Sampul Maut - 17

Diposting oleh Saiful bahri dari situbondo pada 21:45, 03-Mei-16

Cerita Silat | Sampul Maut | Karya Wen Wu | Sampul Maut | Cersil Sakti | Sampul Maut pdf

Dewi Ular - Musibah Sebuah Kapal Tarian Liar Naga Sakti VII - Marshall Rumah Yang Terpencil (A Very Quiet Place) - Andrew Garve GAIJIN Oleh : Marc Olden Lembah Selaksa Bunga - Kho Ping Hoo

2.09. Pertemuan Besar Jago Perairan „Siapa orang itu?!” tanyanya kepada si baju hitam. „Apakah kamu tidak memberitahukan kepadanya bahwa malam ini telaga Tong-teng menjadi daerah yang terlarang untuk umum?!”
  „Aku telah memberitahukannya,” sahut si baju hitam. „Tetapi ia bilang telaga yang luas ini adalah terbuka untuk orang menikmati keindahan alam! Jika Jie siocia tidak pernah menasehatkan agar jangan turun tangan sebelum membikin persiapan, akupun pasti sudah menghajar dia itu!”
  Si gadis hanya menggeram. „Hm!” Lalu ia mengawasi si pemuda yang tetap berdiri tegak mendengari percakapan mereka tadi, dan sama sekali ia tidak menunjukkan sikap ketakutan atau khawatir.
  „Kau ini siapa dan datang ke sini hendak berbuat apa?” tanya si gadis.
  „Pada malam pertengahan bulan delapan ini, adalah waktu yang baik untuk pesiar di atas telaga, mendayung perahu sambil menik¬mati suasana yang indah permai, dan itulah maksud kedatanganku di sini......”
  „Telaga Tong-teng pada malam ini memang sebetulnya baik sekali dinikmati. Tetapi telaga ini telah menjadi daerah yang terlarang untuk umum malam ini. Jika kau tidak mengetahuinya, kitapun tak dapat mempersalahkanmu......!”
  „Mengapa daerah telaga ini menjadi terlarang pada malam ini? Aku mohon siocia sudi memberi penjelasan kepadaku!”
  „Jika kau bukan dari kalangan Kang-ouw, meskipun aku menjelaskan kepadamu, kau takkan mengerti!”
  „Tetapi...... jika siocia tidak berkeberatan, tolonglah jelaskan juga kepadaku......”
  „Baiklah! Agar kau tidak jadi penasaran, aku akan mencoba menjelaskan dengan singkat! Malam ini banyak jago-jago silat telah berkumpul di telaga ini. Kita telah melarang orang pesiar di atas telaga, itu bukan berarti kita ingin mengangkangi telaga ini, tetapi kita ingin mencegah agar orang-orang yang telah pesiar di sini, karena tidak mengetahui, diserang oleh senjata jago-jago silat yang akan bertarung nanti!”
  Kedua orang yang berpakaian serba hitam merasa heran atas sikap gadis itu, karena mereka sudah dapat menentukan bahwa pemuda itu akan pasti didamprat atau mungkin diserang oleh siocia mereka yang terkenal ketus itu! Tetapi kenyataan......
  Si pemuda bersenyum dan berkata lagi.
  „Betul! Senjata tajam tiada matanya dan dapat melukai sembarang orang! Tetapi...... jika orang berani datang ke sini untuk pesiar, maka iapun harus berani dan rela menerima resiko dari segala kecelakaan! Aku sebetulnya seorang yang gemar belajar sastra, yah, boleh dikatakan ‘kutu buku’, tetapi aku selalu mengagumi jago-jago silat dari kalangan Kang-ouw!”
  Si gadis jadi bersenyum manis mendengar penjelasan itu, ia mengawasi si pemuda sambil membereskan rambutnya yang terurai tertiup angin.
  Sejenak kemudian terdengar si pemuda menanya lagi.
  „Aku ada satu permintaan, apakah siocia dapat mengabulkan?”
  „Apakah kau ingin menonton keramaian?”
  „Tepat! Siocia telah menebak jitu. Aku yang selalu menjunjung tinggi jago-jago silat yang luhur, tetapi belum pernah melihat dengan mata kepala sendiri mereka itu bertarung! Jika siocia memperkenankan aku menyaksikan mereka malam ini, aku sungguh merasa beruntung sekali!”
  Si gadis bangun dari kursinya lalu berjalan memutari dek kapal sambil berpikir.
  „Jika kau hanya ingin melihat keramaian dan duduk di pinggiran sambil menonton, sebetulnya tidak menjadi halangan......” sahutnya. Lalu ia menatap si pemuda dan berkata lagi.
  „Ya! Tidak menjadi halangan sama sekali!”
  Salah seorang yang berpakaian serba-hitam tadi, setelah melihat si pemuda masih berdiri diam saja, menegur.
  „Hei bung! Jie siocia sudah mengabulkan permintaanmu! Mengapa kau diam saja seperti orang gelo dan tidak lekas-lekas menghaturkan terima kasih?! Tetapi yang ditegur tetap berdiri tegak, seolah-olah tidak mendengar tegurannya, bahkan sambil menoleh ke buritan perahu ia berkata kepada tukang perahu yang bertudung lebar.
  „Hei Pak! Rupanya malam ini kita beruntung sekali. Ayo ikut kapal Jie siocia untuk menonton keramaian!”
  Si baju hitam menjadi mendongkol terhadap si pemuda karena ia tidak dipandang mata, namun ia tak berani berbuat apa-apa! Ia hanya merasa heran melihat Jie siocia mereka yang lain dari pada biasanya! Biasanya gadis itu sangat berangasan dan ketus karena selalu dimanjakan oleh kakak laki-lakinya, Siauw Cu Gie yang bernama julukan si Raja naga dari lima telaga.
  Si baju hitam lalu membungkukkan badannya dan berkata.
  „Jie siocia, jika tiada suruhan, aku akan segera kembali ke tempat penjagaan!”
  Si gadis kebat tangannya sebagai tanda memperkenankan orangnya itu berlalu. Kemudian tanpa menoleh kepada si pemuda ia berkata.
  „Jika kau ingin menonton keramaian dengan jelas, lebih baik kau pindah saja ke atas kapalku......”
  Meskipun si gadis mengundang dengan suara yang agak rendah, tetapi undangan lisan itu tokh dapat juga didengar terang oleh si pemuda yang segera menyahut.
  „Terima kasih banyak siocia! Aku akan segera datang!”
  Tukang perahu lalu merendengi perahunya dengan kapal sungai itu. Empat gadis yang cantik jelita berdiri berbaris di atas geladak kapal sambil bersenyum mendengari percakapan antara Ji siocia mereka dengan si pemuda.
  Keempat gadis itu lalu menurunkan sebuah tangga tali agar si pemuda dapat naik ke kapal.
  „Kau jangan banyak bicara,” kata Jie siocia sambil menyilahkan tamunya duduk di atas kursi yang tertutup dengan kain sutera merah muda. „Dan jangan bertindak sembarangan. Jika kau duduk diam di kursi ini, aku jamin keselamatan dirimu!”
  Si pemuda hanya bersenyum dan mengangguk, lalu duduk di atas kursi yang berada di samping kursi si siocia.
  Maka kapal sungai itupun lalu berlayar lagi ke jurusan lain.
  Selama itu suasana di atas telaga masih sunyi senyap. Tetapi kemudian dengan tiba-tiba terdengar terompet berbunyi panjang dan lama, memecahkan suasana yang hening itu. Berhentinya suara terompet dibarengi dengan terlihatnya cahaya lampu dan obor yang sinarnya membikin sebagian telaga menjadi terang benderang. Lalu menjadi sepi lagi.
  Baru saja si pemuda ingin menanya si gadis dimana pertemuan akan diselenggarakan, segera tampak beberapa puluh lampu dan obor menerangi telaga. Suara terompet terdengar lagi.
  Dari sebelah timur, sebelah selatan dan sebelah utara terlihat barisan-barisan kapal sungai yang bertiang layar tiga meluncur dengan tenang sekali. Barisan kapal sungai dari sebelah timur terdiri dari tujuh buah kapal, dan di atas tiang layar tengah dari kapal terdepan berkibar-kibar dengan megahnya bendera kuning yang bertulisan, „SIAUW dari telaga Tong-teng.”
  Barisan kapal sungai dari sebelah barat juga terdiri dari tujuh buah kapal dengan kain layar putih, dan di atas tiap-tiap kain layar tersebut tampak gambar seekor naga biru tengah mengunjuk giginya yang tajam dan membuka kukunya seolah-olah hendak menerkam mangsanya! Orang-orang di kalangan Bu-lim pasti mengenali bahwa barisan itu adalah dari Liong Cin Thian, si Naga biru dari partai silat Tai-hu! Barisan kapal sungai dari sebelah selatan terdiri dari banyak buah kapal-kapal dengan lambang dari berbagai- bagai corak dan warna. Di atas kain layar masing-masing, ada yang menggambarkan dua tulang lengan tersilang dengan kepala tengkorak manusia, dan ada juga yang menggantungkan pita-pita panjang yang beraneka warna dan lain sebagainya.
  Barisan kapal-kapal sungai dari sebelah utara terdiri dari lima buah yang luar biasa, karena ke lima buah kapal itu diikat menjadi satu erat-erat dengan rantai besi yang besar dan kuat, di atas geladak kapal tersebut ditutupi oleh papan kayu sehingga merupakan lapangan yang luas sekali. Tampak enambelas orang yang tinggi besar dan mengenakan pakaian serba hitam terbagi berdiri dengan tegak di empat sudut geladak tersebut.
  Empat barisan kapal-kapal sungai tersebut dengan berbareng meluncur menuju ke tengah-tengah telaga.
  Jie siocia mengebat lengan bajunya, maka kapalnya itu lalu dikemudikan ke barisan kapal di sebelah timur, diikuti oleh perahu nelayan si pemuda.
  Tidak lama kemudian empat barisan tersebut sudah bertemu di tengah-tengah telaga.
  Tiba-tiba terdengar bunyi terompet yang memekakkan telinga.
  Di atas geladak kapal terdepan dari barisan kapal di sebelah timur, tampak duduk seorang yang berpakaian jubah kuning, para mukanya putih, tetapi berewokan. Kedua matanya bersinar tajam dan sangat mulia kelihatannya. Di belakangnya berdiri dua baris orang-orangnya yang berpengawakan kuat tegap. Pemimpin itu adalah Siauw Cu Gie.
  Di atas geladak kapal terdepan dari barisan di sebelah barat, tampak duduk seorang pemuda yang mengenakan pakaian kulit pelindung tubuh berwarna biru. Kedua matanya yang besar senantiasa melirik ke kanan dan ke kiri.
  Tetapi di atas geladak kapal terdepan dari barisan di sebelah selatan tampak semua orang duduk diam seolah- olah menanti sesuatu yang gawat! Pada saat itu pula suasana di atas telaga menjadi sunyi-senyap! Si pemuda baju hijau duduk diam dan merasa kagum menyaksikan semua persiapan tersebut, tetapi tampaknya ia tak merasa takut sedikitpun.
  Sesaat kemudian dari belakang barisan kapal-kapal di sebelah timur tampak kembang api meluncur ke atas dan terdengar suara peletikan lelatu api, dan suasana di situ menjadi menakjubkan sekali dengan memantulnya bayangan kapal-kapal di permukaan air telaga itu.