Pedang Kunang Kunang - 48

by Saiful bahri dari situbondo on 07:44 PM, 19-Jan-14

Cerita Silat | Pedang Kunang Kunang | Oleh SD Liong | Pedang Kunang Kunang | Sakti Cersil | Pedang Kunang Kunang pdf

Pendekar Yang Berbudi 44 Pendekar Yang Berbudi 45 Pendekar Yang Berbudi 46 Pendekar Yang Berbudi 47 Pedang Kunang Kunang 44 Pukulan Hitam 8 Pukulan Hitam 9 Pukulan Hitam 10 Pukulan Hitam 11 Pendekar Yang Berbudi 43

BARU ia merenung sampai disini tiba-tiba si Wajah buruk kedengaran bertanya pula : „Saudara lm, ada sebuah hal yang kurasa aneh. Maukah engkau menerangkan? " „Kalau bisa, tentu akan kuterangkan !" „Maharaja yang begitu sakti mengapa harus me makai kain kerudung muka? Kurasa banyaklah diantara orang2 itu yang ingin sekali melihat wajah aseli dari Maharaja!. Dan lagi, kelima Topeng Besi dari lima partai persilatan itu, mengapa ...." „Hm....., engkau lagi2 begitu. Ta usah bertanya, nanti pada suatu hari engkau tentu akan jelas sendiri." „Jadi engkau sebenarnya sudah tahu tetapi tak mau bilang?" „Aku masih ingin hidup beberapa waktu lagi!" „Bolehkah aku menduganya ? " „Lebih baik jangan !" „Mengapa? " „Menduga salah sama artinya dengan tak menduga!" „Kalau dapat menduga tepat?" „Berarti hari kematianmu sudah tiba !" Si Wajah - buruk tertegun. Beberapa saat kemudian ia berkata seorang diri : „Kurasa Maharaja itu, tentu memiliki wajah yang tak boleh dilihat orang. Mungkin karena cacad hidung atau telinganya sahingga wajahnya lebih buruk dari aku.......!" Baru berkata begitu tiba- tiba Penjaga Naraka itu tergetar tubuhnya: dan cepat membentak bengis : „Tutup mulutmu! Jika engkau masih ngaco belo tak keruan, jangan sesalkan aku tak kenal persahabatan dan melaporkan engkau pada Maharaja !" Ancaman Penjaga Neraka itu ternyata mempunyai daya kekuatan yang besar. Si wajah-buruk seperti terbungkam. „Heran....," diam2 dalam kolong meja Gak Lui menimang dalam hati, menurut keterangan mendiang Gi-hu (ayah angkat), pada batang pedang milik si Hidung Gerumpung itu terdapat bekas guratan huruf silang. Tetapi kalau menurut keterangan Bok Kiam-su, orang yang datang kepadanya untuk membikin betul pedangnya itu, baik kata2 maupun nada suaranya tiada mencurigakan. Ka1au begitu pembunuh itu sukar ditentukan, seorang atau dua orang. Tetapi pembicaraan kedua anak buah Maharaja itu, memberi bukti yang nyata. Mungkin Maharaja itu tak lain yalah Hidung Gerumpung itu sendiri. Oleh karena luka pada hidungnya itu sudah ditutup maka nada bicaranyapun tak berbeda dengan orang biasa. Hanya saja ia tetap mengenakan kerudung muka karena takut dilihat orang !" Tengah Gak Lui tiba pada pemikiran begitu, tiba2 terdengarlah langkah kedua orang itu keluar dari biara. Sejenak memandang cuaca, berkatalah Penjaga Neraka. „Waktu sudah hampir habis, mari kita berangkat. Ingat, nanti yang akan meaghadap Maharaja berjumlah 28 tokoh dari berbagai partai persilatan. Tak boleh kurang dan lebih !" kata Penjaga Neraka. „Kalau begitu yang membawa Ki-pay (lencana emas) tak boleh masuk?" tanya si WajahBuruk. „Benar....! Mereka harus menunggu diistana Yok-ong!" Terdengar kesiur angin dari kedua orang yang melesat keluar dari biara. Gak Lui hendak meringkus Penjaga Neraka itu. Karena orang itu rupanya tahu banyak sekali tentang rahasia Maharaya. Tetapi tiba-tiba ia mendapat pikiran lain: „Apalagi orang itu juga serupa dengan Tabib jahat Li Hui-ting yang tahan siksaan, bukankah malah akan membubarkan pertemuan Maharaya dengan tokoh- tokoh persilatan itu?" Akhirnya ia memutuskan lebih baik diam2 mengikuti pertemuan itu untuk membekuk Maharaya. Ia segera keluar dari biara dan menyusul kedua orang tadi. Istana Yok-ong-kiong merupakan sebuah , bangunan yang terlantar. Ruangan besar dalam istana itu gelap dan menyeramkan. Diluar istana telah penuh berpuluh orang yang mukanya memakai kain kerudung. Seratusan tombak dari pintu gerbang, tampak dua orang yang menyeramkan sedang melakukan pemeriksaan kepada orang2 yang hadir disitu. Yang membawa Kim-pay, semua disuruh menunggu diluar istana. Sedang yang membawa pertandaan rahasia dari batu mustika, dipersilahkan masuk kedalam. Selain pertanyaan dari kedua orang petugas yang menimbulkan suara berisik pelahan itu, sekalian yang hadir tak ada yang buka suara. Keadaan disekeliling istana itu sunyi sekali. Tiada seorangpun yang berani bicara, lebih2 berani sembarangan bergerak. Karena kesibukan pemeriksaan tanda pengenal dan- suasanaa yang diliputi ketakutan dan keseraman itu maka tiada seorangpun memperhatikan bahwa dibalik sebatang pohon tua yang menjulang, tinggi sekali, bersembunyi sesosok tubuh yang tak lain adalah Gak Lui. Dia juga mengenakan pakaian warna hitam dan mukanyapun dikerudungi dengan kain hitam pula. Tangan kiri memegang sebuah Kim-pay dan tangan kanan menggenggam sebuah batu mustika. Diam2 ia menghitung jumlah orang yang datang. „duapuluh lima.....! Duapuluh enam...... duapuluh tujuh...... !" Yang diperboleh masuk kedalam istana, dari jumlah 28 orang hanya kurang seorang saja. Mereka telah datang semua. Tetapi yang seorang itu, masih belum tampak datang ...... mungkin terlambat. Gak Lui memperhatikan kedua anak buah Maharaya yang menjaga pintu, antara lain si Penjaga Neraka dan si Wajah Buruk. Dilihatnya kedua orang itu juga gelisah dan tak sabar. Berulang kali mereka mengangkat kepala dan memandang kesebelah muka. Gak Lui segera berkisar tempat, pikirnya : „Tentulah waktunya sudah tiba ! Orang itu tentu tak datang. Aku harus lekas2 menggunakan kesempatan untuk menerobos masuk agar jangan membuang waktu yang berharga....." Dengan hati2 sekali Gak Lui meluncur turun dari pohon dan dengan gerakan yang sukar diketahui orang, ia sudah tiba dimuka pintu gerbang. Tetapi serempak dengan itu, dari pohon disebelah muka, juga tampak sesosok tubuh meluncur turun dan menyusulnya. „Hai, siapakah dia ......?" diam2 Gak Lui terkejut sekali. Cepat ia lambatkan jalannya dan orang itupun sudah berada disebelahnya. Bermula Gak Lui segera hendak menunjukkan pengenal batu mustika agar lekas2 masuk kedalam istana. Tetapi karena orang yang tak dikenal itu muncul, maka ia agak terlambat. Penjaga Neraka dan si Wajah Burukpun terkejut. Tetapi orang tak dikenal itu tak menghiraukan lalu cepat2 mendahului menunjukkan benda pengenal, sebuah batu mustika yang berkilau-kilauan. Gak Lui tergetar hatinya. Namun ia tak kehilangan kesadaran. Cepat iapun mengacungkan tangan kiri yang memegang Kim - pay. Penjaga Neraka dan kawan2nya, menatap tanda pengenal yang ditunjukkan kedua orang itu dengan seksama. Gak Lui cepat melepaskan pengerahan tenaga dalam, agar sorot matanya tak diketahui penjaga. Tetapi orang yang datang bersamanya itu, pandang matanya masih memancar sinar yang berkilat-kilat. Diam2 Gak Lui heran : „Aneh, orang ini umurnya sebaya dengan aku tetapi matanya memancar sinar yang begitu berwibawa......" Tetapi Gak Lui tak sempat memperhatikan. orang itu karena ia segera melihat bibir Penjaga Neraka itu bergerak-gerak. Gak Lui mengeluh kaget: „Celaka, rupanya dia curiga, tentu akan mengajukan pertanyaan....." Cepat ia mengatupkan tangan dan sebelum diperintah sudah terus melesat keluar biara. Untunglah karena Penjaga Neraka sedang menumpahkan perhatian kepada pendatang yang mengunjukkan pengenal batu mustika itu, maka tak sempat mengurus Gak Lui. Tepat pada saat Gak Lui melesat keluar gedung, ia mendengar pendatang aneh itu berseru pelahan : „Akulah......" terus melangkah masuk kedalam ruang. „Uh....., menilik keadaannya jelas dia bukan kaum dujana tua tetapi mengapa dapat melalui penjagaan? Apakah dia seorang jago muda dari ke 9 partai persilatan? Ataukah utusan dari lain perguruan? Tetapi tak peduli siapa dia, yang jelas dia telah mengganggu sehingga aku tak dapat masuk kedalam gedung.....!" Terpaksa Gak Lui gunakan telinganya yang tajam untuk berusaha mendengarkan apa yang berlangsung dalam gedung. Dalam usaha itu ia menyelinap mendekati jendela. Lebih kurang satu tombak dari jendela tiba? dari dalam gedung itu terdengar suara orang berseru menggeledek: „Tangkap mata 2.....!" Teriakan itu begitu mendadak sekali sehingga Gak Lui pun terkeju, pikirnya : "Adakah dia mengetahui diriku ....... " Bum ........ bum ...... terdengar dua buah pukulan beradu keras. Kerasnya mirip dengan ledakan. Angin dari pukulan itu berhambur keluar dari jendela sehingga kain kerudung mukanya ikut bergoncang-goncang. „Celaka.... ! Pukulan orang itu dahsyat sekali, kemungkinan pemuda tadi tak dapat lolos ...... baru ia memikir begitu, perobahan yang terjadi dalam gedung berlangsung lebih cepat. ---oo0oo---

SEKETIKA dari gedung yang gelap ruangannya itu, melayang keluar sesosok tubuh. Ternyata sosok tubuh itu adalah pemuda yang masuk tadi. Dengan gunakan ilmu meringankan tubuh yang tinggi, ia melayang keluar. Dibelakangnya diikuti oleh 3 orang berkerudung muka yang menyerangnya dengan pukulan dan pedang. Capat Gak Lui dapat memastikan bahwa orang yang berteriak menggeledek tadi tentu si Maharaja. Dan dia tentu tak ikut mengejar melainkan masih berada dalam gedung. Gak Lui tak sempat memikirkan untuk membantu pemuda itu lagi, ia harus menggunakan kesempatan sebaik itu untuk menyerang Maharaja. Selain itu ternyata pemuda itupun cerdas dan tangkas sekali. Walaupun ia tahu bahwa disekeliling penjuru terdapat musuh tetapi ia tak gentar sedikitpun juga. Bukannya melarikan diri kearah lapangan kosong, ia malah condongkan diri melayang kearah kawanan orang yang sedang menunggu diluar istana itu. Kawanan orang yang berada diluar gedung itu memang terdiri dari kaum penjahat tetapi mereka pun tak berani bertindak sebelum mendapat perintah. Mereka membiarkan ketiga orang berkerudung itu mengejar pemuda tadi. Karena kuatir mengganggu maka kawanan orang itupun segera menyisih kesamping. Melihat itu si pemuda itu bergerak cepat sekali sehingga tinggalkan pengejarkan beberapa tombak dibelakang. Dalam sekejap mata, pemuda itu menyelinap kesamping Gak Lui. „Lekas menyingkir, durjana itu sakti benar!" seru pemuda itu pelahan seraya melesat kebelakang. Gak Lui terkejut dan berpaling tetapi pemuda itu sudah jauh. Hanya bau harum yang menghambur dari tubuh pemuda itu masih terasa menyentuh hidung Gak Lui. Gak Lui makin kaget. Ia tak asing lagi dengan bau harum itu. Dipandangnya sosok tubuh pemuda itu dan diam-diam ia berdoa agar pemuda itu dapat selamat lolos dari bahaya. Tetapi rombongan anak buah Maharaja yang berkumpul dalam istana itu, banyak sekali jumlahnya. Sekelompok tokoh-tokoh yang berjumlah belasan orang segera memburu keluar dari belakang gedung sehingga pemuda itu terkepung dari muka dan belakang. Dan tiba-tiba pula, pintu gerbang istana itu terbuka sendiri. Dalam ruang gedung yang gelap seram, belasan jago jago sakti tengah mengerumuni sesosok tubuh yang mirip dengan sebuah patung batu. Walaupun orang itu mukanya tertutup kain kerudung tetapi dari sikapnya yang congkak dapatlah diduga ia tentu seorang tokoh yang berpengaruh dan ganas sekali. ...... „Heh..., heh..., heh ...." orang aneh itu tertawa mengekeh. Sengaja nadanya dibuat seseram mungkin untuk menutup suaranya yang parau. Tergetar tegang hati Gak Lui mendengar tertawa aneh itu. Diam-diam ia menduga, orang itu tentulah si Maharaja. Cepat ia salurkan tenaga dalam dan, mengisar langkah kemuka. Bersiap-siap untuk menerobos barisan musuh yang ketat agar sekali serang ia dapat menusuk orang aneh itu. „Budak bernyali besar ! Engkau murid dari perguruan mana ?" tiba2 orang aneh itu berseru kepada pemuda tadi. Nadanya tetap dilantangkan tinggi. „Engkau tak perlu takut !" sahut pemuda itu. „Heh..., heh.....! Boleh juga kegarangamu itu, budak! Bukankah namamu Gak Lui !" „Bukan ...!" „Bukan....?" „Siapa sudi membohongimu ...!" Orang aneh itu terbeliak. Matanya berkilatkilat memancar api. Kemudian ia berseru memberi perintah : „Sam-coat, dengarlah perintah..!" „Ya.... !" ketiga orang berkurudung yang memburu pemuda itu tadi serempak berseru. Nadanya amat menghormat. Mereka bertiga disebut Samcoat atau lengkapnya Hong-ke-sam-coat atau Tiga Algojo dari istana Maharaja. „Apakah kalian sudah mengetahui aliran perguruan budak itu ?" „Hatur bertahu kepada Maharaja, bahwa kami belum ......" ,,Hm ...," orang aneh itu mendengus gemuruh lalu membentak :„Coba seranglah lagi !" ,,Baik !" Ketiga Algojo itu serempak ayunkan tangan menghantam pemuda ' itu. Keganasan : pukulan ketiga Algojo itu benar2 membuat orang leletkan lidah. Pemuda tak dikenal itupun tak berani menangkis. Dengan gerak yang aneh ia berputar kaki seraya mencabut pedangnya yang berbentuk aneh. Pedang berwarna kebiru-biruan tetapi sinarnya memancar burat2 merah datang macam lidah ular. Sret ...... . pedang menerobos pukulan lawan dan ujung pedang dapat menusuk pecah kayu salah seorang Algojo itu. Jurus serangan pedang itu benar2 luar biasa sekali. Diam2 Gak Lui menghela napas longgar. Karena tak berhasil menyerang, ketiga Algojo itupun menyurut mundur tiga langkah. Diluar dugaan orang aneh tadi tak marah karena tiga Algojonya gagal, kebalikannya ia malah tertawa seram dan puas : „Ho...., kiranya engkau ini anaknya Li Leng-ci, ha..., ha...., ha, ....." Munculnya putera dari Kaisar Persilatan Li Liong-ci, benar-benar mengejutkan sekalian anak buah Maharaja yang hadir disitu. Diam-diam mereka terbeliak kaget dan kucurkan keringat dingin. Juga Gak Lui tetkejut seperti disambar petir. „Ah...., kiranya Li Hud-kong! Ibunya permaisuri Biru telah menolong adik Hong-lian Sedang Dewi Tong- tingpun telah menolong adik Siu-mey. Budi itu harus dibalas sepenuhnya ......" Serentak Gak Luipun bersuit dan laksana seekor burung rajawali, ia gunakan gerak Rajawali merentang-sayap untuk melayang diudara dan terus meluncur turun dimuka pemuda Li Hud-kong. Dan serentak mencapat kedua pedangnya, ia berseru garang : „lnilah Gak Lui, hayo, serahkanlah jiwamu, Maharaja durjana !" Gerakan Gak Lui itu makin menambah kejut sekali anak buah Maharaja yang berada disitu. Tring..., tring...., tring...., mereka berhamburan mencabut senjata masing-masing. Suasana penuh dengan ketegangan yang menyala-nyala. Tetapi diluar dugaan, orang aneh yang diduga Maharaja itu malah makin gembira. Maju selangkah ia tertawa mengekeh : „lnilah yang dikata, pucuk dicinta, ulam tiba. Dicari kemana-mana tak dapat, kiranya malah datang sendiri. Dua orang budak yang hendak kucari, malam ini muncul bersama sama ......" „Yang hendak, mencari kepadamu untuk menyelesaikan perhitungan, adalah aku. Dan saudara Li ini ...... sama sekali tiada sangkut pautnya! bentak Gak Lui lantang. Sambil kebutkan lengan jubahnya, orang aneh itu menjahut dengan nada iblis : „Aku hendak mencari bapaknya ......." „Tutup mulut! Kalau engkau memang berani, carilah Kaisar. Cara- cara yang engkau gunakan untuk menangkap puteranya, sungguh hina dan pengecut !" bentak Gak Lui. Maharaja itu tertegun sejenak, Diam2 ia mengatur siasat, ujarnya : „Kalau begitu, engkau menginginkan aku supaya melepaskannya ?" „Hm......." „Anggaplah engkau hati ksatrya. Dapat kulepasnya tetapi harus menjawab sebuah pertanyaan !" Karena hati merangsang, seketika Gak Lui berseru menyambut: „Pertanyaan apa.....?" „Jika ehgkau hendak menolongnya, engkau harus menjawab pertanyaanku itu. Kalau tak mau pun tak memaksa dan tiada perundingan lagi !" Gak Lui terdesak dalam kesulitan. Jika ia tak mau memberi jawaban tentu akan melihat pada pemuda Li Hud-kong itu. Tetapi kalau menjawab, ia kuatir orang akan menanyakan tentang perguruannya Dengan begitu berarti ia melangar sumpahnya ........ Ia merenung beberapa saat. Tiba2 wajahnya berobah cerah dan dengan lantang ia berseru : „Baik, aku bersedia menjawab pertanyaanmu. Lepaskan ia pergi dulu.....!" Orang berkerudung hitam itu tertawa mengekeh lalu berseru memberi perintah kepada anak buahnya supaya memberi jalan kepada pemuda Li Hud-kong. Kawanan anakbuah Maharaja itu segera menyisih kesamping untuk memberi jalan kapada pemuda itu." Tetapi diluar dugaan Li Hud-kong bukan ngacir pergi, melainkan malah maju kemuka dan tertawa nyaring : „Maksudmu melepas aku pergi. supaya aku tak dapat saling berhubungan dengan dia, bukan ?" „Hm ...... " „Kalau begitu aku tetap tinggal disini untuk menyaksikan ramai2 disini !" „Oh ...!" kawanan anak buah Maharaja serempak mendesih kaget. Seorang Gak Lui saja sudah cukup merepotkan apalagi tambah putera dari Kaisar Persilatan. Benar2 menyulitkan sekali. Kalau sampai Kaisar dan Empat Permaisuri akan minta pertanggungan jawab, akibatnya tentu sukar dibayangkan. Tetapi Maharaja sudah siap dengan lain rencana. Segera ia tertawa scram : „Baik ....!" Gak Lui gugup sampai kucurkan keringat dingin, serunya dengan berbisik : „Saudara Li, aku telah menerima permintaan ayahmu. Aku tak dapat membiarkan engkau dalam bahaya. Maka kuminta engkau lekas tingga!kan tempat ini !" Sejenak Li Hud-kong menatap Gak Lui lalu memandang kedalam, gedung. la sengaja melantangkan suaranya : „Saudara Gek, engkau terlalu jujur. Sekalipun meluluskan aku pergi, tetapi sebenarnya dia hendak menipumu dengan mengajukan pertanyaan. Setelah itu dia tentu tetap akan mengejar aku lagi. Maka tetap tinggal disini atau pergi, sama saja artinya ......." „Ngaco!" bentak. Maharaja, „kata2ku sekokoh gunung. Masakan aku sudi menipu kalian anak yang belum hilang ingusnya!" Li Hud-kong menyeringai: „Kalau begitu, omonganmu itu selalu menepati maksudnya?" „Sudah tentu...!" „Saudara Gak," seru Li Hud-kong, seraya berpaling, situa itu menyatakan kalau akan menepati janji. Kalau begitu sekalipun aku tinggal di sini, dia tentu takkan mengganggu aku. Harap engkau jangan kuatir......." Gak Lui gelengban kepala: „ Tidak, orang itu tak boleb dipercaya! " ` „Uh, takut apa? Kalau dia berani menganggu selembar rambutku saja, berarti dia seorang manusia hina yang tak punya moral" Tanya jawab kedua pemuda yang bermaksud menelanjangi akal bulus Maharaja, telah membuat Maharaja marah bukan buatan sehingga pakaiannya sampai gemetar. „Tutup mulut, dengarkan aku hendak mengumumkan, bahwa kali ini aku takkan mengganggu padamu budak liar. Hayo, Gak Lui, lekas engkau bersiap menjawab pertanyaanku!" „Baik, silahkan bertanya! Aku pasti akan merjawab...!" sahut Gak Lui. Maharaja itu menundukkan kepala.... Setelah jerpikir beberapa jenak ia mulai bertanya: „Dimanakah sekarang ...... gurumu?" Pertanyaan ieu tak pernah diduga Gak Lui. Seketika Gak Lui tectegun. Walaupum sederhana kedengarannya pertanyaan itu, namun lingkupannya cukup luas, meliputi asal usul perguruannya, serta tempat beradanya guru dan para angkatan tua dari perguruannya. Dengan begitu ia harus menerangkan dengan jelas. Tetapi dari lain segi, pertanyaan itu juga-membuktikan beberapa kesimpulan. Pertama, bahwa Maharaja yang belum pernah kenal padanya tetapi dalam pertanyaannya tidak menyebutkan nama perguruannya melainkan terus langsung menanyakan tentang gurunya. Jelas hal ini menunjukkan bahwa Maharaja itu sudah kenal pada perguruan Bu-san. Bahkan kemungkinan memang ada hubungannya! Kedua, tidak menanyakan dirinya melainkan gurunya. Kemungkinan orang itu adalah yang mencelakai orang tuanya dahulu. Dalam pertanyan itu, rupanya Maharaja hendak menyelidiki jejak Pedang Bidadari dan Pedang Iblis. Tempo hari pembunuh itu tak sempat membunuh ayah-angkat Gak Lui. Dan setelah ayah angkat Gak Lui mengajarkan ilmu pedang Memapasemas- memotong-mustika, maka Gak Lui telah menggemparkan dunia persilatan karena tindakannya memapasi pedang tokoh2 persilatan. Dengan begitu dapatlah Maharaja nnenduga, bahwa si Pedang Aneh atau, ayah angkat Gak Lui itu bukan saja masih hidup pun malah punya murid. Kemungkinan Maharaja masih ingin mencari tahu anggauta Empat-pedang-Bu-san yang masih hidup. Dengan pertanyaan itu dapatlah diduga bahwa Maharaja itu memang mempunyai rasa ketakutan terhadap Empat-pedang-Bu-san. Setelah membayangkan dugaan2 itu, maka Gak Lui segera menarik kesimpulan: „Mengapa kakek guru khusus mengajar 4 muridnya untuk menghadapi musuh, tentulah bermaksud bahwa ilmu pedang itu harus dilakukan oleh keempat orang baru benar2 memancar kedahsyatan dan kesaktian untuk menumpas-musuh. Andaikata aku dapat mewakili ayah, tak mungkin Maharaja itu begitu ketakutan ...... apakah .... apakah ayahku masih hidup dan menyembunyikan diri di gunung yang sepi ...... ?! ---oo0oo---