Tawanan Bermata Nakal - 7

Diposting oleh Saiful bahri dari situbondo pada 20:00, 16-Jul-16

Cerita Silat | Tawanan Bermata Nakal | Serial Pendekar Mabuk | Tawanan Bermata Nakal | Cersil Sakti | Tawanan Bermata Nakal pdf

Nick Carter - Formula Ulrich Nick Carter - Neraka Elsavador Nick Carter - Operasi Cointrin Nick Carter - Tugas Maut Pemberontakan Taipeng - Kho Ping Hoo


Tempat tldumya dari dipan bambu yang sudah reot.
Satu kakinya disambung dengan kayu lain hingga
posisinya agak miring. Meja kursinya dari kayu papan yang dibuat asal jadI. Di tengah ruangan ltu ada
meja lebar, berkaki rendah.
Meja itu dikelilingi tikar pandan yang sudah butukan. Orang yang akan makan di meja itu harus duduk berslla, atau melonjor ke samping. Tak bisa melonior ke depan, karena meja itu menyerupai kotak
tanpa kolong.
Dua kursi kayu reot ada di samping dipan, satu
kursi lagi ada dl sudut. Sudut itu adalah dapur yang
mempunya! tungku berabu tinggi, dekat dengan pintu menuju ke halaman belakang.
Tapi halaman belakang hanya secuil tanah yang
cukup untuk kamar mandi dan WC saja. Bahkan untuk menanam pohon cabe saia harus diperhitungkan masak-masak letaknya.
Suto tak betah berdiri dI dalam rumah tanpa jendela Itu. Karena ia tak betah harus membungkuk terus. Maka ia memilih duduk di tikar yang mengelilingi meja rendah tersebut.
"Benar—benar menyedihkan. Lebih bagus kandang kebo daripada rumah lnl,” pikir Suto Sinting
sambil matanya memandang sekeliling.
badrun menutup pintu rumah, karena petang mulai datang.
”kang, aku punya teh seduh. Apakah kau mau
minum teh seduh?”
'kaiau aku menjawab salah, bisa celaka apa
tidak ."
Badrun tertawa kecii. "ini pertanyaan biasa kok,
Kang. Bukan tebakan 'Kedung Getlh'. Jangan takut
menjawab salah,“ ujar si bocah.
'Aku minum tuak saja," jawab Suto sambil sedikit mengangkat bumbung tuaknya.
“Wah. tak balk terlalu banyak minum tuak, Kang.
Sedlklt saja. Sisanya blar kuminum."
Suto tertawa pendek. “Ambil cangkir dan kita
minum tuak bersama.“
Badrun kegirangan, lalu segera mengambil
cangkir keramik yang sudah rusak tepiannya.
ini cangkir apa takaran beras?i" gumam Suto
Sinting. membuat Badrun tertawa malu.
Sambil menikmati minuman tuak memakai cangkir-cangkir sompai Itu, Suto Sinting sempat pandangl lagi barang-barang yang ada di rumah Itu. Semuanya memang serba rombeng. Satu pun tak ada
yang laku dijual.
“Sebenarnya pintu rumah ini tak perlu kau ganjal dengan palang pintu. Karena aku yakin tak ada
pencuri yang mau masuk ke rumahmu lnl, Badrun.”
“Siapa tahu ada?!" _
”Pencuri masuk ke sini adalah pencuri yang
bernasib siail Apa yang mau dicuri?"
“Siapa tahu yang dicuri diriku sendiri?!'
“Orang mencuri dirimu itu adalah orang buta
yang menganggapmu patung keramat."
Tawa mereka meledak bersama di bawah penerangan cahaya iampu minyak. lampu itu berupa
mangkuk tembaga yang sudah pietat-pietot, dituangi minyak. Sejumput kapas direndam dalam minyak itu, kemudian ditarik sedikit dijadikan sumbu
yang membuat lampu itu menjadi menyala.
"Apakah sejak dulu keluargamu tlnggal di sinl?'
"Ya. Ayahku, ibuku, bahkan kakekku juga dulu
menempati rumah ini.“
"tak dibangun sedikit pun?”
"Kami tak mampu membangunnya. Dari dulu ya
begini ini."
"Gliai' gumam Suto Sinting sambil geleng—geieng kepala. 'Rumah kanan-kirlmu bagus—bagus, rumahmu sendiri yang luar biasa bagusnya," sindlr Suto tapi dalam nada bercanda. dan tampaknya Badrun
tak pernah tersinggung oleh sindiran atau candaan
seperti itu. Namun hati Suto sebenarnya terharu meiihat kehidupan Badrun.
"Dengan siapa kau tinggal di rumah ini?“ tanya
Suto setelah diam beberapa saat.
Badrun tidak langsung menjawab, Ia pandangi
cangkir tuaknya sesaat, kemudian baru perdengarkan suaranya agak pelan.
"Aku tlnggal sendirian di rumah inl.'
'Kau tak punya saudara”?
“Punya. Seorang kakak!
”Laiu, di mana kakakmu tlnggal?“
'Tidak di rumah ini."
“Siapa nama kakakmu?"
”Peri-..," jawab Badrun, lalu tertawa kecil.
Suto ikut tertawa walaupun sebenarnya ieiucon
itu tidak membuatnya geli. Rasa-rasanya pembicaraan itu tak begitu penting bagi Suto. Ada masalah