Solandra - 14

Diposting oleh Saiful bahri dari situbondo pada 21:10, 24-Agu-14

,Cerita Cinta | Solandra | by Mira W | Solandra | Cersil Sakti | Solandra pdf

Hantu Di Pegunungan Batu - Karl May Pasangan Sempurna Yang Di Takdirkan Bag II Mimpi Mimpi Terpendam - Mira W Fear Street - Kucing Perempuan Kedua - Mira W

diberi kesempatan melayani suaminya. Masih diberi waktu untuk melimpahkan kasih sayang padanya.
  Hidup terasa begitu indah. Sekaligus begitu cepat berlari. Pada akhir tahun yang kedua, anak sebar kanker Soiandra sudah mencapai paru-parunya. Dia memang tidak merasakan apa-apa, kecuali batuk yang tak kunjung sembuh. Tetapi dia tetap menolak segala macam terapi yang dianjurkan dokter.
  Sayangnya saat itu Sania sudah kembali ke Australia. Dia rujuk dengan pasangannya hanya dua bulan sesudah operasi Soiandra. Paskai
  jadi tidak punya teman untuk membantunya
  membujuk Soiandra berobat.
  "Buat apa lagi," katanya lirih. "Buat apa menambah beberapa bulan umurku kalau harus menderita?"
  "Tapi beberapa bulan itu sangat berarti untuk kita, Andra!" sergah Paskai antara marah dan sedih.
  Marah karena merasa hidup ini begitu kejam padanya. Pada istrinya. Pada mereka. Sedih karena saat yang paling ditakutinya itu sudah menghadang, di depan mata. Saat perpisahan dengan orang yang paling dicintainya.1 Dan dia tidak bisa berbuat apa-apa!
  "Justru karena saat-saat terakhir ini. sangat berharga untuk kita, Mas," bisik Soiandra lembut. "Aku tidak mau kehilangan sedetik pun kebersamaan kita!"
  "Tapi kita tidak boleh menyerah begitu saja, Andra!" desah Paskai putus asa. "Kita harus terus berusaha menyingkirkan penyakit jahanam ini!"
  "Dengan meredam sakit, kurus kering, dan botak? Tidak, Mas. Kalau aku harus pergi, aku ingin meninggalkanmu secantik ketika pertama kali Mas melihatku."
  "5ofandraJ" Paskai hampir tidak mampu lagi menahan air matanya.
  Mengapa hidup begitu kejam pada mereka? Apa salah mereka sebenarnya? Cinta mereka begitu tulus. Mengapa justru harus diakhiri setragis ini?
  "Jangan sedih, Mas," Soiandra membelai wajah suaminya dengan penuh kasih sayang.
  Ketika merasakan jari-jemari istrinya yang halus itu, Paskai harus menggigit bibirnya erat-erat supaya air matanya tidak mengalir. Berapa lama lagi dia dapat merasakan kelembutan belaian tangan istrinya? Ke mana dia harus mencari belaian yang demikian dirindukannya kalau Soiandra sudah pergi nanti?
  "Aku tidak mau kehilangan kamu, Andra.'" desis Paskai getir.
  "Jika sudah sampai waktunya, tidak seorang pun dapat mencegahnya, Mas. Waktu yang sudah dijanjikan itu tidak dapat diundur sedetik pun..."
  "Omong kosong!" sergah Paskai geram. "Kaku begitu buat apa manusia berobat? Buat apa ada dokter?"
  Buat apa aku susah payah belajar? -Buat apa
  aku berjuang untuk menjadi dokter? Menyembuhkan istriku sendiri saja aku tidak mampu!
  Bahkan mengundurkan saat kematiannya saja
  aku tidak bisa!
  "Manusia bisa berusaha, Mas," sahut Soiandra lembut. Bahkan pada saat terakhir hidupnya, ketika Tuhan yang sangat dipercayainya pun seolah sudah meninggalkannya, dia masih tetap memperlihatkan keteguhannya. Kepercayaannya. Kesabarannya. Penyakit yang seganas apa pun tampaknya tidak mampu meruntuhkan imannya. Tidak mampu membuatnya lebur dalam ketakutan dan keputusasaan. "Tapi Tuhan juga yang menentukan."
  "Kalau begitu jangan menyerah, Andra," pinta Paskai pilu. "Biarkan aku membawamu berobat."
  "Tidak ada gunanya lagi, Mas. Jika Tuhan ingin menyembuhkanku, aku bisa sembuh tanpa obat apa pun. Tapi jika waktuku sudah sampai, aku tidak takut menghadap ke hadiratNya."
  "Aku yang takut, Andra! Aku takut kehilan gan kamu!"
  "Jangan takut, Mas. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Karena seandainya jantung
  ini berhenti berdenyut sekalipun, cintaku padamu takkan pernah matt,"
  Akhirnya Paskai menyerah. Dia membiarkan Soiandra memilih cara yang diinginkannya untuk menikmati saat-saat terakiiir hidupnya.
  Paskai menjual apa saja yang masih dapat dijualnya. Dan dia memakai uang yang dimilikinya untuk membahagiakan istrinya.
  Dia tidak memedulikan panggilan ayahnya yang sudah berbulan-bulan menuntut janjinya.
  "Suatu hari aku akan datang ke kantornya,." katanya pada adiknya yang sudah berkali-kali menelepon untuk menyampaikan pesan ayah mereka. Karena Paskai memang selalu menghindar kalau ayahnya yang menelepon. "Saat itu Papa boleh menyuruhku berbuat apa saja."
  Karena saat itu aku memang sudah mati. Hidupku tidak berarti lagi. Persetan Papa ingin menyuruhku bekerja di mana saja. Sebagai apa. Digaji berapa. Aku tidak peduli!
  "Papa bilang kamu pengecut," sambung Paulin kesal. Bosan karena disuruh-suruh terus
  mengontak kakaknya. "Berani berutang, takut
  bertanggung jawab!"
  "Bilang Papa, utangnya pasti kubayar lunas!" geram Paskai sengit.
  "Bagaimana mau bayar, kalau datang saja kamu takut?"
  "Bukan takut, tapi aku tidak punya waktu!"
  Paskai memang tidak punya waktu untuk mengunjungi ayahnya, kecuali ketika suatu hari Soiandra mengajukan suatu permohonan selesai mereka bermesraan.
  "Mas, boleh aku minta sesuatu?"
  "Mintalah apa saja, Sayang," bisik Paskai mesra. "Akan kuberikan apa pun yang kamu minta."
  Kecuali kesembuhan! Karena aku tidak mampu menyembuhkanmu! Aku tidak berguna! Mengalahkan penyakitmU saja aku tidak mampu biarpun aku seorang dokter!
  "Bilang terus terang kaku permintaanku terlalu berat ya, Mas?"
  "Asal jangan minta aku kawin lagi," Paskai tersenyum pahit. "Karena dari sekarang sampai aku mati, istriku cuma kamu."
  "Mas boleh menikah lagi kalau aku sudah tidak ada," Soiandra menyunggingkan seuntai
  senyum haru. "Bukan berarti Mas Pas sudah tidak mencintaiku jika kelak Mas menemukan pengganti diriku..."
  Tidak akan pernah," potong Paskai tegas. Tidak ada seorang pun yang dapat mengganti-kanmu."
  "Aku malah lebih lega kalau ada seseorang yang dapat menggantikanku, Mas," kata Soiandra tulus.
  "Bohong! Mana ada wanita yang mau disaingi."
  "Mungkin selagi masih hidup, Mas. Tapi kalau sudah mati, aku malah senang kalau ada wanita yang bisa mencintai Mas Paskai. Mengurusmu. Memberimu anak..."
  "Sudahlah! Hentikan omong kosongmu! Sekarang apa permintaanmu? Duren? Aku akan mencarinya sampai ke Thailand biarpun lagi nggak musim!"
  Soiandra tersenyum manis. Diciumnya pipi suaminya dengan mesra. Paskai membalas ciuman istrinya dengan penuh kasih sayang. *
  "Aku ingin ke Grand Canyon, Mas," bisik Soiandra lembut. "Apa permintaanku terlalu berat? Tabungan kita sudah habis, kan?"
  Sesaat Paskai tertegun. Soiandra jarang sekali
  mengajukan permintaan. Apalagi kalau dia tahu permintaannya akan memberatkan Paskai. Tetapi saat ini dia minta sesuatu. Dan dia tahu, permintaan itu tidak mudah. Soiandra tahu uang mereka tidak banyak lagi.
  Apakah... waktunya sudah hampir tiba? Apakah Soiandra sudah merasa... mereka hampir berpisah? Karena itu dia ingin berada di suatu tempat yang sangat berkesan bagi mereka?
  Ketika melihat suaminya tertegun, Soiandra salah sangka. Dia mengira Paskai memikirkan biayanya. Karena itu sambil tersenyum manis dia merangkul suaminya.
  "Maafkan aku, Mas," bisiknya di telinga Paskai. "Aku yang tidak tahu diri. Jangan pikirkan lagi permintaanku tadi. Di mana pun kita berada, asal bersamamu, aku sudah merasa bahagia. Lupakan Grand Canyon. Besok kita ke Surabaya, ya? Sudah kangen sama Mama." "Kita akan ke sana," sahut Paskai tegas. Seandainya aku harus merampok sekalipun, akan kukabulkan permintaanmu yang terakhir! "Minggu depan kita ke Grand Canyon. Mau cari batu kali lagi, kan?"
  Didekapnya istrinya erat-erat. Dipejamkan-nya matanya. Dan dibulatkannya tekadnya.
  Tak seorang pun dapat mencegahnya lagi. Tak seorang pun mampu melerainya mengabulkan permintaan terakhir istrinya!
  **,
  "Akhirnya!" cetus ayahnya sinis ketika melihat Paskai muncul di kamar kerjanya. "Akhirnya kamu berani datang juga! Sudah siap membayar utangmu? Bukan cara jantan bersembunyi seperti itu!"
  Paskai tidak memedulikan ejekan ayahnya. Wajahnya sangat serius sampai ayahnya mengerutkan dahi.
  Paskai duduk di kursi di depan meja tulis ayahnya. Dan meraih pulpen yang tergeletak di dekatnya.
  "Saya butuh tiga ratus juta lagi, Pa," katanya sungguh-sungguh sambil menyodorkan pulpen ayahnya, "Kalau Papa ingin saya menandatangani surat perjanjian apa pun, saya akan menandatanganinya tanpa membaca isinya lagi."
  "Khas penjudi yang kalah main," sindir ayahnya setelah rasa kagetnya hilang.
  "Apa pun kata Papa," sahut Paskai dingin. "Ucapkan saja."
  "Asal kamu dapat uang," sambung ayahnya sinis. "Tidak. Kali ini Papa tidak sudi memberimu uang lagi. Papa tidak rela perusahaan ,R bangkrut untuk melunasi utang judimu!"
  "Papa tahu tidak bakal bangkrut kalau hanya memberi saya tiga ratus juta!"
  "Memang. Tapi Papa tidak mau memberimu uang lagi. Tidak sepeser pun!" Paskai menggebrak meja dengan kasar. "Papa mau lihat saya mati?" "Percuma mengancam ayahmu." Sekarang Paskai bangkit dari kursinya. Dia melangkah ke jendela. Dan mengangkat sebuah kursi di dekatnya. Ketika dia mengayunkan kursi itu ke jendela, ayahnya tahu, Paskai serius. Dia tidak main-main dengan ancamannya.
  Kamar kerjanya terletak di tingkat dua puluh. Kalau Paskai membuang dirinya ke bawah, tak ada lagi yang dapat menolongr
  nya____
  "Tunggu!" seru Agusti Prakoso antara marah dan cemas. "Kenapa kamu senekat ini?" "Papa sudah tahu jawabannya!" Paskai melemparkan kursinya dengan sengit. "Kalau Papa
  lebih suka melihat mayat saya terkapar di bawah kantor Papa..."
  "Berapa sebenarnya utangmu?" geram ayahnya penasaran. "Di mana kamu berjudi? Papa dengar kamu sudah tidak kerja, tidak praktik. Istrimu yang seperti malaikat itu tidak bisa mencu'dikmu? Mencegahmu main judi?"
  "Jangan sebut Soiandra seperti itu!" teriak Paskai gemas. "Atau saya hancurkan kantor ini!"
  "Seperti apa?" balas ayahnya sama gemasnya. Lho, siapa dia sampai berani mengancam ayahnya seperti itu? "Papa kan bilang istrimu seperti malaikat! Tidak salah, kan? Katamu dulu dia sangat cantik, baik, dan suci! Dia tidak bisa memuaskanmu lagi sampai kamu harus memuaskan dirimu di meja judi?"
  "Papa mau berikan uang itu atau tidak?"
  "Ini yang terakhir!" Ayahnya menarik laci meja tulisnya dengan geram*. "Sesudah ini, masa bodoh di mana kamu mau bunuh diri, Papa tidak peduli!"
  Agusti mengeluarkan buku ceknya. Dan menandatanganinya. Lalu dengan kasar dilemparkannya cek kosong itu ke atas meja.
  "Kamu boleh mengisinya sendiri," katanya datar. "Asal kamu tahu saja, dananya tidak melebihi satu M."
  "Mana kertas yang harus saya tanda tangani?"
  "Kertas apa?"
  "Kertas kosong. Papa boleh mengisinya apa saja."
  ' "Tidak perlu," sahut ayahnya dingin. "Tanda tangan penjudi apa artinya? Tanda tanganmu tidak berharga sepeser pun!"
  Dengan sengit Paskai meraih sehelai kertas di atas meja tulis ayahnya. Lalu digoreskannya tanda tangannya di atas kertas kosong itu.
  "Saya masih punya rumah," dengusnya kering. "Papa boleh memilikinya kalau saya tidak bisa membayar utang."
  "Rumah yang masih kredit?" seringai di bibir ayahnya begitu menyakitkan. "Kalau bisa dijual, rumah itu pasti sudah ludes juga!"
  Kata-kata ayahnya memang sangat mengiris hati. Tetapi paling tidak, ayahnya masih menyayanginya. Dia tidak rela Paskai bunuh diri di hadapannya. Dan dia masih sudi meminjamkan uangnya.
  Dengan uang itu, Paskai dapat mengabt
  gin an terakhir Soiandra. Membawanya Ice Pantai Barat Amerika. Tempat mereka mengecap bulan madu yang sangat berkesan.
  Tetapi ketika Paskai hendak memulai perjalanan mereka seperti dulu, Soiandra menolak. Dia minta diantarkan langsung ke Las Vegas. Meskipun Soiandra tidak mengatakan alasannya, Paskai tahu apa sebabnya.
  Soiandra takut dia tidak kuat lagi. Meskipun selama setahun terakhir ini dia tidak kelihatan sakit, Paskai tahu, tubuh istrinya semakin lemah.
  "Kamu tidak mau berbasah-basahan lagi de- , ngan suamimu di Universal Studio?"
  "Takut masuk angin, "sahut Soiandra sambil tersenyum tipis.
  "Bukan takut suamimu akan mematahkan rahang orang yang menertawakan bajumu yang basah?"
  "Soiandra tertawa kecil seraya membelai pipi suaminya dengan penuh kasih sayang. Kalau biasanya Paskai merasa nikmat, kali ini dia merasa sedih.
  Pertanyaan itu tiba-tiba saja meruyak hatinya.
  Siapa yang akan membelainya lagi jika
  Soiandra sudah tidak ada? Ke mana dia harus mencari belaian sayang itu jika kekasihnya sudah pergi jauh?
  "Aku ingin pergi ke mana saja bersamamu, Mas," gumam Soiandra lembut. "Tapi aku khawatir menyusahkanmu."
  "Aku akan menggendongmu kalau kamu capek."
  "Gendong saja aku ke bibir Grand Canyon." Tetapi Soiandra tidak perlu digendong. Dia hanya perlu dibimbing untuk mencapai tepi
  jeram.
  Paskai sendiri merasa heran. Tiba-tiba saja dia seperti melihat Soiandra yang dulu. Kuat. Lincah. Riang. Entah dari mana dia memperoleh tenaganya. Padahal