusah payah turun tangan?” gumam Rangga pelan.
  Setelah memasukkan lambang serigala itu, Rangga segera menuju tempat pelayan bagian penerima tamu. Tetapi, betapa terkejutnya pemuda berbaju rompi putih ini ketika melihat pelayan itu telah jadi mayat, tergolek di atas meja kerjanya. Tubuhnya koyak berlumur darah, nyaris tinggal tulang-belulang saja
  Geram bukan main Rangga melihat pemandangan yang sangat mengerikan, sekaligus mengenaskan ini. Wajahnya sempat berubah tegang. Segera matanya beredar ke sekelilingnya.
  “Hei..., berhenti...” teriak Pendekar Rajawali Sakti tiba-tiba, begitu melihat satu sosok tubuh berkelebat di bagian depan penginapan.
  Rangga segera berkelebat mengejar keluar. Namun begitu tiba di luar, dia kehilangan jejak. Sosok bayangan yang baru dilihatnya barusan menghilang begitu saja dalam kegelapan. Bahkan ketika Rangga mengerahkan aji ‘Tatar Netra’ tak ada sesuatu pun yang terlihat, kecuali pepohonan dan rumah-rumah penduduk.
  Sekejap tadi, Pendekar Rajawali Sakti sempat melihat sepasang mata berwarna merah menyala dari sosok yang bertubuh tinggi besar. Rangga jadi bertanya-tanya dalam hati. Mungkinkah apa yang dilihatnya barusan tadi ada hubungannya dengan laki- laki yang tewas di tangannya? Lalu, siapa yang telah memangsa pelayan penginapan? Melihat tubuhnya yang nyaris tinggal tulang-belulang, pastilah yang memangsa pelayan penginapan adalah binatang buas yang sangat besar. Kalau tidak harimau. Ya beruang
  Semakin dalam saja Rangga terhanyut dalam persoalan-persoalan yang masih diselubungi teka- teki,sejak kedatangannya di kota Prabu Mulih.
  Begitu banyak keanehan demi keanehan yang terjadi. Namun paling tidak Rangga sudah dapat mengambil kesimpulan, apa yang harus dilakukannya.
  “Bunuh Cincang Patih Kusuma yang gila itu”
  Pada saat Rangga tenggelam dalam pikirannya, tiba-tiba terdengar teriakan-teriakan keras yang diwarnai munculnya cahaya obor di sana- sini. Juga terdengar derap langkah kaki kuda.
  “Jangan beri kesempatan meloloskan diri Dia bisa mendatangkan penyakit di kemudian hari” teriak seorang laki-laki berpakaian kebesaran kerajaan dengan pangkat panglima yang berada di punggung kuda.
  Laki-laki di atas kuda berbulu putih itu tidak lain dari Panglima Ubudana. Rupanya panglima licik ini sedang mengejar Patih Kusuma. Dia dibantu oleh perwira tinggi kerajaan dan prajurit-prajurit bersenjata lengkap.
  Sementara di depan para pengejar, Patih Kusuma dalam keadaan terluka parah. Dia terus berusaha menyelamatkan diri. Namun karena telah kehilangan tenaga dan darah yang mengalir dari luka-lukanya, maka gerakannya menjadi semakin lemah.
  Rangga melihat pemandangan yang sungguh menyedihkan ini. Tanpa pikir panjang lagi, tiba-tiba tubuhnya melesat ke arah Patih Kusuma dengan kecepatan luar biasa.
  Bet
  Langsung Pendekar Rajawali Sakti