Pendekar Yang Berbudi - 35

by Saiful bahri dari situbondo on 07:40 AM, 16-Jan-14

Cerita Silat | Pendekar Yang Berbudi | Oleh OKT | Pendekar Yang Berbudi | Sakti Cersil | Pendekar Yang Berbudi pdf

Perempuan Paris - Motinggo Busye Penakluk Ujung Dunia - Bokor Hutasuhut Hamka - Di Bawah Lindungan Kabah Arus Balik - Pramoedya Ananta Toer Pandir Kelana - Ibu Sinder Pendekar Mabuk - Perawan Maha Sakti Dewa Arak 48 Tenaga Inti Bumi Pendekar Rajawali Sakti .42 Kembang Karang Hawu Trio Detektif - Penculikan Kolektor Serakah Siti Nurbaya Kasih Tak Sampai - Marah Rusli

Sam.Gan Tauwto mengawasi. Ia dapat menerka kedua anak muda itu dalam kesulitan. "Tan wat muda," katanya, “tak ada halangannya kalian bicara padaku, mungkin pinceng dapat membantu sesuatu." "Tan wat," berarti penderma dan dipakai oleh kaum pendeta sebagai panggilan, sama seperti panggilan "sio cu," penderma juga. Tan wat diambil dari kata-kata sangsekerta, "dana pati". "Eh, buat apa kau ngaco tidak karuan !" Ho Tong menegur. Si polos ini tak sabaran, "Bukankah lebih baik kau segera memerdekakan kami?" Pendeta murtad itu menyeringai. Dia bersenyum sedih. "Mudah bagi pinceng untuk memerdekakan kalian, asal lebih dahulu pinceng telah memperoleh keterangan jelas," katanya, la tidak menjadi gusar dibentak-bentak. Pikiran Pek Kong berubah melihat orang itu demikian sabar. Ia jadi menaruh harapan. "Kalau kau mengatakan demikian, taysu," sahutnya, "kami pun tidak berani berdusta terhadap taysu." Lantas anak muda ini menuturkan tentang bagaimana ia telah menjadi orang tawanan, bagaimana ia bisa meloloskan diri. Tapi ia menutup rahasia tentang pertolongan Tian Ceng. Sam Gan Tauwto diam, pikirannya bekerja. Kemudian ia menghela napas. "Sebenarnya usia Thian Lay Mo Lie sudah lebih dari pada seratus tahun," katanya kemudian. "Adalah diluar dugaan bahwa napsu birahinya masih tetap berkobar-kobar....Hanya heran kenapakah kedua tongcu kami itu boleh membantunya didalam urusan pribadi ini?" Pendeta ini masih mempunyai rasa perikemanusiaan, Iapun benci pada orang orang cabul. Maka itu ia berkesan baik terhadap Pek Kong dan memikir untuk membebaskannya. Hanya, belum sempat ia mengambil keputusan, mendadak tampak dua bayangan orang diluar ruang, dan muncullah kedua tongcu yang ia maksudkan yaitu Beng Sin dan Koh Piauw. Lekas lekas ia untuk menyambut. "Maafkan pinceng, kami tak tahu akan kedatangan Tongcu berdua," katanya hormat. Cit Seng Bong segera melihat Pek Kong dan Ho Tong, yang terikat ditiang ruang tengah. Bukan main girangnya. Ia tertawa dan berkata: "Dengan Lih Hiocu yang bertanggung jawab, benarlah Tong-bok-cee tidak pernah gagal. Mari hiocu, kita jangan sungkan sungkan, kau harus menerima hormatku tiga hadiah dari Pangcu!" Sam Gan Tauwto berlaku hormat mempersilahkan tamu-tamunya duduk. Ia telah berbuat pelanggaran didalam kuilnya, ia telah diusir, tetapi hati-nuraninya belum padam, maka juga tak puas ia dengan kata-kata dan sikap tongcu she Koh itu. “Harap tongcu jangan memuji pinceng!" katanya, sungguh sungguh. "Sekarang ini pinceng justeru memohon petunjuk, entah tongcu sudi memberikannya atau tidak?" Cit Seng Bong belum tahu apa yang hendak diomongkan orang itu, enak saja ia menjawab. "Asal hiocu minta, tak ada yang si orang she Koh tak meluluskan," demikian sahutnya. "Tongcu, pinceng sangat berterima kasih dan bersyukur bahwa tongcu sudi meluluskan permohonanku," katanya manis. "Apa yang pinceng hendak mohonkan bukan lain hanya mereka itu..." ia menunjuk kearah tiang rumah, kepada kedua pemuda yang tertawan itu," supaya dua anak muda itu dapat dimerdekakan." Koh Piauw tercengang. Permintaan itu diluar sangkaannya. Mendadak saja dia menjadi tidak senang dan gusar, maka dengan karena dia mendamprat: "Hai, orang she Lih, kau mirip anjing yang naik joli terhias! Kenapa kau tidak tahu diri? Bagaimana kau berani menentang aku? Aku ingin bertanya, kau mempunyai berapa batok kepala?" Dalam.murkanya itu, tongcu ini segera melompat bangun dari kursinya. Beng Sin terkejut. Ia pun tidak menyangka rekannya demikian mudah menjadi gusar. Sebenarnya Pek Ngo Houw si Harimau Pitak ini kurang senang hatinya terhadap rekannya itu disebabkan Koh Piauw tidak mau mencari keterangan dahulu, siapa sebenarnya si anak muda, yang pandai berlari cepat atau yang tidak mengerti silat. Ia tak kenal Pek Kong atau Tian Ceng, tetapi ia merasa, mesti ada dua orang pemuda yang tersangkut dengan Thian Lay Mo Lie itu. Dan sekarang, tidak keruan keruan rekan ini mendamprat Lih Seng sedangkan tadinya Lih Seng telah bicara dengan baik dan lebih dahulu mengajukan permintaan. Hebatnya lagi, Lih Seng itu adalah seorang hiocu, ketua bagian yang kedudukannya sama setingkat dibawah tongcu. "Sabar, saudara Koh," kata Beng Sin, yang tak menghendaki timbul perang saudara. "Baiklah perkara diusut dahulu, baru kita mengambil keputusan." Lih Seng tidak takut terhadap Koh Piauw, ia hanya kuatir Beng Sin nanti berpihak kepada orang kasar itu. Karenanya ia bersabar sebisanya. "Bukannya pinceng hendak menentang kau, tongcu," katanya lembut, “pinceng hanya mementingkan Partai kita. Thian Liong Pang hendak memimpin dunia Rimba Persilatan, untuk itu sudah tentu dia harus mengutamakan keadilan! Mana dapat kita melakukan tindakan-tindakan yang serampangan. Kenapa kita harus membantu Thian Lay Mo Lie dalam urusan pribadinya terhadap kedua anak muda ini? Itu toh bukan urusan Partai . . . . .." Ciat Seng Bong makin gusar mendengar kata kata si pendeta, telinganya terasa panas sekali, mukanya menjadi merah. Dia berdiri tegak. "Tutup mulutmu!" bentaknya. "Apakah aku dapat disamakan dengan kau? Mana bisa kau mengajari aku?” "Sabar," Beng Sin datang mengetengahi. Ia cemas akan suasana itu. "Mari dengar dahulu kata-kataku si orang she Beng....." Sementara itu Lih Seng sudah bangun berdiri tetapi mendengar suara Beng Sin itu, ia duduk kembali. Koh Piauwpun duduk, karena sahabatnya memintanya. Kemudian Beng Sin memandang kedua rekan itu. Ia merasa mereka itu tak begitu saja akan bertempur. Karena itu, ia lantas mulai bicara lagi dengan sabar: "Thian Lay Sin Lie adalah tamu agung Partai kita. Dia seorang jago selama seratus tahun, tenaga bantuannya sangat diharapkan, karena itu kita harus dapat merendahkan diri. Tentang urusan pribadinya kita tidak berhak mencampurinya. Mengenai anak muda ini, dia dianggap bersalah karena mencoba menyelundup masuk ke dalam gua Cui Lian Tong dengan memakai nama Khong Hu hoat, penegak hukum kita. Dia memasuki gua dimana dia telah mengganggu ketentraman Sin Lie. Untuk menjaga gua itu, Sin Lie telah meminta bantuan Koh Tongcu, dengan begitu Koh Tongcu bertanggung jawab atas kesejahteraan gua. Lalu anak muda ini, dia telah dijamin oleh Koh Tong Cu untuk kembali kegua itu, akan tetapi, baru saja dia keluar dari mulut gua, lantas dia sudah melanggar janjinya, dia kabur melarikan diri.” Pek Kong dan Ho Tong mendengarkan keterangannya Beng Sin itu. Pek Kong memasang telinga karena ia ingin tahu bagaimana Tian Ceng lolos. Ia dapat bersabar. Tapi tidak demikian dengan Ho Tong. Si polos ini naik darah waktu mendengar Pek Kong dikatakan "sudah melanggar janji." Tetapi ia bukannya mencaci, melainkan justeru tertawa. Beng Sin si Harimau Pitak jadi mendongkol, Memangnya dia masih panas hati karena tadi dia dicaci maki si polos. Dia lantas membentak dan mengancam: “Eh, jikalau kau berani tertawa lagi, akan kuhajar kau hingga gigimu rontok!" Ho Tong tidak takut. Tetapi melihat Pek Kong melirik padanya, ia lalu menutup mulut. Beng Sin menyangka anak muda itu takut. Dia tertawa puas agak menghina. Lantas dia meneruskan ceritanya: “Oleh karena itu kita harus membawa orang yang memalsu sebagai Khong Hu hoat ini kepada Thian Lay Sin Lie, supaya Sin Lie sendiri yang memutuskan. Sekarang tinggal orangnya. Pemuda ini belum tentu orang yang harus kita tangkap. Karenanya, menurut aku, haruslah kita menanyakan dahulu kepadanya, supaya urusan menjadi terang, kalau dia lantas diserahkan pada Sin Lie, entah bagaimana kesudahannya nanti. Jikalau benar dia adalah orang yang dicari, urusan beres, kalau tidak, itulah yang sulit. Nah sekarang bagaimana pikiran saudara berdua?" Sam Gan Tauwto diam. Dalam hal itu, ia tidak tahu duduknya perkara, la cuma tahu persoalannya menurut keterangan Pek Kong sendiri. Sebaliknya, Beng Sinpun tidak berani memberi kepastian. Koh Piauw ragu ragu tetapi akhirnya dia mengangguk menyatakan akur. Beng Sin lantas bangun dari tempat duduknya, menghampiri Pek Kong. "Eh, anak muda," sapanya, "bukankah kau telah dengar apa yang kuucapkan barusan? Sekarang urusan terserah kepadamu. Pikirlah baik-baik! Asal kau bicara terus terang, itulah baik bagimu. Kalau sebaliknya, berarti kau mencari jalan keneraka. Nah, bicaralah!" Itu berarti saat hidup atau mati! Pek Kong tahu betul akan hal itu. Tapi ada kesulitan baginya. Mana dapat ia memberikan keterangan yang sebenarnya? Tian Ceng telah menolongnya, tanpa memperdulikan bahaya yang mengancamnya. Kenapa ia mesti membuka rahasia penolong itu? Perbuatan yang sangat tidak berbudi, bahkan jahat! Kalau ia membuka rahasia jiwa Tian Ceng bakal terancam bahaya. Sebaliknya ia sendiri, kalau bicara dengan benar, belum tentu ia bisa bebas..... "Asal aku mengakui aku telah mengelabui Khong Hu hoat, pasti aku bakal dibawa pergi pada Thian Lay Mo Lie," pikirnya lebih jauh. "Disana tentulah aku bakal diperkosa wanita cabul itu. Baiklah aku menyangkal." Maka ia lantas menjawab bengis: "Kau manusia binatang, masih ada mukakah kau untuk menanyakan keterangan padaku? Hari ini Pek Kong sudah terjatuh dalam tangan kalian, segalanya terserah kepada kalian sendiri! Pek Kong tak akan mengkerutkan dahi walaupun dia dibunuh dibelah dadanya!" Pek Ngo Houw tertawa dingin. "Kau ingin dibunuh, bocah?" katanya mengejek. "Tidak, aku justeru tidak mau membunuhmu! Sekarang aku hendak kasih rasa dahulu kepadamu bagaimana sedapnya ilmu Hun Kin Co Kut!" Itu adalah ilmu siksaan "Membagi-bagi Otot dan Mengacaukan Tulang tulang". Begitu dia berkata, begitu Beng Sin menotok Pek Kong beberapa kali dipelbagai jalan darah. Segera juga si anak muda gemetar, tubuhnya merengket dan menggigil, dahinya memperlihatkan otot otot matang biru, peluhnya keluar bercucuran. Dia merasakan nyeri bukan buatan. Tapi dia menguatkan hati, dia merapatkan gigi, tak mau dia mengeluh. Sam Gan Tauto menyaksikan penganiayaan itu. hatinya ngeri, ia tidak tega. Ia merasa kasihan terhadap si anak muda yang ia percaya tubuhnya sangat lemah. Anak muda itu-pun pelajar. Ia lantas memikir untuk campur bicara. Tapi, belum lagi ia membuka mulutnya mendadak terdengarlah suara sangat nyaring dan berisik sekali, lantas debu mengepul naik ! Sebuah tiang patah dan roboh, membikin payon seperti mau ambruk! Dan itulah perbuatannya si Ho Tong si polos. Tiat Lohan tidak tega menyaksikan kawannya disiksa, darahnya naik tanpa dapat dicegah lagi. Karena ia diikat kepada tiang, ia lantas meronta membikin tambang pengikatnya putus. Tetapi tenaganya berlebihan. Di-samping tambang putus, tiangpun tertarik hingga patah, maka hampir ambruklah sebagian ruang itu. Begitu dia bebas, anak muda ini lantas menyerang si Harimau Pitak! Beng Sin bukan sembarang orang, tak kena ia diserang anak muda yang tidak mengerti silat itu. Ia berkelit dengan sebat, dan menyusul sebelah tangannya meluncur menotok ke-arah jalan darah cie tiong dari penyerangnya. Tapi ketika itu tubuhnya Ho Tong justru sedang bergerak kearah menyamping dan tangan kanannya sudah melayang, maka tinjunya tepat mengenai bahu kiri penyerangnya hingga si penyerang tertolak mundur dua tindak. Beng Sin terperanjat. "Eh, bocah ini mempelajari ilmu apakah?" dia tanya dalam hatinya sendiri. Karena ini ia jadi tidak berani alpa. Segera ia menyerang pula. Kali ini ia menggunakan pukulan tangan. "Udara Kosong," hingga cukup kalau angin tinjunya yang mengenai lawan. Hebat serangan itu, angin yang keras lantas meluncur kearah si anak muda yang polos itu! Berbareng dengan serangan dahsyat itu, muncullah serangan serupa lainnya. Angin kedua pihak lantas beradu satu dengan lain, hingga ruang itu terasa tergetar. Tapi ruang tidak ambruk sebab masih tertahan tiang tiang lainnya. Akibatnya bentrokan itu membuat tubuhnya Beng Sin limbung bergoyang-goyang, tetapi masih sempat ia melompat keluar, karena ia khawatir ruang roboh. Yang lain lainnya pun berlompatan keluar juga. Disaat itu, diluar ruang, dihalaman terbuka, muncul dua orang asing lainnya, dua orang wanita muda yang cantik-cantik. Karena itu Beng Sin lantas dapat menerka, nona-nona itulah yang menentang dia! Maka wajarlah ia menjadi gusar sekali. "Siapakah yang barusan membokong pun tongcu?" dia bertanya bengis. Dia tidak menyebut "aku" hanya "pun-tongcu," yang berarti ia adalah seorang tongcu. Dengan demikian ia sekalian memperkenalkan kedudukannya dalam partai Naga Langit. Salah seorang nona yang mengenakan pakaian serba putih, tertawa hambar. "Kiranya kau seorang tongcu!" katanya, dingin, "Bagaimana tebal kulit mukamu ? Bagaimana kau tega menyerang seorang bocah dengan pukulan Udara Kosong yang merupakan pukulan maut? Bahkan seorang bocah yang tak mengerti ilmu silat sama sekali! Sudah begitu, kau juga berani memfitnah bahwa orang membokongmu!" Hebat kata-kata itu bagi si tongcu, ketua sebuah seksi ketua Thian Liong Pang. Hebat pula sebab totokannya kepala Ho Tong tidak mempan, karenanya anak muda itu tidak kurang suatu apa! Karena ini, ia menjadi tidak percaya Ho Tong tidak mengerti silat sama sekali. Dalam.bingungnya itu, ia melayani si nona bicara. "Siapakah kau?" tegurnya. "Bagaimana besar nyalimu hingga kau berani mencampuri urusan pun-tongcu?" Nona berpakaian putih itu tidak menghiraukan lagak jumawa si tongcu, acuh tak acuh dia berpaling kepada kawannya, yang berdiri berendeng dengannya. Kawan itu berpakaian merah seluruhnya. Sudah begitu, dia pun tertawa seenaknya. "Kakak Hui!" katanya, "jangan kau memandang terlalu tinggi kepada seorang tongcu dari Thian Liong Pang! Kau lihat sekarang, tongcu itu tak lebih kurang mirip dengan kepala tombak lilin yang disepuh perak!" "Kurang ajar!" berteriak Beng Sin, gusar sekali. "Kau banyak tingkah ya! Kau berani sembarang mencaci orang! Jikalau kau tetap membangkitkan hawa amarahnya pun-tongcu, kau nanti bakal kuhajar seperti anak muda itu!"