Perjalanan Maut - 25

Diposting oleh Saiful bahri dari situbondo pada 22:42, 23-Jul-16

Cerita Silat | Perjalanan Maut | Serial Rajawali Emas | Perjalanan Maut | Cersil Sakti | Perjalanan Maut pdf

Nick Carter - Operasi Cointrin Nick Carter - Tugas Maut Pemberontakan Taipeng - Kho Ping Hoo Rajawali Emas - 43. Pelarian Pulau Neraka Pendekar Mabuk - 137. Duel Asmara


  orang-orang golonganku! Dan telah lama pula kupendam niat dan dendam untukhentikan sepak terjangmu!"
  "Tak ada gunanya kau lakukan tindakan seperti itu!"
  "Pikiran bodoh! Dengan membunuhmu, julukanku akan makin berkumandang dan dipandang orang! Akan banyak orang-orang segolonganku memuji sepak terjangku dengan menghentikansemua perbuatanmu! Dengan kata lain. mengubur julukan dan jasadmu, Rajawali Emas!"
  "Orang ini termasuk orang yang tak pernah puas dengan apa yang dihadapinya. Tindakannya itu sebuah kebodohan. Karena dengan begitu, dia makin melebarkan keinginan sesat orang-orang golongan hitam. Tapi, nampaknya dia tak main-main dengan niatnya. Aku harus bersiaga." Habis berpikir begitu, dengan tenang Tirta berkata,
  "Rasanya sangat sulit bila keinginanmu itu dihilangkan. Aku juga tak bisa lakukan tindakan apa-apa untuk halangi niatmu, kecuali bertahan hidup."
  "Bagus! Sekarang bersiaplah untuk mampus!!" Tirta yang sebenarnya tak mau buka urusan dengan Manusia Segala Murka berkata lagi,
  "Tapi... apakah tak ada cara lain untuk hentikan segala nialmu itu?"
  "Terkutuk!" geram orang penuh brewok itu. Kedua tangannya yang besar mengepal.
  "Jangan banyak bicara lagi! Kematianmu bukan hanya aku dan orang orang segolonganku yang senang! Tetapi juga... Pangeran Liang Lahat!"
  Mendengar ucapan orang, kali ini kepala Tirta menegak. Untuk beberapa saat anak muda dari Gunung Rajawali ini terdiam, hanya pandangi orang dihadapannya. Kemudian dengan suara meragu dia berkata,
  "Pangeran Liang Lahat? Apa hubungannya dengan orang itu?"
  "Jangan berlagak bodoh! Kau pernah hampir bertarung dengannya! Tetapi dengan cara pengecut kau berhasil meloloskan diri!"
  "Gila! Bertarung dengan orang yang sedang kucari? Bagaimana mungkin? Hingga saat ini aku belum tahu siapa orang yang berjuluk Pangeran Liang Lahat itu? Hernmm... nampaknya orang ini mengetahui siapa adanya Pangeran Liang Lahat. Sebaiknya, kupancing dia, barangkali akan membawaku pada satu kejelasan tentang orang yang telah membunuh Pendekar Kail." Memutuskan demikian dengan sikap tenang Tirta berkata,
  "Kau salah besar bila mengatakan aku telah bertarung dengan orang berjuluk Pangeran Liang Lahat! Sampai saat ini aku belum pernah berjumpa dengannya!"
  "Berdustalah sampai kau bosan, Anak muda! Tetapi niatku tak akan pernah surut untuk membunuhmu!" seru Manusia Segala Murka dengan p aras kejam. Sorot matanya makin penuh dengan sinar kebencian. Tirta menggelengkan kepalanya sambil ters enyum.
  "Dari ucapanmu itu, jelas kau tak tahu apa persoalan yang terjadi! Kau hanya menjadi seorang budak dari Pangeran Liang Lahat!"
  "Tutup mulutmu!"
  Tapi Tirta terus berkata-kata,
  "Selama ini, yang kudengar tentang Pangeran Liang Lahat, adalah tokoh kejam yang telah membunuh orang-orang golongan putih! Dan sudah tentu aku akan hentikan sepak terjang biadabnya! Tapi bila kau katakan aku pernah bertarung dengannya, kau salah besar!"
  "Setan terkutuk! Kau terus menerus coba berdusta, padahal aku tahu hanya untuk tutupi rasa takutmu saja!" bentak Manusia Segala Murka. Parasnya kian mengkelap.
  Tirta tersenyum.
  "Orang ini ternyata telah masuk perangkap Pangeran Liang Lahat, orang yang mencoba memperalat Pendekar Kail tetapi ditolak oleh pendekar itu hingga dibunuhnya. Orang yang melukai Dewa Baju Putih karena Dewa Baju Putih juga menolak keinginannya. Tapi sekarang, orang berjuluk Manusia Segala Murka ini mengatakan aku pernah hampir bertarung dengan Pangeran Liang Lahat. Hemm, tentunya orang keparat itu coba menjatuhkan namaku dihadapan Manusia Segala Murkayang memang menaruh dendam padaku. Dandia berhasil. Berarti, Manusia Segala Murka tahu siapa orang itu sebenarnya," katanya dalam hati.
  Masih tersenyum anak muda yang di lengan kanan kirinya terdapat rajahan burung rajawali keemasan itu berkata,