Jiwa Ksatria - 215

Diposting oleh Saiful bahri dari situbondo pada 20:52, 18-Jul-15

Cerita Silat | Jiwa Ksatria | Saduran OPA | Jiwa Ksatria | Cersil Sakti | Jiwa Ksatria pdf

Sekeping Memori Hidup - Oktaviani Mutiara Dwiasri Hidayah Sang Bodyguard - Asma Nadia Latahzan For Brokanheart - Asma Nadia Tarian Merpati - Sofie Dewayani Pendekar Rajawali Sakti - 208. Ancaman Dari Utara

  Sambil memperdengarkan suara tertawa dingin, pedangnya membabat dengan satu gerak tipu yang luar biasa
  anehnya.
  Sekalipun pada saat itu dalam medan pertempuran itu terdapat banyak ahli pedang, tetapi ternyata tiada
  satupun yang mengetahui gerak tipu ilmu pedang yang digunakan oleh Hoa Khiam Hong itu dari golongan
  mana.
  Pok Sui Thian yang merupakan salah satu ahli dalam sepasang senjata yang berupa alat tulis itu, ketika
  menghadapi serangan nona itu, diam-diam terperanjat. Kiranya gerak tipu yang digunakan nona itu bukanlah
  ilmu pedang biasa, melainkan ilmu pedang dari gabungan dengan ilmu senjata alat tulis itu. Justru merupakan
  gerak tipu sunglapan yang diciptakan oleh Hoa Ciong Tay, seorang ahli senjata alat tulis yang tidak ada
  tandingannya di dalam rimba persilatan.
  Pok Sui Thian baru menghadapi serangan pertama Hoa Khiam Hong, hatinya sudah merasa gentar. Namun ia
  masih merasa beruntung karena kekuatan tenaga dalam Hoa Khiam Hong masih belum cukup sempurna, lagi
  pula ia hanya menggunakan sebilah pedang saja, sehingga tidak sedahsyat serangan ayahnya.
  Tetapi sebelum rasa jerihnya itu lenyap, pedang Tiat Ceng sudah mengancam dirinya lagi. Kali ini mereka
  bekerja sama dengan sepasang pedang, bahkan ujung pedang mereka selalu ditujukan kepada setiap jalan
  darah anggota badan terpenting, sehingga kali ini Pok Sui Thian benar-benar merasa khawatir dengan jiwanya
  sendiri.
  Kiranya selama beberapa bulan Tiat Ceng tinggal bersama-sama Hoa Ciong Tay, telah mendapat pelajaran ilmu
  serangan senjata sepasang alat tulis Hoa Ciong Tay yang termasyhur tanpa tandingan itu. Hampir setiap hari ia
  berlatih bersama-sama dengan Hoa Khiam Hong, sehingga kedua muda mudi itu dapat bekerja sama dengan
  baik sekali. Mereka menggunakan sepasang pedang sebagai gantinya sepasang senjata yang merupakan alat
  tulis, digabungkan terciptalah ilmu senjatanya Hoa Ciong Tay yang termashur itu!
  Pok Sui Thian cuma dapat menggunakan sepasang senjatanya untuk menotok empat jalan darah dengan
  sekaligus. Berbicara tentang kemahiran, ia masih kalah jauh kalau dibandingkan dengan kedua muda mudi itu.
  Hanya mengandalkan kekuatan tenaga dalamnya yang lebih kuat, baru dapat mempertahankan dirinya.
  Namun demikian, ia juga sudah tidak berdaya sama sekali menghadapi kedua lawannya yang masih muda
  belia itu.
  Pertempuran berlangsung kira-kira tigapuluh jurus, tiba-tiba terdengar suara Tiat Ceng yang berseru: “Kena!”
  Dalam serangannya bersama-sama Hoa Khiam Hong, dengan secara tiba-tiba ia menggunakan gerak tipu
  serangan ilmu pedang Wan-kong-kiam-hoat.
  Pok Sui Thian yang melawan dengan susah payah, sekalipun gerak badannya masih cukup lincah gesit, karena
  tidak menduga Tiat Ceng akan menyerang dirinya dengan menggunakan gerak tipu lain. Ia sudah tidak keburu
  mengelak, sehingga ujung pedang Tiat Ceng mengenakan pengelengan tangannya, yang membuat senjata di
  tangan Pok Sui Thian terpental jatuh di tanah.
  Jatuhnya Pok Sui Thian itu merupakan suatu kekalahan yang sangat menyedihkan bagi seorang yang sudah
  lama mendapat nama di kalangan rimba persilatan seperti ia itu, maka dibawah suara tertawa orang banyak,
  orang she Pok itu lalu kabur meninggalkan rombongannya. Ia merasa kehilangan muka.
  Touw Goan di samping terkejut, juga merasa gusar. Ia tujukan pandangan matanya ke arah See-bun Ong, Su-
  khong Beng dan Thay Lok bertiga, yang dibuat andalan olehnya. Ia mengharap tiga jago itu akan bertindak
  untuk membela Pok Sui Thian.
  See-bun Ong dan Thay Lok nampaknya bersangsi, karena dengan kedudukan seperti mereka, seharusnya
  mencari lawan yang sederajat kedudukannya dengan diri sendiri. Orang-orang kelas satu dari rombongan
  lawan hanya Toan Khek Gee dan Sin Cie Kow berdua, sedangkan Thay Lok sendiri sudah pernah roboh di
  tangan Sin Cie Kow, sehingga See-bun Ong anggap tidak bisa berbuat apa-apa terhadap salah satu di antara
  dua orang itu. Karena tidak yakin akan menang, maka tidak ada perlunya harus turun tangan.
  Hanya Su-khong Beng yang nampaknya masih penasaran, ketika melihat dua orang itu tidak menyatakan apa-
  apa, ia lalu berkata:
  “Sayang Khong-khong Jie tidak datang, sehingga sulit bagiku untuk mencari lawan yang setimpal!”
  Toan Khek Gee sangat marah mendengar ucapan sombong itu, ketika hendak bertindak keluar, telah di dahului
  oleh Sin Cie Kow, yang segera berkata sambil tertawa dingin:
  “Suamiku tidak ada disini, aku tokh boleh menggantikan kedudukannya.”
  Su-khong Beng pikir masih sanggup menangkan Toan Khek Gee atau Sin Cie Kow, tetapi karena ia sudah
  pernah berhadapan dengan Toan Khek Gee, dan ilmu kepandaian meringankan tubuh pemuda she Toan itu
  pernah menyulitkan dirinya, maka ia marasa agak berat untuk menghadapinya. Kini setelah berhasil membuat
  panas hati Sin Cie Kow, diam-diam merasa girang, tetapi ia masih pura-pura berlaku sombong.
  “Melawan orang golongan wanita, sekalipun menang juga tak dapat dibuat bangga,” demikian orang she Su-
  khong itu berkata.
  “Pedangku ini masih belum hendak kugunakan untuk melukai kau seorang prajurit kecil yang tidak ternama ini,
  sebaiknya kau pulang saja untuk memanggil Soat-san Lo-koay datang sendiri kemari.” Demikian Sin Cie Kow
  berkata dengan nada ejekannya yang sangat tajam dan mengandung maksud menghina lawannya.