Tikam Samurai - 524

Diposting oleh Saiful bahri dari situbondo pada 21:04, 31-Agu-15

Cerita Silat | Tikam Samurai | Karya Makmur Hendrik | Tikam Samurai | Cersil Sakti | Tikam Samurai pdf

Tiga Naga Sakti - Asmaraman S. Kho Ping Hoo Pendekar Rajawali Sakti - 118. Dukun Dari Tibet Tikam Samurai IV - Makmur Hendrik Pendekar Rajawali Sakti - 212. Setan Alam Kubur Bag VI Hijaunya Lembah Hijaunya Lereng Pegunungan

ang tercampak sekitar sepuluh depa dari rakit. Thi Binh memekik.
  “Menjauh dari sini, Han Doi…!” teriak si Bungsu, yang sudah tegak di dalam air sebatas pinggang.
  Namun saat itu pula kepala naga raksasa itu muncul.
  Kali ini kepalanya menyapu rendah di atas permukaan air, dengan tubuh yang nampaknya melilit ke kayu besar di dalam kabut, moncongnya yang menganga lebar menyabet seperti lengkung sabit ke arah tubuh si Bungsu.
  Kali ini si Bungsu juga tetap tak bisa menembak.
  Waktunya sangat singkat, namun dengan tubuh tegak di dalam air, dia menghadap ke arah datangnya sambaran moncong kepala bertanduk yang amat menjijikkan, sekaligus mengerikan itu.
  Baik Duc Thio, Han Doi maupun Thi Binh hanya bisa menatap dengan terpaku di rakit mereka, melihat moncong ular besar itu menganga lebar menyambar ke arah si Bungsu. Menjelang moncong ular besar itu sampai, si Bungsu menegakkan posisi bedilnya lurus- lurus dan merentangkan tangan kanannya yang berbedil itu ke arah datangnya sambaran moncong ular itu.
  Thi Binh terpekik, Duc Thio dan Han Doi merasa dilumpuhkan tatkala melihat tubuh si Bungsu disambar ular itu dan terangkat tinggi ke udara.
  Namun hanya sesaat, tubuh si Bungsu kemudian terlempar kembali ke air. Sementara kepala raksasa itu kelihatan meliuk di udara. Liukannya kemudian makin keras, menghempas dan membanting serta membuncah kabut, pohon dan dedaunan di mana tubuhnya melilit kukuh.Kini kabut di selingkar pohon kayu besar dimana tubuhnya melilit, terkuak. Ular besar itu tetap menghempas dan mulutnya tetap ternganga. Ternyata mulutnya tak bisa dikatupkan.
  Tersekang oleh bedil si Bungsu.
  Ternyata itulah jalan yang diambil si Bungsu. Dia tak punya kesempatan untuk menembak. Kendati badannya demikian besar, namun gerakan makhluk raksasa ini demikian cepat. Satu-satunya yang terlintas di otak si Bungsu adalah menyekang moncong ular itu dengan bedilnya.
  Maka ketika moncong menganga lebar itu menyambar ke arahnya, dia menegakkan bedilnya.
  Dan siasat serta perangkapnya mengena. Moncong ular itu menyambar dengan cepat, sekaligus bedil di tangan si Bungsu masuk ke moncongnya dan terhenti dengan posisi tegak pada bahagian pangkal moncongnya.
  Merasa tubuh si Bungsu sudah berada di moncongnya, ular itu mengatupkan mulutnya, kemudian meliukkan kepala ke atas. Tubuh si Bungsu ikut terangkat karena dia masih memegang bedilnya dengan kuat.
  Tubuhnya baru terlepas dan tercampak setelah kepala ular itu menghempas-hempas di udara.
  Makhluk raksasa itu nampaknya menjadi berang karena tak bisa mengatupkan mulutnya. Tersekang oleh bedil yang masih tertegak di bahagian pangkal kerongkongannya. Dalam keadaan menghempas itu terdengar suara aneh keluar dari moncong makhluk raksasa itu. Perpaduan seperti suara pekik ayam jantan dan pekik monyet.
  Si Bungsu dengan cepat berenang kembali ke arah rakit. Duc Thio menolongnya naik. Begitu dia sampai di atas rakit, Thi Binh memeluknya dengan erat. Gadis itu menyurukkan mukanya di dada si Bungsu sambil menangis terisak-isak.
  “Jangan tinggalkan aku… demi Tuhan, jangan tinggalkan aku…” bisiknya di antara isak tangis.
  Duc Thio menyemburkan peluru ke arah makhluk raksasa yang seolah-olah membuncah hutan belantara di dalam kabut sekitar dua puluh meter dari rakit mereka.
  “Jangan habiskan peluru. Jika bedil di mulutnya tak terlepas, dia akan mati sendiri. Mungkin dalam sebulan, mungkin dalam dua bulan….” ujar si Bungsu sambil meraih galah.
  “Han Doi ambil galah. Kita harus segera menyingkir dari sini. Raksasa ini bukan yang bertemu dengan kita tadi pagi. Ini yang jantannya, kepalanya bertanduk.
  Yang pagi tadi betinanya. Dia pasti tak jauh dari sini…”
  ujar si Bungsu.
  “Thi Binh…. duduklah, ya. kita harus bergerak cepat…”
  ujar si Bungsu membujuk gadis itu agar mau melepaskan pelukan dari tubuhnya.
  Thi Binh memang melepaskan pelukannya namun tak jauh-jauh. Dia menyelosoh duduk di lantai rakit.
  Namun kedua tangannya masih memeluk kaki si Bungsu. Si Bungsu dan Han Doi mulai menancapkan galah ke dasar rawa, kemudian menekannya sehingga rakit itu menjauhi neraka yang masih saja membuncah hutan di belakang mereka.
  “Makhluk itu ada dua ekor…?” tanya Duc Thio yang masih berlutut di rakit sambil memegang bedil dan menatap kepala ular besar itu yang sebentar-bentar muncul dari dalam kabut.
  “Ya. Tadi pagi ketika akan membuat rakit ini saya dan Han Doi bertemu dengan yang betina dalam jarak yang amat dekat…” ujar si Bungsu sambil menekan galah ke arah ke belakang kuat-kuat.
  Dengan dua orang lelaki dewasa yang menggalah, rakit itu meluncur dengan cepat menyeruak di antara pepohonan besar, menembus kabut dan dedaunan, menjauh dan meninggalkan tempat yang amat menakutkan itu.
  Rawa ini sungguh-sungguh rawa maut. Nampaknya memang tak seorangpun yang pernah menerobosnya.
  Mungkin juga tidak pernah dijejak tentara Amerika atau Vietnam Utara maupun Selatan dalam pertempuran dahsyat selama belasan tahun.