Pendekar Banci - 28

Diposting oleh Saiful bahri dari situbondo pada 00:11, 22-Jun-14

Cerita Silat | Pendekar Banci | Karya SD.Liong | Pendekar Banci | Cersil Sakti | Pendekar Banci pdf

Diatas Sajadah Cinta - Habiburrahman El Shirazy Animorphs 24 - Perang Melawan Helmacron Animorphs - 23 Mengungkap Rahasia Tobias Trio Detektif 16 - Misteri Singa Gugup Mahesa Kelud 6 - Noda Iblis

Tay-pat-san. Percayalah, dua tahun kemudian, Lembah Kupu2 pasti akan menjagoi dunia persilatan.
   Maaf, akupun hendak mohon diri !” .
   Ucapan yang tak keruan tetapi juga melantang secara biak-biakan, seolah2 sungguh2. " Sudah tentu karena berada dalam guha, Hong Ing tak mendengar ucapan itu. Sayang. Apabila mendengar, pasti dia segera mengetahui mentalitet' dari Cong Tik, seorang pemuda 'tampan yang berhati serigala.
   Habis berkata Cong Tik-terus hendak pergi tetapi Lu Kong Cu mencegahnya: "Tunggu ! Engkau hendak mendahului aku ke Tay-pat-san, bukan ?” .
   Cong Tik tertawa hambar, "Ah, perlu apa aku ke sana ?" "Akan kusuruh orang untuk mengawalmu kebarat terus ke tapal Sinkiang, maukah "engkau ?" seru Lu' Kong Cu.
   Sebelum Cong Tik sempat menjawab maka Lu Kong Cupun bersuit dan tiba2 muncullah seorang nenek yang tua renta.
   Cong Tik mengira bahwa yang akan diserahi untuk mengawal dirinya itu tentu si nenek berwajah terutul yalah nenek yang pernah bertempur mati-matian tetapi berimbang kekuatannya dengan Lu Kong Cu.
   Tetapi diluar dugaan ternyata bukan nenek berwajah terutul melainkan seorang nenek lain yang paling tidak termasuk dua angkatan lebih tua dari Lu Kong Cu. Nenek itu bukan lain adalah nenek Li Wan, bergelar Thiat-koan-im atau Dewi Koan Im besi. Dia adalah isteri dari ketua partai Naga, dua angkatan lebih dahulu dari Lu Kong Cu.
   Thiat-koan-im Li Wan adalah murid kesayangan dari Cian-jiu-sin-bu atau Dukun sakti Seribu-tangan, seorang tokoh wanita dari daerah Bian yang termasyhur Wanita itu jahat dan kejam sehingga dunia persilatan memberinya julukan Biaun ' çiang Ok-jin, manusia jahat dari daerah Bian.
   Saat itu Cong Tik menyadari bahwa percuma, saja ia akan bersikap keras kepala. Betapapun ia hendak mengulur waktu dan adu lidah, tetapi tentu saja. Apabila dia menolak tentu akan Celaka.
   Dia pernah merasakan pil pahit dari Thiat-koan--im,Li Wan dan tahu bahwa wanita itu memang sakti sekali. Tak mungkin dia mampu menandingi.
  Baiklah akhirnya ia terpaksa menyetujui dengan diiring tertawa, walaupun hendak dibuang ke~Thian-tiok (India), akupun menurut saja. Kembali Lu Kong Cu bersuit nyaring. Wanita tua itupun maju menghampiri.
  Thiat-koan im Li Wan! Dan makin jelaslah keadaan wanita itu bagi Cong Tik. Wanita itu ber- tubuh pendek, mukanya ditutup dengan kain cadar warna hitam. Dari celah2 cadar, dapat terlihat wajahnya penuh dengan gurat dan goresan malang melintang sehingga wajahnya tak menyerupai manusia lagi.
   Sinar matanya memancarkan sorot yang keras dan berpengaruh. Wanita pendek itu mencekal seutas tali yang panjangnya hanya satu setengah meter.
   Karena tangannya gemetar maka tali itupun ikut bergoncang tak henti-hentinya, sehingga menyerupai seekor ular yang bergeliatan didalam air.
   Tali yang berada di tangan Wanita itu, seutas tali yang lemas. Tetapi berada dalam tangannya, tali itu menyerupai sebatang tongkat yang keras, sehingga dapat digunakan sebagai alat untuk berjalan. Bahkan pada waktu menyentuh tanah, tali itu dapat menimbulkan degup suara yang cukup keras.
   'Jelas, sudah bahwa wanita tua itu memiliki ilmu tenaga-dalam yang luar biasa saktinya.
   Begitu muncul wanita tua. itu terus berkata : "Perintah apakah yang hendak ciangbunjin berikan ?''.
   ,,Ah, harap thay- subo jangan keliwa menjunjung diriku," buru2 Lu Kong Cu berseru, "budak laki itu' terlalu mengganggu kita, maka kumohon thay-subo suka membawanya ke tempat yang jauh. Makin jauh makin baik agar jangan mengganggu pekerjaan kita lagi.".
   Ternyata dalam partai Naga, ketua itu adalah yang tertinggi. Dan setiap ciang-bun-jin atau ketua partai sel alu tinggal dalam Lembah Kupu2.
   Se tiap duapuluh tahun sekali maka berkumpullah seluruh anggauta' partai Naga di lembah itu. Meréka menulis na ma dan memilih ketua 'baru.
   setiap ketua baru yang terpilih, harus dihormati dan ditaati oleh seluruh anakbuah partai Naga. Maka walaupun Thiat~koan~im Li Wan itu isteri dari ketua dua angkatan terdahulu tetapi dia harus tunduk pada ketua yang sekarang yakni Lu Kong cu.
   Dengan mata berkilat-kilat nenek tua Li Wan Itu memandang kearah Cong Tik.
   “Baiklah“ serunya menjawab perintah Lu Kong Cu. Tiba2 tali digentakkan kearah Cong Tik. Seketika itu Cong Tik merasa dirinya dilanda oleh segêlombang tenaga dahsyat sehingga ia térhuyung-huyung sampai tujuh delapan langkah. Setelah me- ngerahkan tenaga-dalam, barulah ia dapat bêrtahan diri dan berdiri tegak lagi.
   Tahu gelagat kurang 'baik, dia segera gunakan ilmu ginkang melesat ke muka.
   Sekali menusukkan tali ke tanah, tubuh Thiati-koan-im Li Wanpun segera melambung ke udara. Kain cadar hitam yang menutup wajahnya berkibar-kibar sehingga sepintas pandang wanita tua itu mirip dengan seekor burung yang aneh.
   Dia mengikuti di belakang Cong Tik Hanya dalam beberapa kejab saja, kedua orang itupun lenyap ke balik gunung.
   Saat itu Lu Kong Cu masih memain-mainkan mutiara. Wajahnya berseriseri." Ia segera masuk lagi kedalam 'guha untuk menemui Hong lng.
   "Hayo, kita berangkat," serunya. Saat itu walaupun sudah terlepas dari tali pengikat, tetapi .Hong Ing rasakan hawa murni dalam tubuhnya masih seperti tatkala menderita luka. Ia segera menyadari bahwa tadi ia teringat banyak mengeluarkan tenaga untuk menghadapi serangan Lu Kong Cu.
   Dalam keadaan sepeti itu ia kuatir mungkin tak dapat "bertahan" sampai 'empatpuluh sembilan hari.
   Hong Ing makin putus asa. Perjalanan kembali ke Tay-pat-san paling tidak tentu menggunakan waktu selama empatpuluhan hari.
   Dengan demikian tak mungkin lagi jiwanya akan tertolong. ”Pergi ya pergi, jangan garang2 begitu!" 'akhirnya karena putus asa iapun nekad.
   Merah juga wajah Lu Kong Cu di Sentil oleh Hong Ing. 'Tetapi sebagai seorang ketua sebuah partai persilatan, sudah tentu ia dapat mengendalikan perobahan airmukanya.
   Diam2 Lo Kong Cupun heran mengapa Hong Ing menunjukkan tanda2 seperti orang menderita luka-dalam yang parah.
   “Budak perempuan, bilakah engkau menderita.luka yang separah itu ?" tegurnya. ”Tak usah peduli diriku!" seru Hong Ing dengan ketus.
   ' "Bagus masih berani bertingkah!" akhirnya Lu Kong Cu marah juga.
   “Aku bebas untuk ngomong dan bertingkah, apakah engkau berani membunuh mati aku ?'' tantang Hong Ing.
   Memang 'karena ingin mendapatkan pelana bertabur mutiara. Kong Cu memerlukan tenaga Hong Ingg. Sudah 'tentu 'dia tak berani membunuhnya. Walaupun marah, tetapi 'ia tak dapat berbuat apa2 terhadap hong Ing.
   "Hm, budak perempuan liar," diam2 Lu Kong Cu menggerutu dalam hati, ”sehabis mendapatkan pelana beruang salju, jangan harap engkau dapat hidup lagi.
   Tiba3 dari arah luar pintu terdengar orang berseru: "Suhu, ada tetamu !". Mendengar yang berseru itu anak muridnya sendiri, Lu Kong Cu terkesiap. "Siapa ?” serunya.
   Tiba2 terdengar suara orang tertawa mengekeh dan berseru : , “Bagus, Lu-heng, boleh juga engkau bersikap begitu garang ! Apakah engkau akan menolak setiap kunjungan tetamu ? Mendengar suaranya jelas yang bicara itu dua orang.
   Lu Kong Cu terkejut. Selama ini ia jarang sekali bergaul dengan dunia persilatan.
  'menilik nada suaranya yang tak baik, Lu Kong cu makin terkejut, Untuk menjaga kemungkinan yang tak diharapkan, Lu Kong Cu Segera menyambar selimut dan ditutupkan ke tubuh Hong Ing.
  Ketika Hong Ing meronta-ronta, Lu Kong Cupun segera menutuk jalan darahnya lalu melesat keluar' dari`guha.
   Ah, ,serentak Lu Kong Cu terbeliak demi melihat tetamunya itu tak lain yalah kedua saudara' kate Lo Thian dan Lo Te.
   “Apakah keperluan kalian datang ke sini ?' cepat ia menegur kedua orang kate itu.
   Sepasang saudara kate itu tertawa. “Kami dengar Lu-heng mendapat rejeki besar maka kamipun datang kemari hendak minta bagian".
   Diam2 Lu Kong Cu mengeluh. Mengapa berita tertangkapnya Hong Ing dapat tersiar ke luar begitu cepat sekali.
   Diam2 ia memperhitungkan. Iamasih dapat menghadapi kedua orang itu. Tetapi apabila tambah lagi musuh yang datang, tentu ia celaka. Apalagi saat itu orang yang diandalkan, yani Th'iat~koan-im Li Wan, sedang disuruhnya membawa Cong Tik jauh ke daerah perbatasan barat. Coba wanita , tua itu ada, tentu dapat menghadapi musuh yang berdatangan, berapapun jumlah mereka.
   Terpaksa Lu Kong Cu hanya menyeringai, “Aneh, dalam lembah ditengah pegunungan'yang begini sepi, apa yang dapat kuberikan pembagian kepada kalian berdua ?“ .
   Le Thian dan Lo Te saling tukar pandang mata. Tiba2 Lo Thian berseru : “Lo-ji, orang ini sungguh licin sekali ?".
   “Benar,“ sahut" Lo 'te.“kalau tidak diperas tentu tidak keluar minyaknya. Naiklah . , . " Lo Thian cepat loncat 'ke bahu Ian Te ;dan keduanya segera menyerang. Dari 'sepasang orang pendek kini mereka menjadi seorang orang biasa.
   Demikian pula setiap gerakan golok. mereka 'selalu serempak dan seragam sehingga tak ubah seperti satu orang yang.bergerak.
   Walaupun sudah lama Lu Kong Cu mendengar nama sepasang orang kate dari gunung'Tu~lian-san itu sebagai penyamun besar yang kaya de