Berkeliling Dunia Di Bawah Laut - 33

Diposting oleh Saiful bahri dari situbondo pada 12:01, 28-Jul-14

Cerita Fiksi | Berkeliling Dunia Di Bawah Laut | by Jules Verne | Berkeliling Dunia Di Bawah Laut | Cersil Sakti | Berkeliling Dunia Di Bawah Laut pdf

The Spiderwick Chronicles 5 Amarah Mulgarath Berkeliling Dunia Di Bawah Laut - Jules Verne Sisi Merah Jambu - Mira W Kelelawar tanpa Sayap - Huang Ying Misteri Empat Jam Yang Hilang - L. Ron Hubbard

rapa kali. Aku berpaling ke belakang. Lampu kapal yang bercahaya keputih-putihan masih kelihatan, walau mulai memudar karena kami semakin menjauh.
  Tapi sinar kemerah-merahan yang kami jadikan pedoman, menjadi semakin besar. Dasar laut di depan kami diterangi oleh sinar itu. Aku sangat heran, melihat ada api di bawah laut. Apakah sinar itu merupakan semacam cahaya listrik? Apakah aku sedang berjalan menuju ke suatu kejadian alam, yang belum dikenal para sarjana? Atau mungkinkah sinar itu buatan manusi a? Apakah aku sedang diajak menjumpai teman-teman Kapten Nemo, yang juga hidup seperti dia? Apakah aku akan bertemu dengan sekelompok manusia buangan, yang menjauhkan diri dari kesengsaraan di bumi, dan kemudian menemukan kebebasan di bawah air? Semua pertanyaan aneh dan tak masuk akal memenuhi benakku. Dalam keadaan batin serupa itu, karena sudah sebegitu banyak menyaksikan hal-hal ajaib, aku takkan heran apabila tiba-tiba berhadapan dengan salah satu kota bawah air, yang diidam-idamkan oleh Kapten Nemo.
  Jalan kami semakin terang. Cahaya putih memancar dari puncak sebuah gunung, yang tingginya kira-kira dua ratus lima puluh meter. Tapi yang kulihat itu cuma bayangan belaka, yang diakibatkan oleh kejernihan air. Sumber sinar rahasia itu adalah api yang terdapat di balik gunung.
  Kapten Nemo berjalan terus, dengan langkah-langkah pasti. Kami menyusuri jalan di tengah pa-dang batu di dasar laut. Kelihatannya dia mengenal jalan yang tak enak itu. Rupanya dia sudah sering lewat. Karenanya aku ikut saja, tanpa merasa gentar.
  224
  Pukul satu malam kami sampai di kaki gunung. Tapi untuk mendaki lerengnya, kami harus merintis jalan belukar.
  Betul, jalan belukar, yang terdiri dari pohon-pohon mati. Pohon-pohon tak berdaun lagi, pohon-pohon yang telah membatu. Di sana-sini menjulang pohon pinus besar. Suasana di situ seperti tambang batu bara. Tapi batu baranya masih tegak, dengan akar-akar terhunjam dalam tanah. Jalan kami dipersukar karena harus melalui penghalang berupa rumput laut, ganggang dan lumut. Aku ikut di belakang Kapten, memanjat batu, melangkah lewat batang-batang tumbang dan menerobos jaringan ganggang yang membentang dari pohon ke pohon. Aku sama sekali tak merasakan letih, karena ikut dengan pengantar yang tak mengenal kata itu. Hatiku berdebar karena kagum. Bukan main hebatnya pemandangan tempat itu. Sukar untuk melukiskannya dengan kata-kata. Bagaimana caranya melukiskan kesan, sewaktu memandang hutan dan batu dalam air: bagian bawah nampak gelap dan liar, sedang sebelah atas seakan dicelup warna merah yang disebabkan oleh pancaran cahaya api? Kami mendaki batu-batu cadas, yang sesudah kami lewat lantas jatuh bergulung-gulung. Di kiri kanan terdapat lorong gelap, dalam mana tak kelihatan apa-apa. Aku menatap terowongan-terowongan lebar, yang kelihatannya merupakan buatan manusia. Terlintas dalam pikiranku, jangan-jangan ada penghuni daerah bawah laut ini yang tiba-tiba muncul di depanku.
  Tapi Kapten Nemo mendaki terus. Aku tak boleh ketinggalan. Karenanya aku pun maju terus, berkat bantuan tongkat di tangan. Kalau keliru langkah sekali saja, pasti aku terpeleset ke bawah. Walau begitu aku berjalan, tanpa merasa ngeri. Di depan membentang celah dalam; bulu romaku pasti
  225
  berdiri, sekiranya celah itu terdapat di atas bumi. Tapi di dasar laut, penghalang serupa itu kulewati dengan sekali lompat saja. Aku berjalan meniti batang pohon goyah, yang membentang di atas sebuah jurang. Aku berjalan tanpa memperhatikan langkah, karena mataku hanya melihat keindahan daerah gunung yang liar.
  Sesudah dua jam lamanya berjalan, batas pepohonan kami tinggalkan. Puncak gunung menjulang enam puluh meter di atas kepala. Di sana-sini kelihatan semak belukar, yang juga sudah membatu. Ikan-ikan berenang lari karena terganggu langkah kami, seperti burung terbang dari rumput tinggi. Batu gunung tempat kami berjalan kelihatan bercelah-celah dalam.
  Kami sampai pada dataran tinggi, di mana kulihat pemandangan yang tak disangka-sangka. Di depan kami terbentang puing-puing batu. Nyata sekali puing-puing itu bekas tangan manusia. Kelihatan tumpukan batu-batuan, yang dulunya pasti merupakan tembok atau tiang istana dan kuil. Semuanya tertutup oleh tumbuh-tumbuhan laut. Aku bingung. Bagian manakah dari bumi kita yang mengalami bencana, tenggelam ke dalam laut? Di manakah kami saat ini?
  Aku kepingin menanyakannya pada Kapten Nemo. Karena ia terus berjalan, tangannya kupegang. Namun Kapten menggelengkan kepala, sambil menunjuk ke puncak; seakan-akan berkata,
  "Ayo, ikut saja. Kita terus naik!"
  Apa boleh buat, aku terpaksa ikut. Dalam beberapa menit, kami sudah sampai di puncak gunung, yang merupakan lingkaran kira-kira sepuluh meter.
  Kulayangkan pandangan ke bawah, ke arah kami datang tadi. Gunung itu tingginya cuma dua ratus
  226
  lima puluh meter di atas dasar laut sebelah itu. Tapi ketika kulayangkan pandangan ke arah berlawanan, nampak dasar Atlantik dua kali lebih dalam. Mataku melihat ke sana ke mari, memperhatikan dasar luas yang diterangi sinar pijar. Rupanya tempat ini daerah gunung api.
  Lima belas meter di atas puncak yang kami daki, sebuah kawah memuntahkan hujan lahar, di tengah hamburan batu dan kerak dingin. Lahar mengalir dan menggenang di kaki gunung. Itulah rupanya sinar benderang yang menerangi sekeliling tempat. Kukatakan bahwa kawah memuntah lahar, tapi tak ada api menyala-nyala. Api memerlukan zat asam untuk bisa menyala. Tapi arus lahar bisa membara putih, yang mengubah air menjadi uap.
  Dan di bawah kakiku kelihatan bekas-bekas sebuah kota runtuh. Atap-atap bangunan sudah tak ada lagi, kuil-kuilnya roboh berantakan. Tiang-tiang bergelimpangan di tanah. Agak lebih jauh, kelihatan sisa-sisa dari sebuah bangunan besar, rupanya saluran air jaman kuno. Masih nampak bekas-bekas sebuah bukit benteng, dan sebuah kuil besar; kulihat jejak-jejak sebuah dermaga, seakan-akan dulu kala ada sebuah pelabuhan di situ. Semua tenggelam, hilang ditelan air. Agak lebih jauh lagi, kelihatan sisa-sisa tembok panjang mengapit jalanan sunyi. Untuk itu rupanya aku diajak berjalan ke mari oleh Kapten Nemo !
  Di manakah aku ini? Aku harus mengetahuinya dengan segera. Aku mencoba berbicara, tapi Kapten Nemo mendului dengan gerakan tangannya. Ia memungut sepotong batu kapur, mendekati sebongkah batu hitam. Ia menuliskan satu perkataan:
  ATLANTIS.
  227
  Aku terkejut bukan main, ketika membaca tulisannya. Atlantis, kota hilang yang banyak diperbincangkan orang-orang pandai! Para sarjana mempertengkarkan ada tidaknya kota itu, dan aku sekarang berdiri di hadapannya. Aku menjadi saksi bencana yang melanda di jaman dulu. Rupanya Atlantis tenggelam di luar kungkungan pesisir dua benua. Di sinilah pernah hidup manusia-manusia perkasa, melawan siapa Yunani purba melancarkan perang-perangnya yang pertama.
  Sementara aku masih berusaha mengatur setiap perincian dari pemandangan menakjubkan itu dalam ingatanku, Kapten Nemo berdiri tanpa bergerak-gerak, Ia berdiri seakan membatu, bersandar pada sebongkah batu besar berlumut. Mungkinkah dia sedang melamunkan keturunan manusia yang sudah lama lenyap? Mungkinkah dia sedang menanyakan nasib manusia pada mereka? Ingin sekali kuketahui apa yang sedang direnungkannya, serta memahami jalan pikirannya! Sejam lamanya kami berdiri di situ, asyik memperhatikan dataran luas yang diterangi sinar lahar. Lereng gunung bergetar, sebagai akibat gejolak yang berlangsung dalam kawah. Saat itu bulan muncul, dan memancarkan sinar menembus air. Cahayanya yang lembut menerangi daratan yang lenyap di bawah omba k. Pemandangan sekeliling kami mempesona. Akhirnya Kapten Nemo bangkit, sesudah melayangkan pandang an terakhir ke daratan luas yang membentang di bawa h kami. Ia mengisyaratkan padaku supaya ikut dengan nya.
  Gunung kami turuni dengan cepat. Se sudah melampaui hutan membatu, kulihat cahaya lamp u sorot kapal 'Nautilus' bersinar seperti bintang. Kap-ten berjalan langsung menuju kapal. Kami sampai ketika c ahaya matahari mulai memutihkan permukaan samude ra.
  228
  X
  TAMBANG BATU BARA DI BAWAH LAUT
  KEESOKAN harinya, tanggal 20 Pebruari, aku Kesiangan. Rupanya keletihan tubuh menyebabkan tidurku lelap, sampai pukul sebelas pagi. Cepat-cepat aku mengenakan pakaian, lalu bergegas masuk ke ruang duduk. Aku ingin mengetahui arah pelayaran kapal 'Nautilus'. Jarum pedoman masih menunjukkan arah selatan. Kami berlayar di tempat sedalam sembilan puluh meter, dengan kecepatan dua puluh mil sejam.
  Ikan-ikan yang berkeliaran di luar jendela samping, hampir sama dengan yang sudah kulihat selama ini. Tapi ada juga satu dua jenis yang berlainan. Aku sibuk membuat catatan mengenainya, dibantu oleh Conseil.
  Sekitar pukul empat, tanah dasar laut yang sebelumnya berupa lumpur tebal bercampur kayu membatu, pelan-pelan berubah wujud. 'Nautilus' melaju di atas dasar batu tercampur lahar dingin dan endapan belerang. Menurut sangkaanku, dataran luas yang kami tinggalkan berbatasan dengan daerah pegunungan. Dan benarlah: sesudah 'Nautilus' berlayar beberapa waktu, kulihat garis pandangan di selatan tertutup dinding tinggi, yang seolah-olah menutup semua jalan ke luar. Puncak dinding itu mestinya menjulang ke atas, sampai keluar dari air. Menurut dugaanku, di atas pasti terdapat benua, atau paling sedikit sebuah pulau. Barangkali Kepulauan Canari, atau Kepulauan Tanjung Verde. Aku tak tahu di mana kami sedang berada, karena belum dilakukan pengukuran di atas geladak. Mungkin hal itu disengaja! Bagaimanapun juga, dinding semacam itu kurasa merupakan
  batas negeri Atlantis, yang sebenarnya baru sebagian kecil saja kami lalui.
  Sebetulnya aku masih ingin agak lama berdiri di depan jendela, untuk mengagumi keindahan laut dan langit yang nampak samar. Tapi pelat-pelat katup jendela ditutup. Saat itu 'Nautilus' telah sampai di sisi dinding terjal yang sudah kulihat. Aku tak bisa menebak apa yang akan terjadi berikutnya. Aku kembali ke kamar. Kapal tak bergerak lagi. Aku berbaring. Maksudku tidur sebentar. Tapi ketika aku masuk kembali ke ruang duduk, jam di dinding sudah menunjukkan pukul delapan pagi. Rupanya aku terlelap satu malam. Kupandang alat manometer. Ternyata 'Nautilus' sedang mengambang di permukaan laut. Kecuali itu juga terdengar langkah orang di atas geladak. Aku pergi ke jendela samping. Tapi yang kelihatan bukan cahaya terang, melainkan kegelapan pekat. Di manakah kami? Mungkin aku tadi keliru melihat jam. Tapi tidak. Tak kelihatan bintang berkelip. Lagipula kegelapan di luar, bukanlah kegelapan malam.
  Aku sedang bingung, ketika terdengar suara orang di sebelahku. "Andakah itu, Profesor?"
  "Ah, Kapten," jawabku, "di mana kita sekarang?"
  "Di bawah tanah."
  "Di bawah tanah!" seruku. "Tapi 'Nautilus' masih terapung?"
  "Nautilus selalu terapung."
  "Saya tak mengerti."
  "Tunggu saja beberapa menit lagi. Lampu sorot akan dinyalakan. Jika Anda menyukai tempat yang terang, Anda pasti akan merasa puas."
  Aku menunggu, sambil berdiri di atas geladak. Kegelapan yang menyelimuti begitu pekat, sehing-
  230
  ga Kapten Nemo yang berada di sebelah pun tak nampak olehku. Tapi ketika pandangan mataku kuarahkan tegak lurus ke atas, seolah-olah kelihatan suatu sinar samar. Nampaknya seperti lubang bundar. Tepat pada saat aku sedang tengadah, lampu sorot dinyalakan. Cahayanya yang terang melenyapkan sinar lemah, yang kusangka ada di atas kepalaku. Sesaat kupejamkan mata karena silau. Sudah itu aku memandang lagi. 'Nautilus' memang tak bergerak. Kami terapung dekat sebuah tebing, yang merupakan semacam dermaga. Kapal kami berada dalam danau yang terkepung dinding melingkar. Danau berukuran garis tengah dua mil, sedang lingkarannya sepanjang enam mil. Permukaan airnya harus sama dengan di luar, karena mesti ada hubungan antara danau dan laut. Dinding yang mengungkung, membentuk kubah yang tingginya sekitar dua ratus meter. Di ujungnya terdapat sebuah lubang bundar. Lubang itulah yang kulihat tadi, dan sinar remang yang nampak adalah cahaya matahari yang bersinar di luar.
  "Di mana kita ini?" tanyaku sekali lagi. "Di perut kawah gunung api yang sudah padam. Sebagai akibat goncangan bumi, air laut menembus ke dalamnya. Sewaktu Anda masih tidur, 'Nautilus' masuk ke danau tertutup ini lewat sebuah terusan alam.
  "Lubang masuk ke terusan itu terdapat sepuluh meter di bawah permukaan laut. Danau ini merupakan tempat perlindungan aman dan tak di