Pendekar Sejati - 171

Diposting oleh Saiful bahri dari situbondo pada 18:51, 10-Sep-14

Cerita Silat | Pendekar Sejati | by Gan K.L | Pendekar Sejati | Cersil Sakti | Pendekar Sejati pdf

Vampire Academy 2 : Frostbite - Richelle Mead Lupus Kecil - Hilman Hariwijaya Anak Kos Dodol - Dewi Rieka Aku Sudah Dewasa! - And Baby Makes Two - Dyan Sheldon Anugerah Bidadari - Astrella

22.85. Perjalanan Suami Isteri “Kosong” “O, kiranya Hi-seheng adalah menantu kesayangan Beng-sia-tocu, selamat dan bahagialah kuucapkan,” kata Bun Yat-hoan dengan tertawa. Tapi dalam hati ia pun terkesiap dan heran, “Beng-sia-tocu Le Kim-liong adalah gembong iblis yang berdiri di antara baik dan jahat, entah mengapa Hi Giok-hoan dapat mengikat jodoh dengan anak perempuannya?” Setelah mengambil tempat duduk masing-masing, kemudian Kongsun Bok membuka suara, “Bun-pepek, ada suatu persoalan Siautit ingin mohon petunjuk.” “Silakan bicara,” jawab Bun Yat-hoan.
  “Pagi tadi di luar kota kuketemukan seorang Lo- cianpwe, yaitu Pek-losiansing, katanya dia sekarang tinggal di istana perdana menteri Han To-yu,” tutur Kong-sun Bok.
  “O, yang kau maksudkan tentulah Pek Tik,” kata Bun Yat-hoan. “Ya, dia diminta oleh Ong Ce-cu dari Thay- ouw agar mau menjadi tamu kehormatan Han To-yu, apakah kau merasa heran dan sangsi mengenai hal ini?” “Sudah lama kudengar Pek-locianpwe adalah seorang tokoh kesatria yang baik hati, masakah aku menyangsikan pribadinya?” ujar Kong-sun Bok. “Yang kuingin tahu ialah tentang putera Han To-yu yang bernama Han Hi-sun, apakah anak perdana menteri itu murid Pek-locianpwe?” “Entah, aku pun tidak tahu,” sahut Bun Yat-hoan. “Pek Tik baru dua bulan berada di sana, kukira dia takkan menerima murid segala. Ada apa, pernahkah kau bergebrak dengan putera perdana menteri itu?” “Benar,” jawab Kong-sun Bok. Lalu ia pun bercerita apa yang telah dialaminya. Katanya kemudian, “Gaya ilmu silat Han Hi-sun itu berbeda daripada ilmu silat Pek-locianpwe, aku memang meragukan dia adalah murid Pek-locianpwe, kini dibuktikan pula oleh keterangan Bun-tayhiap, tentu aku tidak perlu sangsi lagi. Cuma entah siapakah gurunya?” “Di dalam istana perdana menteri tidak sedikit orang kosen, kalau menurut ceritamu, agaknya kepandaian Han-kongcu itu terlebih tinggi daripada jago-jagonya.
  Siapakah gurunya aku sendiri tidak tahu. Tapi mengapa kau terburu-buru ingin mencari tahu persoalan ini?” “Sebab kepandaian Han Hi-sun yang khas, yaitu ilmu Tiam-hiat, membikin aku curiga dan ingin tahu siapa yang mengajarnya,” tutur Kong-sun Bok.
  “Ahli Tiam-hiat di dunia ini masakah ada lagi yang lebih lihai daripada Bun-lim-thian-kiau? Kudengar waktu Bu-lim-thian-kiau berada di Kong-bing-si, pernah juga dia mengajarkan ilmu Tiam-hiat padamu.
  Lantas sekarang masakah kepandaianmu tidak dapat menandingi Han Hi-sun itu? Bahwasanya kau sampai terkejut dan menyangsikan asal-usul kepandaiannya, hal ini rada aneh.” “Hanya kekuatannya saja yang belum sempurna,” tutur Kong-sun Bok pula. “Kalau melulu gerakan ilmu Tiam-hiat, bukan saja dia lebih hebat daripada diriku, bahkan juga lebih bagus daripada Tam-sioksiok.” “He, bisa terjadi demikian?” seru Bun Yan-hoat.
  “Yang lebih mengherankan adalah ilmu Tiam-hiatnya ternyata hampir serupa dengan kepandaian yang kudapat dari Tam-sioksiok, malahan gerak perubahannya terlebih indah dan bagus.” “Jika begitu, jadi dia mahir Keng-sin-ci-hoat?” Bun Yat- hoan menegas.
  “Ya, makanya aku merasa heran,” kata Kong-sun Bok.
  “Kalau memang begitu, ya, memang sangat mengherankan,” kata Bun Yat-hoan sambil mengerut kening.
  “Apa sih yang mengherankan kalian, coba jelaskan, sampai sekarang aku belum paham persoalannya,” kata Le Say-eng.
  “Nona Le, mungkin kau belum tahu bahwa ilmu Tiam- hiat yang diyakinkan Bu-lim-thian-kiau Tam Ih-tiong itu berasal dari Hiat-to-tong-jin,” tutur Bun Yat-hoan.
  “Patung tembaga yang penuh dilukis dengan titik-titik Hiat-to di tubuh manusia, asalnya adalah benda pusaka kerajaan Song. Waktu kotaraja diduduki pasukan Kim, benda mestika itu telah ikut dirampas musuh. Malahan raja Kim khusus mengumpulkan semua tokoh persilatan seluruh negeri dan mendirikan suatu ‘Lembaga Penyidik’ yang dikepalai paman raja, yaitu Wanyan Tiang-ci, untuk menyelami ilmu yang tertera di atas patung tembaga itu, hasilnya lahirlah sebuah lukisan ikhtisar Hiat-to-tong-jin. Bu-lim-thian- kiau aslinya adalah putera pangeran kerajaan Kim, dia punya Kong-sin-ci-hoat diperoleh dari hasil menyelami gambar ikhtisar itulah.” Sampai di sini, tanpa terasa mendadak Le Say-eng melonjak bangun, serunya dengan sikap seakan-akan baru menyadari sesuatu, “Aha, pahamlah aku sekarang!” “Kau paham apa?” tanya Giok-hoan.
  “Sekarang tahulah aku siapakah orang berkedok yang merampas gambar pusaka itu,” seru Say-eng. “Dia bukan lain daripada guru Han Hi-sun.” “Orang berkedok apa maksudmu?” tanya Bun Yat- hoan.
  Maka berceritalah Le Say-eng mengenai kisah gambar ikhtisar Hiat-to-tong-jin sebagaimana didengarnya dari cerita Ko-si itu.
  “O, kiranya begitu,” tukas Bun Yat-hoan. “Jika begitu, agaknya gambar ikhtisar Hiat-to-tong-jin itu seluruhnya ada dua lembar. Lembar yang satu berasal dari istana kerajaan Song, lembar yang lain adalah hasil penyelidikan lembaga yang dibentuk oleh kerajaan Kim itu.” “Benar,” kata Say-eng. “Barangkali gambar asli kerajaan Song itu terlebih bagus sedikit, sebab itulah Kongsun-toako merasa ilmu Tiam-hiat yang dikuasai Han Hi-sun itu terlebih hebat. Pada peristiwa dicurinya gambar pusaka itu, ketika orang berkedok itu memasuki kamar hotel dan melukai Ko Kiat serta menotok Hiat-to Nyo Tay-ging dan Ciok Leng, kemudian Nyo dan Ciok berdua mencurigai Ko Kiat yang bersekongkol dengan orang berkedok, sedangkan Ko Kiat mencurigai Suhengnya, yaitu Kiau Sik-kiang, tapi akhirnya dia mencurigai pula ayahku.
  Aku sendiri mencurigai orang berkedok itu sebagai Oh-hong-tocu, padahal salah semuanya, yang benar orang berkedok itu ialah guru yang mengajar Han Hi- sun itu.” “Ya, kita telah mendapatkan setitik sinar terang, cuma sayang kita masih belum tahu siapakah gerangan guru anak perdana menteri itu?” ujar Giok-hoan dengan tertawa.
  “Dalam hal Keng-sin-ci-hoat, Tam-sioksiok masih ada beberapa bagian belum berhasil disempurnakan, ia pun tahu ada sebuah gambar lain yang berasal dari kerajaan Song, cuma tidak diketahui berada dimana,” demikian tutur Kong-sun Bok lebih jauh. “Tapi kalau guru Han Hi-sun dapat diketahui, tentunya akan bermanfaat bagi Tam-sioksiok, mereka berdua tentu dapat saling tukar pikiran.” “Ada murid begitu tentu juga ada guru yang serupa,” kata Say-eng. “Han Hi-sun berkelakuan tidak baik, orang yang mau menerima murid begini tentu pula bukan manusia baik-baik.” “Benar, aku pun kuatir bilamana gambar pusaka itu berada di tangan orang jahat, kelak tentu akan membahayakan dunia persilatan umumnya,” ujar Bun Yat-hoan. “Baik begini saja, aku akan membantu mencari tahu siapakah guru Han Hi-sun itu. Jika tidak berhasil, terpaksa aku minta bantuan Liok Pang-cu dari Kay-pang untuk mencari tahu hal ini. Sumber berita Kay-pang sangat luas dan cepat, mungkin akan berhasil.” Kong-sun Bok lantas mengucapkan terima kasih dan bermaksud mohon diri. Tapi Bun Yat-hoan telah menahannya agar suka bermalam dulu.
  Esok paginya Kong-sun Bok, Le Say-eng dan Hi Giok- hoan lantas meninggalkan tempat kediaman Bun Yat- hoan. Sesudah turun dari pegunungan Tian-tiok-san, tiba-tiba Le Say-eng berkata, “Bagaimana kalau malam ini kita coba menyelidiki keadaan istana Han To-yu?” “Kenapa kau menjadi terburu-buru, bukankah Bun- tayhiap sudah menyanggupi akan membantu mencari beritanya,” ujar Giok-hoan tertawa.
  “Suci mati lantaran gambar pusaka itu, tentu saja aku menjadi ingin lekas-lekas mendapatkan jawaban yang pasti,” kata Say-eng. “Pula seumpama nanti Bun- tayhiap berhasil mendapat tahu siapa gerangan guru Han Hi-sun, lalu apa yang dapat kita lakukan terhadap orang itu? Tidakkah lebih baik sekarang kita menyusup ke sana dan membekuk keparat Han Hi- sun itu untuk ditanyai secara langsung saja?” “Cara ini kukira kurang baik,” kata Kong-sun Bok.
  “Kukira lebih baik kita mencari Pek-locianpwe saja dan minta keterangan padanya.” “Jangan, begitu sampai di sana mungkin kita segera akan direcoki keparat Han Hi-sun itu, maka lebih baik bertindak secara diam-diam,” kata Say-eng.
  Karena tidak enak buat menolak, terpaksa Kong-sun Bok menuruti keinginan si nona. Mereka sengaja mengitar di luar kota Lim-an untuk membuang tempo, menjelang magrib barulah mereka masuk kota.
  Mereka tangsal perut dulu di suatu rumah makan kecil, berbareng mereka tanya letak istana perdana menteri. Menurut keterangan pemilik rumah makan, ternyata tempat kediaman perdana menteri dorna itu terletak di lereng Koh-san, suatu bukit di tepi Se-ouw yang indah.
  Sudah tentu mereka tidak berminat menikmati keindahan alam yang termasyhur itu, mereka menyusuri tepi danau, tanpa terasa sudah dekat tengah malam, mereka lantas mendaki bukit.
  Istana perdana menteri itu dibangun membelakangi bukit, mereka dapat mengintai taman belakang istana dari suatu ketinggian tebing yang terjal. Tebing itu banyak tumbuh akar pohon tua yang melingkar ke bawah laksana ular. Ada beberapa akar panjang yang menjulur sampai di dekat pagar tembok taman.
  Karena itu tanpa banyak kesukaran mereka bertiga lantas mengayunkan diri ke dalam taman dengan bergelantungan akar pohon, dengan Ginkang mereka yang tinggi, perbuatan mereka itu sama sekali tak diketahui orang meski di taman bunga itu ada beberapa Wisu (jago pengawal) yang sedang ronda.
  Dengan merunduk mereka terus menyusur ke depan, beberapa Wisu itu meronda seperti biasa, mimpi pun mereka tidak menduga bahwa saat itu ada tiga orang bersembunyi di dekat mereka.
  Setelah para Wisu itu lewat, Giok-hoan coba memandang sekelilingnya, tertampak pepohonan dan bunga tumbuh menghijau permai, bukit-bukitan, kolam teratai dan ujung bangunan megah samar- samar mengintip di kejauhan sehingga terbentuk suatu gambaran pemandangan yang indah.
  “Begini luas taman ini, entah dimana letak kamar keparat Han Hi-sun itu?” kata Giok-hoan dengan suara tertahan.
  “Sabar dulu, ini dia kesempatan baik telah datang!” bisik Say-eng.
  Waktu Giok-hoan mengintip ke depan sana, dilihatnya seorang budak cilik dengan menjinjing sebuah kotak makanan sedang menuju ke arah mereka ini.
  Sesudah dekat, secepat kilat Le Say-eng melompat keluar. Selagi budak cilik itu kaget dan belum sempat berteriak, tahu-tahu mulutnya sudah didekap oleh Say-eng terus diseret ke balik bukit-bukitan itu.
  “Jangan takut,” demikian Say-eng membisiki budak cilik itu, “aku hanya ingin tanya kau, asalkan kau menjawab dengan jujur, tentu kau takkan kuganggu.
  Tapi kalau kau berdusta, ini, coba lihat!” Lalu telapak tangannya memotong sepotong batu di sampingnya sehingga batu itu hancur.
  Semula budak cilik itu rada lega melihat Le Say-eng seorang wanita, tapi ia menjadi terperanjat pula melihat kepandaian Say-eng yang hebat itu. Dengan suara gugup ia menjawab, “Ap..... apa yang nona ingin tanyakan, aku harus mengantar kuah kolesom ini untuk Ji-kongcu.” “Aku justru ingin tahu Ji-kongcumu itu tinggal dimana?” kata Say-eng tertawa.
  “Kalian hendak mencari Ji-kongcu?” budak cilik itu menegas dengan mata terbelalak.
  “Ya, jangan banyak tanya lagi, lekas katakan,” desak Say-eng.
  Budak cilik itu tahu watak Ji-kongcu yang suka bergaul dengan orang kosen Kang-ouw, maka tanpa ragu-ragu lagi ia lantas menjawab, “Ji-kongcu tinggal di rumah bersusun bercat merah di tepi kolam teratai pojok sana, dari sini lurus ke selatan setelah melintasi dua bukit-bukitan. Cuma kalian jangan bilang aku yang memberitahukan kepada kalian.” “Jangan kuatir, malam ini Ji-kongcumu pasti takkan tanya soal kuah Kolesom segala, kau boleh mengaso dulu, satu jam lagi baru kau kembali ke kamarmu untuk tidur,” kata Say-eng. ~ Lalu ia totok Hiat-to budak cilik itu dengan cara yang khas, selewatnya satu jam, Hiat-to yang tertotok itu akan punah sendiri dan budak cilik itu dapat bergerak lagi.
  “Ha, ha, kuah kolesom ini kalau dibuang sayang, biar kuminum saja,” kata Say-eng sambil menenggak kuah yang dibawa budak cilik tadi. “Wah, rasanya sedap juga, maukah kau mencicipi?” “Habiskan saja,” kata Giok-hoan dengan tertawa.
  Kemudian mereka menuju ke arah yang ditunjuk si budak cilik tadi. Setiba di tepi kolam teratai, mereka bersembunyi di balik bukit-bukitan, tertampak loteng bangunan cat merah itu masih terang benderang, kelihatan sesosok bayangan orang di balik jendela sana, jelas bayangan tubuh Han Hi-sun.
  “He, apa yang sedang dilakukannya?” kata Say-eng dengan heran