Intan Saga Merah - 13

Diposting oleh Saiful bahri dari situbondo pada 16:44, 12-Mar-15

Cerita Silat | Intan Saga Merah | Serial Pendekar Rajawali Sakti | Intan Saga Merah | Cersil Sakti | Intan Saga Merah pdf

Pendekar Rajawali Sakti - 114. Gerhana Darah Biru Pendekar Rajawali Sakti - 124. Penghuni Telaga Iblis Pendekar Rajawali Sakti - 125. Rahasia Candi Tua cersil bara maharani - sakti Cersil mwb Duri Bunga Ju

7
 
 
  Malam sudah sejak tadi menyelimuti seluruh wilayah Desa Randu Sangit. Tidak seperti biasanya, udara malam ini terasa begitu dingin menusuk kulit. Bahkan angin pun terasa berhembus kencang. Dan langit tampak kelam menghitam. Dan rasanya, sebentar lagi seluruh desa ini akan tersiram hujan lebat. Namun keadaan alam yang seperti tidak menunjukkan keramahannya ini, sama sekali tidak mengusik Rangga, Pandan Wangi, dan Ki Saragating untuk meninggalkan Desa Randu Sangit. Mereka tetap berada di desa yang sudah hancur itu. Bahkan sengaja membuat api unggun yang besar, untuk memancing kemunculan makhluk aneh bersinar biru yang sampai saat itu masih diburu.
  Namun sampai hampir tengah malam, belum juga terlihat tanda-tanda makhluk itu bakal muncul. Bahkan, suasana semakin bertambah sunyi senyap tanpa terdengar nyanyian serangga malam sedikit pun. Hanya desir angin malam saja yang terdengar menggemuruh, mengusik daun telinga. Sesekali terdengar lolongan anjing hutan yang panjang dan memilukan.
  "Bulu kudukku meremang, Kakang..." desis Pandan Wangi agak bergetar suaranya.
  "Kau merasakan sesuatu, Pandan?" tanya Rangga yang duduk di sebelah gadis berjuluk Kipas Maut.
  "Entahlah...," sahut Pandan Wangi mendesah ragu-ragu.
  Rangga memandangi wajah cantik gadis itu. Sedangkan yang dipandangi malah mengarahkan pandangan lurus ke depan. Jelas sekali kalau ada sesuatu yang dirasakan Pandan Wangi. Tapi dia sendiri tidak tahu, apa yang membuat hatinya mendadak jadi gelisah. Dan disaat kesunyian itu terasa semakin mencekam, tiba-tiba saja dua ekor kuda pendekar muda dari Karang Setra itu me-ringkik keras dengan suara gelisah.
  "Hup!"
  Rangga langsung melompat bangkit berdiri, diikuti Ki Saragating dan Pandan Wangi. Ketegangan semakin menguasai diri mereka. Sementara kuda-kuda mereka terus gelisah, mendengus-dengus sambil menghentak-hentakkan kakinya ke tanah yang berbatu. Sesekali kuda-kuda itu meringkik sambil mendongakkan kepala ke atas.
  "Hati-hati...," desis Rangga memperingatkan. "Mungkin ini pertanda buruk buat kita."
  Belum lagi kering kata-kata Pendekar Rajawali Sakti itu, tiba-tiba saja terlihat kilatan cahaya biru di angkasa. Seketika langit yang begitu kelam jadi terlihat terang tersiram cahaya biru yang melesat begitu cepat. Namun cahaya biru itu melintas hanya sebentar saja, maka keadaan di sekitar Desa Randu Sangit itu kembali gelap gulita terselimut kesunyian mencekam.
  Dan sebelum mereka bisa berbuat sesuatu, kembali dikejutkan oleh terdengarnya suara menggorok yang begitu keras, diikuti suara tawa mengikik mengerikan. Ki Saragating dan dua orang pendekar muda dari Karang Setra ini jadi saling berpandangan. Suara-suara itu terdengar bagai berada dekat di sekeliling mereka. Tapi, tidak sedikit pun terlihat ada orang lain di tempat ini. Keadaannya masih tetap gelap, bagai berada dalam goa yang tak bercahaya sedikit pun. Hanya nyala api unggun saja yang menerangi sedikit di sekitar mereka.
  Dan di saat mereka semua terdiam mencari sumber arah suara tawa tadi datang, mendadak saja tanah yang dipijak jadi bergetar. Seketika ketiga orang itu jadi tersentak kaget setengah mati. Dan belum juga rasa keterkejutan itu hilang tiba-tiba saja dari dalam tanah yang berbatu di depan mereka memancar cahaya biru terang yang menggumpal menyilaukan mata.
  "Oh...?!"
  Pandan Wangi jadi terperangah melihat gumpalan cahaya biru terang yang tiba-tiba muncul dari dalam tanah. Begitu terangnya, hingga membuat tempat itu jadi bagai siang hari. Bahkan cahaya api unggun pun tidak sanggup mengalahkan terangnya gumpalan cahaya biru itu. Namun di balik gumpalan cahaya biru itu, terlihat samar-samar sesosok tubuh tinggi besar. Sulit untuk bisa memastikan, sosok tubuh apa yang ada dalam gumpalan cahaya biru terang itu.
  "Ghrooogkh...!"
  Belum juga ada yang bisa menyadari, gumpalan cahaya biru terang itu sudah melesat cepat bagai kilat menerjang ketaga orang pendekar ini. Rangga yang lebih cepat tersadar, langsung berteriak lantang sambil mencabut pedang pusakanya.
  "Awas kalian! Hiyaaa...!"
  Cring!
  Bet!
  "Ghraaagkh...!"
  Kibasan Pedang Pusaka Rajawali Sakti yang juga memancarkan cahaya biru terang menyilaukan mata, membuat gerakan makhluk bersinar biru itu jadi terhambat. Sambil mengerang keras, makhluk itu melesat balik ke belakang. Sementara, Pandan Wangi dan Ki Saragating sudah berlompatan ke belakang dengan keterkejutan yang amat sangat.
  "Hup!"
  Rangga cepat melompat ke depan sejauh lima langkah. Pedang pusakanya langsung disilangkan di depan dada. Sementara kedua kakinya dipentang lebar ke samping, dengan lutut agak tertekuk ke depan. Sengaja Rangga melompat ke depan, untuk melindungi Pandan Wangi dan Ki Saragating dari incaran makhluk bersinar biru ini. Dari sikapnya. sudah jelas kalau Pendekar Rajawali Sakti langsung mempersiapkan jurus 'Pedang Pemecah Sukma' yang sangat tangguh dan dahsyat. Belum ada seorang tokoh persilatan pun yang mampu menandingi jurus 'Pedang Pemecah Sukma' ini.
  "Siapa kau? Untuk apa menghancurkan desa ini...?" terdengar begitu dingin nada suara Rangga.
  "Ghrrr...!"
  Tapi makhluk aneh bersinar biru itu hanya menggereng saja. Tampak sosok tubuh yang ber-ada dalam gumpalan cahaya biru itu bergerak-gerak perlahan Kemudian....
  "Ghraaagkh...!"
  "Hup! Yeaaah...!"
  Tepat ketika makhluk bersinar biru itu bergerak menyerang, Rangga langsung saja melenting tinggi-tinggi ke atas sambil menyabetkan pedangnya cepat bagai kilat. Ujung pedangnya tepat menghantam bagian tengah makhluk bercahaya biru itu. Namun Rangga jadi terkesiap. Karena dirasakannya seperti membabat gumpalan asap saja. Sama sekali tidak terasa pedangnya menyentuh benda apa pun.
  "Hiyaaa...!"
  Rangga cepat memutar tubuhnya di udara, dan kembali menjejakkan kakinya manis sekali di tanah. Lalu secepat kilat, Pendekar Rajawali Sakti menghunjamkan pedangnya ke bagian tengah gumpalan cahaya biru. Dan....
  "Hih! "
  Bres!
  "Aaaargkh...! "
  Makhluk aneh bercahaya biru terang itu kontan menggerung dahsyat, begitu ujung pedang Pendekar Rajawali Sakti menghunjam tepat di bagian tubuhnya. Sementara, Rangga sendiri cepat-cepat melompat ke belakang sambil berputaran beberapa kali untuk menjaga jarak.
  Tampak sosok makhluk yang berselubung ca­ haya biru itu menggeliat-geliat, seperti merasakan sakit akibat hunjaman Pedang Pusaka Rajawali Sakti tadi.
  Sementara, Rangga sudah menyilangkan pedangnya di depan dada. Dan perlahan-lahan, kaki­ nya bergerak menggeser ke kanan. Tatapan mata­ nya begitu tajam, memperhatikan lawan anehnya ini.
  "Hiyaaat...!"
  Sambil berteriak keras menggelegar, Pendekar Rajawali Sakti melompat cepat bagai kilat disertai pengerahan ilmu meringankan tubuh yang sudah mencapai tingkat kesempurnaan. Dan pada saat itu juga, pedangnya dikibaskan menggunakan jurus 039;Pedang Pemecah Sukma' tingkat terakhir. Begitu cepat kibasannya, hingga yang terlihat hanya kilatan cahaya biru berkelebat menghantam gumpalan sinar biru.
  Tepat ketika pedang Pendekar Rajawali Sakti menghantam makhluk bersinar biru itu, seketika terdengar ledakan dahsyat menggelegar bagai guntur memecah angkasa. Dan keanehan pun terjadi saat itu juga. Tampak gumpalan cahaya biru lenyap seketika.
  Dan kini, di depan Rangga berdiri sesosok makhluk bertubuh hitam berbulu seperti kera. Wajahnya pun lebih mirip kera. Namun pada bagian atas kepalanya, terlihat sepasang tanduk seperti kerbau. Ekor yang panjang dan berbulu hitam kasar, menjuntai dari belakang tubuhnya.
  Rangga yang sudah kembali menjejakkan kaki nya di tanah, segera melangkah ke belakang sejauh satu batang tombak. Hampir tidak dipercaya, apa yang terjadi saat ini. Makhluk itu demikian mengerikan, dengan tinggi tiga kali lipat dari tinggi manusia biasa.
  Makhluk aneh bertubuh raksasa itu tampak gontai, bagai hendak rubuh. Tampak tepat di antara kedua matanya yang terbelah, mengalirkan darah segar begitu deras hingga hampir menutupi wajahnya yang semakin kelihatan menyeramkan. Rupanya, tebasan pedang Rangga tadi sangat tepat menghantam bagian kepalanya. Sehingga cahaya biru yang menyelubungi seluruh tubuhnya lenyap seketika.
 
  ***
  "Gila! Makhluk apa itu...?!" desis Ki Saragating terkesiap.
  Orang tua ini benar-benar tidak menyangka kalau di balik selubung cahaya biru terang itu, tersembunyi sesosok makhluk aneh mengerikan bagai datang dari nereka. Begitu mengerikan dan sulit dipercaya.
  Sementara, Rangga sendiri sampai melangkah ke belakang beberapa tindak. Pendekar Rajawali Sakti sendiri hampir tidak percaya dengan apa yang ada di depan matanya. Sosok makhluk yang sangat aneh dan baru sekali ini disaksikannya.
  "Ghrrr...! "
  Makhluk aneh itu menggeram sambil melangkah menghampiri Rangga yang berdiri tegak, sejauh dua batang tombak lebih di depannya. Sorot matanya yang memerah, terlihat begitu tajam bagai sepasang bola api yang hendak membakar seluruh tubuh Pendekar Rajawali Sakti. Tampaknya, dia begitu marah karena selubung birunya bisa dilenyapkan. Bahkan mendapat luka di kening akibat tebasan Pedang Pusaka Rajawali Sakti.
  "Ghraaagkh...!"
  Sambil meraung keras, makhluk itu mengangkat ked