Solandra - 11

Diposting oleh Saiful bahri dari situbondo pada 20:26, 24-Agu-14

Cerita Cinta | Solandra | by Mira W | Solandra | Cersil Sakti | Solandra pdf

Hex Hall - Rachel Hawkins Cinta Sepanjang Amazon - Mira W Topeng Hitam Kelam - Ambhita Dyaningrum Cinta Dalam Diam - ucu supriadi Fear Street : Ciuman Maut

- "-sekanya air mata yang mengalir dari sudut mata Soiandra dengan ujung jarinya.
  Mengapa Tuhan sekejam ini padamu, Sayang? pikir Paskai sedih. Apa dosamu sampai kamu dihukum seperti ini? Kamu perempuan yang sangat baik. Tidak pernah menyakiti siapa pun.
  Penyakit bukan hukuman dosa, Mas, kata Soiandra beberapa hari yang lalu. Jangan menyalahkan Tuhan. Kadang-kadang kita sedang diuji. Kita harus tabah dan tetap percaya. Supaya lulus ujian.
  Tetapi Paskai tidak percaya. Dia hanya tidak menjawab. Karena tidak ingin tambah menyakiti hati istrinya.
  "Tolonglah aku, Andra," pinta Paskai lirih. "Biarkan dokter mengangkat rahimmu. Biarkan dokter menyembuhkanmu. Supaya aku bisa tetap memilikimu."
  "Tuhan akan menyembuhkanku, Mas. Mar kita berdoa mohon pertolongan-Nya. Aku yakin, suatu hari mukjizat itu akan datang menghampiriku."
  "Tapi bukan berarti kita harus diam saja menunggu datangnya mukjizat, Andra. Kita harus berusaha!"
  "Aku tidak ingin kehilangan rahimku, Mas! Aku tidak mau perutku dibuka. Mas kan tahu aku punya bakat keloid. Mas Pas bisa bayangkan jeleknya perutku kalau di bekas insisinya tumbuh keloid?"
  "Andra!" Paskai membalikkan tubuh istrinya. Kini mereka berbaring berhadapan. Saling tatap. "Aku tidak peduli seperti apa jeleknya tubuhmu! Tidak akan mengurangi cintaku padamu! Kamu dengar? Aku tidak peduli! Seperti apa pun kamu, aku tetap mencintai-; mu!"
  Paskai memeluk istrinya erat-erat. "Tolong kabulkan permintaanku, Andra! Kumohon padamu. Biarkan dokter menyembuh-kanmu!"
  "Melalui operasi?" "Tidak ada jalan lain!"
  Dalam gelap, Paskai mendengar istrinya me142
  narik napas. Dalam. Berat. Seperti menyimpan berton-ton beban kesedihan.
  "Mas yakin aku masih bisa sembuh?" desah Soiandra lirih.
  "Ya, Andra, aku yakin! Asal kamu mau dioperasi!"
  Sunyi sejenak sebelum suara Soiandra terdengar lagi. Murung. Getir. "Sania yang akan melakukannya?" "Tidak. Aku akan membawamu ke dosennya. Profesor Lawrence yang akan melakukannya." "Suami Sania?"
  "Sania sudah menghubunginya. Dia bersedia menerima kita minggu ini juga. Aku minta waktu sampai minggu depan karena harus mengurus visa."
  "Tapi dari mana biayanya, Mas?"
  "Jangan khawatir. Tabunganku cukup____"
  "Mas Pas lupa. Itu tabungan bersama. Aku tahu persis jumlahnya. Dan kita baru saja mengurasnya untuk berlibur ke Amerika."
  "Aku punya simpanan lain. Kamu tidak tahu."
  "Bohong. Dari mana uang itu, Mas? Pinjam? Atau... dari Mama?"
  riamu meiarangjku untuk memberitaku Mama tentang penyakitmu, kan?"
  "Jadi Mas pinjam dari mana?" "Kamu nggak perJu tahu. Pokoknya biayanya ridak usah kamu pikirkan. Yang penting kita harus berjuang untuk mengenyahkan kankermu! Kita harus menang! Kita harus mengalahkannya, Andra!"
  "Bagaimana dengan keinginanku yang terakhir, Mas?" ranya Soiandra ragu-ragu. "Anak?"
  "Mas tidak keberatan, kan?"
  "Tentu saja aku tidak keberatan punya anak, tapi..."
  "Mas sudah tanya Sania?"
  "Dia akan berkonsultasi dengan suaminya."
  "Mas pikir kita akan berhasil?"
  "Aku lebih mengharapkan keberhasilan operasimu, Andra!" mM
  "Sembuh itu suatu mukjizat, Mas," kata Soiandra lambat-lambat. Nadanya khidmat sekali seperti sedang melantunkan doa. "Tapi punya anak darimu juga suatu mukjizat."
  Bab X
  JA hari kemudian, Paskal menerima telepon dari Sania.
  "Bisa temui aku di rumah sakit, Pas?" suara Sania terdengar sangat serius. "Oke. Sekarang, San?" "Ya. Ada yang ingin kubicarakan." Paskai datang secepat yang dia mampu. Rasanya napasnya hampir putus ketika dia sampai di depan meja tulis di kamar kerja Sania.
  Ada apa? Sania salah diagnosis? Yang diperiksanya bukan contoh jaringan tumor dari rahim Soiandra? Yang ditemukannya bukan sarkoma?
  Memang tidak realistis. Tapi harapan-harapan itu mengganggu pikiran Paskai sepanjang perjalanan ke rumah sakit.
  Bukan tidak mungkin. Bukan tidak mungkin! Kemungkinan salah diagnosis selalu ada....
  145
  "Ada apa, San?" tanyanya sambil menahan napas. "Kabar baik?"
  lolong, berikan kabar baik padaku!
  Tergantung penafsiranmu," sahut Sania datar.
  "Mengenai apa?"
  "Surrogate mother."
  "Kamu sudah membicarakannya dengan suamimu? Eh, maksudku..."
  "Kamu ingin melakukannya di sana?" I "Kamu bisa melakukannya di sini, San? Mungkin prosedurnya lebih mudah. Lebih cepat pak." "Dan lebih murah."
  "Kamu bisa melakukannya demi Soiandra, San? Demi persahabatan kita____"
  "Kalau kamu izinkan aku mencoba."
  "Oke. Lakukanlah secepatnya, San. Supaya kami bisa berangkat lebih cepat ke Melbourne untuk histerektomi. Kamu bisa tolong mengatur semuanya untuk kami?"
  "Serahkan saja padaku."
  "Juga untuk mencari ibu pengganti?"
  "Akan kuusahakan."
  "Dan aspek hukumnya?"
  "Aku akan menghubungi pengacaraku."
  "Pasti tidak mudah. Tapi demi Soiandra..." "Memang belum ada aturan hukum yang mengaturnya. Tapi bisa kita cari celah-celah
  hukumnya." "Berapa kira-kira biayanya?" "Jangan dipikirkan dulu. Biar aku yang
  mengatur."
  "Dan menanggung biayanya?" Paskai begitu berterima kasih sampai rasanya dia ingin memeluk Sania. "Terima kasih, San. Semua biayanya pasti aku ganti."
  "Nggak apa-apa. Yang penting operasi Soiandra harus sukses. Kamu konsentrasi ke situ saja." "Terima kasih, San. Terima kasih." Sebagai ungkapan terima kasih, Paskai memeluk Sania dengan hangat. Sesaat Sania tidak mampu menolak. Bahkan tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun.
  Barangkali bagi Paskai pelukan itu tidak berarti apa-apa. Cuma ungkapan terima kasih. Cuma pelukan seorang sahabat. Tidak lebih.
  Tetapi buat Sania, pelukan itu justru me- ; nyalakan kembali bara cintanya yang sudah hampir padam. Dia merasa seluruh tubuhnya . terbakar. Dadanya menggelegak. Darahnya
  147
  mengalir deras di seluruh pembuluh darahnya. Sampai mukanya terasa panas.
  Bahkan pelukan Mike tidak memberikan efek sedahsyat ini, keluh Sania jengah di dalam had.
  Ketika Paskai melepaskan pelukannya, se orang perawat memasuki ruangan untuk menaruh sehelai status di meja Sania. Tetapi Paskai tidak peduli. Dia memang tidak merasa bersalah.
  Terima kasih, San," katanya terharu. "Akan kukatakan pada Soiandra apa yang akan kamu lakukan untuknya."
  Tidak usah," Sania berusaha menyembunyikan parasnya yang memerah. "Itu gunanya sa- I habat, kan?"
  ***
  Seperti Paskai, Soiandra juga sangat berterima kasih pada Sania.
  "Nggak tahu bagaimana harus membalas budimu, San," kata Soiandra selesai menjalani semua prosedur yang harus dilakukannya.
  "Lupakan saja," sahut Sania pendek.
  "Kamu yakin bakal berhasil, San?"
  148
  "Akan kuusahakan sedapat mungkin. Aku juga belum pernah melakukannya. Perlu berkonsultasi terus dengan Mike. Tapi berhasil atau tidak, tergantung banyak faktor. Kadang-kadang kita tidak bisa mengatasi semuanya."
  "Tapi aku percaya Tuhan akan mengasihani-ku, San. Jika operasiku gagal, Dia pasti akan memberikan gantinya."
  "Berdoa sajalah, Dra."
  "Kabari aku secepatnya jika sudah berhasil ya, San."
  "Apa pun hasilnya, aku akan memberitahu Paskai secepatnya."
  "Terima kasih, San." Soiandra memeluk sahabatnya erat-erat.
  Ketika sedang merangkul Soiandra, Sania merasa bajunya basah. Dan dia tahu dari mana air yang membasahinya. Tidak terasa, matanya pun ikut berkaca-kaca.
  "Sudahlah, Dra. Kamu harus tabah. Jangan stres. Supaya daya tahanmu tetap kuat. Ingatlah, apa pun yang terjadi, tetaplah tegar seperti Soiandra yang selama ini kukenal."
  "Aku takut, San," rintih Soiandra pilu. "Aku bukan takut mati. Aku tidak tega meninggalkan Mas Paskai."
  "Aku tahu," gumam Sania tersendat. "Jika usaha kita berhasil, kami bisa punya anak, tapi aku tidak mampu mendampinginya sampai besar, maukah kamu menolong Mas Pas menjaga anak kami, San?"
  "Sudahlah, jangan berpikir yang bukan-bukan. Aku akan berjuang sekuat tenaga supaya kamu dapat melihat dan membesarkan anakmu."
  "Aku percaya padamu, San. Beruntung sekali aku memiliki sahabat seperti kamu dan suami seperti Mas Pas. Tuhan begitu baik padaku."
  Tentu saja ibu Soiandra heran. Anaknya, baru saja pulang dari Amerika. Sekarang mau pergi lagi? Rasanya baru dua bulan....
  "Ke Australia?" dia mengerutkan keningnya. "Jalan-jalan lagi? Perkawinanmu tidak sedang dalam masalah, kan?"
  "Nggak, Ma. Kami cuma ingin punya anak," sela Paskai sebelum istrinya menjawab.
  Sekilas ibu Soiandra menatap menantunya. Wajah Paskai begitu serius. Walaupun dia berusaha menutupinya, ibu Soiandra menemukan
  kemuraman melumuri parasnya. Ada apa?
  Benarkah masalahnya hanya anak?
  Sesudah sepuluh tahun perkawinan anaknya baik-baik saja, dia memang mulai yakin, menantunya berbeda dengan ayahnya yang brengsek itu. Tetapi melihat muramnya paras mereka, secercah kecurigaan mulai menjalari hatinya.
  "Suamimu baik-baik saja?" tanya ibu Sojandra hati-hati ketika dia berada berdua saja dengan anaknya.
  Baik, Ma, keluh Soiandra dalam hati. Saya
  yang sakit!
  Tetapi di depan ibunya, Soiandra berusaha menampilkan sikap yang setenang mungkin. Seolah-olah memang tidak ada apa-apa.
  "Mas Paskai baik-baik saja, Ma."
  "Dia tidak macam-macam?" desak ibunya penasaran.
  Sekarang Soiandra benar-benar tersenyum. Tulus.
  "Mas Paskai suami yang paling baik, Ma. Setia. Jujur. Sangat mengasihi saya."
  "Syukur kalau begitu. Hati-hati saja. Lelaki 'di awal empat puluh suka mulai macam-macam. Katanya memasuki masa puber kedua.
  Krisis percaya diri sering membawa Jaki-Iakt mencari wanita yang lebih muda. Supaya mereka bisa membuktikan kepada dirinya, sendiri mereka masih tangguh dan jantan." Senyum Soiandra melebar. "Mas Pas tidak seperti itu, Ma. Lagi pula umurnya kan baru tiga lima." "Pulang, Andra?" tanya Paskai yang bara . saja melewati pintu depan.
  Dia bara menyuruh taksinya parkir di depan pintu. Supaya Soiandra tidak usah jalan terlalu jauh. Padahal yang namanya jauh itu hanya beberapa meter!
  Tapi Paskai memang begitu. Sejak tahu istrinya sakit, Soiandra sama sekali tidak boleh lelah.
  "Pulang dulu ya, Ma," gumam Soiandra getir. Dirangkulnya ibunya sambil menahan tangis. "Mama mau oleh-oleh apa dari Australia? Bayi kanguru?"
  "Bayimu saja," sahut ibunya spontan membalas kelakar anaknya.
  Dan dia tidak melihat betapa sedihnya Soiandra mendengar jawaban ibunya. Kalau saja Mama tahu! Dia ke Australia untuk membuang rahimnya!
  "Betul kalian tidak mau nginap?" tanya ibunya di depan pintu rumahnya. "Masih banyak yang belum dibereskan, Ma.
  Padahal lusa sudah harus berangkat." "Langsung ke bandara?" "Iya, Ma," Paskai yang menjawab. Dia meft-cium tangan mertuanya sebelum membimbing tangan istrinya.
  Tetapi Soiandra melepaskan pegangannya. Dan memeluk ibunya sekali lagi.
  Ketika anaknya sedang merangkulnya, entah mengapa tiba-tiba saja ibu Soiandra merasa hatinya berdebar tidak enak.
  Apa ini, pikirnya ketika sedang mengawasi taksi mereka meninggalkan halaman rumahnya. Firasat apa? Mengapa hatiku terasa begini tidak enak?
  ***
  Dari Jakarta, mereka membutuhkan hampir tujuh jam perjalanan untuk mencapai Sydney. Sesudah transit di bandara, mereka harus terbang satu jam dua puluh menit lagi ke Melbourne.
  Sebenarnya Paskai ingin langsung mengungi Profesor Lawrence. Tetapi melihat kondisi j istrinya, dibatalkannya keinginannya.
  Soiandra terlihat letih. Padahal waktu fee Amerika, dia sama sekali tidak kelihatan lelah.
  Apakah karena suasana hati mereka saat itu? Perjalanan yang demikian jauh, memakan
  waktu hampir dua puluh jam, tidak terasa melelahkan.
  Betapa cepat masa-masa indah itu berlalu, pikir Paskai ketika sedang membimbing istrinya keluar dari bandara.
  Soiandra bukan hanya terlihat lelah. Wajahnya juga pucat. Padahal Paskai tahu, dia masih berusaha keras tampil secantik dan sesegar biasa. Dia tidak mau kelihatan sakit. Untuk suaminya dan untuk dirinya sendiri, dia tetap ingin tampil cantik.
  Ketika Paskai ingin minta kursi roda, j Soiandra menolaknya mentah-mentah.
  "Aku masih kuat, Mas," bantahnya gigih. "Buat apa kursi roda?"
  Paskai memang membatalkan niatnya untuk memesan kursi roda sesampainya pesawat di bandara. Tetapi ketika melihat panjangnya antrean di counter imigrasi, dia menyesal sekali telah mengurungkan niatnya.
  Sekarang dia melihat betapa lelahnya Soiandra
  meskipun dia berusaha keras menutupinya.
  Mengapa? pikir Paskai cemas. Mengapa kondisinya menurun secepat itu? Benarkah karena penyakitnya? Atau... dampak psikologis semata-mata?
  ***
  Di Melbourne, mereka menginap di sebuah hotel kasino yang terletak di pusat kota. Di depan hotel itu, Sungai Yarra mengalir tenang. Sementara gedung-gedung pencakar langit tampil sebagai latar belakangnya.
  Hotel mereka tidak jauh dari pusa