Hijaunya Lembah Hijaunya Lereng Pegunungan - 21

Diposting oleh Saiful bahri dari situbondo pada 05:18, 11-Peb-15

Hijaunya Lembah Hijaunya Lereng Pegunungan - Serial Pelangi Di Langit Singosari 5 - SH Mintardja.jpegCerita Silat | Hijaunya Lembah Hijaunya Lereng Pegunungan | Serial Pelangi Di Langit Singosari | Hijaunya Lembah Hijaunya Lereng Pegunungan | SH Mintardja | Hijaunya Lembah Hijaunya Lereng Pegunungan pdf

Bunga di Kaki Gunung Kawi bag X Bisikan Arwah - Abdullah Harahap Lembah Merpati - Chung Sin Panasnya Bunga Mekar Bag II Panasnya Bunga Mekar Bag III

telah terjadi. Karena itu, mereka tidak memberikan tanggapan apapun terhadap dua orang yang diantar oleh dua orang pengawal keluar pintu gerbang.

“Siapa mereka?” berkata seorang pemuda ketika kedua orang pengawal itu kembali memasuki pintu gerbang.

“Dua orang pengembara“ jawab pengawal itu.

Para peronda itu termangu-mangu sejenak. Lalu “Bukankah orang itu anak-anak muda yang ditangkap dan dibawa ke rumah Ki Buyut?“

“Mereka kemudian dibawa ke banjar. Untunglah, keduanya adalah anak- anak muda yang rendah hati. sehingga mereka sama sekali tidak berbuat apa-apa terhadap orang-orang yang telah berusaha menangkap, kalian memperlakukannya sebagai orang-orang yang berniat jahat”

Para peronda di pintu gerbang padukuhan itu mengerutkan dahi mereka. Namun pengawal itupun segera menceriterakan apa yang telah terjadi di banjar dengan kedua orang anak muda itu.

Para peronda itu mengangguk-angguk. Seorang diantara mereka berkata “Untunglah. Jika kedua anak muda itu mampu mengimbangi kemampuan Akuwu, bukankah berarti bahwa keduanya benar-benar memiliki ilmu yang tinggi?“

“Ya. Keduanya telah dapat mengalahkan sekelompok penjahat yang besar di banjar itu“ jawab salah seorang pengawal.

Anak-anak muda yang meronda itu menjadi kagum. Apalagi ternyata kedua orang anak muda itu benar-benar dapat mengekang diri sehingga mereka tidak terjerumus ke dalam satu sikap yang sewenang-wenang meskipun hati mereka telah disakiti.

Dalam pada itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah berada di gelapnya malam diluar padukuhan. Mereka berjalan di bulak yang panjang menuju ke padang perdu.

“Udara terasa diring“ desis Mahisa Murti. Mahisa Pukat mengangkat wajahnya. Dilihatnya bintang bergayutan di langit. p>

“Justru langit bersih“ berkata Mahisa Pukat “agaknya lebih hangat berada di banjar. Bahkan mungkin kita akan mendapat makanan dan minuman yang hangat”

Mahisa Murti tertawa. Katanya “Menarik. Tetapi kenapa kita pergi juga”

“Itulah sulitnya Kadang kadang harga diri itu dapat merugikan“ jawab Mahisa Pukat sambil tertawa pula.

“Kalau kita mau mengorbankan harga diri, sekedar untuk mendapatkan nasi hangat, tentu saja kita akan dapat melakukannya“ desis Mahisa Murti.

“Itulah sulitnya“ jaw»b Mahisa Pukat. Lalu “Tetapi itu adalah laku dari keprihatinan kita”

“Darimana kau tahu hal itu?“ bertanya-Mahisa Murti.

“He, bukankah ayah dan. paman-paman selalu mengatakan demikian?“ Mahisa Pukat ganti bertanya.

“Bagus. Artinya kau masih selalu ingat akan pesan ayah dan paman- paman“ jawan Mahisa Murti.

“Jika tidak, maka barang- barang upacara itu agaknya memang dapat dijual dengan nilai yang tidak terhingga“ sahut Mahisa Pukat.

Sekali lagi Mahisa Murti tertawa. Mahisa Pukat memandanginya sejenak. Namun iapun telah ikut tertawa pula.

Ketika keduanya kemudian berbelok kepadang perdu yang sepi dan jarang di datangi seseorang, maka mereka mulai merasakan kesepian yang mencengkam. Baru saja mereka melihat banjar padukuhan yang ramai dengan anak-anak muda dan para penghuni padukuhan yang lain dibawah nyala obor yang terang. Namun kemudian mereka telah terdampar kedalam gelapnya padang perdu dan dinginnya udara malam.

Sejenak kemudian Mahisa Murti dan Mahisa Pukat itupun teiah duduk bersandar pepohonan perdu yang tumbuh dengan liar dipadang itu. Angin malam berhembus perlahan-lahan mengusap wajah-wajah mereka yang mulai di bayangi oleh kantuk.

Sebenarnyalah kedua anak muda itu menjadi letih. Mereka harus melayani beberapa orang dalam perkelahian. Yang terakhir mereka harus melawan Akuwu yang telah memaksa mereka untuk menitikkan keringat.

“Ternyata perut ini merasa lapar juga“ desis Mahisa Pukat. Mahisa Murti yang sudah memejamkan matanya menyahut “Malam malam begini, bagaimana kita mendapatkan makan. Besok pagi pagi kita berburu burung. Agaknya menyenangkan juga makan daging burung selagi perut merasa lapar.

“Aku akan membeli saja ketela pohon. Kita akan dapat membuat perapian. Ketela itu kita panggang diatas api, maka kita akan segera menjadi kenyang” guman Mahisa Pukat.

“Bagus“ jawab Mahisa Murti “kau membeli ketela pohon di pasar. Aku akan mencari burung”

Mahisa Pukat tidak menjawab. Tetapi matanya mulai terpejam. Namun sementara itu Mahisa Murti tidak segera tertidur. Ia masih berusaha untuk tetap burjaga-jaga. Jika Mahisa Pukat sudah cukup lama tidur, maka tentu tidurnya tidak akan terlalu lelap. Barulah kemudian ia akan tidur menjelang pagi hari.

Ketika matahari mulai membayang. Mahisa Pukatlah yang bangkit lebih dahulu. Ia melihat langit menjadi merah, sementara Mahisa Murti masih tidur bersandar puhon. Nampaknya Mahisa Murti masih nyenyak bermimpi. p>

Mahisa Pukat tidak membangunkannya, tetapi iapun mulai mencari kekayuan dan dahan-dahan kayu kering yang berpatahan. Perutnya memang sudah terasa lapar Karena itu. ia benar-benar akan pergi ke pasar yang sudah diketahuinya letaknya.

Baru sejenak kemudian Mahisa Murti terbangun. Ketika ia melihat Mahisa Pukat sudah mengumpulkan kekayuan dan dahan dahan kering, maka iapun tersenyum. “Aku memang sudah lapar” berkala Mahisa Pukat Baiklah” jawab Mahisa Murti aku akan pergi ke sumber air itu sebentar. Kemudian aku akan segera berburu burung”

“Dengan apa?” bertanya Mahisa Pukat.

“Aku masih yakin akan kemampuan bidikku. Aku akan melempar burung- burung yang hinggap di dahan-dahan yang rendah itu dengan batu” jawab Mahisa Murti.

“Sulit” jawab Mahisa Pukat “mungkin Kau akan dapat mengenai sasaran mati. Tetapi burung-burung itu akan segera terbang mendengar desir lontaran batumu. Yang tidak akan terbang adalah ketela pohon atau jagung”

“Aku sependapat” jawab Mahisa Murti tetapi kita harus berhemat”

Mahisa Pukat mengerutkan keningnya. Namun iapun kemudian tersenyum. Katanya “Jika kita kehabisan uang, kita akan dapat bekerja apa saja kepada seseorang. Kita akan mendapatkan uang dengan cara yang baik.

Mahisa Murtipun kemudian tersenyum pula. Katanya “Aku sependapat. Meskipun demikian, kau jangan terlalu banyak mempergunakan uang yang ada pada kita sekarang ini”

Mahisa Pukat mengangguk. Katanya “Baiklah. Setelah hari ini, kita akan memasuki hutan yang memberikan kesempatan kepada kita untuk mencari buah-buahan dan berburu. He, apakah kita memerlukan busur dan anak panah?”

“Sebaiknya kita memang mempunyai alat berburu. Tetapi bukan busur dan anak panah. Kita memerlukan sumpit. Alat yang tidak terlalu menarik perhatian, karena sumpit tidak banyak dipergunakan selain hanya untuk berburu. Kitapun dapat mempergunakan alat yang lebih sederhana, yang barangkali pernah juga kita pelajari. Bandil”

“Ya Dengan bandil kita akan dapat berburu binatang di hutan-hutan. Kita hanya memerlukan tali ijuk yang lemas dan kuat. Aku akan membelinya” berkata Mahisa Pukat.

“Tidak perlu. Kita aken dapat mencari daun nanas. Aku telah melihat beberapa batang nanas liar tumbuh di padang perdu ini. Kita akan membuat saratnya menjadi tampar kecil yang dapat kita pergunakan untuk membuat bandil. Tetapi baik juga jika kita mempunyai sumpit” jawab Mahisa Murti.

Tetapi mereka tidak tahu, dimanakah mereka akan mendapatkan sumpit. Meskipun mereka akan dapat membelinya, namun jarang mereka dapat menemukan seseorang yang menjual sumpit. Kecuali jika mereka bertemu dengan seorang pemburu yang mempergunakan sumpit dan bersedia menjual sumpitnya.

Dalam pada itu, maka Mahisa Pukatpun kemudian telah pergi ke pasar untuk membeli ketela pohon atau jagung, sementara Mahisa Murti sempat mencari daun nanas yang tumbuh liar di tepi sebuah mata air kecil di tengah-tengah padang perdu. Dengan pisaunya Mahisa Murti memotong beberapa helai daun nanas dan kemudian mengurut seratnya. Serat itu akan dijemurnya dan kemudian dianyam menjadi tali yang kuat dan lemas. Lebih baik dari tampar ijuk untuk dipergunakan sebagai pelempar batu.

Pagi itu, mereka telah menyalakan api di tengah-tengah padang perdu. Merekapun mengerti, bahwa asap api itu akan menarik perhatian. Tetapi orang-orang yang melihat asap itupun akan mengira bahwa ada seseorang pencari kayu yang Berada di padang perdu itu. Jika apinya tidak menjalar dan semakin besar, maka asap itu tentu tidak akan memaksa orang-orang yang melihatnya untuk mendatanginya.

Sejenak kemudian Mahisa Murti dan Mahisa Pukat itupun dengan lahapnya telah makan jagung yang dipanggang di atas api. Beberapa saat mereka duduk di sebelan perapian, sehingga akhirnya merekapun menjadi kenyang.

Dalam pada itu, maka Mahisa Murtipun telah menjemur serat dauri nanas yang masih basah. Ternyata kedua anak muda itu, bersepakat, bahwa mereka pada hari itu juga akan meneruskan pengembaraan mereka yang terhenti. p>

Setelah mengemasi diri, maka kedua orang anak muda itupun telah meninggalkan padang perdu itu. Mahisa Murti membawa serat nanasnya yang akan dibuatnya menjadi bandil. Sementara Keduanya masih juga berusaha untuk dapat menemukan seseorang yang mungkin akan dapat memberinya satu atau dua batang sumpit.

Kedua anak muda itu tertegun ketika mereka melintasi sebuah gerumbul bambu di padang perdu yang lain. Mereka melihat batang-batang bambu cendani yang beruas panjang. Sejenak mereka tertegun. Namun kemudian Mahisa Pukat berkata “Apakah kita dapat membuat sumpit sendiri dengan pering cendani ini?“

“Jenis pering cendani yang jarang dijumpai“ berkata Mahisa Murti “ruasnya panjang sekali. Agaknya bambu ini sengaja disediakan bagi kita untuk membuat sumpit”

“Atau bambu ini sengaja di tanam orang, setidak-tidaknya dimiliki oleh seseorang“ berkata Mahisa Pukat “lihat bekas- bekasnya. Beberapa batang bambu telah dipotong. Bekasnya adalah bekas pisau. Bukan sekedar patah oleh angin atau binatang-binatang liar vang berlari- larian”

Mahisa Murti memang melihat beberapa batang bambu telah dipotong. Bekasnya adalah bekas pisau atau semacam kapak kecil. Karena itu, maka katanya “Memang mungkin sekali. Tetapi agaknya bambu ini tumbuh saja disini tanpa ada orang yang menanamnya. Tetapi sekelompok orang yang mengetahuinya kemudian telah mengambil beberapa batang untuk dibuat sumpit dan kepentingan-kepentingan lain yang sesuai dengan ruas-ruasnya yang panjang.

“Jika demikian, apa salahnya jika kita mengambil satu atau dua batang Kita dapat memilih yang sudah tua, lurus dan bernas paling-panjang” berkata Mahisa Pukat.

Keduanyapun kemudian mulai memilih batang bambu cendani yang kecil beruas panjang. Tetapi cendani yang mereka ketemukan itu agaknya bambu cendani yang khusus. Ruasnya terlalu panjang bagi bambu cendani yang biasa dijumpainya.

Tetapi keduanyapun memang pernah melihat sumpit bambu cemani yang beruas panjang seperti jang mereka ketemukan itu. p>

Namun dalam pada itu. selagi keduanya sibuk memotong bambu cendani itu dengan pisau-pisau mereka, tiba-tiba saja dua ekor kuda telah berpacu menembus batang-batang perdu. Nampaknya kedua pununggangnya terkejut juga melihat dua orang yang sedang sibuk memotong bambu cendani yang khusus itu. Karena itu, maka seorang diantara mereka telah berkata “Kita dekati mereka”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukatpun terkejut pula. Tetapi mereka tidak dapat berbuat lain, kecuali berdiri tegak sambil menunggu kedua ekor kuda yang mendekat itu.

“Apakah mereka yang memiliki pohon bambu cendani ini?“ desis Mahisa Murti.

Dalam pada itu, kedua orang penunggang kuda itu menjadi semakiin dekat. Beberapa langkah dari kedua orang anak muda itu, keduanya telah berhenti.

“He, siapakah kalian yang telah mengambil ruas-ruas pering cendani ini?“ bertanya seorang diantara mereka, seorang yang bertubuh tinggi besar.

“Kami dalah dua orang bersaudara yang sedang mengembara“ jawah Mahisa Murti.

“Kenapa kalian berani mengambil pering cendani itu?“ bentak yang seorang lagi. Seorang yang juga bertubuh tinggi, tetapi agak kurus.

“Apakah kami tidak diperkenankan mengambil pering cendani ini?“ bertanya Mahisa Pukat.

“Rumpun bambu itu milik kami“ berkata orang yang bertubuh tinggi besar.

“Maaf Ki Sanak“ sahut Mahisa Pukat “kami tidak mengetahui bahwa bambu ini ada pemiliknya. Kami mengira bahwa bambu yang tumbuh di padang perdu ini adalah bambu liar. Bambu tanpa pemilik sehingga siapapun dapat mengambilnya” “Gila. Kau kira kau berhak mengambil bambu itu“ bentak orang yang kekurusan.

“Demikianlah Ki Sanak. Tetapi jika bambu ini memang ada pemiliknya, kami mohon maaf” berkata Mahisa Murti.

Tetapi Mahisa Pukat berkata “Bahkan jika Ki Sanak pemiliknya, maka perkenankanlah kami berdua mohon diijinkan untuk mendapatkan satu bambu saja masing-masing. Satu batang bambu itu mempunyai ruas yang cukup panjang sebanyak tiga atau ampat ruas. Memang pering cendani yang luar biasa”

“Tutup mulutmu“ bentak yang bertubuh tinggi besar “bambu itu tidak boleh diambil oleh siapapun juga, kecuali kami berdua”

“O“ Mahisa Murti mengangguk dalam-dalam “jika demikian, kami minta maaf. Kami akan menyerahkan bambu yang sudah terlanjur kami potong”

“O, demikian mudahnya“ jawab orang yang bertubuh kecil “kau kira kau dapat melakukan kesalahan tanpa mendapat hukuman. He, coba katakan, untuk apa kalian mencuri bambu cendani itu?“

“Kami ingin membuat sumpit. Kami memerlukan sumpit untuk berburu burung. Dalam pengembaraan kami, kami memang memerlukan binatang buruan. Namun agaknya bagi kami, beberapa ekor burung telah cukup untuk menyambung hidup kami”

“Persetan“ geram orang yang bertubuh besar “nampaknya kau memiliki kemampuan mempergunakan sumpit?”

“Tidak. Tetapi kami akan mencoba” jawab Mahisa Pukat.

“Omong kosong. Kalian tentu pernah belajar mempergunakan sumpit. Jika tidak, kalian tidak akan mencobanya, karena mempergunakan sumpit memerlukan ketrampilan tersendiri” jawab orang bertubuh besar itu.

Mahisa Murtilah yang kemudian