Hijaunya Lembah Hijaunya Lereng Pegunungan - 210

Diposting oleh Saiful bahri dari situbondo pada 10:10, 21-Peb-15

Hijaunya Lembah Hijaunya Lereng Pegunungan - Serial Pelangi Di Langit Singosari 5 - SH Mintardja.jpegCerita Silat | Hijaunya Lembah Hijaunya Lereng Pegunungan | Serial Pelangi Di Langit Singosari | Hijaunya Lembah Hijaunya Lereng Pegunungan | SH Mintardja | Hijaunya Lembah Hijaunya Lereng Pegunungan pdf

Cersil Mahesa Kelud ~ Simo Gendeng Mencari Mati Cersil Mustika Lidah Naga 4 Cersil Shugyosa ~ Samurai Pengembara 3 Cersil Candika - Dewi Penyebar Maut 13 Cersil Trilogi Blambangan - Banyuwangi

Permati itu akan menilik setiap lekuk dan setiap sudut yang dibayangi oleh kegelapan. Bukan saja sekedar membuka pintu dan melihat seluruh ruangan dengan sepintas. Tetapi ternyata bahwa setiap bangunan mempunyai lekuk dan sudut yang cukup banyak untuk memberikan perlindungankepada orang- orangSingasari yang ada di istana itu.

Dengan demikian, maka pertempuran tidak dapat dielakkan lagi. Dalam keadaan demikian, maka orang-orang Singasarilah yang kemudian membunyikan isyarat, sehingga tiba- tiba saja beberapa orang telah berloncat dari atap- atap bangunan di halaman itu dengan senjata telanjang.

Namun sergapan yang tiba-tiba dari orang-orang Singasari ternyata mampu mengejutkan orang-orang Kediri dan sejumlah diantara mereka dengan serta merta dapat dilumpuhkan.

Pertempuran yang sengit tidak dapat dielakkan lagi. Kedua belah pihak adalah pasukan terpilih. Orang-orang Kediri merupakan orang-orang pilihan untuk menghancurkan sekelompok prajurit dari Singasari, sementara sekelompok kecil orang-orang Singasari yang dipimpin oleh Mahisa Bungalan itulah memang prajurit pilihan pula.

Dengan demikian, maka pertempuran terjadi dengan sengitnya. Kedua belah pihak telah menunjukkan kemampuan mereka sebagai prajurit pilihan.

“Licik” geram Senapati yang memimpin pasukan Pangeran Kuda Permati “Mereka telah menyergap dengan diam diam setelah mereka bersembunyi di atap bangunan-bangr ian yang ada”

Namun dalam pada itu, seorang prajurit muda dari Singasari telah meloncat dari sebatang pohon di halaman, langsung berlari kearahnyasambil berkata lantang “Kau yang memimpin sekelompok pemberontak ini”

“Persetan orang- orang licik dan pengecut” geram Senapati itu “Kenapa kalian bersembunyi dan menyergap dengan diam- diam dari persembunyian kalian dan menikam punggung”

“Apakah kau tidak melakukan hal yang sama? Menyerang istana ini dengan diam-diam justru pada saat kawan-kawanmu berhasil memancing perhatian pasukan Kediri yang setia kepada Sri Baginda di Kediri?”

“Persetan” geram Senapati itu sambil mengacukan pedangnya 8220;siapa kau?”

“Mahisa Bungalan” jawab prajurit muda akulah yagn bertanggung jawab atas sekelompok kecil pasukan Singasari yang mengawal kedua utusan itu”

“Bagus” sahut Senapati itu “kalau begitu kaulah yang pertama kali harus mati”

“Orang-orangmu sudah ada yang mati” jawab Mahisa Bungalan.

Senapati itu menggeram. Ia sudah mengerti bahwa memang sudah ada orang- orangnya yang terbunuh dan terluka parah. Sementara itu pertempuran di seluruh bagian halaman itu sudah terjadi.

Tetapi Senapati itu yakin, bahwa orang-orangnya akan dapat menyelesaikan tugas mereka, karena jumlah mereka cukup banyak. Meskipun dalam sergapan pertama orang 8211;orangnya sudah berjatuhan, namun prajurit Kediri pilihan itu tentu akan dapat menyelesaikan tugas mereka dengan baik.

Dalam pada itu, maka Senapati itupun kemudian dengan sepenuh kemampuannya telah mengahadapi Mahisa Bungalan, yang mengaku sebagai pemimpin dari para prajurit pengawal dari Singasari.

Ternyata Senapati dari Singsari itupun adalah Senapati pilihan. Karena itu, maka Mahisa Bungalan segera menempatkan diri sebagai lawan yang seimbang dari Senapati Kediri yang menjadi pengikut Pangeran Kuda Permati itu. p>

Namun dalam pada itu, ada satu hal yang semula kurang diperhitungkan oleh Pangeran Kuda Permati. Pangeran Kuda Permati melupakan, siapakah Mahisa Agni dan Witantra. Menurut perhitungan Pangeran Kuda Permati, kedua orang itu adalah utusan dari antara pemimpin pemerintahan di Singasari yang pernah berada di Kediri. Tetapi Pangeran Kuda Permati lupa memperhitungkan keduanya sebagai dua orang yang memiliki ilmu tiada taranya.

Itulah sebabnya, maka ketika Mahisa Agni dan Witantra berada diantara hiruk pikuk pertempuran, maka para prajurit Singasari yang disebut sebagai pengawal-pengawal mereka sama sekali tidak mencemaskan keduanya.

Namun dalam pada itu, oorang-orang Singasari itu tidak ingin menyelesaikan tugas mereka tanpa saksi orang-orang Kediri sendiri. Karena itu, sebelum segalanya itu terjadi, Mahisa Bungalan telah mengirimkan dua orang utusan yang dengan diam-diam harus pergi ke barak pasukan yang mendapat tugas untuk melindungi mereka.

“Jika barak itu kosong, cepatlah kembali” perintah Mahisa Bungalan “Kita akan bertahan dengan kekuatan kita sendiri. Tetapi kita harus mempunyai akal yang tepat untuk menyergap mereka. Tetapi jika barak itu isi, lajporan apa yang akan terjadi disini”

Demikianlah, kedua utusan itu telah sampai ke barak pasukan Kediri yang telah meninggalkan barak mereka untuk pergi ke pintu gerbang sebelah Timur. Sesuai dengan pendapat beberapa orang perwira, mereka akan mengusir orang-orang Kediri sebelum mereka memasuki pintu gerbang sebagai salah satu cara untuk melindungi para utusan dari Singasari itu.

Namun demikian, ternyata Senapati yang menjadi panglima pasukan di barak itu telah» meninggalkan sekelompok diantara pasukannya untuk mengambil langkah-langkah jika diperlukan.

Kedatangan kedua orang prajurit Singasari itu telahi mengejutkan mereka. Pemimpin kelompok pasukan yang ditinggalkanitu dengan cepat telah memanggil pasukannya dan mempersiapkan mereka untuk melakukan satu tugas yang justru tugas mereka yang sebenarnya.

“Kita akan pergi ke istana itu” berkata pemimpin kelompok pasukan yang ditinggalkaan. Meskipun jumlah mereka tidak banyak, tetapi bersama-sama dengan para pengwal dari Singasari sendiri, mereka akan dapat mengatasi orang-orang yang berusaha menyergap utusan dari Singasari itu.

Dengan tergesa-gesa pasukan itupun segera pergi ke istana yang diperuntukkan bagi utusan dari Singasari itu. Mereka langsung pergi ke pintu gerbang halaman istana yang sudah terbuka setelah pertempuran itu terjadi.

“Apa yang sudah terjadi?” bertanya pemimpin kelompok pasukan Kediri itu.

“Ternyata mereka bernar-benar telah datang. Pertempuran telah terjadi,” jawab prajurit Singasari yang mengabarkan kemungkinan itu kepada para prajurit Kediri.

Pemimpin sekelompok prajurit Kediri itu mengangguk-angguk. Kemudian iapun memberikan pesan-pesan singkat kepada pasukannya.

“Nah, sekarang kalian dapat memasukki regol halaman itu. Tetapi hati-hatilah. Demikian kalian melangkahi regol, maka kalian sudah memasuki arena”

Seorang prajurit tiba-tiba saja bertanya “Kenapa kita tidak memanjat dinding dan memasuki halaman itu dari banyak arah?”

Pemimpin kelompok itu agaknya mempertibangkannya. Kemudian katanya “Baiklah. Lakukanlah”

Demikianlah pasukan yang jumlahnya tidak banyak itu menebar. Mereka kemudian dengan serta merta telah memasuki halaman istana tidak melalui regol, tetapi justru berloncatan dari beberapa arah.

Kedatangan para prajurit Kediri itu memang mengejutkan. Namun pemimpin pasukan Kediri yang jumlahnya hanya sedikit itu sempat berteriak dari atas dinding halaman disamping regol “Sayang, kami telah terpancing untuk menyambut kedatangan pasukan Kediri di gerbang Kota Raja. Namun sekelompok kecil ini hendaknya akan membantu menyelesaikan persoalan yang terjadi disini?”

Sejenak kemudian, maka pasukan kecil itu sudah berloncatan menghambur memasuki arena di halaman istana itu.

Orang-orang yang sedang bertempur di halaman istana itu sempat berpaling. Dalam cahaya obor mereka sempat melihat beberapa orang berloncatan. Memang tidak terlalu banyak, karena pasukan di dalam barak itu telah mendapat perintah untuk pergi ke gerbang. Hanya sekelompok kecil saja yang ditinggalkan. Itupun masih harus terbagi. Beberapa diantara mereka tetap berada di barak, karena barak mereka tidak boleh kosong sama sekali.

Meskipun demikian, meskipun yang datang ke halaman itu hanya sekelompok kecil, tetapi hal itu akan sangat berarti bagi orang-orang Singasari yang jumlahnya memang hanya sedikit. Meskipun mereka sempat menyergap lebih dahulu dan mengurangi jumlah lawan, tetapi jumlah lawan mereka masih tetap terlalu banyak. Namun dengan kehadiran sekelompok kecil prajurit Kediri itu, maka imbangan antara keduanya menjadi lebih dekat, meskipun masih belum seimbang sepenuhnya.

Tetapi meskipun jumlahnya masih berselisih, namun ternyata bahwa pasukan Singasari yang terdiri dari prajurit pilihan ditambah dengan prajurit Kediri itu, merupakan kekuatan yang mengejutkan bagi para pengikut Pangeran Kuda Permati.

Tetapi merekapun adalah prajurit pilihan. Karena . itu, maka kedatangan sekelompok kecil prajurit Kediri itu sama sekali tidak menggerakkan mereka. Apalagi mereka sudah terbiasa mendapat pujian, bahwa mereka adalah prajurit pilihan yang tidak ada duanya di Kediri. Sementara prajurit Kediri yang berloncatan memasuki halaman itu adalah prajurit biasa.

Namun yang prajurit biasa itupun adalah prajurit yang telah ditempa oleh latihan-latihan yang cukup berat, sehingga karena itu, maka merekapun tidak mudah pula untuk merasa dirinya terlalu kecil.

Dengan demikian maka pertempuranpun menjadi semakin lama semakin seru. Mahisa Bungalan yang bertempur melawan Senopati dari pasukan pengikut Pangeran Kuda Permati itupun telah sampai pula pada puncak kemampuannya, sebagaimana juga lawannya. Keduanya adalah orang- orang pilihan, sehingga keduanya mampu bergerak secepat angin pusaran. Saling menyerang dan saling mendesak.

Sementara itu, di seluruh halaman telah terjadi pula pertempuran yang sengit. Namun ternyata bahwa prajurit Singasari yang mengawal kedua utusan itu benar-benar prajurit terpilih dari prajurit pilihan. Mereka memiliki ilmu yang tinggi baik secara pribadi maupun sebagai seorang prajurit yang bertempur dalam kelompok- kelompoknya.

Tetapi sebenarnyalah orang yang paling berbahaya di-antara mereka adalah orang-orang yang justru harus mereka lindungi. Mahisa Agni dan Witantra.

Untuk beberapa saat Mahisa Agni dan Witantra masih belum menunjukkan tingkat kemampuan mereka yang sebenarnya. Tetapi dalam hiruk pikuk pertempuran yang merata di luar dan di dalam bangunan-bangunan yang ada. Mahisa Agni dan Witantra sudah cukup membuat lawan- lawan mereka yang berusaha menyerangnya kebingungan.

Namun ketika pertempuran menjadi semakin sengit, sementara jumlah pasukan para pengikut Pangeran Kuda Permati yang lebih besar itu mulai mendesak, maka Mahisa Agni mulai terpanggil untuk memasuki arena lebih dalam lagi.

“Marilah” berkata Mahisa Agni “sebelum korban berjatuhan”

Witantra mengangguk. Iapun mengerti apa yang harus dilakukannya, karena selama itu mereka baru sekedar bermain-main.

“Apa boleh buat” berkata Mahisa Agni “Tetapi sudah tentu bahwa kita tidak akan membiarkan selain diri kita sendiri, juga para pengawal”

Sejenak kemudian maka Mahisa Agni dan Witantrapun melangkah kearah yang berbeda. Keduanya harus menyesuaikan diri pada tingkatkan pertempuran yang menjadi semakin seru itu. Namun justru dalam kedudukan yang sebaliknya. Mahisa Agni dan Witantralah yang kemudian harus menjaga agar korban dipihaknya tidak terlalu banyak jatuh.

Ketika kemudian Mahisa Agni memasuki arena di halaman samping dari istana itu, maka beberapa orang langsung datang menyerangnya. Tetapi Mahisa Agni sudah memutuskan, bahwa ia akan ikut dalam pertempuran itu. Jika tidak, maka korban akan menjadi sangat besar pada orang-orang Singasari yang jumlahnya lebih sedikit dari orang-orang Kediri, meskipun bersama mereka telah bertempur prajurit Kediri pula.

Sejenak Mahisa Agni memperhatikan pertempuran itu. Namun kemudian maka iapun mulai bersikap.

“Inilah salah seorang diantara mereka yang kita cari” tiba- tiba saja salah seorang diantara para pengikut Pangeran Kuda Permati itu berteriak “Aku sudah pernah mengenalinya. Akulah yang kemarin memasuki halaman ini sebagai penjual buah-buahan. Aku melihat orang ini dan dari pembicaraan yang aku dengar, maka orang inilah yang bernama Mahisa Agni”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Ternyata kau mempunyai daya tangkap dan daya ingat yang sangat tinggi. Aku memang Mahisa Agni”

“Bagus. Kau adalah satu diantara dua orang yang harus kami binasakan” teriak orang itu.

“Apa salahku?” bertanya Mahisa Agni.

Orang Kediri itu termangu-mangu. Ia sama sekali tidak menduga, bahwa ia akan mendapatkan pertanyaan yang demikian. Namun orang itupun kemudian menjawab “Mungkin secara pribadi kau tidak bersalah. Tetapi sikap Singasari memang sangat menyakitkan hati”

“Apa yang dilakukan oleh Singasari terhadap Kediri?” bertanya Mahisa Agni pula.

“Jangan berpura- pura. Bersiaplah untuk mati” geram orang Kediri itu. p>

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian iapun berkata “Sebaiknya kau berpikir baik-baik”

“Jangan merajuk. Aku akan membunuhmu dengan apapun yang kau katakan” jawab orang itu.

“Jadi sebelum malam ini kau sudah pernah memasuki istana ini sebagai penjual buah-buahan?” bertanya Mahisa Agni tiba-tiba.

“Ya. Sebagai petugas sandi untuk mengetahui serba sedikit tentang keadaanmu dan keadaan pasukan penga-walmu. Dan karena nasibmu memang buruk, aku dapat mengenalimu sekarang” jawab orang itu.

“Apakah kau tidak mempunyai pertimbangan lain?” bertanya Mahisa Agni pula

Orang itu menggeram. Katanya “Aku tidak mempunyai waktu lagi. Jangan memperpanjang waktu. Kau kira dengan demikian kau akan selamat? Saat ini pertempuran terjadi diseluruh lingkungan istana ini. Sebentar lagi semua pengawalmu mati terbunuh. Tetapi aku adalah salah seorang yang akan mendapat hadiah tertinggi, karena aku membunuh Mahisa Agni. Bahkan mungkin kemudian aku akan berkesempatan untuk membunuh orang yang bernama Witantra itu juga”

Mahisa Agnipun tidak menjawab. Dipandanginya orang itu dengan tajamnya. Menilik sikapnya orang itu tentu seorang prajurit pilihan.

Mahisa Agni bergeser ketika orang itu melangkah maju. Sikapnya memang meyakinkan. Apalagi dengan sebilah pedang ditangan.

BERSAMBUNG KE BAG.10