Kemunculan Iblis Merah - 6

Diposting oleh Saiful bahri dari situbondo pada 23:32, 19-Agu-15

Cerita Silat | Kemunculan Iblis Merah | Serial Pendekar Mabuk | Kemunculan Iblis Merah | Cersil Sakti | Kemunculan Iblis Merah pdf

Bag IV Hijaunya Lembah Hijaunya Lereng Pegunungan Pendekar Rajawali Sakti - 211. Harpa Neraka Tiga Naga Sakti - Asmaraman S. Kho Ping Hoo Pendekar Rajawali Sakti - 118. Dukun Dari Tibet Tikam Samurai IV - Makmur Hendrik

dalam pesta pengukuhan karena asmaknya kambuh.
  "Aku tak berani bilang terus terang padanya. Aku malu kalau minta dlantar pulang olehnya. Lalu. bagaimana caranya supaya ia tahu bahwa aku ingin diantarkan pulang olehnya?" pikir Mayangslta sambil berlagak bicara tentang ilmu kanuragan bersama Dewi Cintani, si perwira Pulau sangan itu.
  Pepatah mengatakan: 'pucuk dicina ulam pun tiba'. Pada saat pesta usai, Pendekar Mabuk berpapasan dengan Mayangsita di depan gerbang.
  Pandangan mata yang saling bertemu ilu membuat Mayangsita berubah gugup dan latah, sebab hatinya berdesir-desir manakala Suto Sinting sunggingkan senyumannya yang selalu mambuat hati para wanita menjadi heboh itu.
  "Mayang, kau mau pulang sekarang atau nanti?|".
  tegur Suto lebih dulu.
  "Hmmm, eeeeh... iya, nanti. Tapi... eh, sekarang.
  Anu, hmmm... yah, begitulah," jawab Mayangslta dengan kacau. senyum tersipu-sipu di wajah cantiknya dibarengi pandangan mata yang tak tentu arah. Pendekar Mabuk sudah tak heran dengan kebiasaan seperti itu, sebab ia memang tahu persis 'cacat' si Mayangsita jika bertemu dengan pemuda tampan yang menarik hatinya.
  suto sinting sudah lama kenal dengan gadis itu, Sejak ia memburu Perl Kayangan, (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode : 'Rahasia Bayangan Setan).
  "Kau pulang bersama siapa, Mayang?.
  "Bersama". bersama.. ya, bersama-sama. Eh, tapi anu... aku sendirian. Maksudku... sendirian berdua, eeeh... anu... bersama...
  Suto langsung memotong, "Aku mau pulang sekarang. Kalau kau mau pulang sekarang juga, kita barengan saja. Bagaimana?".
  "Ah, jangan, ah...l".
  "Jangan apa maksudmu?".
  "Jangan-u jangan diubah rencana iiu. Ehh, maksudku... kita... kita sendiri-sendirian saja bersamaan".
  "Wih.. Parah sekali kaul" gumam Suto sambii tersenyum geli.
  Tetapi dalam hati Mayangslta bersorak kegirsngan ketika ia berjaian bersama Pendekar Mabuk meninggalkan Lembah Tayub. Ungkapan rasa kegembiraannya itu dapa dilihat dari senyumnya yang mirip rembulan tak pernah padam.
  Kegugupan dan kelatahannya Ini sebagai bukti bahwa hati Mayangslta senanliasa berdebar-debar bagaikan dihujani seribu bunga dari kayangan.
  "Aku akan mengantarmu ke rumah pamanmu.".
  "Ah, tidak usah perut-perot...".
  "Perut...?l".
  "Eh, anu... maksudku, tidak usah repot-repot, Sumo... eh. suto. Sebaiknya... sebaiknya sampai rumah pamanku saja. Ehh... bukan. Maksudku... maksudku...
  rumah pamanku... sebaiknya memang begitu.".
  sulo tertawa pendek. "Kadang aku tak mengerti maksud bicaramu, Mayangslta".
  'Iya. Aku sendiri tak mengerti.
  Eeeh... aku mengerti, tapi... tent...".
  "Kau tampak lebih cantik kalau sedang gugup begitu," goda suto.
  "Iya. Lebih cantrlk. eeh... lebih cantik. Aku juga herman, eeh... heran, kenapa aku jadi lebih cantik jika sedang gugur, eeh... gugup? Halpada... eeh... padahai kalau dlkiplr-kipir, aduh saiah laga... Maksudku, kalau ' diplklr-plklr....".
  Sampai di situ ucapan Mayangslta terhenti. Bukan saja ucapannya, tapi juga langkahnya ikut terhenti.
  Begitu pula halnya dengan langkah pemuda tampan berbaju coklat dan berceiana putih yang menggantungkan bunbung tuaknya di pundak kanan itu.
  Mereka menghentikan langkah karena tiba-tiba dari arah depan meluncur dua sosok manusia berpakaian serba merah dengan kepala dibungkus kain merah.
  Hanya bagian mata mereka saja yang bisa terlihat dari tempat suto dan mayangsila terhenti itu.
  Dua sosok ninja merah itu meluncur dari atas pohon sambii masing-masing iemparkan logam pipih bergerigi runcing.
  Ziling, zziin ..
  Pendekar Mabuk berk at melompat di depan Mayangsita, melindungi gadis itu dari serangan senjata rahasia tersebut. Bumbung tuaknya segera dikibaskan dari kanan ke kiri dalam keadaan tali tergenggam.
  wuut.
  tring, tring...
  Dua senjata bergerigi iu berhasil kenai bumbung tuak yang timbulkan suara berdenting menandakan bambu bumbung tuak itu kerasnya menyerupai baja. Dua logam putih itu terpental ke arah berlawanan tapi menuju ke arah pemiliknya masing-masing.