Tarian Liar Naga Sakti - 504

Diposting oleh Saiful bahri dari situbondo pada 22:47, 23-Apr-16

Cerita Silat | Tarian Liar Naga Sakti | by Marshall | Tarian Liar Naga Sakti | Cersil Sakti | Tarian Liar Naga Sakti pdf

Percy Jackson & The Olympians - Dewi Olimpian Terakhir - The Last Olympian The Demigod Files - Buku Pendamping Percy Mockingjay - The Hunger Games Ratu Berlian - by Sidney Sheldon A Painted House (Rumah Bercat Putih) - John Grisham

Jurus ketujuh dan kedelapan nampaknya Ahura Yazda menggunakan jurus Phoat-hunkian-jin (menyingkap mega melihat mentari) dan jurus Jong-eng-pok-tho (burung elang menyambar kelinci). Jurus Phoat Hun Kian Jin merupakan serangan dari atas dengan sepasang cakar yang bergerak cepat, mengerikan dan memancarkan sinar keemasan. Capek dengan terus menghindar, sekali ini ancaman terhadap tengkuk dan kepalanya dilawan oleh Yu Liong dengan jurus Siang-cian-heng-tui (mendorong melintang sepasang tangan). Bukannya lari , dia justru memapak masuk dan balas menyerang lawan dengan mengarah ke titik-titik mematikan di lengan dan bahu lawan yang hebat itu. Boleh dibilang inisiatif langsung balas menyerang cukup menyentak dan mengagetkan lawan yang tidak menduga jika Yu Liong akan berani balas masuk untuk ikut menyerangnya dan bukan lari menghindar. Akibatnya, pada saat bersamaan, mereka saling ancam titik-titik mematikan di tubuh masing-masing. Jikapun Yu Liong terpukul, lawannya pasti akan ikut terkenal pukulan dan jika tida k tewas sekurangnya akan terluka parah sulit terobati.
  Tentu saja Ahura Yazda malu jika sampai kejadiannya seperti itu. Dengan cepat dia bergerak dengan jurus hwi-yan-jeng-lim (burung terbang menyusup kehutan). Dan sambil mengelak dengan mencelat ke belakang, secepat kilat tubuhnya berbalik dan masuk menyerang kembali dengan gerakan baru, yaitu dalam jurus Jong- eng-pok-tho (burung elang menyambar kelinci). Tetapi, pada saat yang sama dengan berani Yu Liong memilih strategi yang sama dengan jurus sebelumnya, yakni Kim-Tiauw Lok tiauw (Rajawali emas perlihatkan cakarnya). Sekali ini, dia menutup semua serangan lawan dengan gerakan-gerakan tangan dan membuat mereka berbenturan sampai 3 kali: Blar, blar, blar ……… dan akibatnya, kembali Yu Liong mundur sampai 5 kali.
  Sekali ini dia sadar tubuh bagian dalamnya sudah terluka, meskipun bukan luka yang parah, tetapi disadarinya dia memang kalah kuat dalam tenaga iweekang. Karena itu, dia memutuskan untuk tidak meladeni keras lawan keras dalam jurus-jurus selanjutnya, karena lawan pasti mengerahkan tenaga lebih besar dan berat.
  Dia tidak bisa menarik nafas cukup karena serangan lebih berat dan berbahaya sudah datang dalam jurus ke delapan. Bukan hanya lebih hebat dan lebih berbahaya, tetapi bahkan lebih cepat lagi, yakni dalam gerakan jurus Hun-Liong-Sam-Sian-Jiau (naga menunjukan cakar tiga kali dibalik mega). Melihat sinar dan cahaya berkeredep dari cakar lengan lawan, Yu Liong segera sadar, bahwa posisinya sangatlah berbahaya. Melawan sulit, mengelak juga sangat sulit. Dalam posisi terpaksa, akhirnya Yu Liong memilih sesuatu yang belum pernah dicobanya, yakni dengan cepat mengerahkan lagi ilmu Thut Goan Kang (llmu Menghilangkan Kesadaran), dan kemudian berserah penuh dalam Ilmu Sui Pat Hwee Liong (Delapan Naga Api Tidur). Sebuah Ilmu yang belum pernah dicobanya, tetapi menurut Suhunya sangat hebat dan ampuh dan hanya boleh dikerahkan dalam keadaan sangat memaksa.
  Setelah itu, dalam gaya sederhana, gaya Thongcu- pai- hud (anak kecil menyembah kepada Budha), Yu Liong memejamkan mata dan menantikan serangan berbahaya yang dilontarkan lawan. Tetapi hebat dan mujijat, dengan gaya sederhana dan dengan mata terpejam, Yu Liong menyambut terjangan cakar berkeredep cahaya keemasan. Dan dengan gaya mengebas pakaian kekiri dan kekanan dan kemudian, rebah bagai orang tertidur, tiba-tiba jurus mujijat lawan lewat dan semua takjub ketika sekejab kemudian Yu Liong sudah berdiri tegak dalam posisi Ayam Emas Kaki Tunggal. Ahura Yazda yang merasa akan mampu menjatuhkan Yu Liong di jurus ke Sembilan, terkejut setengah mati. Bukan apa-apa, karena sesungguhnya dia tidak mengetahui gerakan apa yang dilakukan Yu Liong, sederhana tetapi sangat ampuh dan sukses membuat jurus mautnya kehilangan taji.
  Dalam amarahnya diapun menggeram keras sambil kemudian berseru dengan suara menggunturnya: “Ghhhhrrrrrrrrr, mampuslah di jurus terkahir anak muda ….."
  Dan inilah Hwi Seng Ciang (Pukulan Bintang Api) dalam jurus Sik-yang-say-loh (matahari sore doyong kebarat).
  Ini merupakan salah satu Pukulan Andalan Ahura Yazda, dan jarang dia pergunaan. Pukulan hebat ini dilepas dengan kekuatan 8 bagian iweekang Ahura Yazda dan terlihatlah sejalur kekuatan sakti mengarah ke Yu Liong dan mengitarinya tanpa ada lagi jalan keluar. Tetapi, Yu Liong memang tidak hendak menghindar dan melawan, justru dalam sikap tertidur, kedua lengannya terentang dengan telapak menghadap ke bumi, dan dalam gaya jurus Yok-siu si-huan (seperti kosong bagaikan khayal), antara ada dan tidak ada, tidak ada namun ada, diapun menghadapi dan menyambut serangan pamungkas lawan. Hebat akibatnya. Tubuh Yu Liong terlihat terlanda pukulan hebat dan pontang-panting bergerak kesana kemari tetapi dengan mata tetap terpejam dan wajah bercahaya keputihan. Dan ketika prahara akibat pukulan lawan berlalu, Yu Liong nampak perlahan membuka matanya, meskipun memang dari mulutnya terlihat darah mengalir, tetapi matanya bercahaya terang tanda sedang gembira. Bahkan dia pun berkata: “Ahuya Yazda, ternyata aku berhasil menahan 10 jurus seranganmu, bahkan harusnya kita harus menghitungnya dalam 11 jurus. Meski kuaui jika aku sedikit terluka tetapi tetap saja aku tetap berhasil menahan semua seranganmu dalam 10-11 jurus itu. Entah apa yang ingin engkau katakan ….”? “Ilmu apa yang engkau gunakan terkahir …..? Apakah bukannya Ilmu Rahasia Sui Pat Hwee Liong (Delapan Naga Api Tidur) yang sudah lama lenyap dari Persia itu ...”? tanya Ahura Yazda dengan kekagetan tak tersembunyikan.
  ”Memang benar Ilmu itu Kakek tua ....... diwariskan oleh Suhu beberapa tahun silam. Syukur berhasil menahan seranganmu yang terakhir ......"
  ”Accccchhhhhhhh, hebat-hebat, sungguh tak kusangka jika engkau bahkan sudah dapat menguasainya meski masih belum sempurna. Baiklah, sekali ini engkau kulepas dan kubiarkan pergi anak muda, lain kali engkau akan kutangkap ......"
  ”Hahahahahaha, mudah-mudahan lain kali itu engkau memiliki kemampuan untuk dapat menangkapku orang tua, karena lain kali itu, akupun akan berusaha memulangkanmu ke Persia agar dapat beristirahat dengan baik di hari tuamu ....."
  ”Kita lihat saja nanti ....... pergilah, agar aku tidak melanggar janji yang sudah kuucapkan tadi sebelum kita bertempur ......."
  ”Baiklah, jika demikian kami mohon diri ......"
  Tidak menunggu perkataan lebih jauh dari Ahura Yazda, Yu Liong segera berpaling dan kemudian berkata kepada kawan-kawannya: ”Kita pergi ..........."
  Dan tidak lama kemudian, perintah yang sama diturunkan oleh Ahura Yazda kepada orang-orang Persia yang menyertainya. Dan tempat itupun dalam waktu tidak lama kembali menjadi sunyi dan sepi.
  ”Kita perlu menemukan tempat yang tepat untuk beristirahat ..... Ibu, dimana tempat yang pas untuk kita beristirahat di sekitar sini ......”? berkata Giok Hong setelah melihat keadaan Yu Liong dan Gwan Thong.
  Keduanya sepertinya sedang terluka tetapi tetap berusaha untuk kuat melakukan perjalanan . Mana mereka tahu jika Giok Hong adalah tabib paling hebat untuk masa sekarang ini? ”Baik, ikut aku ......” Nenek Un Lan Cui dengan didampingi Kakek Raj Badur sudah segera bergerak. Dan benar saja, dalam waktu kurang dari setengah jam, mereka menemukan sebuah gua alam yang lain. Karena sekarang mereka sadar bahwa Cih Miauw Nio benar-benar tidak datang mengejar, tetapi jika bertemu kawanan Persia tadi sangat mungkin mengejar mereka. Maka dengan cerdik Nenek Un Lan Cui memilih tempat yang cukup tersembunyi guna memulihkan kesehatan mereka semua.
  ”Gua ini dahulunya sering juga kupergunakan untuk keperluan meracik obat sebelum menemukan Gua tadi itu.
  Belum pernah ada orang lain yang menemukan dan datang bertamu di gua ini, karena itu, kita boleh beristirahat dan memulihkan diri disini ..."
  ”Baiklah ibu, kita beristirahat disini ......... saudara Gwan Thong dan Yu Liong, mari, biarkan aku mencoba untuk mengobati luka-luka kalian ........"
  Ketika mengatakan hal tersebut, Sun Nio kaget dan memandang Gwan Thong. Dan benar saja, pria bodoh namun sakti itu sejak tadi memang lebih banyak berdiam diri, rupanya memang sedang terluka. Dan terdengar Giok Hong berkata: ”Dia keracunan, aku akan mencoba mengobatinya ........"
  Tetapi, ketika Giok Hong mendekatinya, Gwan Thong malah mundur-mundur dan seperti orang ketakutan.
  Melihat itu, Sun Nio segera berkata dengan suara lembut: ”Gwan Thong, enci Hong hendak mengobati lukamu ......... ayolah, masak segitu saja engkau sampai ketakutan ......"
  ”Enci Hong ..... enci Hong .....”? hanya itu yang dapat dikatakan Gwan Thong, karena sesungguhnya dia memang mulai terganggu dengan racun yang masuk melalui angin pukulan Nenek Cih Miauw Nio.
  ”Aku akan mengobatimu Gwan Thong ......."
  Tapi mata Gwan Thong tetap bingung dan kaget, sampai akhirnya Sun Nio datang mendekat dan kemudian menentramkannya sambil berkata: ”Enci Hong juga menyayangimu Gwan Thong, dia ingin menyembuhkanmu ....."
  ”Enci Hong .....”? Dan terpaksa Giok Hong tersenyum dan mengiyakan apa yang dikatakan Sun Nio sambil tersenyum akrab kepada Gwan Thong. Dan beberapa saat kemudian, gerak perlawanan Gwan Thong melemas dan selanjutnya dia membiarkan Giok Hong menotok kiri dan kanan dan kemudian setelah sepuluh menit, memberikannya sebutir pil untuk diminum. Sekali ini, Gwan Thong tidak lagi menolak dan dengan cepat pil itu ditelannya dan seterusnya diapun mencoba meniru apa yang dilakukan Yu Liong, yakni memulihkan diri melalui samadhi. Dan tidak lebih dari setengah jam, diapun akhirnya memuntahkan darah yang berwarna kehitam-hitaman ......
  Sementara itu, setelah mengobati Gwan Thong, Giok Hong segera mendekati Yu Liong. Diapun berkata kepada anak muda itu: ”Saudara Yu Liong, kekuatan pukulan kakek tadi memang dapat engkau tahan, tetapi engkau sudah sempat menghirup udara beracun yang dikotori oleh pasir-pasir beracun yang ditimbulkan dan dibentuk oleh angin pukulannya. Engkau harus tahu, pasir pasir beracun itu bukanlah buatan alam, tetapi buatan gesekan kekuatan iweekang dalam diri tokoh hebat itu. Karenanya, kekuatan iweekangmu akan banyak terbuang percuma jika hendak mengobatinya dengan cara mengusirnya melalui kekuatan iweekangmu sendiri. Sebaiknya engkau membiarkan aku mengobatimu, setidaknya akan jauh lebih cepat dan jauh lebih effektif ...."
  ”Nona Giok Hong, bagaimana caramu menyembuhkanku .....”? Yu Liong bertanya dengan kebat-kebit. Bukan apa-apa, sebetulnya dia berusaha keras untuk melupakan Giok Hong karena sudah jatuh cinta sejak berapa tahun sebelumnya. Apa lacur, gadis itu ternyata sudah menjadi istri Kiang Ceng Liong sebagaimana kisah Kiang Sun Nio, dara yang menemaninya dalam perjalanan di daerah barat ini. Diam-diam dia menarik nafas panjang guna menentramkan hatinya yang berdebar tegang.
  ”Engkau belum keracunan sangat parah, aku hanya akan menahan racun itu dengan tusuk jarum sederhana dan kemudian engkau memakan obat racikanku. Dan setengah jam berikutnya, engkau dapat menghalau racun itu sendiri dengan mudah ...."
  Mendengar pengobatan Giok Hong yang terdengar mudah dan cepat, Yu Liong jadi tertarik. Karena itu, dengan perasaan antara ingin dan tidak, gengsi dan tidak, akhirnya diapun mengatakan dengan suara lemah: ”Baiklah, engkau boleh mengobatiku Nona Giok Hong .....”