Peri Peminum Darah - 2

Diposting oleh Saiful bahri dari situbondo pada 13:54, 19-Mar-15

Cerita Silat | Peri Peminum Darah | Serial Pendekar Rajawali Sakti | Peri Peminum Darah | Cersil Sakti | Peri Peminum Darah pdf

Pendekar Rajawali Sakti - 130. Pemburu Darah Cersil Misteri Bayangan Setan Pendekar Rajawali Sakti - 131. Serigala Bukit Maut Cersil mwb Pedang Wucisan rahasia benteng kuno

atap tajam Ki Warso.
  "Ki Dawang Rejo memiliki anak buah yang banyak. Dan di antara mereka, tidak sedikit memiliki ilmu olah kanuragan tinggi. Kenapa tidak diperintahkan mereka untuk mencarinya?"
  "Sudah. Aku telah mengirim sepuluh orang yang dipimpin Ki Sukaya...."
  "Ki Sukaya? Hm ... Aku tahu, dia memang meÂmiliki kemampuan hebat!"
  Ki Dawang Rejo menghela napas seraya mengalihkan perhatiannya ke arah lain. Tampak bahwa sebenarnya, laki-laki itu tidak merasa puas akan usaha anak buahnya.
  "Ki Dawang Rejo tampaknya tidak yakin…?" tanya Ki Warso menduga.
  "Ki Sukaya memang hebat. Namun, apakah dia mampu bergerak secepat angin seperti yang dilakukan penculik putriku? Kalau dia tidak mampu berbuat seperti itu, mana mungkin akan menemuÂkan putriku kembali...," keluh Ki Dawang Rejo deÂngan wajah muram.
  "Jangan dulu berkecil hati, Ki Dawang Rejo. Cerita orang mengenai si Peri Peminum Darah bisa saja terlalu dilebih-lebihkan. Ki Sukaya adalah orang yang tepat untuk tugas ini. Dia hebat. Dan ilmu olah kanuragannya bisa diandalkan!"
  Ki Dawang Rejo terdiam. Bukan menyetujui kata-kata Ki Warso, tapi memang kata-katanya seÂperti sudah kering.
  "Siapa sebaiknya orang itu, Ki Warso...?"
  "Maksud, Ki Dawang Rejo..?"
  "Orang yang pantas mencari anakku. Dan kaÂlau memungkinkan, dari kalangan para pendekar?"
  "Kita tidak bisa menentukan. Karena di kalangÂan persilatan, banyak sekali orang hebat"
  "Aku hanya ingin seorang yang bisa diandalkan! Apa pun yang diminta pasti segera akan kukabulkan!"
  Ki Warso terdiam beberapa saat. Benaknya menerka mengingat-ingat, pendekar mana yang bisa melakukan tugas ini.
  "Pendekar Rajawali Sakti...," gumam Ki WarÂso, seperti berkata pada diri sendiri.
  "Siapa?!"
  "Pendekar Rajawali Sakti...," ulang Ki Warso.
  Ki Dawang Rejo mengangguk pelan. Meskipun hanya sebagai pedagang yang sering bepergian dari satu tempat ke tempat lain, namun orang tua ini sering pula mendengar berita yang terjadi di rimba persilatan. Dan nama tokoh yang disebutkan Ki Warso memang tidak asing lagi di telinganya.
  "Di mana kita bisa menemuinya?" desak Ki Dawang Rejo. Wajahnya sedikit cerah, seolah ada harapan di hatinya kalau tokoh yang disebutkan Ki Warso mampu mengembalikan putrinya.
  "Itulah yang agak merepotkan, Ki Dawang Rejo. Pendekar Rajawali Sakti bukanlah tokoh yang menetap di satu tempat. Dia adalah pendekar pengembara. Dan yang lebih penting, dia tidak pernah menerima upah atas pertolongan yang diberikan pada orang lain," jelas Ki Warso.
  "Jadi menurutmu, dia tidak mau membantu kiÂta?"
  "Bukan begitu, Ki Dawang Rejo. Tapi yang pasti, memang agak sulit mencarinya "
  "Aku tidak peduli. Pokoknya, sekarang juga perintahkanlah lima orang untuk mencari pendekar itu. Katakan padanya, bahwa aku memerlukan pertolongannya!"
  "Baiklah kalau itu keinginan, Ki Dawang. Akan kuperintahkan lima orang untuk mencarinya...," sahut Ki Warso.
  Â
  ***
  Â
  Matahari tepat berada di tengah-tengah. Sinarnya yang begitu garang, menjilati atap sebuah padepokan yang berpagar tembok setinggi setengah tombak. Di beranda bangunan utama padepokan, tampak seorang yang telah lanjut usia, duduk bersila berhadapan dengan lima orang laki-laki berba-dan kekar.
  "Hm. Ada apa guru kalian mengundangku...?" tanya orang tua berusia sekitar enam puluh enam tahun itu tersenyum kecil.
  "Kami tidak tahu, Ki Ageng Sela," sahut salah satu dari lima orang berbadan kekar yang bertindak sebagai juru bicara.
  "Kelihatannya ada sesuatu yang p enting. Hm, berapa orang yang beliau undang?" tanya orang tua yang ternyata bernama Ki Ageng Sela.
  Ki Ageng Sela memang terkenal sebagai Pemimpin Padepokan Teratai Putih. Sementara kelima tamunya saat ini bermaksud mengundangnya, karena memang ada sesuatu yang penting dalam dunia persilatan.
  "Pada saat kami berangkat, empat kelompok dari teman-teman kami mendapat tugas yang sama. Hanya saja, kami tidak tahu ke mana mereka pergi…â€
  "Oh, begitu. Baiklah. Katakan pada guru kaÂlian, aku akan datang memenuhi undangannya..."
  "Baiklah. Kalau demikian, kami pamit dulu, Ki," sahut si Juru Bicara itu seraya bangkit berdiri, diikuti keempat kawannya.
  Mereka segera menjura memberi hormat. Dan orang tua itu hanya tersenyum seraya mengangguk pelan.
  Ketika kelima orang itu keluar, Ki Ageng Sela mengantarkan sampai ke pintu depan. Di depan sana, kuda-kuda telah menunggu. Begitu naik ke punggung kuda masing-masing. kelimanya segera menggebah. Baru ketika mereka hilang dari pandangan, orang tua itu beranjak masuk ke dalam bangunan utama padepokan lagi.
  "Sumaji...!" teriak Ki Ageng Sela, begitu berada di dalam.
  Tak lama, seorang pemuda berusia tiga puluh tahu bertubuh tegap menghampiri dari arah belaÂkang dan dia langsung memberi salam hormat.
  "Guru memanggilku?" kata pemuda yang dipanggil Sumaji.
  Orang tua itu mengangguk.
  "Ke mana Nila Dewi..?" tanya Ki Ageng Sela.
  "Adik Nila Dewi masih berada di taman belaÂkang..."
  "Hm...!" Orang tua itu bergumam sesaat"
  “Perlukah kupanggilkan, Guru. .?" tanya SuÂmaji.
  "Tidak usah. Biar aku yang ke sana...." kata Ki Ageng Sela seraya melangkah pelan ke arah pintu belakang.
  Halaman belakang rumah ini memang luas. Apalagi di sebelah kiri pada jarak lima belas tombak dari bangunan belakang, terdapat sebuah kebun bunga yang cukup luas dan tertata asri. Di tengah- tengah, terdapat sebuah kolam ikan yang dipenuhi berbagai macam ikan hias warna-warni. Begitu indah dilihatnya.
  Walaupun hanya beberapa pohon saja yang berbunga, sementara yang lainnya masih kuncup, tapi tidak mengurangi keindahan taman ini. Dari beberapa bagian yang belum teratur, agaknya taman bunga ini baru saja dibuat. Dan sejak cucu satu-satunya yang belakangan ini sering murung dan mengurung diri di kamarnya, Ki Ageng Sela menemukan cara untuk menghibur Nila Dewi. Kebetulan, gadis itu senang akan keindahan. Maka dibuatkan taman bunga untuk Nila Dewi. Orang tua itu berharap, gadis belia ini akan terhibur. Dan nyatanya, Nila Dewi memang menyukainya. Namun, ternyata itu pun tidak menghilangkan kemurungannya. Taman bunga itu malah dijadikan sebagai pelarian yang lain, di samping mengurung diri di kamar.
  Kini Nila Dewi yang berbaju biru dengan rambut panjang terurai itu tengah menjulurkan kaki kirinya, mempermainkan air kolam. Sementara dagunya bersandarkan di lutut kanan yang ditekuk di bibir kolam. Sejak tadi dia berbuat begitu tanpa mempedulikan keadaan di sekelilingnya.
  "Ehem..."
  Gadis itu menoleh sekilas, tampak Ki Ageng Sela yang mendehem tadi telah berada di belakangnya. Namun kembali kakinya mempermainkan air kolam, tanpa peduli pada orang tua itu sedikit pun.
  Ki Ageng Sela segera mendekat dan duduk di sampingnya. Kepalanya lantas mendongak ke atas, melihat langit berwarna cerah. Awan putih berkelompok kecil-kecil, berusaha menghalangi bias biru di langit yang bersih. Sesekali terlihat sekawanan burung kecil melintas.
  Orang tua itu menghela napas pendek. Kemudian pandangannya beralih ke dalam kolam. Tampak tujuh ekor ikan mas sebesar telapak tangan berenang ke sana kemari, seolah ketakutan karena merasakan air kolam sejak tadi berguncang terus. Sementara, seekor ikan mas berbadan paling besar yang berwarna merah belang-belang hitam, dengan tenang berenang di sudut lain yang agak jauh dari riak air akibat ayunan kaki gadis itu.
  "Ketujuh ekor ikan mas ini sebenarnya dari induk yang berbeda. Ketika ditangkap, mereka telah kehilangan induknya. Entah ke mana. Mungkin diÂtangkap orang lain, kemudian dimasak. Siapa yang tahu...," kata Ki Ageng Sela membuka pembicaraan.
  Nila Dewi sama sekali tidak mempedulikan. Bahkan sedikit pun tidak meliriknya.
  "Tiba di kolam ini, mereka menjadi kompak dan bersatu serta menganggap yang lainnya adalah saudara. Juga ikan mas yang besar itu. Sama sekali bukan induk atau saudaranya. Namun mereka menganggap induk pada ikan yang paling besar. Coba lihat. Mereka berenang mendekatinya, dan merasa tenteram berada di dekatnya...," lanjut orang tua itu.
  Tetap saja Nila Dewi sama sekali tidak terusik deh kata-kata Ki Ageng Sela itu.
  "Kehilangan dan merasa hidup tidak berguna, adalah hal yang salah. Mereka tidak tahu apa yang terjadi esok hari. Mungkin ada seorang kelaparan yang kebetulan lewat sini, ikan itu lantas ditangkapnya. Kemudian, dibakar lalu disantapnya. Namun ikan-ikan ini tetap merasa kalau mereka harus mengisi hidupnya dengan penuh kegembiraan, tanpa mempedulikan apa yang akan terjadi kemu­ dian. Sebab, segala sesuatunya bukan kuasa mere­ ka..."
  "Eyang.... Aku perlu waktu untuk melupakan Kakang Bayu...," sahut gadis itu, seperti mengerti ke mana tujuan perkataan orang tua itu.
  Ki Ageng Sela menghela napas. Kemudian dielus-elusnya rambut cucunya itu.
  "Kehilangan orang yang dicintai memang menyakitkan. Namun tidak berarti kalau kita harus menyakiti diri terus. Segala sesuatu alam semesta ini telah diatur Hyang Widhi. Kita harus tabah menerima segala sesuatu, meskipun terasa menyakit­ kan...."'
  "Kematian Kakang Bayu amat menyakitkan, Eyang … "
  "Aku tahu, Cucuku. Tapi bukankah dia telah menemukan ganjaran atas perbuatannya...? "
  Nila Dewi terdiam beberapa saat.
  "Sudahlah. Kau harus melupakan peristiwa yang menyakitkan ini perlahan-lahan dan jangan menyiksa diri dengan terus bersedih..."
  "Aku tidak tahu harus bagaimana lagi, Eyang...."
  "Bukankah kau tidak hidup sendiri? Ada Eyang yang selalu menjagamu? Tidakkah kau merasakannya?"
  Gadis belia itu mengangguk pelan. Langsung menatap wajah Ki Ageng Sela.
  "Maafkan kalau aku telah banyak menyusahkan, Eyang..."
  "Kau tidak menyusahkanku, Cucuku. Nah, cobalah perlahan-lahan menghapus rasa sedih di hatimu...," ujar orang tua itu, lembut.
  Nila Dewi kembali mengangguk lemah.
  "Tiga hari lagi, Eyang akan ke Padepokan Merak Emas memenuhi undangan mereka. Di sana banyak murid wanitanya. Kau boleh ikut, kalau suka. Karena di sana kau bisa memperoleh banyak kawan...," ajak Ki Ageng Sela seraya tersenyum.
  "Eyang inginkan aku ikut? "
  "Pilihan itu terserah padamu…
  Nila dewi tersenyum.
  "Baiklah... Aku akan ikut," ujar gadis itu sambil mengangguk pelan.
  "Begitu lebih baik. Nah, ayo kita makan siang bersama," ajak orang tua itu seraya bangkit berdiri.
  Nila Dewi bangkit berdiri. mengikuti Ki Ageng Sela yang telah lebih dulu melangkah.
  Â
  ***