Tembang yang tertunda - 23

Diposting oleh Saiful bahri dari situbondo pada 11:07, 31-Jul-14

Cerita Cinta | Tembang yang tertunda | by Mira W | Tembang yang tertunda | Cersil Sakti | Tembang yang tertunda pdf

Matahari Di Batas Cakrawala - Mira W Fear Street - Bayangan Maut Merpati Tak Pernah Ingkar Janji - Mira W Monk Sang Detektif Genius - Lee Goldberg Misteri Putri Peneluh - Abdullah Harahap

n kata Oom Ary, Rama belum tentu bersalah. Dia hanya difitnah.
  "Jangan ke sini lagi, Oom," desisnya muak. "Desi jijik melihat muka Oom!"
  Sekarang memang tidak ada lagi yang ditakutinya. Semua orang akan segera tahu dia hamil di luar nikah. Bukankah suaminya sudah masuk penjara sebelum malam pengantin mereka? Jadi tidak mungkin anak dalam perutnya anak Rama!
  Semua orang bakal tahu, Rama hanya suami pulasan. Jadi apa lagi yang harus disembunyikan?
  Anaknya bakal jadi anak haram? Apa lagi yang bisa dilakukannya untuk mencegah stempel itu? Barangkali memang sudah nasibnya!
  Tapi kata siapa anak haram lebih rendah dari anak halal? Desi bersumpah, dia akan menjadikan anaknya orang terhormat! Supaya tidak ada orang yang berani menghinanya lagi!
  Dengan Oom Ary, dia tidak mau berhubungan lagi. Tega-teganya dia menjodohkan dirinya dengan lelaki sakit jiwa!
  Rupanya untuk menyelamatkan perkawinan-ny, Oom Ary rela melakukan apa saja! Tidak peduli dia harus mengorbankan siapa pun!
  Aryanto pulang ke rumah dengan perasaan malu. Semua rencananya gagal total.
  Dan dia tambah tertekan setelah istrinya mengetahui perbuatannya. Valerina begitu ma-rahnva sampai matanya memerah saga.
  "Dosa apa lagi yang Papa perbuat?" geramnya jijik. "Menjodohkan Desi dengan klien Papa yang mencabuli anak tujuh tahun?"
  Aryanto tidak mampu menjawab. Tidak mampu lagi menyangkal. Dia sudah pasrah menerima hukumannya.
  Tetapi memang tak ada lagi yang dapat diperbuatnya. Aryanto sudah terhukum oleh perbuatannya sendiri. Seumur hidup menanggung nista.
  "Anak di perut Desi kan anak Papa juga. Seperti Kezia dan Revo. Teganya Papa mencarikan ayah sebejat itu untuknya. Biarpun cuma ayah di atas kertas!"
  "Papa khilaf, Ma," keluh Aryanto antara sedih dan malu. "Rasanya Papa mau melakukan apa saja asal bisa memperoleh Mama kembali!" Khilaf. Benarkah kali ini Mas Ary khilaf lagi?
  Ketika menggauli Desi, mungkin dia khilaf. Tidak sengaja meniduri gadis itu. Hanya terdorong oleh nafsu sesaat.
  Tetapi menjodohkan Desi dengan Rama itu bukan perbuatan sesaat! Perbuatan itu butuh rencana! Butuh pemikiran yang matang! Tidak mungkin hanya karena dia khilaf!
  Bagaimana Valerina bisa menaruh respek lagi pada suami seperti itu? Suami yang tega mengorbankan orang lain, bahkan anaknya sendiri, asal kebahagiaannya tak usah dikorbankan? Asal tujuannya tercapai?
  Jika seorang istri wajib menghormati suami, masih mampukah Valerina membungkam hati kecilnya, supaya dia masih dapat mempertahankan mahligai perkawinannya?
  Akhirnya Aryanto Ranggaperkasa, S.H. mengundurkan diri sebagai pembela Rama. Sekaligus sebagai pengacara.
  Dia melepaskan profesi yang telah disandangnya selama puluhan tahun. Dia berharap pengorbanannya itu dapat sedikit menebus dosanya.
  Tetapi dosa terbesarnya pada istri dan anak-anaknya, pada Desi dan anak dalam kandungannya, belum dapat ditebusnya.
  Perselingkuhannya tetap meninggalkan bekas. Karena Desi tidak mau menggugurkan anaknya.
  Sementara ayahnya sudah menyuruh Desi mengajukan permohonan cerai. Lebih baik Desi mengandung anak haram daripada melanjutkan pernikahannya dengan seorang lelaki bejat seperti Rama.
  Seumur hidup Aryanto, anak haramnya akan menjadi stigma sosialnya. Karena anak itu akan menjadi stempel perselingkuhannya.
  Ada lagi pukulan terberat yang harus diterima Aryanto. Istrinya mengajukan permohonan cerai.
  "Saya sudah memaafkan Papa karena ber-selingkuh," katanya tawar. "Tapi saya tidak bisa memaafkan perbuatan Papa pada Desi."
  BAB XX
  SETELAH ingatan Kezia pulih, dia bertekad untuk melanjutkan kuliahnya di luar negeri. Dia seperti sengaja menghindari ayahnya. Dan menghindari semua yang mengingatkannya pada tragedi itu. Kematian Olimpia sangat melukai hatinya. Dan membekas di jiwanya. Karena itu dia memilih meninggalkan semua yang mengingatkannya pada Olimpia, sahabat karibnya.
  Peristiwa malam itu menjadi trauma terberat dalam hidupnya. Dia tidak mau mengingat-ingat lagi peristiwa itu.
  Kezia juga tidak mau mendengar lagi sepak terjang ayahnya yang begitu memalukan. Biarpun ayahnya sudah tidak tinggal serumah lagi, biarpun Papa sudah mengundurkan diri sebagai pembela Rama, cerita-cerita miring mengenai dirinya masih saja terdengar.
  Sebenarnya Kezia iba pada ibunya. Dia berat meninggalkan Mama. Tidak tega membiarkan Mama menanggung penderitaannya seorang diri.
  Apalagi Mama sedang menghadapi proses perceraian. Dia pasti butuh seseorang untuk mendampinginya. Butuh tempat untuk mencurahkan perasaan.
  Tetapi Mama masih tetap Mama yang dikenal Kezia. Dia tegar. Tangguh. Tidak ingin dikasihani.
  "Jangan pikirkan Mama," katanya ketika mendengar Kezia ingin melanjutkan kuliahnya di luar negeri. Tentu saja dia tahu mengapa Kezia tidak betah lagi tinggal di Jakarta. Trauma itu terlalu berat. Kezia tidak bisa cepat melupakannya kalau dia tidak pergi jauh. "Mama sanggup mengatasinya seorang diri. Jangan sia-siakan masa depanmu, Zia."
  Kezia merasa lega mendengarnya. Dia percaya, Mama tidak berdusta. Mama sanggup mengatasinya. Dia perempuan yang tegar.
  Kezia juga tidak ragu-ragu meninggalkan Dokter Hendardi yang kini sudah menjadi pacarnya.
  "Kalau memang jodoh kan nggak ke mana-mana, Ma," katanya santai ketika ibunya menanyakan hubungannya dengan dokter itu. "Ya sementara ini, cinta long distance-lah." Pokoknya tekad Kezia sudah bulat. Dia ingin studi di luar negeri. Dan Kezia memilih Zurich.
  Ketika Valerina tahu kota apa yang dipilih anaknya, dia terdiam sesaat.
  Benarkah Kezia ingin studi di Swiss? Atau... dia cuma ingin membahagiakan ibunya? Karena dia tahu, Mama telah menitipkan hatinya di sana?
  "Apa hubungan lelaki itu dengan Kezia, Ma?" pernah Kezia bertanya demikian ketika dia sudah dapat berpikir lagi.
  "Tidak ada," sahut Valerina tegas.
  "Jadi siapa ayah Kezia sebenarnya?" "Papa."
  Valerina tahu, Kezia akan lebih puas kalau ibunya mengakuinya dengan terus terang. Kezia putri Tristan. Bukan Bimo.
  Karena dari Dokter Hendardi, Valerina tahu, golongan darah Kezia B. Seorang wanita bergolongan darah A. tidak mungkin mempunyai anak bergolongan darah B dari laki-laki yang golongan darahnya O seperti Bimo. Jadi satu-satunya kemungkinan hanya Tristan. karena Valerina sudah hamil ketika dia menikah dengan Aryanto.
  Tetapi untuk suatu alasan yang dia sendiri tidak tahu. Valerina ingin menyimpan rahasia itu untuk dirinya sendiri.
  "Mama ngantar Kezia ke sana?" tanya Aryanto tawar ketika Valerina menyampaikan keinginan Kezia.
  Saat itu proses perceraian mereka sedang berlangsung. Dan mereka sudah pisah rumah. Valerina kembali ke rumah almarhum ayahnya. Dan dia tinggal bersama Kezia.
  Aryanto tinggal sendiri di rumahnya yang lama. Hanva ditemani oleh Mbok Nah.
  Tetapi ketika Kezia menyatakan keinginannya untuk studi di luar negeri, Valerina masih menelepon Aryanto. Mengabarkan niat anak mereka. "Kalau proses perceraian kita sudah selesai." "Papa bisa mengaturnya supaya selesai lebih cepat. Kapan Mama mau pergi?"
  "Secepatnya. betul papa nggak apa-apa?"
  "Pergilah, Ma," pinta Aryanto tulus. "Mama kan suka jalan-jalan ke Swiss,"
  Suaranya sama sekali tidak bernada mengejek. Apalagi menyindir.
  "Papa ikut?" tanya Valerina datar. "Hitung-hitung ngantar Kezia."
  "Biar Mama saja yang menemani Kezia," kata Aryanto sambil menyembunyikan kepedihan hatinya. "Mama kan yang pintar bahasa Jerman. Lagi pula Kezia belum tentu mau kalau Papa ikut."
  Aryanto benar. Kezia pasti keberatan kalau ayahnya ikut. Seperti adiknya jug a, Kezia belum dapat memaafkan ayahnya.
  ; Sampai sekarang Kezia masih menganggap kematian Olimpia adalah kesalahan ayahnya. Karena itu dia tidak keberatan ketika ibunva menanyakan pendapatnya te ntang perceraian mereka.
  "Itu hak Mama." jawabnya tegas. "Tidak seorang pun berhak menyuruh Mama mempertahankan perkawinan kalau Mama sendi ri sudah
  tidak menginginkannya."
&n bsp; Setelah resmi bercerai, Valerina berangkat bersama Kezia ke Swiss.
  Di Bandara Zurich, Revo yang memerlukan datang dari Montreux, menyambut kedatangan ibu dan kakaknya dengan terharu. Dia tahu bagaimana beratnva arti perceraian untuk ibunya. Apalagi kalau pernikahan itu sudah berusia dua puluh tahun. Dan Mama sudah terpilih sebagai ibu dan istri teladan.
  "Jangan sedih ya, Ma," bisik Revo ketika dia sedang memeluk ibunya. "Kan ada Revo."
  Valerina hanya mengangguk. Dia merasa matanya panas.
  Ketika melihat air mata menggenangi mata ibunya, tak sadar Kezia ikut memeluknya.
  Dalam rangkulan kedua anaknya, Valerina merasa terharu. Sekaligus bangga. Anak-anaknya sudah berubah. Prahara sudah mengubah mereka. Menempa mereka menjadi lebih dewasa. Kini mereka tampil begitu kokoh sebagai pelindung ibunya.
  Setelah melepaskan pelukannya, Revo mulai mencari-cari Tristan dengan matanya. Dia heran mengapa Tristan tidak datang untuk menjemput ibunya.
  "Teman Mama kok nggak nongol?" tanya Revo heran. "Mama nggak bilang kita datang?"
  "Mama pernah janji akan membawa kalian ke Zermatt."
  "Dia nunggu kita di sana?" tanya Kezia tak sabar.
  "Dia tidak tahu kita datang." "Jadi Mama mau bikin kejutan?" Valerina hanya tersenyum tipis. "Buat orang setua Mama, tidak ada lagi kejut-kejutan. Mama cuma tidak mau bikin repot dia."
  "Bohong," goda Revo separo bercanda. "Mama pasti mau bikin surprise. Biar lebih asyik!" "Kita ikut Mama ke Zermatt?" "Nggak usah. Mama bisa jalan sendiri." "Iya dong," sambar Revo sambil memukul bahu kakaknya. "Kezia nih kayak yang nggak pernah muda aja!"
  "Katanya Mama udah janji mau bawa pasukan ke Zermatt?"
  "Itu dulu, Sayang!" gurau Revo sambil ter-senyum lebar. "Nyadar dong, Kezia! Tu otak masih mangkal di tempatnya nggak sih?"
  Kezia sudah bergerak hendak memukul adiknya. Tapi Valenna mencegahnya.
  "Sudah, ah." desahnya jengah. Bercanda
  melulu. kita ke hotel dulu, yuk."
  "Kalau Mama mau, kita rela ngawal Mama ke Zermatt."
  "Nggak usah. Dia juga belum tentu ada di sana."
  "Telepon dong, Ma."
  "Aduh, Kezia!" cetus Revo berlagak mengurut dada. "Udah heng melulu, mendingan PC di kepala lu ditukar tambah aja deh!"
  "Kalo Mama udah jauh-jauh ke Zermatt trus dia nggak ada di sana, gimana dong, Ma?" tanya Kezia tanpa menghiraukan kelakar adiknya.
  "Katanya sih dia mau main ski dulu di Tiefenbach. Sudah itu baru pulang ke Zermatt. Dia punya toko kecil di sana...."
  "Tiefenbach?" desis Revo kaget. Senyum lenyap dari bibirnya. Parasnya tegang. "Maksud Mama, glasier Tiefenbach di Tyrol?"
  "Kamu pernah ke sana?"
  "Kapan dia ke sana, Ma?" tanya Revo seperti tidak mendengar pertanyaan ibunya.
  "Sepulangnya dari Jakarta."
  "Awal September?"
  "Ada apa?" tanya Valerina dengan perasaan tidak enak.
  "Kita duduk dulu yuk, Ma."
  "Kenapa?" "Revo haus."
  Tapi Valerina tahu, bukan itu alasan Revo mengajaknya duduk. Putranya tidak kelihatan haus. Dan kegembiraannya lenyap seketika. Pasti ada yang disembunyikannya. Tetapi Valerina tidak dapat menerka masalah apa yang membuat Revo gundah. Dia tidak kenal Tristan, kan? Mereka hanya pernah bertemu di Jakarta. Mengobrol saja tidak pernah.
  Seperti mengerti kegundahan adiknya, Kezia juga tidak banyak tanya. Tanpa memprotes, dia mengikuti adiknya ke counter minuman. "Kenapa sih, Vo?" bisiknya ketika mereka sedang memesan tiga gelas jus jetuk.
  "Nggak dengar?" bisik Revo sambil melirik ibunya yang sedang duduk tak jauh dari mereka. "Apa?"
  "Ada kecelakaan di glasier Tiefenbach awal
  September lalu."
  Valerina hampir tidak memercayai pendengarannya. Matanya mengawasi putranya dengan nanar.
  "Mama jangan kaget, ya." Meskipun Revo memulai kata-katanya seperti itu, Valerina tetap saja terperanjat. Dia malah cemas. Takut mendengar kabar buruk yang akan disampaikan putranya. Di sisinya, Kezia mencekal lengan ibunya erat-erat. Seolah-olah ingin menenteramkan perasaan Mama. "Mungkin sih nggak ada sangkut pautnya. Bisa aja kan teman Mama nggak jadi ke Tiefenbach. Atau dia nggak ke sana hari itu..."
  "Ada apa, Revo?" potong Valerina panik. "Kamu mau ngomong apa?"
  Awal September, ada gondola jatuh di Soelden, Ma. Sembilan orang tewas...."
  "Ya Tuhan!" desah Valerina lirih. Mukanya pucat pasi.
  Mungkinkah Tristan berada di sana? Mungkinkah dia berada di dalam gondola itu? Mungkinkah dia...
  "Tidak!" rintih Valerina dengan air mata berlinang. Tristan tidak berada di sana! Dia tidak jatuh! Dia tidak mati! Tidak mungkin!
  "Ma, coba telepon dia," pinta Kezia hati-hati.
  Tetapi Valerina tidak mampu menggerakkan tangannya. Bahkan untuk mengambil ponsel-nya Seluruh tenaganya seperti tiba-tiba terku