Akademi Vampir II - 29

Diposting oleh Saiful bahri dari situbondo pada 19:16, 01-Sep-14

Cerita Misteri | Akademi Vampir | by Richelle Mead | Akademi Vampir | Cersil Sakti | Akademi Vampir pdf

Solandra - Mira W Pendekar Sejati II - Gan KL Hunger Game 2 - Tersulut (Catching Fire) Topeng Sang Putri - Astrella Tarian Liar Naga Sakti III - Marshall

ang terlihat berbinar.
  Kalau begitu, bagaimana cara kita belajar? tuntut si cowok muda.
  Sama seperti yang dilakukan pengawal, Lissa menjelaskan. Kalau mau mempelajari cara bertarung, pergilah ke Akademi. Bentuk kelas-kelas baru dan mulailah dari awal, sama seperti yang dilakukan para novis. Dengan begitu, kau tidak merebut pengawal yang sedang melakukan perlindungan secara aktif. Akademi merupakan lingkungan yang aman, lagi pula pengawal yang ada di sana memang memiliki kea hlian untuk mengajar murid. Lissa berhenti sejenak d an tampak berpikir. Kau bahkan bisa memulai kelas b ela diri dari kurikulum standar untuk murid-murid yang memang sudah bersekolah di sana.
  Semua orang menatap Lissa dengan takjub, termasuk aku. Itu solusi yang elegan, dan semua orang di sekitar kami pun menyadarinya. Solusi ini tidak seratus persen memenuhi tuntutan kedua pihak, tetapi menghasilkan suatu cara yang tidak merugikan pihak mana pun. Sungguh genius. Moroi lainnya mengamati Lissa dengan kagum dan terpana.
  Tiba-tiba saja semua orang mulai bicara pada saat yang sama, mereka bersemangat dengan gagasan ini. Mereka menarik Lissa mendekat, dan pembicaraan mengenai rencana Lissa ini segera berlangsung penuh semangat. Aku terdorong ke samping dan memutuskan itu tidak masalah. Kemudian, aku menjauh lalu mencari sebuah sudut di dekat pintu.
  Di tengah jalan aku melewati seorang pelayan yang membawa nampan berisi hors d oeuvres makanan pembuka. Karena masih lapar, aku menatap makanan itu dengan curiga, tetapi tidak melihat sesuatu yang kelihatan seperti foie gras yang kulihat tempo hari. Aku menunjuk makanan yang kelihatan seperti tumisan daging mentah.
  Apa itu hati angsa? tanyaku.
  Pelayan wanita itu menggeleng. Sweetbread.
  Kedengarannya tidak terlalu buruk. Aku mengulurkan tangan untuk mengambilnya.
  Itu pankreas, sebuah suara di belakangku berkata. Aku menarik tanganku lagi.
  Apa? suaraku terdengar mencicit. Si pelayan menganggap kekagetanku itu sebagai penolakan, dan berlalu.
  Adrian Ivashkov beringsut ke dalam jangkauan pandangku. Dia terlihat sangat menikmati kejadian tadi.
  Kau main-main, kan? tanyaku. Sweetbread itu pankreas? Aku tak tahu kenapa aku harus sekaget ini. Moroi mengonsumsi banyak darah. Apa salahnya dengan jeroan hewan? Meski begitu, aku menahan diri agar tidak bergidik.
  Adrian mengangkat bahu. Rasanya sangat enak.
  Aku menggeleng jijik. Astaga. Orang-orang kaya memang payah.
  Adrian semakin geli mendengarnya. Apa yang kaulakukan di sini, Dhampir Kecil? Kau membuntutiku, ya?
  Tentu saja tidak, aku mendengus. Seperti biasa, Adrian berdandan sempurna. Apalagi setelah masalah yang kausebabkan pada kami.
  Adrian menyunggingkan senyum menggoda yang menjadi ciri khasnya, dan meskipun dia membuatku kesal, lagi-lagi aku merasakan keinginan tak tertahankan untuk berada di dekatnya. Apa-apaan ini?
  Entahlah, Adrian meledekku. Saat ini dia kelihatan sepenuhnya waras, tidak menunjukkan jejak-jejak perilaku aneh yang kusaksikan saat berada di kamarnya. Dan yeah, dia kelihatan jauh lebih pantas memakai tuksedo daripada lelaki mana pun yang sejauh ini kulihat di tempat ini. Sudah berapa kali kita bertemu? Lima kali? Sepertinya mulai terlihat mencurigakan. Tapi jangan takut. Aku takkan memberitahu pacarmu kok. Dua-duanya.
  Aku membuka mulut untuk protes, tetapi teringat Adrian tadi melihatku sedang bersama Dimitri. Aku tidak mau terlihat tersipu. Aku hanya punya satu pacar. Bisa dibilang begitu. Lagi pula, aku tak perlu menceritakannya. Aku bahkan tak suka padamu.
  Benarkah? tanya Adrian, masih tersenyum. Dia membungkuk ke arahku, seolah ingin menceritakan sebuah rahasia. Kalau begitu, kenapa kau memakai parfum dariku?
  Kali ini aku benar-benar tersipu. Aku mundur satu langkah. Tidak.
  Adrian tertawa. Tentu saja kau memakainya. Aku menghitung kotak parfumnya setelah kau pergi. Lagi pula, aku bisa menciumnya pada tubuhmu sekarang. Wanginya enak. Tajam & tapi tetap manis dan aku yakin itulah dirimu yang sebenarnya. Dan kau tahu, kau memakainya dengan pas. Cukup menambah keharuman & tapi tidak sampai menenggelamkan aroma alamimu. Cara Adrian mengatakan aroma membuat kata itu terdengar cabul.
  Bangsawan Moroi mungkin membuatku tidak nyaman, tetapi lain halnya dengan cowok sok yang menggodaku. Aku sering berurusan dengan mereka. Aku membuang rasa malu dan mengingat siapa diriku yang sebenarnya.
  Hei, kataku sambil mengayunkan rambut ke balik pundak. Aku berhak mengambilnya. Kau kan yang menawarkannya padaku. Kau saja yang berpikir macam-macam, padahal sebenarnya itu bukan masalah besar. Kecuali mungkin kau seharusnya lebih berhati-hati dalam membuang uang.
  Ooh, Rose Hathaway hadir di sini untuk ikut bermain, Saudara-Saudara. Adrian berhenti sejenak lalu mengambil gelas yang sepertinya berisi sampanye dari seorang pelayan yang melintas. Kau mau?
  Aku tidak minum alkohol.
  Yang benar saja. Adrian tetap memberiku satu gelas, lalu menyuruh si pelayan pergi dan meminum sampanyenya. Aku punya firasat itu bukan gelas pertamanya untuk malam ini. Nah. Sepertinya Vasilisa berhasil mempermalukan ayahku.
  Ayah & Aku melirik kelompok yang baru saja kutinggalkan. Si Rambut Perak masih berdiri di sana, menggerak-gerakkan tangan dengan penuh semangat. Pria itu ayahmu?
  Ibuku bilang begitu.
  Kau sependapat dengannya? Bahwa Moroi yang ikut bertarung sama saja bunuh diri?
  Adrian mengangkat bahu dan menyesap minumannya lagi. Bisa dibilang aku tak punya pendapat soal itu.
  Itu tidak mungkin. Bagaimana mungkin kau tidak mendukung salah satunya?
  Entah. Bukan sesuatu yang ingin kupikirkan. Banyak hal lain yang lebih menarik untuk dilakukan.
  Contohnya menguntitku, aku menuduhnya. Dan Lissa. Aku masih ingin tahu mengapa Lissa ada di kamar Adrian.
  Adrian tersenyum lagi. Sudah kubilang, kaulah yang membuntutiku.
  Ya, ya, aku tahu. Lima kali Aku berhenti. Lima kali?
  Adrian mengangguk.
  Tidak, kita baru bertemu empat kali. Aku menghitung dengan tanganku yang tidak memegang gelas. Malam pertama kali kita bertemu, malam hari di spa, lalu saat aku mendatangi kamarmu, dan malam ini.
  Senyum Adrian berubah penuh rahasia. Kalau kaubilang begitu.
  Memang begitu & Ucapanku kembali menggantung. Aku pernah mengobrol dengan Adrian pada satu kesempatan lain. Yah, bisa dibilang begitu. Maksudmu bukan &
  Apa maksudku? Kedua mata Adrian berbinar oleh ekspresi penasaran dan bersemangat. Tat apannya lebih terlihat berharap daripada angkuh.
  Aku menelan ludah, teringat pada mimpiku. Bukan apa-apa. Tanpa berpikir panjang, aku meminum sampanye. Dari seberang ruangan, perasaan Lissa membara ke dalam diriku, tenang dan bahagia. Bagus.
  Kenapa kau tersenyum? tanya Adrian.
  Karena Lissa masih ada di sana, memesona kerumunan itu.
  Tidak mengherankan. Vasilisa adalah orang yang sanggup memesona siapa pun jika dia berusaha cukup keras. Bahkan orang-orang yang membencinya.
  Aku menatap Adrian dengan sinis. Aku merasa seperti itu saat bicara denganmu.
  Tapi kau kan tidak membenciku, kata Adrian, menghabiskan sampanye. Tidak terlalu.
  Tapi aku juga tidak menyukaimu.
  Kau terus-menerus mengatakan itu. Adrian bergerak mendekatiku, tidak mengancam, hanya mempersempit jarak di antara kami. Tapi aku bisa menerimanya.
  Rose!
  Suara tajam ibuku membelah udara. Beberapa orang yang berada dalam jangkauan dengar langsung melirik ke arah kami. Ibuku yang tingginya hanya satu setengah meter menghambur marah ke arah kami.
  BAB TUJUH BELAS
  APA YANG KAULAKUKAN? tuntutnya. Menurutku suaranya masih terlalu lantang.
  Tak ada, aku
  Permisi, Lord Ivashkov, gumam ibuku. Kemudian, seakan aku masih berumur lima tahun, dia merenggut lenganku dan menarikku keluar dari ruangan. Sampanyeku menciprat ke luar dari gelas dan mengenai bagian bawah gaunku.
  Apa yang kaulakukan? seruku saat kami sudah berada di selasar. Dengan sedih, aku menunduk menatap gaunku. Ini dari sutra. Kau mungkin sudah merusaknya.
  Ibuku merebut gelas sampanye dan meletakkannya di meja di dekat kami. Bagus. Mungkin itu akan membuatmu berhenti berpakaian seperti pelacur murahan lagi.
  Whoa, aku berseru kaget. Ucapanmu cukup kasar. Dan kenapa kau tiba-tiba bersikap keibuan seperti ini? Aku menuding gaunku. Gaun ini tidak bisa dibilang murahan. Kau bahkan pernah bilang Tasha baik sekali karena menghadiahiku gaun ini.
  Aku bilang begitu karena tidak menduga kau akan memakainya bersama seorang Moroi dan membuat dirimu jadi tontonan.
  Aku tidak membuat diriku jadi tontonan. Lagi pula, gaun ini menutupi seluruh tubuh.
  Gaun seketat itu sama saja dengan memperlihatkan semua bagian tubuh, bentaknya. Ibuku, tentu saja, mengenakan pakaian pengawal berwarna hitam, celana berpotongan resmi warna hitam dan blazer yang serasi. Ibuku sendiri memiliki tubuh yang cukup berlekuk, tetapi semua itu tersembunyi di balik pakaiannya.
  Apalagi kalau kau sedang bersama kelompok seperti itu. Tubuhmu & sangat menarik perhatian. Dan menggoda seorang Moroi tidak menjadikannya lebih baik.
  Aku tidak menggodanya.
  Tuduhan itu membuatku marah karena akhir-akhir ini aku merasa berkelakuan baik. Biasanya aku selalu bergenit-genit dan melakukan hal lainnya dengan cowok Moroi, tetapi setelah mengobrol beberapa kali dan mengalami satu kejadian memalukan bersama Dimitri, aku menyadari betapa bodohnya hal itu. Para cewek dhampir memang harus berhati-hati dalam menghadapi cowok Moroi, dan sekarang aku selalu mengingat hal itu.
  Sebuah hal picik tiba-tiba tebersit dalam benakku. Lagi pula, kataku dengan nada mencemooh, bukankah ini yang mestinya kulakukan? Berhubungan dengan seorang Moroi dan memperbanyak rasku? Itulah yang kaulakukan.
  Ibuku merengut. Tidak saat seusiamu.
  Kau hanya beberapa tahun lebih tua dariku saat itu.
  Jangan bertindak bodoh, Rose, katanya. Kau masih terlalu muda untuk punya bayi. Kau belum berpengalaman kau bahkan belum menjalani kehidupan sendiri. Kau takkan bisa mendapatkan pekerjaan yang kauinginkan.
  Aku mengerang, benar-benar merasa dipermalukan. Benarkah kita membahas ini? Bagaimana mungkin tuduhan aku sedang menggoda cowok Moroi tiba-tiba berubah menjadi bagaimana kalau aku punya bayi? Aku tidak berhubungan seks dengannya atau siapa pun juga, dan kalaupun melakukannya, aku tahu alat pencegah kehamilan. Kenapa kau bicara seolah aku anak kecil?
  Karena kau bertingkah seperti anak kecil. Persis yang dikatakan Dimitri.
  Aku melotot. Dan kau sekarang akan menghukumku dengan menyuruhku pergi ke kamar?
  Tidak, Rose. Tiba-tiba saja ibuku terlihat lelah. Kau tak perlu kembali ke kamar, tapi jangan kembali ke dalam juga. Semoga kau tidak terlalu menarik perhatian.
  Kau bereaksi seolah aku baru saja menari erotis bersama seorang cowok di dalam sana, kataku. Aku hanya makan malam bersama Lissa.
  Kau pasti kaget kalau tahu apa saja yang bisa memicu kabar burung. Apalagi dengan Adrian Ivashkov.
  Setelah itu, ibuku langsung membalikkan badan lalu berjalan menyusuri selasar. Saat menatap kepergiannya, aku merasakan amarah dan kebencian membara di dalam diriku. Dia sudah kelewatan. Aku kan tidak melakukan kesalahan apa pun. Aku tahu ibuku memiliki ketakutan tersendiri mengenai masalah pelacur darah dan semacamnya, tetapi ini terlalu ekstrem, bahkan untuknya. Dan yang paling parah, ibuku menyeretku keluar dari ruangan dengan disaksikan beberapa orang. Bagi orang yang tidak ingin aku menjadi pusat perhatian, ibuku bisa dibilang sudah mengacaukannya.
  Sepasang Moroi yang tadi berdiri di dekatku dan Adrian berjalan keluar dari ruangan. Merek a melirik ke arahku dan saling membisikkan sesuatu sa at melewatiku.
  Terima kasih, Mom, gumamku pelan.
  Merasa sangat malu, aku berjalan ke arah yang berbeda, sama sekali tidak tahu harus ke mana. Aku berjalan ke bagian belakang penginapan, menjauh dari semua aktivitas.
  Akhirnya aku tiba di ujung selasar, dan di sebelah kiri ada sebuah pintu yang mengarah ke tangga. Pintunya tidak dikunci, jadi aku menaiki tangga yang ternyata mengarah ke pintu lain. Aku senang s ekali saat mendapati pintunya membuka ke sebuah de k atap yang sepertinya jarang dipakai. Dek tersebut dis elimuti salju, tetapi sekarang masih pagi dan matahari bersinar cerah, membuat segala sesuatunya terlihat ber kilau.
  Aku menyingkirkan salju dari atas sebuah kotak besar yang sepertinya bagian dari sistem ventilasi. Aku dud