Pendekar Sejati - 41

Diposting oleh Saiful bahri dari situbondo pada 23:32, 16-Agu-14

Cerita Silat | Pendekar Sejati | by Gan K.L | Pendekar Sejati | Cersil Sakti | Pendekar Sejati pdf

Luruh Kuncup Sebelum Berbunga - Mira W Dating With The Dark - Santhy Agatha Dakwaan Dari Alam Baka - Mira W J-Two on Mission - Asma Nadia Pendekar Sejati - Gan KL

05.20. Tahukah Kong-sun Bok tentang Perjodohan? Penolongnya itu terang ialah Kong-sun Bok, dengan menuding Pok Yang-kian segera pemuda itu membentak, “Lekas pulang saja buat berlatih lagi! Jika ingin menuntut balas, boleh suruh gurumu datang ke Kim-keh-nia untuk mencari aku!”
  Telapak tangan Pok Yang-kian ditembus batu kecil tadi tempatnya tepat pada Lau-kiong-hiat, suatu Hiat- to yang merupakan pangkal urat nadi bagian tangan.
  Dengan luka itu, tenaga dalam Pok Yang-kian lantas bocor sehingga kekuatan latihan Hoa-hiat-to yang dihimpun selama hampir sepuluh tahun termusnah dalam sekejap.
  Melihat datangnya Kong-sun Bok, Pok Yang-kian menjadi ketakutan setengah mati, mana dia berani bersuara lagi, tanpa pikir dia terus melarikan kudanya dan lari sipat kuping.
  Kemudian Kong-sun Bok berpaling dan menyapa Kiong Kim-hun, “Ya, sungguh sangat kebetulan. Mengapa engkau sendirian datang ke sini?”
  “Aku sengaja datang ke sini mencari kau,” jawab Kim-hun.
  Sebelum dia bicara lebih lanjut, sekonyong-konyong Kong-sun Bok memberi tanda agar dia jangan bersuara pula, katanya dengan air muka prihatin, “Jangan bicara dulu, diam saja. Coba ikut padaku!”
  Sudah tentu Kiong Kim-huhn merasa heran dan bingung, pikirnya, “Memangnya aku hendak bicara dengan kau, apa salahnya kalau aku ikut kau ke dalam hutan?”
  Sebagai anak perawan yang masih mulus, ilmu silat Kong-sun Bok jauh lebih tinggi pula daripada dia, seharusnya dia menaruh was-was untuk ikut pemuda itu ke dalam hutan yang sepi. Tapi entah mengapa sedikit pun dia tidak ragu-ragu, ia merasa pemuda yang tulus itu boleh dipercaya penuh.
  Begitulah setiba di tengah hutan yang lebat, di situlah Kong-sun Bok berhenti, lalu ia mengamati-amati Kiong Kim-hun dengan penuh perhatian.
  Dengan sendirinya Kiong Kim-hun menjadi likat, katanya kemudian dengan tertawa, “Memangnya kau tidak kenal lagi padaku?”
  “Jangan bersuara!” desis Kong-sun Bok, tiba-tiba ia pegang pergelangan tangan si nona dalam penyamaran lelaki itu.
  Keruan Kiong Kim-hun terkejut, tapi sukar baginya untuk melepaskan tangannya itu. Dilihatnya sikap Kong-sun Bok sungguh-sungguh dan prihatin, sedikit pun tiada tanda-tanda akan berbuat tidak senonoh, maka legalah hatinya.
  Kong-sun Bok memegang nadi tangan Kiong Kim-hun itu dengan tiga jarinya, sejenak kemudian baru dia berkata pula, “Kiong-heng, kau sudah terluka, apakah kau tahu?”
  Baru sekarang Kiong Kim-hun tahu pemuda itu sengaja memeriksa nadinya, tentu saja ia terkejut dan cepat bertanya, “Terluka? Cara bagaimana aku bisa terluka?” ~ Seingatnya dalam pertarungannya dengan Pok Yang-kian tadi sama sekali tubuhnya tidak tersentuh sedikit pun oleh cambuk lawan.
  “Hoa-hiat-to yang dilatih Pok Yang-kian sudah mencapai tingkatan kelima,” demikian Kong-sun Bok menjelaskan. “Tadi waktu dia menubruk kau dari atas, meski tangannya tidak menyentuh badanmu, tapi ada setitik hawa berbisa menyerang ke dalam Jong-hu-hiat di belakang kepalamu. Untung hawa berbisa itu cuma setitik saja hingga tidak terlalu berbahaya.”
  Diam-diam Kiong Kim-hun terperanjat, pikirnya, “Konon Hoa-hiat-to meliputi sembilan tingkat, Pok Yang-kian baru mencapai tingkat kelima dan sudah begini lihai, kalau saja mencapai tingkat kesembilan entah betapa hebatnya? Kepandaian Kong-sun Bok jauh lebih tinggi dari dia, entah tingkat kesembilan itu sudah dicapainya belum?”
  Dalam pada itu Kong-sun Bok menambahkan pula ucapannya, “Meski tidak berat racunnya, tapi juga perlu lekas disembuhkan, Kiong-heng, silakan buka pakaianmu.”
  Keruan muka Kiong Kim-hun menjadi merah. “Mau apa?” tanyanya.
  “Akan kuurut jalan darahmu, kalau diurut dari luar baju akan kurang cepat khasiatnya,” kata Kong-sun Bok.
  “Jika tidak berat racunnya, tidak perlulah membikin susah padamu, aku aku takut geli,” sahut Kim-hun.
  Kong-sun Bok tertawa, ia pikir mengapa Kiong-toako ini seperti anak kecil saja takut geli segala, lagaknya kikuk-kikuk mirip anak perempuan pula. Ia tidak tahu bahwa sesungguhnya Kiong Kim-hun memang anak perempuan.
  Maka dengan tertawa ia berkata pula, “Baiklah, boleh tidak usah buka baju. Kau minum saja Pik-leng-tan yang mujarab untuk memunahkan racun ini, cuma saja obat ini bukan khusus obat untuk racun Hoa-hiat- to, mungkin perlu tiga hari baru dapat membersihkan racun dalam tubuhmu. Selama dua hari ini bila dadamu terasa dingin, maka janganlah kau terkejut dan kuatir.”
  Sesudah minum pil Pik-leng-tan itu, Kiong Kim-hun merasakan hawa hangat mengalir ke seluruh tubuh, rasanya segar sekali. Seketika terbangkit semangatnya, cepat ia mengucapkan terima kasih kepada Kong-sun Bok.
  “Terima kasih apa, kemarin kau telah mentraktir aku makan minum dan aku pun tidak sungkan-sungkan padamu,” ujar Kong-sun Bok.
  “Makan minum ditukar dengan obat mujarab, obatmu ini tidakkah terlalu murah?” kata Kim-hun dengan tertawa.
  “Masakah begitu? Jika demikian boleh kau traktir aku makan minum lagi,” sahut Kong-sun Bok tertawa.
  Melihat cara bicara si pemuda sederhana ini cukup menarik, sikapnya juga simpatik, mau tak mau kesan baik Kiong Kim-hun atas diri Kong-sun Bok menjadi bertambah beberapa bagian. Walaupun dia tidak menaruh hati padanya, tapi sedikitnya merasa orang ini toh tidak menjemukan.
  “Eh, tadi Kiong-heng bilang sengaja datang mencari aku, entah ada urusan apa?” tanya Kong-sun Bok.
  “Justru lantaran keparat Pok Yang-kian ini, tapi sekarang dia sudah kau usir pergi, maka persoalan yang orang ingin memohon padamu melalui aku sudah selesai kau kerjakan sebagian.”
  “Apakah orang lain yang kau maksudkan itu Coh Tay- peng dan kawan-kawannya itu?” tanya Kong-sun Bok.
  “Benar. Mereka ingin mohon dua urusan padamu.
  Pertama, agar engkau mengusir pergi Pok Yang-kian.
  Kedua, supaya menyembuhkan kawan-kawannya yang terkena racun Hoa-hiat-to, entah kau suka meluluskan tidak permohonan mereka ini?”
  Sesudah berpikir sejenak, kemudian Kong-sun Bok menggeleng kepala sebagai tanda tidak dapat menerima.
  “Meski orang-orang itupun pantas menerima ganjarannya, tapi kalau dibandingkan Pok Yang-kian, boleh dikata mereka jauh lebih baik,” kata Kim-hun.
  “Bukan maksudku hendak membela mereka, soalnya kalau mereka tidak disembuhkan, maka mereka pasti akan menjadi alat pemerasan Pok Yang-kian agar orang-orang itu menjadi begundalnya. Padahal guru Pok Yang-kian, yaitu Sebun Bok-ya terang berambisi merajai dunia persilatan, sedapat mungkin kita harus mencegah kekuatan yang akan dia pupuk itu.”
  “Hal inipun sudah kupikir, aku kan tidak mengatakan tidak mau menolong mereka,” ujar Kong-sun Bok.
  Kiong Kim-hun melengak, habis tadi mengapa kau menggeleng kepala? Demikian pikirnya.
  Dalam pada itu Kong-sun Bok sudah menyambung pula, “Jika Pok Yang-kian bertujuan memeras mereka dengan racun Hoa-hiat-to, maka dalam waktu singkat ini tentunya takkan membikin mati orang-orang itu.
  Sedikitnya mesti menunggu hingga datangnya Sebun Bok-ya bukan?”
  “Benar. Menurut Ang Kin, katanya luka racun mereka itu baru akan mematikan setahun kemudian.”
  “Ah, tahulah aku, kau sengaja membiarkan mereka menderita dulu baru kemudian menyembuhkan mereka sekadar sebagai hukuman bagi mereka, bukan?”
  “Betul juga, cuma ada sebab lain lagi.”
  “Ada sebab lain? Apa itu?”
  “Terus terang, Siau-te hendak menemui Liu Beng-cu di Kim-keh-nia. Tentunya Kiong-heng juga tahu bahwa Lok-lim-beng-cu dari proopinsi-propinsi utara ini adalah seorang perempuan.”
  Tentang nama Hong-lay-mo-li yang menjadi Lok-lim- beng-cu memang baru saja Kiong Kim-hun mendengar dari cerita Han Pwe-eng, maka segera ia menjawab, “Apakah namanya Liu Jing-yau berjuluk Hong-lay-mo- li itu?”
  “Betul,” kata Kong-sun Bok. “Liu Beng-cu itu hendak menyerukan pasukan sukarelawan agar bangkit melawan penyerbuan orang Mongol. Maka persoalan kita ini harus dilaporkan dulu kepada Liu Beng-cu, bila beliau setuju, segera minta beliau mengirim utusan berangkat bersama aku untuk mengobati kawan- kawan Coh Tay-peng itu, dengan demikian kelima Pang-hwe di lembah Hong-ho sini dapat pula ditarik ke bawah panji pasukan sukarelawan. Hm, Sebun Bok-ya benar-benar terlalu tidak tahu diri, ingin menjadi Lok-lim-beng-cu segala, sungguh mimpi belaka. Selama masih ada Liu Beng-cu masakah dia dapat dibiarkan main gila?”
  “Apakah sudah lama engkau kenal Hong-lay-mo-li?”
  tanya Kim-hun.
  “Di waktu kecil pernah aku melihatnya, aku percaya dia pasti juga masih ingat padaku,” jawab Kong-sun Bok.
  Padahal kakek Kong-sun Bok, yaitu Kong-sun In, justru adalah guru Hong-lay-mo-li yang berbudi itu. Dahulu ketika para pahlawan membobol Siang-keh-po, pada saat itu pula Hong-lay-mo-li menyelamatkan Kong-sun Bok dari perkampungan keluarga Siang dan membawanya ke Kong-bing-si, maka hubungan kedua keluarga boleh dikata lain daripada yang lain.
  Hanya saja Kong-sun Bok tidak suka menonjolkan hal-hal begituan, sebab itu secara sederhana saja ia melukiskan hubungan baiknya dengan Hong-lay-mo-li.
  “Bagaimana tingkat ilmu silat Hong-lay-mo-li? Menurut ucapanmu tadi, agaknya dia jauh lebih hebat daripada Sebun Bok-ya?”
  “Aku sendiri belum tahu betapa tinggi ilmu silat Sebun Bok-ya. Tapi melihat kepandaian muridnya, cukup kiranya untuk mengukur kepandaian gurunya. Betapa pun masakah dia dapat menandingi Liu Beng-cu? Apalagi untuk merajai dunia Kang-ouw tidak melulu berdasarkan ilmu silat saja, tapi diperlukan pula keluhuran budi dan kebijaksanaan tindakan. Dalam hal ilmu silat Liu Beng-cu tidak perlu disangsikan lagi, yang harus dipuji adalah kebijaksanannya serta ketegasan tindakannya tanpa pandang bulu. Meski beliau adalah wanita yang berambut panjang, tapi pengetahuan dan kepandaiannya jauh di atas kaum pria.”
  “Tampaknya engkau benar-benar kagum dan memuja Liu Beng-cu ini,” kata Kim-hun dengan tertawa.
  “Masakah cuma diriku saja yang kagum padanya,”
  sahut Kong-sun Bok. “Coba pikir saja, jika apa yang kukatakan tidak benar, masakah beliau mampu mengatasi anak buahnya yang begitu banyak dan menjadi Lok-lim-beng-cu selama duapuluh tahun?”
  Diam-diam Kiong Kim-hun membatin, “Hong-lay-mo-li yang dikatakan Kong-sun Bok ternyata bertentangan sama sekali daripada apa yang dilukiskan oleh ayah.
  Kalau dipikirkan dengan cermat, memang apa yang dikatakan Kong-sun Bok ini lebih masuk akal. Tapi Hong-lay-mo-li adalah musuh ayah, jika dia benar- benar begitu baik sebagaimana dikatakan Kong-sun Bok, kan berbalik ayah yang bersalah? Hm, betapa pun aku tidak percaya ayah adalah orang jahat.”
  Untuk pertama kalinya timbul pikiran demikian dalam benak Kiong Kim-hun, pikirannya menjadi kusut, lapat- lapat ia pun rada kuatir.
  “Eh, dimanakah Han-toako yang bersama kau itu?”
  tiba-tiba Kong-sun Bok bertanya.
  “Dia tinggal di Lok-yang, maka dia sudah pulang ke sana,” jawab Kim-hun dengan pipi bersemu merah.
  Ia menduga Kong-sun Bok pasti belum tahu bahwa dia adalah samaran wanita, dengan sendirinya juga tidak tahu dia adalah bakal istrinya. Maka timbul keraguannya apakah perlu memberi sedikit isyarat padanya agar dia mengetahuinya. Namun orang yang kusukai adalah Han-toako, cara bagaimana aku harus bicara terus terang padanya? Sebaliknya kalau aku tidak menerangkan persoalannya, bila kelak dia mengetahui diriku adalah bakal istrinya, kan tambah serba susah bagiku? Demikian pikiran Kiong Kim-hun semakin bingung.
  Dalam pada itu Kong-sun Bok sedang berkata, “O, jadi Han-toako itu sudah pulang. Lalu engkau sendirian tanpa teman hendak kemana?”
  “O, aku..... aku pun tiada tempat tujuan tertentu,”
  jawab Kim-hun sesudah ragu-ragu sejenak.
  “Tidakkah lebih baik ikut aku pergi ke Kim-keh-nia saja?” ajak Kong-sun Bok. “Kini orang Mongol sudah mulai menjajah negeri kita, suasana sudah gawat, Liu Beng-cu tentu sangat memerlukan tenaga pembantu.”
  “Aku pun ingin menemui kesatria wanita yang jarang ada bandingannya seperti Hong-lay-mo-li itu, cuma sekarang belum tiba waktunya,” kata Kiong Kim-hun.
  Diam-diam ia merasa geli, baik Kong-sun Bok maupun Han-toako sama-sama mengajaknya pergi ke Kim- keh-nia, padahal dia justru ingin menghindarkan mereka bertiga berkumpul bersama.
  “Apakah barangkali engkau hendak pergi ke tempat Coh Tay-peng sana?” tanya Kong-sun Bok.
  “Mengapa kau bisa menduga begitu?” kata Kim-hun sambil mengerut kening. “Hakikatnya kupandang hina orang-orang macam mereka itu, masakah aku sudi ke tempat mereka.”
  “Tampaknya mereka sangat menghormati kau,” kata Kong-sun Bok dengan tertawa. “Malahan Han-toako itupun memperoleh berkahmu, sepanjang jalan mendapat pelayanan yang baik dari mereka.”