Fade into You - 5

Diposting oleh Saiful bahri dari situbondo pada 23:23, 07-Okt-14

Cerita Remaja | Fade into You | Serial Fade by Kate Dawes | Fade into You | Cersil Sakti | Fade into You pdf

Cinta Seorang Copellia - Lisa Andriyana Masa Yang Hilang - Marisa Agustina Marissa - Shanty Dwiana Percy Jackson and the Olympians - Pertempuran Labirin The Iron Fey 1 - The Iron King - Julie Kagawa

Tuhan. Betapa bodohnya aku, membiarkan hal-hal ini sampai sejauh ini? Kevin mungkin akan segera memecatku jika ia mengetahuinya.
  Ketika kembali ke kantor, aku mendengar pintu Kevin terbuka. Aku melihat ke arahnya dan melihat dia melambaikan tangan meyuruhku ke kantornya. Aku meletakkan paket itu di atas meja dan pergi, di mana ia memberi isyarat kepadaku untuk duduk kemudian meletakkan jari ke bibirnya, menyuruhku diam dan hanya mendengarkan.
  Kevin beralih ke telepon speaker dan ruangan itu dipenuhi dengan suara halus dari Max Dalton.
  Oh, sial. Ini dia, pikirku. Max akan memberitahu Kevin bahwa dia akan memberikan keputusan tentang Jacqueline Mathers. Lalu kami akan kehilangan dia sebagai klien. Kevin mungkin akan mencari tahu apa yang terjadi di Vegas, aku akan kehilangan pekerjaanku, dan aku akan menjadi orang terakhir yang mendengar pepatah "Anda tidak akan pernah bekerja di kota ini lagi." Sialan, perutku, berhentilah melilit.... Aku merasa seperti akan muntah di lantai kantor Kevin.
  Apa yang aku dengar adalah Max berkata: "... banyak audisi, secara langsung dan DVD, dan ini adalah salah satu keputusan yang sulit yang harus aku ambil. Jacqueline bagus. Dia cantik dan dia sangat natural. Kurangnya pengalaman memang agak mengganggu sedikit..."
  Ini dia, pikirku.
  "... Tapi itu bukan sesuatu yang tidak bisa diatasi," Max berkata. Kemudian ia menyebutkan nama sutradara. "Gary dan aku membicarakannya, dan dia juga terkesan. Kami ingin menawarkan peran kepadanya. "
  Kevin memberikan acungan jempol. "Senang mendengarnya, Max."
  Aku mungkin lebih berbahagia mendengar kabar itu dibanding Kevin. Sebuah aliran rasa lega yang luar biasa melandaku dan setiap otot di tubuhku menjadi rileks. Aku tidak merusak peluang Jacqueline, atau bisnis Kevin, atau masa depanku sendiri. Sekarang aku bisa santai.
  Max berkata, "Saya memiliki kontrak yang siap untuk ditandatangani. Mungkin Anda dapat mengirim asisten Anda untuk mengambilnya."
  Ternyata terlalu dini untuk menjadi rileks.
  Kevin menatapku. "Uh, tentu. Tidak masalah."
  Teruslah bernapas, aku berkata pada diriku sendiri. Bagus. Sekarang aku akan berada di kantor Max. Ketika kupikir akhirnya semua stres dan kekhawatiranku sudah berakhir.
  "Saya akan kesana dalam satu atau dua jam."
  "Dia akan segera kesana. Dan sekali lagi terima kasih Max. Semoga bisa bekerjasama lagi dengan Anda."
  "Saya akan menghubungi anda lagi, segera." Klik.
  Kevin menyentuh layar ponselnya dan meletakkannya di meja. "Apa kau bisa bayangkan betapa besarnya ini?"
  "Ini... yeah, sangat menakjubkan." Suaraku tidak terdengar antusias, tapi dia seperti tidak menyadarinya.
  "Ini adalah kesepakatan terbesarku dan yang paling penting sejauh ini." Dia berdiri dan mulai mondar-mandir, berjalan untuk membuang energi gugupnya. "Tapi kau sudah tahu itu." Dia melihat jam tangannya. "Kau ingat bagaimana untuk sampai ke studionya, kan? Ke kantor Max?"
  Perutku mulai melilit lagi. "Ya, aku tahu."
  Kevin mengingatkanku untuk menyebutkan namanya pada penjaga gerbang, dan dalam waktu lima menit aku sudah berada di mobilku, membelah kepadatan lalu lintas LA, dan benakku berpacu dengan pikiran akan bertemu Max lagi.
  ***
  Fade Into You Bab 5
  Selama perjalanan ke studio, aku tersadar bahwa mungkin Max memberi peran kepada Jacqueline hanya untuk agar aku datang ke kantornya. Apakah itu mungkin?
  Tidak, tentu tidak. Paranoid sepertinya telah menguasaiku. Tidak mungkin seorang produsen besar Hollywood akan menyewa seorang aktris hanya untuk mendapatkan sedikit waktu kebersamaan dengan seorang asisten agen aktris. Terlalu banyak resiko dan uang yang dihamburkan. Seluruh reputasinya bisa jatuh hanya karena satu film yang gagal.
  Sangat konyol memikirkan bahwa semua ini adalah hanya tipu muslihatnya agar aku datang ke kantornya. Dia memiliki banyak cara untuk melakukan itu. Mungkin tidak secepat ini, tapi dia bisa mendapatkan apa saja yang dia mau.
  Aku sampai di gerbang penjaga dan diberitahu di mana untuk memarkir. Saat aku berjalan, mataku melihat sekeliling mencari apakah ada artis terkenal. Ya, aku masih cukup baru di Hollywood untuk melihat para bintang.
  Aku menemukan kantor Max tanpa kesulitan. Ketika berjalan, aku disambut oleh seorang wanita pirang tinggi, dan terpana oleh kemungkinan yang sangat nyata bahwa dia adalah wanita yang sama ketika sedang berbicara dengan Max pagi itu saat di Las Vegas. Aku tidak melihat wajahnya, tapi itu masuk akal bahwa asistennya mungkin ada di sana. Mungkin dia bepergian dengan dia sepanjang waktu. Mungkin dia ada di sana sendiri dan mereka kebetulan bertemu satu sama lain. Atau mungkin dia sedang tidur dengannya...
  Apapun masalahnya, aku belum pernah bertemu denganya ketika pertama kalinya aku berada di sini.
  Dia melihatku dan berkata, "Hai, bisa saya bantu?"
  "Saya Olivia Rowland. Untuk bertemu Max &Mr. Dalton."
  "Oh, ya, dia sudah menunggu Anda. Ke kanan dan masuk." Dia memberiku senyum ramah.
  Area menerima tamu milik Max lebih besar dari seluruh kantor kami dan sepertinya tumitku mengklik ekstra keras saat aku berjalan ke pintu kaca buram yang mengarah ke kantornya. Aku mengambil napas dalam-dalam, memutar pegangan, dan melangkah masuk.
  ***
  Max sedang duduk di sofa tepat di bawah poster besar film terakhir yang ia buat. Aku begitu gugup, terakhir kali aku di sini, aku tidak melihat detail kantornya. Ada cermin besar dan meja krom, kursi kulit hitam besar di balik itu, dan dua kursi yang lebih kecil di sisi lain. Di dinding ada poster film yang besar, menggunakan bingkai yang mahal, dan masing-masing memiliki pencahayaan sendiri.
  "Olivia," katanya, berdiri untuk menyambutku.
  "Hai, Max."
  "Silakan duduk." Dia menunjuk ke sofa.
  Aku ingin duduk di salah satu kursi di seberang sofa, dengan meja kopi besar yang memisahkan kita. Setiap langkah yang dibuatnya memancarkan kepercayaan diri, kewibawaan, dan seks. Aku tahu aku tidak seharusnya duduk di sampingnya.
  Ia mengulurkan tangannya, mengundangku, dan aku menyambutnya. Tapi aku duduk beberapa meter darinya.
  Max mengangkat lengannya dan dengan dramatis mengendus. "Apakah aku bau?"
  "Tidak." Sebenarnya anda harum luar biasa. "Kenapa?"
  "Karena kau duduk begitu jauh dariku. Kupikir kau memiliki alasan."
  Ya aku punya alasan. Tapi aku tidak bisa benar-benar mengatakan padanya bahwa aku membutuhkan sedikit ruang diantara kami jadi aku tidak akan terjebak dalam permainannya di kamar hotel dulu.
  Aku terus menjaga suara agar tetap terdengar profesional. "Aku ke sini hanya untuk mengambil kontraknya."
  Max turun dari sofa sampai dia tepat di sebelahku. Aku melihat kembali secara dekat pada matanya yang dalam, dan bibirnya yang berbentuk sempurna.
  Dia menaruh jari di bawah daguku. "Aku sudah tidak sabar menunggumu sampai di sini." Dia membungkuk dan menciumku, ciuman lembut, tidak dengan lidah.
  Ketika ia mundur kembali, aku berkata, "Kita benar-benar harus menghentikan ini. Atau...setidaknya membicarakannya."
  "Kenapa merusak momen ini dengan bicara?"
  Apakah dia serius? Dia tampaknya memiliki cara yang halus dengan wanita dalam segala aspek, jadi mengapa dia mengisyaratkan bahwa bicara itu tidak perlu?
  "Tidakkah kau pikir ini adalah ide yang buruk?" Tanyaku.
  Matanya meninggalkanku, dan tatapannya melayang ke tubuhku, kedadaku, kemudian kakiku, yang terlihat dari rok yang kupakai. "Aku tak bisa memikirkan ide yang lebih baik daripada kau dan aku bersama-sama."
  "Dan 'bersama-sama' yang kau maksud adalah seks, kan? Hanya seks."
  Dia mengangkat bahu. "Apa pun yang kau suka. Apa yang kau suka, Olivia?"
  Aku tak pernah melakukan diskusi yang begitu terus terang seperti ini sebelumnya. Itu membuatku sedikit gugup, tapi tidak sampai ketitik di mana aku akan kehilangan tekadku. Aku meminta sesuatu untuk minum, dan Max segera menawariku White Russian.
  "Apakah hanya itu yang kau minum?" Tanyaku.
  Dia mengangguk sambil berdiri dan berjalan ke area bar dikantornya. "Sejak SMA. Aku tak pernah menyukai bir. Tidak pernah menyukai semua yang pernah aku coba, Tapi White Russian...dari awal mencoba aku sudah menyukainya dan tetap setia sampai sekarang.
  Aku tertawa. " Air, terima kasih."
  "Dingin atau panas?"
  "Hanya air putih saja. Apa pun yang kau punya."
  Aku melihat dia berdiri di bar, membelakangiku. Hari ini ia mengenakan kaos putih lengan panjang, celana jeans biru, dan sepatu bot coklat gelap. Kaos menempel ditubuhnya, memamerkan bahu dan punggungnya yang lebar, pinggangnya langsing. Berkat celana jeans, aku melihat pantatnya yang indah untuk pertama kalinya, dan harus membuang mata darinya sebelum ia berbalik dan menangkap basah diriku. Dia seolah-olah sudah diciptakan dengan sangat hati-hati, dan dengan susah payah dibangun oleh seseorang yang mempunyai selera yang bagus dan sangat detail.
  Aku memandang ke luar ke arah jendela besar dan untuk pertama kalinya melihat ke dalam area studio. Dari lantai tiga kantornya, aku bisa melihat beberapa set luar ruangan, beberapa di antaranya tampak tidak asing dari film yang pernah kulihat. Di kejauhan, Hollywood hills sebagai latar belakangnya. Satu-satunya kelemahan dalam pemandangan ini adalah tidak mampu untuk melihat tulisan yang terkenal di lereng bukit.
  Max sedang membuat minumannya sambil berkata, "Hanya air putih saja, ya? Aku tak pernah mengira kau seorang gadis yang suka sesuatu yang biasa."
  "Saya tidak suka sesuatu yang rumit."
  "Ah, sayang sekali. Kadang-kadang kerumitan bisa sangat menarik. Setidaknya, itulah yang aku temukan."
  Jelas, kami tidak berbicara tentang air di sini, dan kami berdua tahu itu.
  Dia bergabung denganku di sofa, sambil menyodorkan sebotol air putih.
  "Jadi," katanya, "Kau ingin bicara. Mari kita bicara."
  Aku meneguk air dingin itu, mencoba untuk mencari tahu apa yang akan kukatakan.
  "Aku yang bicara duluan," katanya, menyelamatkanku. "Mari kita terbuka. Kita tertarik satu sama lain. Kita berdua lajang-"
  "Apakah kita begitu?" Aku menyela.
  "Aku iya. Apakah aku salah menilai situasimu?"
  Aku menggeleng. "Tidak, kau tidak salah."
  "Baik. Jadi apa yang menghentikanmu?"
  Aku menaruh botol air di atas meja dan menyilangkan kakiku. "Aku tidak melakukan...ini. Aku tak akan tidur dengan dengan seorang pria secara tiba-tiba hanya karena mereka hot."
  Max tersenyum. "Jadi kau pikir aku hot."
  Kepalaku langsung jatuh. "Ya. Ya, kupikir dirimu hot, oke? Puas?"
  Dia meneguk White Russian-nya. "Senang? Ya. Meskipun aku bisa lebih senang lagi."
  "Dengar, apa yang ku maksud adalah bahwa dibutuhkan lebih dari sekedar beberapa baris naskah dan langkah yang halus untuk bisa masuk ke dalam celanaku."
  "Sebenarnya, kau memakai rok. Tapi itu hanya masalah teknis."
  Aku menyukai selera humornya dan tak bisa menahan diri untuk tidak tertawa.
  "Dan, untuk di catat," ia melanjutkan, "Aku belum menulis satu baris naskah pun untuk ini."
  "Oke, aku percaya kata-katamu untuk itu."
  Dia duduk kembali di sofa, sekarang lebih dekat padaku. Aku mencium lagi aroma yang luar biasa maskulin dan hampir saja bertanya padanya apa yang ia gunakan, tapi memutuskan untuk tidak melakukannya.
  Sebaliknya, aku berkata, "Aku tidak tertarik pada casting cauch romp*."
  Ia melemparkan kepalanya ke belakang dan tertawa terbahak. Ketika ia kembali menatapku dia berkata, "Aku juga tidak, Olivia. Bahkan, aku belum pernah mendengar 'casting cauch romp' seperti yang kau katakan sepanjang karirku di kota ini."
  "Tidak?"
  Dia menggelengkan kepalanya. "Ini adalah sesuatu dari masa lalu. Setidaknya, kupikir begitu. "
  "Kau memiliki wanita pilihanmu sendiri, aku yakin. Omong-omong, ketika aku meninggalkan Las Vegas Minggu pagi, aku melihatmu dengan wanita berambut pirang di luar restoran."
  Dia memiringkan kepalanya ke samping. "Ah, ya. Dia mencoba untuk menjual sesuatu padaku."
  "Ya, aku berani bertaruh dia pasti melakukan itu." Aku meraih botol air.
  "Dia bukan seorang pelacur. Dia bekerja di perusahaan yang memiliki hotel dan kasino dan satu lagi di the strip. Dia mencoba membujukku untuk membeli penthouse yang satu lagi."
  "Satu lagi?"
  Dia mengangguk. "Aku punya satu di hotel tempat kita menginap."
  Ya Tuhan. Jika dia membawaku ke penthouse, aku tak akan pernah bisa keluar dari sana tanpa memberi apa yang dia inginkan. Malam itu hampir saja aku menginginkan sesuatu dan itu nyaris menjadi hal yang pasti.
  "Jadi," kataku, "Kau akan membeli satu l