Iblis Dunia Persilatan - 108

Diposting oleh Saiful bahri dari situbondo pada 12:35, 13-Nov-14

Cerita Silat | Iblis Dunia Persilatan | by Bung AONE | Iblis Dunia Persilatan | Cersil Sakti | Iblis Dunia Persilatan pdf

Siapa Ayahku ? - Azizah Attamimi The Wednesday Letters - Surat Cinta di Hari Rabu - Jason F. Wright The Chamber - Kamar Gas - John Grisham Trio Tifa - Tiga Sandera - Bung Smas Kisah Dua Kamar ~ bukanpujangga

Tak ada penjamuan yang tak bubar, ada pertemuan
ada perpisahan,…
Astadewi berlari meningglkan tempat kediaman
dimana kembali ia menempa diri, berusaha bangkit
dari jurang kenistaan bersama kedua sahabatnya
Antari dan Anudhari,….
Ia berlari menuju Cadas ngelir,… disanalah tujuan
mereka sekarang, empat tangan tak akan
mengalahkan delapan tangan, ia butuh suatu
kekuatan, kekuatan yang ia timbun dahulu, kekuatan
yang diam-diam ia kumpulkan untuk mengantisip asi
keadaan,….
Kekuatan apakah yang telah ia Persiapkan?
Cadas ngelir, adalah sebuah tempat dimana terdapat
batuan cadas yang dari atas seperti mengalirkan air
sungai, batuan aneh yang memiliki hawa gaib
tersendiri.
Di Samping cadas ngelir adalah sebuah desa,
Ketiganya sudah sampai disana, karena memang
tempat itulah yang ia tuju…
Berkelebatan diantara pepohonan yang lebat,
tersamarkan menjadi baying-bayang, kecepatn
laksana anak panah membuat mereka tak disaari
keadaannya oleh para Anggota Istana Dewa Iblis
yang berpestapora bersama para Gadis.
Siapakah para Gadis itu?
Ditilik dari pakaiannya, mereka adalah para gadis
penduduk desa, dari luar mereka rseperrti menangis
dan ketakutan, hanya mata yang jeli yang melihat
mereka saling berbagi kode, kode apakah?
Mendadak,…
“Tukk…Bret,,,crass..jrebb”
Bersahut-sahutan berirama dalam dentingan music
kematian, tanpa suara tanpa diduga para Anggota
Istana Dewa Iblis pada mati berguguran, bersimbah
darah, membasahi tubuh mereka.
Kembali merka berbagi kode,…
Dengan licin mereka sengaja menindihkan dan
memposisikan tubuh mereka dengan para mayat,
gemuruh kuda memecah keheningan, para Gadis itu
saling menangis…
Siasat apalagi ini? Hanya mereka yang tahu…
Seorang Brewokan bertubuh kekar datang, datang
dengan mata merah membara menebarkan hawa
amarah, marah… dia marah melihat para kambratnya
pada mati…
Si Brewokan turun dari kuda, dengan kasar ia
menjabret salah satu gadis…
“Siapa yang melakukan ini?” Dengan nada membentk
penuh amarah.
Gadis itu ketakutan, dengan gemetar ia berkata….
“Me…mereka gadis sebaya kami dan..dan memakai
mahkota. Saat kami berpesta menemani para
anggota tuan, mereka datang dan membunuhi
anggota tuan, darah memancar…hiii” Gadis itu pingsan,
aksikah? Sandiwarakah? Entahlah…
Si Brewokan melepaskan pegangan, gadis itu jatuh
begitu saja kelantai, tamnpa ada yang tahu, gadis itu
menyunggingkan senyum tipis, hanya si Brewokan
tidak mengetahuinya.
“Panglima!” Kambratnya yang lain turun dan
menyapa.
“Kita pergi ke cadas ngelir, para Dhara sesat itu belum
juga tunduk dengan kekuasaan kita” Bentak panglima
itu, mereka segera naik keatas pelana dan memacu
kuda, tanpa menghiraukan para gadis yang ada
disana, mereka menganggap para gadis disana adalah
sampah-sampah yang bisa dipermainkan begitu saja,
padahal pada kenyatananya merekalah yang
dipermainkan, ini merupakan siasat yang sangat
hebat.”
Astadewi yang menyaksikan itu tertawa tanpa dapat
dihentikan, ia menggenjot tubuhnya mendekati gadis
yang pura-pura pingsan.
“Mbakyu Dwi Garani sampai kapan mau tidur?”
Sampanya jenaka, wajahnya begitu lugu seperti
kanak-kanak.
Gadis yang pura-pura pingsan bangun dan menatap
Astadewi.
“Nimas Dewi, kemana saja engkau” Katanya serya
memeluk.
Siapakah gadis yang bernama Dwi Garani ini? Tak lain
dan tak bukan diallah gadis yang dulu diperkosa oleh
tiga orang yang ditolong Astadewi, dengan bantuan
Astadewi, Gadis itu menghilangkan traumanya dan
mempelajari ilmu silat, diam-diam ia mencari gadis
yang senasib dengannya, perlahan tap[I pasti.
Anggotapun terkumpul.
Mereka hidup seperti para gadis desa, kesawah atau
keladang adalah kebiasaan mutlak. Siappun takan
menyangka bahwa para gadis ini adalah gadis yang
memiliki kecerdasan dan kemampuan yang digdaya.
Tak lama kemudian, Antari dan Anudhari menyusul,
mengobrol merencanakan siasat…. Siasat apakah?
Entahlah…
***
“Siapa yang engkau bawa kakang?” Tanya Kama
dengan heran.
“Mungkin kalian lebih mengenalnya daripada aku!”
Jawab Sagara Angkara jelas.
Gadis yang dipanggil Kama oleh Sagara Angkara
berlari kedapur dan balik membawa air,
“Kalian Rawatlah,!”
“Mengapa tidak kakang saja?”
“Aku kurang leluasa!” Jawab Sagara Angkara sambil
berlalu dan tersipu malu.
Kama hanya ganda tertawa saja melihat ketua baru
mereka, kali ini Ketua mereka memang beda dari
ketua-ketua terdahulu.
Pada mulanya mereka menolak kerja sama
dengannya, hanya karena usaha gigihnya akhirnya
Para Anggota Dhara sesat berkeputusan
menerimanya sebagai rekan seperjuangan.
Lama bergaul, akhirnya mereka mulai menerima,
apalagi dengan sikap Sagara Angkara yang ringan
tangan dan halus budi, perlahan tapi pasti kelakuan
buruk mereka sedikit berkurang, setelah berembug
akhirnya mereka sepakat menjadikan Sagara
Angkara sebagai ketua mereka.
Tentu sajja Sagara Angkara menolak, akhirnya
dengan alas an mereka ingin bertaubat dan meminta
bimbingan mau tak mau Sagara Angkara tersentuh.
Hanya saja jabatan ketua ia enggan menerima,
setelah disepakati akhirnya mereka menganggap
Sagara Angkara sebagai Kakak yang harus di turuti
oleh para adiknya, padahal sitanya soal umur, Sagara
Angkara adalah yang termuda.
Begitulah, Sagara Angkara mulai membimbing
mereka, menghilangkan dampak buruk dari ilmu yang
mereka pelajari dan diajari hal-hal baru yang lebih
beradab dan berperikemanusiaan.
Kama mulai membuka kain penutup gadis yang
dibawa Sagara Angkara, ia memekik kaget. Disekujur
tubuhnya dipenuhi bekas cambukan, luka pukulan dan
lebam, bahkan daerah selangkangannya merembes
darah. Gadis itu setengah koma, entah kekuatan
apakah yang menopangnya untuk hidup. Wajahnya
dipenuhi dengan luka lebam aknbat tamparan,
sungguh naas nasib gadis ini, bibirnya berubah ungu,
mata terpejam rapat.
Dengan Telaten, kama membersihkannya,
memakaikan pakaian baru, dan mengobati lukanya.
Kama adalah sisa dari Laskar Dhara Sesat Air terjun
Balumbang, dulu ia bekerja sebagai tabib
perkumpulan, jadi jelas ilmu yang dipelajarinya
adalah ilmu pengobatan, padahal ilmu pengobatannya
adalah sama dengan apa yang dipelajari Gardapati
dan Astadewi, jadi bisa dibayangkan dengan ilmu
pengobatannya, pada waktu terjadi kisruh, beruntung
ia sedang mencari obat di luaran sehingga selamat
dari pembantaian, ia memilih mengasingkan diri di
sebuah dusun. Belakangan ia mengetahui dari sandi
yang disebar bahwa kawan seperjuangannya berada
di Cadas ngelir.
Rasa solidaritasnya terpanggil, dengan memberanikan
diri ia datang ke Cadas ngelir, meski ilmu silatnya
sangat lemah, ditanya soal pertabiban dialah ahlinya.
Dua hari kemudian, Pasien Kama mulai siuman,… ia
merintih menahan sakit disekujur tubuhnya, hanya ia
heran sebab ia tidak berada di tempat hukuman lagi,
kini ia ada di sebuah pembaringan yang nyaman,
ketika berpaling kesamping, Kama dan seorang
pemuda menungguinya…
“Kama… kaukah itu!” Gadis ini mengigau.
Kama terkejut mendengar namanya disebut, ia
mendekatkan telinganya pada bibir gadis ini.
“Hati…hati… Barisan Dewa Iblis darah … barisan
pembunuh… Istana Dewa Iblis… Sakti mandraguna…
jangan lengah…!”
Kama mengerutkan kening mendengar kata yang
patah-patah didengarnya, ia ingin bertanya, hanyan
gadis itu kembali pingsan.
“Kama, apa yang dikatakannya?”
“Tidak jelas, hanya patahan kata…!”
“Apakah itu?”
“Hati…hati… Barisan Dewa Iblis darah … barisan
pembunuh… Istana Dewa Iblis… Sakti mandraguna…
jangan lengah…!. Kakang paham apa maksudnya?”
“Tidak,… !” Jawab Sagara Angkara melamun.
“Kama, aku hendak melihat keadaan diluar, pergilah
bawa seluruh anggota rahasia kita ke ruang rahasia,
para pasukan Istana Dewa Iblis akan tiba hari ini.”
“Mengapa harus pergi kakang?”
“Ai, ingat apa yang dikatakannya, aku takut mereka
adalah apa yang dikatakan oleh gadis itu!”
“Baiklah, kami menurut saja, hatii-hati…”
“Baik…!”
“Tunggu,…!”
“Ada-apa?”
“Kakang terluka?”
“Hanya sedikit benturan!”
“Dengan siapa kakang bertarung?”
“Raja Istana Dewa Iblis…!”
“Apa? Kakang pergi kesana? kapan”
“Sudah lama aku menyelundup, hanya posisiku
terdesak, mau tak mau mengambil keputsan buntu,
setelah membuat keributan, aku menyelundup ke
ruang bawah tanah dan membawa gadis itu”
***
Diistana Dewa Iblis…
“Musuh dalam selimut yang selalu mengawasi kita
diam-diam, rupanya adalah orang yang sangat dekat,
kita harus lebih berhati-hati, lagipula kekuatamnnya
sangat hebat, melukaimu hingga seperti ini,
menghindar pengejaran dan menyelinap keruang
bawah tanah, juga membawa kabur Wakil Ketua
Dhara Sesat, Aryani” Si Gila dari Neraka hitam yang
selalu tampil urakan menampakan wajah seriusnya,
rupanya dia adalah otak dari pengkhianatan, dengan
berkedok gila ia melancarkan setiap rencananya
dengan seksama dan matang. Sungguh licin.
“Bagaimana dengan tindakanmu?” Iblis Kembar Bumi
Bertanya.
“Sudah kuutus jagoan handal kita, aku percaya
nasibnya tidak akan lama lagi, Barisan Dewa Iblis
Darah akan mencabut nyawa beserta jeroan
tubuhnya”
“Mengapa kau begitu percaya?”
“Barisan Dewa Iblis Darah,… sejak kecil sudah dilatih
dengan keras dan bengis, hanya satu yang dapat
memerintah mereka, dialah Dewa Tangan Darah. Sifat
mereka aneh, bengis dan haus darah…. “
“Huahahaha….”
Keduanya tertawa dalam luapan kegembiraan, Suara
mereka bergaung laksana ribuan tawaon,… inilah
suara penghianatan..
***
Sagara Angkara berjalan menyusuri hutan Sancang
dengan langkah lebar, pohon puspa menjadi saksi
langkahnya.
Telinganya yang tajam mendadak mendengar suara
pertarungan, suaranya dari arah tenggara. Tidak jauh
darinya. Jiwa pendekarnya terpanggil.
Ia melesat cepat menuju kejadian dengan kecepatan
laksana angin yang berhembus, hanya meninggalkan
bayangan saja…
*
Sagara Angkara kaget melihat seorang gadis muda
terlentang pasrah menuju kematian, pundak dan
kakinya terluka parah. Apalagi setelah ia mencermati
wajah gadis itu.
Gadis itu perlahan bangkit berdiri dengan susah
payah.
“Jingga….!” Desisnya.
Sagara Angkara heran bukan main, ditempat itu
terdapat dua puluh emnpat pemuda tanpa emosi
dengan pedang ditangan kiri.
Ditengah mereka terdapat seorang lelaki berwajah
garang dan buas, dia adalah Pemimpin mereka.
Pemimpin dari Barisan Dewa Iblis Darah, Dewa
tangan darah.
“Eksekusi dia…!” Perintahnya dingin.
Seorang pemuda tanpa emosi datang menerjang. Tak
menunggu dirinya diserang, Jingga lebih memilih
untuk menyerang dahulu…
Kedua tangannya membuka dengan membentang
cakar, dia menerjang dengan tenaga tersisa.
Diatas atap pada sebuah sudut palang, sesosok
berjubah dan berkerudung hijau menyaksikan dalam
diam. Siapakah dia?
Hep…Seorang pemuda yang bergerak tadi
menjulurkan pedang diangan kiri dan membuka cakar
di samping kanan..
“Cakar Cendrawasih merah terang!”
“Cakar tunggal pedang melintang”
“Blaaarrrr……” Sebuah ledakan dahsyat beraliran
tenaga dalam tinggi beradu,
Pedang datang menyabet dengan kecepatan laksana
sinar, namun jingga lebih cepat, setelah cakar beradu,
cakarnya mengembang kesamping dan kemuka…
“Prakkk….BBrukkk…”
“Praangg”
Pedang patah menjadi dua, Pemuda itu terpental
kebelakang diiringi dengusan ringan.
“Sebaiknya aku lekas kabur!” Pikir jingga, kedua
tangannya dihentakan keatas dan berputar…
“Wesss…wesss… Prakk”
Terdengar suara angin ketika Tubuh jingga berputar
dan menembus atap. Belum juga keluar tubuhnya,
mendadak bangunan itu meledak, rupanya Dewa
tangan darah sudah ikut campur.
Bangunan itu meledak karena tenaga dalamnya,
melihat kejadian yang semakin parah, Sagara
Angkara melesat maju.
“Nimas Jingga…”
“Kakang…”
“Budak kecil, kau sudah membuatku marah, salah
satu cara agar hatiku kembali tenang adalah
membunuhmu dengan tanganku sendiri…
Dewa Tangan darah menerjang, Jingga gugup. Apalagi
tenaga dalamnya juga hampir habis terkuras, dengan
terpaksa kembali ia menggunkan jurus Cakar
Cendrawasih merah terang.
Tapi apalah dayanya, kekuatan lawan terlalu dahsyat
untuk dihadapi, pergelangan tangannya ditangkap dan
diputar kebelakang..
“Akhhh…” Jingga menjerit kesakitan, darah kembali
menyembur dari mulutnya.
“Tidaaakkk…”
Sagara Angkara menjerit memburu, namun barisan
Dewa Iblis Darah malah menyerangnya.
“Kalian makhluk laknat, jangan menghalangiku atau
kalian akan mati”
Barisan Dewa Iblis Darah dari sejak kecil sudah dilatih
dengan kejam dan ganas, dalam otak mereka hanya
ada dua kata: Bunuh atau tidak.
Karena Dewa Tangan Darah sudah menginstruksikan
bagi siapa saja yang ikut campur harus ma