Ksatria Panji Sakti - 29

Di posting oleh Saiful bahri dari situbondo pada 08:01 PM, 09-Mar-14

Cerita Silat | Ksatria Panji Sakti | oleh Gu Long | Ksatria Panji Sakti | Cersil Sakti | Ksatria Panji Sakti pdf

Imam Tanpa Bayangan II - Xiao Say Pendekar Pulau Neraka - 50. Bidadari Penyambar Nyawa Ksatria Panji Sakti - Gu Long Animorphs 17 Menembus Gua Bawah Tanah Pendekar Perisai Naga - 5. Siluman Kera Sakti

Bab 6. Huru hara di Lokyang. Kota Lokyang adalah sebuah kota besar yang makmur dan ramai, boleh dibilang kota paling makmur di kolong langit saat itu. Belakangan tersiar sebuah kabar aneh dalam kehidupan masyarakat kota Lokyang, konon di kota itu telah kedatangan seorang manusia aneh yang memiliki kekayaan tak terkalahkan. Dikota Lokyang waktu itu sudah terdapat banyak sekali orang yang kaya raya, banyak saudagar kaya yang datang dari tempat jauh, kongcu dari keluarga kenamaan banyak Sekali berkumpul dikota ini. Tapi semua orang kaya yang ada disana ternyata tak seorangpun dapat mengungguli kekayaan yang dimiliki manusia aneh itu, tak heran kalau ia jadi pusat perhatian orang dan menjadi tokoh dalam cerita yang beredar. Keluarga Li di utara kota bukan saja merupakan seorang kaya raya yang termashur di kota Lokyang, bahkan diapun merupakan seorang pengusaha permata yang terhitung paling besar di seantero jagad, tak ada orang yang tidak kenal dengan Li Lok-yang. Keluarga Li Lok-yang turun temurun memang berdagang intan permata, bukan saja sudah sejak lama kaya raya bahkan kepandaian silat yang dimiliki keluarga Li pun terhitung sangat hebat. Bagi saudagar yang mengusahakan intan permata, tidak mengerti ilmu silat sama halnya dengan seekor domba yang hidup ditengah gerombolan harimau, keluarga Li sangat memahami akan hal ini karenanya kepandaian silat mereka pun dilatih dengan tekun. Peristiwa aneh dan manusia aneh yang menggemparkan seluruh kota waktu itu berasal dari cerita para pembantu yang bekerja di keluarga itu. sudah sebelas generasi keluarga Li dari Lokyang berdagang barang permata, setelah melalui pelbagai kejadian dan peristiwa, anak buah mereka sudah terlatih hidup penuh kewaspadaan dan hati hati. Mereka tidak memiliki toko yang mewah, megah dan indah, yang mereka miliki adalah sebuah bangunan raksasa yang kuno tapi kokoh dengan penjagaan yang sangat ketat. Dalam satu tahun pasti ada sepuluh hari para saudagar barang permata berkumpul disitu, biasanya mereka melakukan transaksi besar besaran dalam gedung kokoh itu. Para hartawan, para pedagang kenamaan biasanya akan membawa istri dan gundik mereka untuk berbelanja barang perhiasan disitu, busu, piausu pun banyak berkeliaran disana. Tentu saja diantara mereka terdapat juga pentolan perampok, para pencoleng dan kaum lioklim yang biasa bekerja gelap, namun begitu hadir di sini, merekapun akan bertransaksi mengikuti aturan, tak seorangpun berani main kekerasan apalagi berusaha merampok. Pintu gerbang keluarga Li selalu terbuka, asal kau datang untuk berjual beli barang permata, tidak perduli apa pun status sosial mu, tidak perduli ada berapa banyak uang yang kau miliki, semuanya boleh berkunjung ke situ. Dalam sepuluh hari yang istimewa ini, semua orang boleh datang ke sana, bahkan biarpun kau hanya ingin membeli sebutir mutiara atau ingin membeli bunga mutiara yang berharga tiga tahil, semuanya berhak menikmati pelayanan istimewa sebagai seorang bangsawan. Anggota keluarga Li serta para pembantu yang telah melalui pendidikan ketat akan menyambut dan melayani semua orang secara santun dan halus. Motto mereka adalah: Sekali melangkah masuk ke pintu gerbang, kau adalah tamu kehormatan keluarga Li” Ditempat ini tak ada orang yang akan menanyai identitasmu, juga tak akan diselidiki sumber uang dan harta yang kau miliki, asalkan saja tingkah lakumu Selama ada disana normal dan tidak aneh aneh. Tapi jika kau mencoba melakukan tindakan yang melanggar hukum, yang ringan paling hanya diusir keluar dari gedung itu, sementara yang berat akan ditahan dan diinterogasi. Tentu saja Selama ini berapa kali keluarga Li harus menghadapi percobaan perampokan dan pembegalan, seperti yang dilakukan gembong iblis berilmu tinggi Gi—pak-siang-sat atau Tok-jiu— Kunlun, tapi semua percobaan itu berhasil dipatahkan oleh orang orang keluarga Li. Tahun ini, pasar bebas kembali diselenggarakan dalam gedung keluarga Li, bahkan tahun ini diselenggarakan lebih besar dan meriah. Sejak hari Tiong-yang, kereta dan lautan manusia mulai membanjiri utara kota Lok-yang. Pemilik toko permata angkatan ke sebelas Li Lok—yang berwajah bersih dengan perawakan tubuh tinggi, sekalipun rambutnya sudah memutih namun sinar matanya masih terang bagai cahaya bintang. Ia mengenakan jubah berwarna gelap, dengan penampilan yang anggun penuh wibawa bersama putra pertamanya Li Kiam—pek berdiri di undak undakan pintu ke dua untuk menyambut kedatangan para tetamunya. seorang nyonya cantik berpenampilan anggun, ditemani seorang pemuda tampan berbaju putih merupakan sepasang tamu pertama yang datang berkunjung hari ini. Menyusul kemudian pensiunan panglima perang, perampok kenamaan yang telah cuci tangan, pemuda perlente, kakek kaya raya dengan membawa bini dan istri mudanya berduyun duyun memasuki ruangan. Hari pertama berlalu dengan begitu saja, hari kedua baru merupakan puncak keramaian. Tengah hari itu ketika Li Lok—yang sedang mencuri waktu untk beristirahat sejenak, tiba tiba didepan pintu gerbang berhenti dua buah kereta megah yang ditarik delapan ekor kuda jempolan. Kusir kereta adalah dua orang bocah tampan berbaju mewah yang baru berusia delapan, sembilan tahun, tapi keahliannya dalam mengendalikan kereta jauh lebih hebat ketimbang orang yang berpengalaman sekalipun. Asal orang yang sedikit punya pengetahuan, mereka segera akan mengenali kalau ke dua orang bocah tampan ini tak lain adalah Ban-kim sintong (bocah sakti selaksa emas) hasil didikan rumah pelacuran kenamaan di kota Lokyang, rumah pelesiran Hun-kiok-hoa. Bunga seruni putih Ko Chang—yan adalah seorang pelacur kenamaan dikotaraja, tapi setelah berusia lanjut ia alih profesi menjadi seorang pelatih sekawanan bocah tampan dan dayang cantik yang berkemampuan tinggi, orang orang itu khusus dijual kepada orang kaya sebagai budak, tapi karena semua bocah dan dayang itu berotak cerdas, berkemampuan hebat dan memiliki berbagai macam ilmu, maka kalau bukan orang yang benar benar kaya, jangan harap bisa mempekerjakan mereka, sebab harga mereka sangat tinggi, untuk membeli satu orang dibutuhkan uang sebesar sepuluh laksa tahil perak, satu jumlah yang mungkin senilai dengan seluruh harta kekayaan seorang pedagang kaya. Kini sorot mata semua orang sudah tertuju pada dua orang bocah yang ada dikereta kuda itu, setiap orang pingin tahu saudagar kaya raya mana yang ada dibalik kereta, siapakah orang yang memiliki kekayaan sebesar ini? Pintu kereta pertama dibuka orang dan muncullah seorang gadis cantik berbaju mewah, gadis ini selain berwajah ayu, senyuman manis selalu menghiasi bibirnya. semua orang merasa pandangan matanya silau, serentak mereka mengawasi gadis itu dengan termangu. Siapa tahu begitu turun dari kereta, gadis cantik itu segera membungkukkan badan seraya berkata: “Nona, silahkan turun dari kereta” Dari balik kereta kembali muncul sebuah tangan yang halus, tangan itu memegang bahu gadis pertama dengan lembut. Menyusul kemudian dari balik kereta muncul sepasang kaki yang bulat kecil dengan mengenakan sepatu kecil yang indah, sebutir mutiara menghiasi ujung sepatu itu, mutiara sebesar kelengkeng yang bergetar ketika terhembus angin. Sekalipun belum nampak orangnya, namun cukup melihat sepasang tangannya, sepasang kakinya serta sepasang mutiaranya yang bergetar, orang sudah merasa pandangan matanya silau, terkesima dan berdiri bodoh. “Siapakah dia? Sebenarnya siapakah dia?” diam diam semua orang mulai menebak. Tahu tahu diluar kereta sudah berdiri seorang gadis yang cantik bak bidadari dari kahyangan, rambutnya hitam mengkilap, kerlingan matanya bening bagai air, dia mengenakan pakaian model keraton yang halus tapi indah, bahannya seperti sutera seperti juga hasil tenunan. Meskipun gadis yang pertama tadi cantik, tapi dia termasuk gadis yang banyak dijumpai dalam kehidupan masyarakat, sebaliknya gadis berbaju keraton itu memiliki kecantikan yang sama Sekali tidak membawa hawa napsu, bagaikan bidadari yang turun dari kahyangan. Sambil berpegangan pada bahu gadis pertama, perlahan-lahan gadis itu berjalan menuju ke depan kereta ke dua. Sorot mata semua orang pun serentak dialihkan ke ata s kereta nomor dua. Begitu pintu kereta kedua terbuka, sorot mata semua orang segera tertuju ke situ, ternyata yang muncul adalah seorang kakek berambut putih yang badannya sudah bungkuk dan wajahnya penuh keriput. Jalan kehidupan orang ini sudah terlewatkan separuh masa, langkah kakinya pun gontai, dengan satu tangan ia menutupi matanya seakan tak tahan dengan cahaya matahari, tangan yang lain berpegangan diatas bahu gadis cantik berbaju keraton itu. Menyaksikan adegan ini semua orang merasa kecewa bercampur tidak terima, masa sekuntum bunga seharum itu harus ditancapkan diatas seonggok tahi kerbo? Dibawah pandangan mata banyak orang, mereka bertiga berjalan menuju ke pintu gerbang. Buru buru Li Lok—yang menyambut kedatangan mereka, sambil tersenyum dan menjura sapanya: “Tamu agung datang dari jauh, boleh tahu siapa nama anda?” Kakek itu mendengus dingin, dengan suara bagai seorang banci sahutnya: “Aku datang kemari untuk berdagang, bukan menjawab interogasimu!” Li Lok-yang tertegun, kemudian buru buru sahutnya sambil tertawa paksa: “Silahkan masuk! Silahkan masuk!” “Tentu saja harus masuk” jawab kakek perlente itu sambil melotot, “kalau tidak masuk memangnya harus tidur didepan pintu rumahmu, hmmm.....hmmmm.... benar benar kurangajar!” Sekali lagi Li Lok-yang tertegun, saking jengkelnya nyaris dia tak sanggup berkata kata. Selama hidup sudah cukup banyak manusia yang dijumpainya, tapi belum pernah ia jumpai kakek seaneh ini. Kakek aneh itu langsung memasuki ruang utama, dengan sorot matanya dia memandang sekeliling tempat itu sekejap lalu serunya sambil tertawa terkekeh: “Hahahaha . . . . .. palsu! Palsu! Dari lukisan yang tergantung dalam ruangan ini, paling tidak ada dua lukisan yang merupakan barang tiruan” Li Kiam—pek yang masih muda, berdarah panas, kontan naik darah dan siap mengumbar amarahnya, tapi deheman ayahnya membatalkan niat tersebut. Dalam pada itu ke dua orang bocah ganteng itu sudah ikut masuk ke dalam gedung sambil menjinjing dua buah peti yang berbentuk indah, peti itu terbuat dari besi dengan taburan intan permata disekitarnya. Belum lagi isi peti, dari bentuk ke dua peti itupun sudah ketahuan kalau nilainya luar biasa, tentu saja Li Lok-yang tahu nilai barang, tak tahan untuk berdecak keheranan. Begitu masuk ke dalam gedung, kakek perlente itu segera berteriak: “Dimana tempat tinggalku?” Biarpun gedung keluarga Li tidak nampak mentereng, namun memiliki banyak halaman dengan ruang kamar yang indah. Untuk menyambut kedatangan para tetamunyam, Li Lok—yang telah perintahkan orang untuk membersihkan seluruh halaman rumah, dia tahu watak kakek perlente ini sangat aneh maka sengaja mengajaknya menuju ke halaman rumah yang paling lebar. Siapa tahu begitu memasuki kamar, gadis cantik bak bidadari itu segera menutupi hidungnya sambil berkerut kening. Kakek perlente itu lebih berang lagi, sambil menuding ke ujung hidung Li Lok—yang umpatnya: “Ruangan macam beginipun kau anggap tempat tinggal manusia? Kandang babi milik lohu jauh lebih indah ketimbang halaman rumahmu ini” Li Kiam—pek tak kuasa menahan diri lagi, sambil menarik wajahnya ia menegur: “Kalau menganggap kurang berkenan, kenapa tidak membawa rumah sendiri?” Dia sengaja tidak memandang wajah ayahnya dan langsung mengucapkan perkataan itu. “Hmm, kau sangka bisa menyusahkan aku?” jengek kakek perlente itu sambil tertawa dingin. Dalam dua jam kakek berbaju perlente itu sudah perintahkan orang untuk mendirikan tiga buah tenda, tenda yang sangat megah dan indah bak istana raja Mongol ditengah gurun. Perabot dan perlengkapan yang tersedia dalam tandu itu lebih hebat lagi, hampir semua benda adalah barang pilihan yang indah, mahal dan tak ternilai harganya. Ia menyediakan dapur sendiri dan menampik kiriman makanan yang disediakan gedung keluarga Li, kokinya adalah seorang koki kenamaan dari Hangciu, konon dia khusus diundang dari dalam istana kaisar. Kakek yang aneh, istri yang cantik bak bidadari, kekayaan yang tak terhingga, perjalanan yang spektakuler, ketika semua hal digabung menjadi satu, tak heran kalau segera menimbulkan gelombang kehebohan dalam masyarakat.