Pendekar Seratus Hari - 218

Diposting oleh Saiful bahri dari situbondo pada 22:06, 16-Jul-15

Cerita Silat | Pendekar Seratus Hari | by S.D Liong | Pendekar 100 Hari | Cersil Sakti | Pendekar Seratus Hari pdf

101 Dating Jo Dan Kas - Asma Nadia Biru Laut - Asma Nadia Inn-nu-woh Si Kepala Suku - Karl May Dikawasan Singa Perak - Karl May Anak Pemburu Beruang - Karl May

15.74. Paling Pintar adalah Paling Bodoh
  “Kalau begitu locianpwe memang sengaja melepaskan dia berkeliaran melakukan pembunuhan?” tanya Siau
  Lo-seng.
  “Bukan begitu,” kata orang aneh. “kami hanya menghendaki supaya pembunuh utama dari Hay-hong-cung itu
  akan kembali mempertunjukkan diri. Walaupun sangat pelik sekali manusia ganas itu menyelubungi jejaknya,
  tetapi tentu meninggalkan setitik kelengahan yang pasti dapat kita ketemukan, Daripada menyelidiki secara
  membabi buta tanpa pegangan, lebih baik kita gunakan semacam itu.”
  “Locianpwe,” kata Siau Lo-seng pula, “Aku benar-benar bingung memikirkan keterangan locianpwe. Terhadap
  peristiwa pembunuhan itu, tampaknya kalian sudah mempunyai pegangan tetapi masih tak berani bertindak
  untuk menunjukkan bukti-buktinya. Adakah locianpwe terikat perjanjian dengan orang atau menderita tekanan
  dari pihak tertentu?”
  Orang aneh itu tertawa nyaring.
  “Dalam dunia persilatan dewasa ini, kecuali ketua kami siapakah yang mampu menekan aku? Mengapa aku
  harus takut segala macam ancaman...... Tindakan seseorang, adakalanya memang orang lain sukar
  merabahnya. Urusan kami, sudah tentu engkaupun tak tahu jelas. Dan terakhir akan kuberitahu kepadamu,
  bahwa karena akan mengurus suatu pekerjaan yang penting, terpaksa aku tak dapat melindungimu. Kuharap
  engkau dapat menjaga diri dengan meningkatkan kewaspadaan. Berhati-hatilah dalam segala tindakan!”
  “Locianpwe, lebih dari setahun secara diam-diam engkau telah melindungi diriku. Tetapi selama itu belum
  pernah engkau memberi bantuan yang nyata dalam setiap persoalan yang kuhadapi. Hal itu sungguh membuat
  aku tak mengerti.”
  “Benar,” sahut orang aneh itu. “memang selama setahun melindungi engkau itu, tak pernah aku turun tangan
  membantumu, Tampaknya memang engkau tak merasakan suatu manfaat apa-apa, tetapi sesungguhnya hal
  itu mengandung maksud yang penting. Kelak engkau tentu akan tahu.”
  Siau Lo-seng makin bingung. Kata-kata orang aneh itu memberi kesan bahwa ayahnya tak begitu ngotot untuk
  menyelidiki peristiwa pembunuhan di Hay-hong-cung. Seolah-olah ada sesuatu yang tersembunyi.
  Dan yang paling menggelisahkan pikirannya yalah mengapa ayahnya tak mau bertemu dengan dia? Adakah
  perguruan Thian-sian-bun mempunyai peraturan, bahwa ayah dan putera itu tak boleh berkumpul?
  Dan siapakah kiranya orang aneh yang tengah bicara dengannya saat itu? Adakah keterangannya dapat
  dipercaya semua?
  Siau Lo-seng menghela napas panjang,
  “Locianpwe, siapakah engkau ini sesungguhnya? Bolehkah aku melihat wajah locianpwe?”
  Siau Lo-seng mempunyai semacam perasaan bahwa selama bertukar pembicaraan dengan orang aneh itu, dia
  merasa seperti sudah pernah kenal baik dan ada suatu perasaan yang dekat dalam hati.
  “Masakan aku tak ingin sekali bertemu muka dengan engkau,” seru orang aneh itu, “namun terpancang oleh
  peraturan perguruan dan lain-lain alasan…… tetapi janganlah engkau memikirkan hal itu. Tak lama engkau tentu
  akan mengetahui semua urusan ini.......”
  Nada orang itu amat tegang sekali. Seolah-olah dia sedang menekan luapan perasaan hatinya.
  Sejenak berhenti, ia melanjutkan pula: “Lo-seng, tahukah engkau mengapa kupikat engkau datang ke sini? Ah,
  tak perlu katakan lagi. Sekarang aku harus pergi. Apabila terlambat tentu akan menelantarkan urusan besar.
  Engkau mau tahu aku ini siapa? Asal engkau dengan teliti menarik kesimpulan dari benda pengenal diri yang
  kuberikan ini, mungkin engkau akan dapat menyingkap sedikit-sedikit. Nah, sampai jumpa lagi dan harap
  menjaga dirimu baik-baik.”
  Tiba-tiba kata-kata itu putus dan lenyap. Sekonyong-konyong Siau Lo-seng melihat semacam tanda aneh
  meluncur cepat sekali ke arahnya. Cepat ia menyisih ke samping lalu menyambuti benda itu.
  “Locianpwe, apakah engkau sudah pergi?” serunya nyaring.
  Tetapi hutan sunyi senyap tiada suara penyahutan apa-apa.
  Siau Lo-seng menyadari bahwa orang aneh itu tentu sudah pergi. Ia memeriksa benda yang digenggamnya itu.
  Ah, ternyata sebuah lencana tembaga yang kuno bentuknya.
  Pada lencana itu, permukaannya terdapat ukiran seekor naga hitam. Belakang lencana hanya terdapat
  beberapa huruf. Siau Lo-seng seperti pernah melihat lencana itu. Tapi ia lupa dimana.
  Ia memeriksa dengan teliti dan makin merasa bahwa dia pernah melihat lencana seperti itu.
  “Adakah kulihatnya pada waktu aku masih anak-anak yang belum tahu apa-apa?” pikirnya, “ah, mungkin
  benar. Bukankah orang aneh itu suruh aku merenung dengan teliti?”
  Memang dunia ini penuh dengan hal-hal yang aneh. Ada kalanya, ‘ya tetapi bukan’ ada kalanya ‘bukan tetapi
  ya”.
  Pada saat itu timbullah suatu pengalaman dalam hati Siau Lo-seng. Ia merasa bahwa barang siapa yang
  menganggap dirinya paling pintar, dialah orang yang paling bodoh.
  Selama setahun ini, ia menganggap kepandaiannya sudah hebat dan gerak geriknya pun serba aneh. Tetapi
  ternyata ada lain orang yang lebih hebat lagi karena telah mengikuti dirinya tanpa diketahuinya sama sekali.
  Iapun merasa bahwa banyak sekali perkara di d