Siluman Tengkorak Gantung - 7

Diposting oleh Saiful bahri dari situbondo pada 19:33, 09-Apr-15

Cerita Silat | Siluman Tengkorak Gantung | Serial Pendekar Rajawali Sakti | Siluman Tengkorak Gantung | Cersil Sakti | Siluman Tengkorak Gantung pdf

Pendekar Rajawali Sakti - 159. Neraka Kematian Suro Bodong - Menembus Kabut Berdarah Pendekar Rajawali Sakti - 160. Keris Iblis Pendekar Rajawali Sakti - Seruling Perak Pendekar Pulau Neraka - Hantu Rimba Larangan

Gantung menerjang kedua tokoh tua itu. Namun sambil tertawa Loro Blonyo menggerakkan tangannya. Kelihatan sembarangan, namun akibatnya....
  Des! Des!
  “Aaakh...!”
  “Aaakh...!”
  Dua Siluman Tengkorak Gantung jadi terpental dengan kepala pecah dan remuk. Sedangkan Manuk Beduwong tidak kalah kejamnya. Dua lawannya juga mati dengan tangan dan kaki putus.
  Tetapi keadaan mereka juga dalam bahaya. Karena, masing-masing sudah terluka pada bagian dalam. Dalam pertarungan keduanya tadi, sudah begitu banyak mengandalkan tenaga dalam. Apalagi kini harus menghadapi para Siluman Tengkorak Gantung. Akibatnya, gerakan-gerakan mereka telah membuat luka dalam semakin parah. Darah tampak menetes dari sudut bibir keduanya. Sedangkan di pihak Siluman Tengkorak Gantung, kini tinggal empat.
  Sambil memutar-mutar tali gantungan yang tadi melibat leher, empat Siluman Tengkorak Gantung bergerak menerjang.
  “Chiaaat!”
  Ctar! Ctar! Ctar!
  “Bajingan tengik! Setan pengecut! Beraninya hanya main bokong. Kalian harus dilenyapkan dari muka bumi ini!” dengus Manuk Beduwong. Seketika tangannya merogoh saku dari baju merahnya. Lalu dilemparkannya beberapa buah benda yang ternyata kelabang merah ke arah lawan-lawannya.
  “Bagus! Biar aku juga akan menghadiahi rumput salju dari Puncak Himalaya!” tambah Loro Blonyo sambil melemparkan rumput panjang berwarna putih.
  Tampaknya kedua tokoh yang tergolong sesat itu menggunakan senjata beracun yang ganas luar biasa!
  Begitu cepat gerakan Manuk Beduwong, sehingga salah satu Siluman Tengkorak Gantung terkena serangan kelabang merahnya. Sedang yang seorang lagi tertancap rumput salju yang mengandung racun dingin. Yang tergigit kelabang merah, kontan binasa dengan warna kulit berubah merah kehitaman. Sedangkan yang tertancap rumput salju, roboh binasa dengan tubuh kaku membiru.
  Sementara dua orang Siluman Tengkorak Gantung yang selamat segera loncat mundur dengan rasa ngeri. Melihat kesempatan itu, kedua tokoh tua itu melesat pergi sambil meninggalkan tawa berisi tenaga dalam tinggi, hingga dapat mengguncangkan isi dada.
  “Hieeeh...!”
  Namun baru saja kedua Siluman Tengkorak Gantung hendak mengejar, terdengar suara ringkikan kuda disusul munculnya beberapa prajurit Kerajaan Suralaya. Kedua siluman itu tampak terkejut melihat kedatangan orang-orang kerajaan yang tidak terduga sama sekali.
  “Keparat! Biar bagaimanapun kita harus mendapat potongan- potongan Kitab Pusaka Kincir Angin dari tangan Loro Blonyo dan Manuk Beduwong. Kalau mereka tidak cepat dikejar, kita bisa kehilangan jejak. Hm.... Tidak ada jalan kecuali ini!” kata salah seorang Siluman Tengkorak Gantung.
  Lalu kedua musuh Kerajaan Suralaya itu melempar pisau terbang dan jarum beracun ke arah prajurit. Begitu cepat gerakan mereka sehingga....
  Crap! Crap!
  Saat itu juga terdengar jeritan keras dari beberapa prajurit yang roboh binasa. Kejadian ini membuat para prajurit terlongong tak percaya.
  Melihat kesempatan itu, kedua Siluman Tengkorak Gantung segera melesat, melarikan diri dari tempat ini.
  “Keparat! Mereka lolos lagi! Mari kita kejar sampai ke dasar neraka sekalipun!” bentak kepala prajurit geram.
  Dalam waktu singkat, pinggiran pantai Laut Selatan kembali sepi dan lengang. Sedangkan Ki Sabda Gendeng dan Jaka Tawang telah meninggalkan tempat itu pula.
  ***