Misteri Mayat Darah - 9

Diposting oleh Saiful bahri dari situbondo pada 23:08, 01-Apr-15

Cerita Silat | Misteri Mayat Darah | Serial Pendekar Rajawali Sakti | Misteri Mayat Darah | Cersil Sakti | Misteri Mayat Darah pdf

Pendekar Mabuk - Titisan Ilmu Setan Pendekar Mabuk - Gundik Sakti Pendekar Rajawali Sakti - 154. Pangeran Dari Kegelapan Pendekar Mabuk - Pembantai Raksasa Pendekar Mabuk - Gadis Buronan

kembang-kembang?" tanya Rangga.
    Adipati Danu Tirta tampak terkesiap. Matanya yang agak kecil, terbelalak lebar.
    "Baju kembang-kembang?" desis Adipati Blambangan ini dengan mulut ternganga.
    "Betul," sahut Rangga pendek.
    "Apakah kau sendiri pernah melihatnya? " de-sak Adipati Danu Tirta, ingin tahu.
    Rangga menggeleng. Melihat pembunuh itu belum pernah. Dan mungkin aku memang tidak pernah berjumpa. Hanya saja ketika menuju ke sini, aku melihat mayat-mayat bergelimpangan. Tubuh mereka dalam ke adaan hangus seperti yang Paman katakan. Tidak jauh dari tempat itu pula, aku bentrok dengan seorang laki-laki dan wanita berbaju kembang-kembang! Mereka tampaknya memang sengaja menjebakku," jelas Rangga.
    "Menjebak bagaimana?"
    "Semula aku melihat seorang wanita seperti akan diperkosa oleh laki-laki berbaju kembang-kembang. Tapi..., ketika aku berhasil membunuh si pemerkosa, tiba-tiba wanita itu menyerangku ..!"
    "Hm, aneh! Sungguh aneh sekali!" desis Adipati Danu Tirta.
    "Dunia ini memang dipenuhi berbagai ke-anehan, Paman. Tapi lebih aneh lagi, ketika aku berhasil merobohkan mereka. Darah yang keluar dari luka-luka di tubuh mereka, berwarna hitam. Bukan merah seperti pada umumnya. Selain itu, tercium bau bangkai busuk!"
    Adipati Danu Tirta semakin tercengang-ce-ngang. Apa yang dikatakan Pendekar Rajawali Sakti memang sama dengan kejadian yang dilihatnya di kedai beberapa hari lalu. Bagaimana mungkin semuanya bisa sama?
    "Bagaimana pendapat Paman tentang ini?" tanya Rangga setelah terdiam lama.
    "Sama, Rangga! Sama...!" kata Adipati Danu Tirta.
    Rangga terheran-heran.
    "Apa yang sama?" tanya Rangga.
    "Tiga Pendekar Golok Terban g juga pernah bentrok dengan seorang pemuda dan gadis berbaju kembang-kembang. Ketika tewas, dari luka- luka di tubuh kedua anak muda itu mengalir darah hitam. Tubuh mereka juga menyusut seperti bangkai," jelas laki-laki setengah baya ini.
    Rangga terdiam. Kali ini dia benar-benar tidak dapat menyembunyikan keheranannya. Dan apa yang didengarnya selama ini terbukti. Mengapapembunuh itu selalu memakai baju yang sama dan berpasang-pasangan? Mungkinkah mereka diutus seseorang untuk menyebar keonaran. Ataukah semua ini hanya tipuan saja? Rangga merasa sekarang sedang menghadapi sebuah persoalan sangat rumit.
    "Apakah yang kau pikirkan. Rangga?"
    'Eeeh… Tidak! Aku mulai dapat menduga, mungkin orang-orang itu hanya utusan seseorang untuk menyebar darah di mana-mana. Oh, ya... Apakah Paman punya musuh? "
    Adipati Danu Tirta terdiam. Keningnya mengerut dalam.
    "Kukira aku tidak punya musuh seorang pun. Kalaupun ada, itu dulu. Tapi semua itu adalah kesalahannya sendiri. Sekarang, dia sudah mati.
    "Siapakah musuh Paman itu?" desak Rangga.
    "Masih saudara seperguruanku! Namanya, Nyi Kajar Asih! Dia seorang gadis cantik, tapi sakti mandraguna. Dia tewas di tanganku karena telah membunuh guru," jelas adipati ini.
    "Apakah Paman yakin tentang kematiannya?" tanya Rangga, ingin memastikan.
    "Tentu saja aku meyakininya. Karena dia tewas di tanganku sendiri…! Mengapa kau menanyakannya, Rangga?" tanya Adipati Danu Tirta tidak mengerti.
    Rangga tersenyum.
    "Menurut pesan yang disampaikan padaku, kabarnya lebih banyak keluarga dekat Paman yang terbunuh! Secara pasti, aku belum dapat menyimpulkan. Hanya keyakinanku rasanya tidak mungkin keluarga Paman diusik, jika memang tidak ada persoalan-persoalan tertentu."
    "Kurasa bukan begitu masalahnya, Rangga!" tukas Adipati Danu Tirta. "Aku merasa hubunganku dengan orang lain sangat baik. Jadi, mustahil mereka membenciku! "
    "Memang sangat sulit untuk menentukan, siapa orangnya yang berdiri di balik semua peristiwa ini. Tapi aku berjanji untuk membantu Paman semampuku! tegas Rangga meyakinkan.
    Wajah Adipati Danu Tirta berubah berseri-seri. Bagaimanapun hatinya merasa yakin dengan ke-mampuan Pendekar Rajawali Sakti.
    "Sebelumnya, aku mengucapkan terima kasih terhadap niat baikmu, Rangga!" ucap Adipati Danu Tirta.
    "Tidak usah berlebih-lebihan, Paman. Aku belum berbuat sesuatu sahut Rangga, mendesah.
    Suasana di dalam ruangan ini kemudian berubah hening. Adipati Danu Tirta meminta Pendekar Rajawali Sakti agar mau menginap di rumahnya.
   
    ***
   
    Melewati sisa-sisa malam di salah satu ruangan kamar yang disediakan Adipati Blambangan, Rangga benar-benar tidak dapat memejamkan matanya. Hatinya sendiri merasa bingung, bagaimana mungkin orang yang telah mati dapat dibangkitkan kembali? Siapa yang dapat melakukannya? Jika orang itu adalah manusia sesat yang memiliki ilmu hitam, paling tidak memiliki tujuan-tujuan tertentu dalam membuat keresahan dengan sepak terjangnya.
    "Aku harus melakukan sesuatu! Aku merasa, Adipati Danu Tirta sengaja menyembunyikan satu rahasia yang tidak ingin diketahui orang lain," kata Rangga dalam hati. "Untuk mencari dalang dari semua peristiwa yang terjadi, paling tidak aku harus menemukan sumbernya. Namun..., di mana aku harus mencarinya?'
    Rangga menjadi ragu-ragu. Seingatku, di Kadipaten Blambangan tidak ada tempat-tempat tersembunyi yang mungkin dijadikan pusat kegiatan seseorang untuk melakukan tindak kejahatan. Apa pun yang ada dalam benak si pembunuh, yang jelas mungkin saja mengincar sesuatu yang sangat penting. Atau bahkan, mereka memang mengincar nyawa Adipati Blambangan. Rangga makin tidak mengerti. Disertai hembusan napas dalam-dalam, Pendekar Rajawali Sakti berusaha memejamkan matanya.
   
    ***