Hijaunya Lembah Hijaunya Lereng Pegunungan - 34

Diposting oleh Saiful bahri dari situbondo pada 15:07, 11-Peb-15

Hijaunya Lembah Hijaunya Lereng Pegunungan - Serial Pelangi Di Langit Singosari 5 - SH Mintardja.jpegCerita Silat | Hijaunya Lembah Hijaunya Lereng Pegunungan | Serial Pelangi Di Langit Singosari | Hijaunya Lembah Hijaunya Lereng Pegunungan | SH Mintardja | Hijaunya Lembah Hijaunya Lereng Pegunungan pdf

Sepasang Ular Naga Di Satu Sarang bag I Sepasang Ular Naga Di Satu Sarang bag II Sepasang Ular Naga Di Satu Sarang bag III Sepasang Ular Naga Di Satu Sarang bag IV Panasnya Bunga Mekar bag I

singgah”

Ki Buyut termangu- mangu sejenak. Namun ketika ia melihat Mahisa Pukat tersenyum sambil memandangi Mahisa Murti, maka Ki Buyutpun dapat memaklumi, perasaan apakah yang tersirat di hati anak muda itu. Karena itu, sambil menarik nafas dalam-dalam ia berkata ”Segala terserah kepada kehendak Yang Maha Agung.

Mahisa Pukat mengangguk sambil berkata ”Demikianlah Ki Buyut. Tetapi bukankah kita wenang memohon kepada- Nya?”

“Ya. Kita memang wenang memohon” sahut Ki Buyut.

“Sudah tentu, dengan pengharapan, bahwa permohonan kita akan terkabul” sambung Mahisa Pukat.

Ki Buyut menarik nafas dalam-dalam. Tetapi iapun kemudian menjawab ”Kita akan memohon”

Demikianlah, sejenak kemudian, maka kedua anak muda itupun telah meninggalkan halaman rumah Ki Buyut. Mahisa Murti sempat berpaling dan seleret pandang anak muda itu telah membentur mata Widati. Namun gadis itu kemudian menunduk dalam-dalam. Bahkan iapun telah berlari masuk ke ruang dalam.

Ki Buyut hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak berkata apapun juga tentang anaknya.

Dalam pada itu. maka Mahisa Murti d.in Mahisa Pukatpun kemudian menyusuri jalan padukuhan induk menjauhi rumah Ki Buyut. Beberapa orang anak muda telah mengikutinya sampai keregol padukuhan.

Sepeninggal kedua anak muda itu, maka Ki Buyutpun kemudian masuk keruang dalam ”Dilihatnya anak gadisnya duduk tepekur di pembaringannya, sementara pintu biliknya masih terbuka.

Perlahan-lahan Ki Buyut mendekati anaknya, yang terkejut melihat kehadirannya.

“Ireng, apa yang sebenarnya kau pikirkan?” bertanya Ki Buyut.

Widati menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian jawabnya ”Tidak ada ayah”

“Jangan kau bohongi orang tua ini Ireng” berkata ayahnya kemudian ”meskipun tidak kau ucapkan, aku melihat sorot matamu ketika kau memperhatikan kedua anak muda itu telah membentur mata Widati anak muda yang meninggalkan Kabuyutan ini”

Widati menundukkan kepalanya. Terdengar suaranya lirih” Tidak ada apa- apa ayah”

“Baiklah” berkata ayahnya ”Sukurlah jika tidak ada apa-apa diantara kalian. Namun demikian, baiklah ayah ingin mengatakan sesuatu serba sedikit”

Widati menjadi tegang. Sementara itu ayahnya berkata lebih lanjut ”Aku tidak menyesali hubunganmu dengan anak-anak muda. Aku kira hal itu wajar sekali. Tetapi ternyata bahwa kau tidak kerasan tinggal dirumah pamanmu, justru karena kau merasa diganggu oleh anak muda yang tidak kau sukai”

Widati tidak menyahut. p>

“Tetapi bagaimanapun juga, ayah mempunyai satu sikap, bahwa hubunganmu dengan anak-anak muda itu, harus kau batasi pada hubungan persahabatan saja. Jika hubungan itu terasa menjadi semakin dalam, maka banyak hal yang harus di amati. Misalnya, keturunan. Watak dan tingkah laku, juga kemungkinan masa depan. Mungkin kita bertemu dengan seseorang yang langsung kita kagumi. Tetapi kita tidak tahu asal usulnya, kita tidak tahu sifat dan tabiatnya yang sebenarnya, karena kita baru mengenal dalam waktu singkat. Sebab seseorang dapat saja menyelubungi sifat-sifatnya yang sebenarnya untuk sesuatu maksud”

Wajah Widati menjadi tegang, la mengerti maksud ayahnya. Yang disebut- sebut itu tentu anak-anak muda yang baru saja meninggalkan Kabuyutan itu, karena sebenarnyalah Ki Buyut tidak tahu asal-usul anak-anak muda itu. Ki Buyutpun tidak tahu sifat dan watak yang sebenarnya.

Bahkan Ki Buyut itu berkata lebih lanjut ”Aku dapat memberikan contoh yang jelas Ireng. Sebelum anak-anak muda itu datang maka seorang tamu di Kabuyutan ini merupakan orang yang kita kagumi. Sikapnya yang tegas penuh wibawa, kepandaiannya bermain senjata dan nasehat-nasehatnya yang semula terasa sangat berarti bagi kita disini. Tetapi ternyata sikap itu adalah sikap yang terselubung. Sikap yang semu seperti salah seorang tetangga kita sendiri, yang bersikap semu pula. Seolah-olah ia tidak lebih dari petani biasa seperti kebanyakan penghuni Kabuyutan ini. Tetapi apa yang sebenarnya kita hadapi”

Widati menundukkan kepalanya. Ia mengerti maksud ayahnya dan iapun tidak menganggap bahwa yang dikatakan oleh ayahnya itu keliru. Tetapi ada sesuatu yang bergejolak didalam hatinya. Menurut pendapatnya, salah seorang dari kedua anak muda itu adalah seorang anak muda yang mempunyai ciri yang terlalu baik. Ramah, sopan dan mempunyai ilmu yang sangat tinggi. Menurut seorang kawannya, anak muda itu tentu tidak ada yang mengalahkan. Tetapi iapun melihat tirai yang menyelubungi anak-anak muda itu. Mereka tentu tidak mengatakan tentang diri mereka yang sebenarnya. Karena itu, tentulah beralasan bahwa ayahnya mempunyai sikap tertentu.

Namun agaknya sulit bagi Widati untuk menghilangkan kenangannya terhadap anak muda yang seorang. Yang nampaknya lebih lembut dari yang lain. Seolah-olah segalanya mapan sebagaimana diidamkan pada seorang laki-laki muda. Tetapi Widati sama sekali tidak menjawab. Sementara itu ayahnyapun berkata selanjutnya ”Seterusnya Widati, kau harus selalu berhati-hati menghadapi masa datang. Kecuali kau harus dapat menjaga dirimu, maka kaupun harus memperhitungkan apa yang kira-kira bakal terjadi atasmu”

Widati masih menunduk. Namun terasa degup jantungnya menjadi semakin cepat.

Dalam pada itu, sepeninggalan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, anak- anak Kabuyutan itupun seolah-olah mendapat kesempatan untuk melihat kedalam diri sendiri. Dua orang pengembara itu umurnya masih semuda dengan mereka. Tetapi keduanya sudah memiliki ilmu yang luar biasa. Yang menggelitik hati anak-anak muda itu adalah pertanyaan salah seorang dari kedua anak muda itu ”Jika kami mampu melakukannya, kenapa kalian tidak? Apa bedanya?”

Anak-anak-muda itu memang berpikir untuk mencari jawabnya. Anak muda yang menyebut diri mereka pengembara itu memang mengatakan, mungkin kesempatanlah yang telah membuat tingkatan mereka demikian. Tetapi untuk seterusnya apakah anak-anak muda itu tidak dapat berbuat sesuatu untuk menciptakan satu kesempatan, meskipun tidak sama dan setingkat.

Karena itu, sepeninggalan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, anak-anak muda yang mengantarkannya sampai ke gerbang padukuhan induk itupun berbicara diantara mereka” p>

Kita harus mengembangkan apa yang telah diberikan oleh kedua anak-anak muda itu”

“Ya“ sahut yang lain ”kita dapat berlatih terus. Kita sudah menerima pokok- pokok unsur yang diperlukan. Jika kita tidak terlalu bodoh, maka kita akan dapat mengembangkannya meskipun serba sedikit”

“Kita akan mengembangkannya” jawab yang lain lagi. Bahkan katanya kemudian ”Bukan saja olah kanuragan. tetapi pesan-pesannya yang lainpun perlu kita perhatikan. Kita memang prihatin terhadap hutan dilereng yang gundul itu. Kita memang cemas menghadapi tanah longsor. Menghadapi banjir seperti yang dikatakannya itu”

“Ya. Sementara itu kitapun cemas menghadapi kejahatan seperti yang pernah terjadi. berkata yang lain lagi.

Dengan demikian, maka kehadiran mahisa Murti dan Manisi Pukat yang hanya beberapa hari saja di Kabuyutan itu telah dapat menumbuhkan kesan yang mendalam, terutama diantara anak-anak muda. Mereka merasa tersentuh, bahwa pengembara yang asing bagi Kabuyutan mereka, telah berbuat terlalu banyak terhadap Kabuyutan itu melampaui apa yang pernah dilakukan oleh anak-anak muda di padukuhan itu sendiri”

Dengan demikian, maka anak-anak muda itupun telah berjanji kepada diri sendiri, bahwa mereka akan lebih banyak bekerja bagi Kabuyutan mereka sendiri”

Bekas yang ditinggalkan oleh kedua pengembara itu memang terasa oleh Ki Buyut, terutama dilingkungan anak anak mudanya. Bukan saja di bidang kewadagan dan ilmu kanuragan, tetapi ternyata kehadiran mereka telah menggetarkan gejolak jiwa anak-anak muda di padukuhan itu sendiri.

Meskipun demikian, ia tidak dapat bersikap seperti itu, tanpa penp amatan yang lebih mendalam, apabila anaknya telah memandang anak muda itu dari segi yang terlalu khusus, justru karena anak gadisnya itu sudah menjelang gadis dewasa.

Sementara itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah berjalan semakin jauh. Mahisa Murti sendiri sama sekali tidak pernah berpaling. Justru Mahisa Pukatlah yang sering berpaling kearah jalur jalan yang panjang yang telah dilewatinya. Rasa-rasanya jalan itu panjang sekali sehingga malaslah untuk menjalaninya kembali disatu saat mendatang.

Tetapi Mahisa Pukat tidak dapat menutup mata. Mahisa Murti agaknya benar- benar tertarik kepada seorang gadis yang bernama Widati, yang sehari-hari dipanggil Ireng itu.

Sementara itu Ireng sendiri sedang menelungkup di pembaringannya. Meskipun ia tidak menjawab sepatah katapun ketika ayahnya memberinya nasehat, tetapi ketika ayahnya kemudian meninggalkannya, maka ia tidak dapat menahan lagi gejolak perasaannya. Betapapun juga ia berusaha, namun titik-titik air matanya telah mengembun dipelupuknya.

Anak muda yang meninggalkan halaman rumah itu tentu bukan orang- orang yang bertabiat buruk. Seorang diantaranya benar-benar telah memikat hatinya. Namun agaknya ayahnya kurang sependapat, karena beberapa hal seperti yang dikatakannya. Terutama bahwa ayahnya sama sekali tidak mengenal asal-usul anak muda itu.

“Tetapi apakah asal-usul itu mutlak harus ditelusuri?” bertanya Widati didalam hatinya ”jika seseorang ternyata menunjukkan sikap, sifat dan watak yang baik serta bertanggung jawab, apakah artinya asai-usul itu Sebaliknya, meskipun menurut silsilahnya seseorang adalah orang yang terpandang, tetapi orang itu tidak bersikap dan bersifat terpuji apalagi tidak bertanggung jawab, apakah artinya nilai asal-usuinya itu?”

Namun demikian Widati tidak berani mengatakannya kepada ayahnya. Iapun tidak berani pula mengatakannya kepada ibunya, karena menurut dugaannya, ibunya tentu sudah mendengarnya dari ayahnya, apa yang telah terjadi atas dirinya serta sikap ayahnya itu sendiri.

Karena itu. ia berusaha untuk membawa beban perasaan nya itu seorang diri. betapapun beratnya

Dalam pada itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah memasuki satu daerah yang mendebarkan. Mereka mulai melintasi lereng pegunungan yang menjadi gersang. Jaiur-jalur air hujan yang mengalir dengan membawa lapisan tanah nampak semakin lama agaknya menjadi semakin dalam, sementara pepohonan yang nampak menjadi semakin jarang.

Mahisa Pukat memperhatikan lereng pegunungan itu dengan hati yang berdebaran. Terbayang masa-masa mendatang yang panjang. Jika tanah di lereng ini terus-menerus di hanyutkan oleh air hujan, maka akibatnya akan sangat terasa. Bukan saja saat-saat air hujan itu mengalir tanpa kendali sehingga dapat menimbulkan bahaya yang dahsyat di kaki pegunungan itu. namun akhirnya pegunungan itu benar-benar akan terkelupas sehingga yang tersisa dalah seonggok batu-batu padas raksasa yang kering dan tandus.

“Belum terlambat” desis Mahisa Pukat.

Mahisa Murti berpaling. Dengan ragu-ragu ia bertanya ”Kau berkata sesuatu?”

Mahisa Pukat mengangguk. Jawabnya ”Ya. Aku mengatakan bahwa usaha menyelamatkan lereng pegunungan ini masih belum terlambat. Mudah-mudahan Ki Buyut bersama- sama dengan Kabuyutan tetangganya disekitar daerah ini akan berhasil mengatasi keadaan ini dengan satu kesadaran baru”

Mahisa Murti mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak mengatakan sesuatu. Agaknya angan-angannya masih saja meloncat kembali ke Kabuyutan yang baru saja ditinggalkannya.

Mahisa Pukatpun tidak mengatakan apa-apa lagi. Merekapun kemudian melangkah dengan cepat dilereng pegunungan melintas ke lembah disebelahnya.

Keduanya tidak menghiraukan matahari yang menjadi terik di puncak langit. Ketika mereka menyuruk dibawah hutan yang tidak terlalu lebat, maka panasnya sinar matahari tidak begitu terasa membakar kulit.

Meskipun demikian, ketika mereka sampai di pinggir sebuah sungai kecil yang mengalirkan air yang jernih, maka merekapun memerlukan untuk berhenti barang sejenak.

Namun Mahisa Murti itupun kemudian berkata ”Kita dapat beristirahat disini. Disini banyak burung yang dapat kita tangkap dengan supit. sehingga kita tidak akan kelaparan”

Mahisa Pukat memandang berkeliling. Memang terasa sejuknya udara. Namun ternyata Mahisa Pukat itu menjawab “Apakah tidak lebih baik kita berjalan terus sampai saatnya matahari terbenam?”

“Jika kita tidak lagi menemukan tempat sesejuk ini” berkata Mahisa Murti.

“Tentu bukan tempat yang sejuk yang penting bagi kita“ Jawab Mahisa Pukat “jika demikian, maka kita tidak akan bergeser dari tempat ini”

Mahisa Murti mengangguk-angguk. Katanya ”Baiklah. Nanti kita akan meneruskan perjalanan”

Demikianlah keduanya memang melanjutkan pengembaraan mereka. Mereka berjalan menyusuri lereng-lereng pegunungan, lembah lembah dan melintasi padang perdu. Tetapi sekali-sekali merekapun berjalan melalui daerah berpenghunj yang padat tanpa menarik perhatian. p>

Demikianlah mereka melakukan dari hari kehari. Padukuhan demi padukuhan mereka lalui, sehingga dengan demikian mereka menjadi semakin jauh dari sebuah Kabuyutan yang menyimpan seorang gadis yang bernama Widati. Seorang gadis yang belum lama kembali ke rumah orang tuanya setelah beberapa lamanya ia berada di rumah pamannya.

Tetapi berjalan terus meskipun dalam pengembaraan adalah menjemukan. Mereka tidak menemukan pengalaman baru yang dapat meningkatkan pengamatan mereka terhadap kehidupan, sehingga karena itu, maka mereka mulai berpikir lain.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat ternyata telah bersepakat untuk mencari tempat pemberhentian. Mungkin di tempat itu mereka akan mendapatkan pengalaman yang akan bermanfaat bagi hidup mereka kelak.

Ketika mereka mendekati sebuah padepokan yang besar, maka Mahisa Murtipun berkata ”Apakah kita akan memasukinya?”

“Ada juga baiknya” berkata Mahisa Pukat ”mungkin kita akan mendapat kesempatan barang sepekan untuk tinggal di padepokan ini. Beruntunglah kita jika selama kita tinggal di padepokan itu, kita akan mendapatkan sesuatu”

“Aku setuju” berkata Mahisa Murti ”nampaknya padukuhan ini sebuah padukuhan yang tenang. Disekitarnya terdapat sawah yang hijau dan pategalan yang subur”

“Mudah-mudahan di padukuhan ini tidak ada seorang gadis yang dapat menyentuh dasar perasaan yang paling dalam” desis Mahisa Pukat.

“Ah” Mahisa Murti berdesah. Tetapi ia tidak berkata lebih lanjut.