Anak Kos Dodol - 12

Diposting oleh Saiful bahri dari situbondo pada 16:10, 31-Agu-14

Cerita Remaja | Anak Kos Dodol | by Dewi Rieka | Anak Kos Dodol | Cersil Sakti | Anak Kos Dodol pdf

Hex Hall - Rachel Hawkins Cinta Sepanjang Amazon - Mira W Topeng Hitam Kelam - Ambhita Dyaningrum Cinta Dalam Diam - ucu supriadi Fear Street : Ciuman Maut

e atas, buru-buru kabur dari jendela sambil menahan mual. "Sial, baru juga kelar makan mie sosis goreng!" Desisku disambut tawa anak-anak. "Aku nggak liat jelas lho... barangnya!" Disti membela diri. Hihi... siapa nanya?
  Anti malah berlari keluar memanggil anak-anak di ruang TV, bikin penonton show makin membludak. Huuu... Terang saja si cowok makin semangat. Coba liat, sekarang dia dengan atraktif menunggangi motornya! Huaaa! Give me more! Jerit Angel heboh. Cekikikan lagi.
  Rasti, salah satu dari sedikit cewek yang waras malam itu buru-buru mencari Pak Say. Diam-diam, Pak Say dan anaknya keluar kos dan menangkap si cowok, membawanya ke pos ronda terdekat. Tau tahu deh nasib tuh cowok dige-bukin apa disunat ulang sama tukang ronda hehe. Yang paling menakjubkan, saking asyiknya show off, tuh cowok ekshibisionis* sampai nggak ngeh saat didekati dan diringkus Pak Say and the gank! Hiyy... ada-ada sajaa....
  "orang yang mempunyai dorongan melakukan eksibisionisme, kelainan yang ditandai dengan kecenderungan memperlihatkan hal-hal yang tidak senonoh seperti alat kelaminnya untuk memuaskan diri.
  Ratu pemalas
  "Cewek sekarang fasihnya jadi anggota Senat tapi masak dan beberes tidak becus," begitu keluhan seorang cowok temanku di BEM kampus. Aku ingin menyanggah pendapatnya yang agak melecehkan itu dan berdebat seru seperti biasa. Tapi, apa daya... pernyataan temanku itu banyak benarnya. Ya, paling tidak kalau ngeliat aku dan anak-anak kos, hehe.
  Rata-rata, anak kosku punya kesibukan selain ngampus. Ada yang kerja paruh waktu sebagai model, SPG rokok, juga penjaga toko di mal. Ada pula yang aktivis kampus sepertiku hehe sok sibuk ikut senat, rohis, atau UKM lain yang jumlahnya mencapai puluhan di kampus.
  Kami tinggal di kos-an yang fasilitasnya lengkap. Ada kamar mandi pribadi, cuci dan setrika, air minum tinggal ambil di dandang raksa plus warung sebelah yang tinggal teriak sandinya di jendela: "Mbak Nem... lotek dooong! Pesanan langsung diantarkan di depan pintu. Kata anak-anak yang rada sirik, kami seperti tinggal di hotel hehe.
  Kemudahan-kemudahan ini lah yang bikin kami makin terdidik untuk MALAS. Parah ya. Kata sakti itu menyihir banyak anak. Terkecuali beberapa anak ya yang rajin dari sononya macam si Baby Huey, Tere anak Pekalongan, atau Putri Sunsilk "rambut panjangnya bikin dengki, Mbak Leslie dari Semarang yang hobinya beberes. "Berjiwa pembantu," ledek Sarah usil hehe.
  Untuk urusan telat bangun, rata-rata anak kos mengidap penyakit akut ini. Apalagi kalau hari Minggu. Kehidupan di kos baru mulai pukul sepuluh ke atas. Ada anak-anak angkatan baru yang kasak-kusuk beberes kamar, pasang musik, dan mencuci dengan berisik pasti dihardik dari dalam kamar oleh kami, mbak kos pemalas yang sok senior. Hihi padahal salahnya sendiri, jam sembilan kok masih molor.
  Padahal, kata orang-orang tua, rejeki datang seiring matahari terbit. Pamali bangun siang, rejeki bisa dipatok ayam, kan! Tapi, tetap saja badung. Pernah nih, pas puasa hari pertama "kebetulan libur, setelah kasak-kusuk menyiapkan hidangan sahur istimewa dan haha-hihi menunggu azan subuh, anak-anak pun tidur. Dan... bangunnya... jam lima sore, saudara-saudara! Mendekati waktu berbuka puasa! Kacau! Kaget banget dah pas bangun tidur!
  "Tidurnya orang berpuasa adalah pahala," itu pembelaan dari para pelaku kejahatan sambil nyengir. Iyaa... tapi kalau tidur seharian juga mah, terlaluu... kalau nyokap kita pada tahu bisa diamuk dengan sapu lidi tuh! Oh, anak gadisku mau jadi apa kalian?
  Untuk gelar ratu pemalas, aku dan tetangga kamarku tersayang, Alisha yang jadi juara bertahannya. Ibu pemilik kos yang jarang datang dan super cuek itu sampai ngomel-ngomel pada penjaga kos. Pasalnya, aku dan Alisha berlomba-lomba paling banyak cucian piring kotornya!
  Ya, kami berdua punya peralatan dapur yang lengkap *hasil kerja Mamaku yang tiap datang hobinya beberes dan melengkapi isi kamar. Beda dengan anak lain yang punya perabot makan secukupnya; piring satu, gelas satu, jadi habis makan langsung cuci. Nah, kami punya peralatan makan yang cukup untuk kebutuhan keluarga kecil!
  Akibatnya, habis makan nggak ada tuh istilah langsung dicuci, tapi ditaruh begitu saja di depan pintu kamar. Lama-lama kan menumpuk dan bulukan tuh hiiy. Pas mau makan dan sadar nggak ada lagi piring bersih, baru deh berjibaku mencuci piring di dapur! Berebutan sama Alisha! Hahaha, parah....
  Urusan cuci baju juga paling ngebetein. Malas banget. Ya, kalau baju bagus atau pakaian dalam sayang kan kalau dititip ke Pak Say, bisa rusak masuk mesin cuci. Hihi lagian geli amat membiarkan Pak Say pegang-pegang lingerie kita hiiy! Beberapa anak memasukkan baju bagusnya ke laundry. Itu kalau yang duitnya berlebih ya. Aku dan Alisha merasa sayang saja buang duit. Kami kan sedang program pengiritan jadi kompak cuci baju sama-sama.
  Sialnya, Alisha menginap ke neneknya yang tinggal sekota berhari-hari. Dia kan penderita amnesia sesaat. Pelupa berat. Pas pulang, dia jerit-jerit karena lupa dah merendam seember pakaian dalamnya tiga hari lalu! Hiiy... dalemannya jadi kuning semua dah! Rusak!
  Dasar dodol, kata dia sayang banget membuang setumpuk daleman tak berdosa itu, so... dia cuek saja pakai tuh celdal warna terbaru, kuning mempesona! "Mode baru," katanya cuek putar-putar ala model di dalam kamar sambil pamer daleman nggak banget itu! Kami terkikik, keluaran butik mana tuh, bu?
  Oh iya, sekarang aku sedang dekat dengan cowok kakak tingkat. Dia cerita kalau jaket kesayangannya kotor sekali dan nggak sempat nyuci. Berlagak jadi calon ibu erte yang baik, aku dengan manis menawarkan mencucikan tuh jaket. Biar makin terpesona gitu deh! "Duh, nih anak tidak cuma cantik tapi juga rajin, lamar ah!" Begitu khayalanku. Hehe dodol.
  Jadilah, aku dengan geli merendam jaket yang kotornya ampun-ampunan itu di ember. Nggak lupa pakai sabun yang kata iklannya sih, ampuh membersihkan sebuah truk sampah sekalipun, hm... bombastis. Tak lupa aku juga menyiapkan cairan wewangian. Wah, dia pasti makin cinta suitt... suitt. Ember kututup dan kutaruh di pojok kamar mandi. Beres.
  Seminggu kemudian, si Mas menagih jaketnya. Dia mau ke Solo untuk mengambil data skripsi katanya. Aku bingung. Jaket? Jaket yang mana? Lalu, pucat pasi. Oh, my God, jaket yang ITU! Aku teringat ember bertutup di pojok kamar mandiku. Aku lupaaa! Sambil tersenyum penuh kepalsuan, aku mempersilakan dia duduk. "Oh sudah dong, aku ambil dulu ya, Mas!" kataku ngacir ke kamar mandi.
  Nah, ITU dia! Ada ember biru teronggok pasrah di pojokan. Aku maju mundur mengintip tuh rendaman baju. Takut akan pemandangan di dalam, hehehe. Pas dibuka, Hueeek... aku muntah saking baunya! Sambil menutup hidung dan kuangkat jaket itu dengan ujung jari, jaketnya bernoda kuning dan kehitaman di mana-mana! Bulukan! Rusak berat! Ampuuun deh! Aku teringat si ganteng empunya jaket sedang menunggu tanpa firasat buruk apa pun di ruang tamu. Mampus!
  Konser tunggal mamaku
  Semenjak masuk kuliah, aku tergila-gila nonton konser musik yang bertebaran di Djokdja. Maklum, baru lepas dari kerangkeng hehe. Pas tinggal dengan ortu, boro-boro ke konser. Pulang telat dikit saja, Mama sudah parno anaknya kelayapan sama cowok manaa gitu. Habis dah diinterogasi. Urusan parno dan panik, Mama juaranya. Cocok banget dah jadi detektif swasta!
  Pas kuliah, hobi nonton konserku terpuaskan. Beli tiket tinggal pintar-pintar nabung saja, terus rajin puasa Senin-Kamis gitu hehe, jam malam tak terbatas, tak ada yang ngomel-ngomel kayak di rumah. Asyik nggak tuh! So, Mulai dari kafe ternama *yang tiketnya bikin kantung kesepian, auditorium kampus hingga lapangan sepakbola kulakoni demi menonton grup band kesayangan tampil secara live. Rasanya seru aja gitu berbaur dengan orang-orang dan bernyanyi dengan vokalis idaman sepanjang jaman misalnya Fadli Padi, I love him soo much!
  Konser Gigi termasuk pertunjukan super seru yang ku-tonton. Saking padatnya penonton, aku nyaris pingsan kehabisan udara dan terpaksa dibopong sama kakak sepupu yang rela datang dari STPDN Sumedang untuk mengawalku nonton "sebenarnya sih dia pengen dikenalin sama Sarah makanya sok baik gitu hehe. Kakakku sampai misuh-misuh, katanya bodiku kerempeng tapi beratnya ampun-ampunan. Pasti keberatan dosa! Dih, kejam amat doanya!
  Kali lain, aku bersama Alya dan teman-teman jurusannya nonton konser Andra and the Backbone di Audit kampus. Karena bokek, kami menunggu setengah pertunjukan, biasanya pintu dibuka untuk menghindari kerusuhan. Betul saja, akhirnya kami bisa masuk dan dapat tempat strategis untuk ngecengin Andra! Duh, rasanya terharu bisa menikmati kegantengan Andra sambil nyanyi bareng. Gratis pula! "dasar nggak modal. Pulangnya ternyata kemalaman, pintu pagar sudah dikunci Pak Say sejak pukul sepuluh tadi. Akhirnya, Alya dibopong sama Hans, teman Alya badannya segede Buto Ijo untuk naik dan meloncati pagar kosan! Berhasil.
  Giliranku sekarang. Bismillah, lalu naik ke bahu lebar si raksasa Hans yang langsung berdiri tegak. Duile, dah kayak Hercules! Dia membopongku seolah aku seringan kapas gitu. Aku bergidik menatap ke bawah. Hua... tinggi banget! Aku merinding melihat bagian pagar yang tajam! Lutut jadi bergoyang sendiri.
  "Kamu pijak tembok, Wi! Jangan yang tajam!" seru Hendra menyemangati. Cowok-cowok lain pada riuh gitu.
  Aku terpaku di gendongan Hans. "Ayo dong, Wi! Nggak apa-apa kok!" teriak Alya. "Mau di situ sampai subuh ya?" olok Andik. "Betah banget nangkring di pundah Hans, oh mesraa!" ledek tuh cowok bawel.
  Nggak sabaran, Faruk memegang dan mendorong pantatku agar naik ke tembok pagar. Awwww... pelecehan seksual., eh., seks... anjrit! Jeritku latah. Anak-anak ngakak tanpa perasaan. Sialan. Syukurlah, akhirnya aku bisa lolos juga! Yes... yes! "Makasih ya makhluk-makhluk jeleek!" teriakku barbar di pintu pagar. Anak-anak menjulurkan lidah bete.
  Alya langsung menelepon Erin untuk minta tolong membukakan pintu kos. Alhamdulillah, nggak lama pintu kebuka. Anak-anak cowok pun segera say good bye dan cabut dari situ. Aku dan Alya tertawa-tawa masuk kamar masing-masing. Malam yang indah sekali kecuali insiden lompat pagar dan pegang pantat tadi. Ugh, amal banget sama si Faruk.
  Lho, kamarku kok terbuka? Apa Tere atau Alisha minta kunci serep ya ke Pak Say? Mereka suka iseng bongkar-bongkar cari cemilan. Kudorong pintu kamar dan nyaris terpekik. Benar-benar seperti dejavu. Mamaku, ya Mama-ku di Bogor tiba-tiba ada di sini, di Djokdja. Beliau sedang duduk menyilangkan tangan di sisi tempat tidur dengan muka sangar. "Dari mana saja anak perempuan malam-malam begini?" kata Mama dingin. Aku meringis. Kudengar Alisha dan Tere cekikikan kayak mbak kunti di belakangku. "Syukurin... mampus loe!" bisik Tere puas. Argggghh... siaaal! Awas ya kalian!
  "Lho, Mama kok di sini? Kapan datang?" kataku memutar otak mencari alasan rada bagusan. Mampus! "Kamu itu Mama kirim ke sini untuk... bla.. bla.. bukan untuk... bla.. bla.. sampai larut malam., bla.. dianter cowok., bla.. bla.." Mama mulai mengoceh. Aku terduduk lunglai di atas karpet. Gila, konser tunggal Mamaku nggak ada yang ngalahin!
  Mendadak detektif
  Seluruh kos dilanda keresahan. Ada pencuri berkeliaran di kos kami yang tentram dan tenang "kalau lagi pada tidur hehe. Sebenarnya, kisah pencurian bukan hal baru di kos merah muda ini. Kawasan ini agak rawan karena kurangnya penerangan jalan. Kalau dihitung-hitung, sudah tiga kali terjadi pencurian sepeda motor yang korbannya teman-teman anak kos yang sedang bertamu.
  Pertama, korbannya adalah cowok Bali yang sedang pede-kate sama Sarah. Cowok gondrong berwajah licin itu sedang senang-senangnya datang ke kos. Nggak pagi buta, siang, dan malam, eh... nongol t erus, setia tiap saat kayak obat ketek.
  "Pakai pelet apa loe, Sar?" tanyaku terheran-heran. Tuh anak memang cakep banget tapi juga judes ampun-ampunan kayak orang PMS melulu. Ihhh, kok bisa tahan ya si Dewa diamukin cewek bawel bin jutek? Hiiy...
  "Ohh... dia terpesona kecantikan luar dalamku," balasnya ge-er.
  "Ehh... dalam yang mana tuh maksud loe?" godaku puas.
  "Eh sialan, awas yak!" ia melempar guling segede gaban-nya.
  Malam-malam, si Dewa memarkir motor di luar pagar. Saat itu, banyak anak kos dan teman-temannya ngobrol di luar. Dewa dan Sarah bercengkrama di ruang tamu. Pas jam malam, Dewa pamit pulang, ia keluar pagar dan mendapati motor besarnya ra