Ksatria Panji Sakti - 96

Di posting oleh Saiful bahri dari situbondo pada 09:06 PM, 29-Mar-14

Cerita Silat | Ksatria Panji Sakti | oleh Gu Long | Ksatria Panji Sakti | Cersil Sakti | Ksatria Panji Sakti pdf

Goosebumps - Masalah Besar II Pendekar Gila - 39. Ajian Canda Birawa Joko Sableng - 42. Rahasia Darah Kutukan Rajawali Emas - 26. Tumbal Nyawa Perawan I am Number Four - Pittacus Lore

Bab 17. Kaki lembut bagaikan bunga salju. Lewat sesaat kemudian, dari bawah bukit berkumandang suara irama musik yang amat merdu. Irama musik itu membawakan lagu yang riang dan gembira, seakan sama sekali tak ada kemurungan dan kesedihan, pelbagai kegembiraan duniawi seperti menikmati rembulan ditengah kebun bunga, menonton wanita cantik dimuka ranjang nyaris terangkum di balik irama musik tersebut. Kendatipun Semua orang yang hadir masing masing mempunyai persoalan pribadi, namun setelah mendengar irama musik itu, pikiran dan perasaan seolah menjadi lega dan lapang kembali. Menanti irama lagu itu makin lama semakin bertambah nyaring, makin lama semakin mendekat, suasana malam yang sepi dengan hujan gerimis yang basah pun seolah olah telah berubah menjadi suasana yang cerah dengan bulan sedang purnama, aneka bunga memancarkan bau harum... Pada saat itulah dari balik irama musik berkumandang pula suara tertawa yang merdu dengan suara pembicaraan yang ramai bagaikan burung nuri sedang berkicau. Enam-tujuh orang nona berbaju indah dengan membawa payung bambu dan seruling, sambil tertawa sembari meniup seruling bergerak mendekat dengan langkah yang lemah gemulai. Pakaian yang mereka kenakan adalah gaun pendek yang sangat longgar, bagian bawahnya tidak bergaun panjang melainkan hanya mengenakan celana ketat sebatas dengkul hingga bagian betisnya yang putih mulus terlihat jelas. Kaki mereka yang putih mulus bagai salju pun tidak ditutupi dengan kaus maupun sepatu melainkan hanya mengenakan bakiak yang serasi warnanya dengan warna pakaian mereka. Bukan hanya irama musik dan suara tertawa mereka saja yang merdu, wajah mereka pun nampak cantik jelita bak bidadari dari kahyangan. Ditengah kerumunan gadis gadis itu terlihat pula sebuah bangku berbentuk tandu yang dilengkapi dengan penutup dibagian atasnya diusung berapa orang, tandu itu tampaknya memang dirancang secara khusus hingga bisa terhindar dari sengatan matahari maupun curahan hujan. Empat orang gadis berdandan serupa menggotong tand u itu dengan senyuman menghiasi wajah mereka, biar sedang menggotong sebuah tandu namun mereka seakan tak menggunakan sedikit tenaga pun. Diatas tandu itu duduk seorang manusia yang sangat aneh. Dia mengenakan pakaian blacu yang sangat longgar, wajahnya cerah bagai bulan purnama. Meskipun sekilas pandang dia seakan sedang duduk diatas tandu itu, tapi bila kau perhatikan lebih seksama maka akan terlihat kalau sepasang kakinya tetap menginjak tanah. Ternyata tandu itu hanya wujudnya saja sebagai sebu ah tandu namun dalam kenyataan sama sekali tak berfungsi, sebab walaupun orang itu kelihatannya sedang ditandu, padahal dia sedang berjalan dengan kaki sendiri. Tak heran kalau kawanan gadis penggotong tandu itu nampak begitu ringan dan santai, sementara orang itupun berwajah penuh senyuman cerah, bagaikan seorang saudagar kaya yang baru berhasil meraih keuntungan jutaan tahil emas. Manusia aneh itu memiliki kening yang sangat lebar, sepasang alis matanya tebal dengan matanya yang berbinar, kesemuanya ini membuat dia nampak cerdas dan berwibawa. Kendatipun sebagian besar jago yang hadir disitu banyak pengalaman dalam dunia persilatan, tak urung mereka tertegun juga setelah menyaksikan kehadiran manusia aneh itu. “Aaah, akhirnya kau datang juga” terdengar suara merdu berkumandang dari balik rumah. Manusia berpakaian blaco itu tertawa tergelak, sahutnya: “Hahahaha... setelah menerima pemberitahuan yang dibawa kucing hujin, cayhe segera melakukan perjalanan siang malam untuk menyusul kemari” Dengan langkah lebar dia langsung berjalan menuju ke arah rumah Pondok, terhadap kawanan jago yang hadir disitu, jangan lagi menyapa, melirik sekejap pun tidak. Kawanan gadis muda yang mengiringinya segera mengikuti pula disampingnya. Saat itu irama lagu telah berhenti berdendang, seorang wanita cantik berbaju merah yang membopong seekor kucing putih, perlahan-lahan berjalan keluar dari balik rumah. Dengan sorot mata tak berkedip manusia aneh itu mengawasi perempuan itu lekat lekat, tiba tiba ia menghela napas panjang sambil berkata: “Aaaai! Tak disangka meski baru berpisah tiga hari, namun perpisahan ini serasa bagaikan puluhan tahun, benar benar bagaikan pepatah yang mengatakan: sehari tak bersua, serasa tiga musim gugur telah berlalu” “Tiga hari apa?” sahut Yin Ping sambil tertawa, “kita sudah belasan tahun tak pernah bersua!” “Aaah masa iya?” seru manusia aneh itu sambil menggosok matanya dan menggeleng, “tidak betul, tidak betul, kalau benar sudah ada belasan tahun, masa wajahmu masih kelihatan begitu muda dan cantik?” Yin Ping kontan tertawa terkekeh. “Mulutmu memang selalu manis, orang mati pun akan bangkit kembali setelah mendengar perkataanmu itu” Kedua orang itu berbincang sambil tertawa tergelak, seakan mereka benar benar menganggap orang lain seperti orang mati. “Selama banyak tahun, pernahkah kau datang mencariku?” tanya Yin Ping lagi. “Bukan Cuma mencari, entah sudah berapa banyak sol sepatuku yang robek gara gara berkeliaran kian kemari” Yin Ping memandangnya dengan manis, tanyanya lagi dengan nada sedih: “Kalau memang mencariku, sekarang kenapa kau tidak bertanya bagaimana keadaanku belakangan ini?” “Hari ini dapat bertemu lagi denganmu sudah merupakan satu kepuasan yang luar biasa, buat apa mesti menanyakan urusan yang lewat? Kalau mau bertanya, semestinya bertanya apa yang selanjutnya akan kita lakukan” “Aku memang sengaja meminta kau yang datang menjemputku karena aku ingin membuktikan apakah kau telah berubah pikiran atau belum, jika kau telah berubah berarti tak nanti akan datang mnejemputku, bukan begitu?” “Bila aku tidak datang menjemputmu, maka kau pun tak akan datang mencari aku bukan?” Yin Ping manggut manggut. Sambil tertawa tergelak kembali manusia aneh itu berkata: “Untung sampai detik ini aku belum pernah berubah pikiran” Yin Ping melirik sekejap sekeliling tempat itu, kemudian katanya sambil tertawa: “Betul hatimu memang belum berubah, tapi orangnya telah berubah, kalau dulu kau paling suka tampil keren, tampil neces dan suka berdandan, maka sekarang penampilanmu seenaknya sendiri, tampil sembarangan” Manusia aneh itu tertawa tergelak. “Hahahaha.... tepat sekali” serunya, “tiga puluh tahun berselang bukan saja aku selalu tampil rapi, neces dan suka berdandan, bahkan aku mesti tampil prima, jauh lebih prima dari siapa pun, tapi tiga puluh tahun kemudian . . . . . ..” Dia memandang sekejap kawanan gadis yang berada disekelilingnya, kemudian melanjutkan: “Sekarang aku baru sadar, sebagai manusia kita tak boleh menjadi budaknya pakaian, tak boleh menjadi budaknya dandanan dan penampilan, pakaian model apa yang paling enak dikenakan, model itulah yang akan kukenakan” Yin Ping mengerdipkan matanya berulang kali, kembali ujarnya sambil tertawa: “Baiklah, apa yang kau katakan tentang penampilan masih bisa kuterima, tapi bagaimana pula dengan tandumu itu? Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa seperti perahu karam saja?” Untuk kesekian kalinya manusia aneh itu tertawa terbahak bahak. “Hahahaha..... tentu saja ada alasannya kenapa aku berbuat begitu, coba bayangkan sendiri, bila aku duduk diatas tandu sementara mereka harus menggotong dibawah sana, sekalipun dimulut mereka tidak berkata kata, bisa dipastikan perasaan hatinya tertekan dan tak enak, bila mereka merasa tak nyaman, bagaimana mungkin aku bisa menikmati kesenangan, sebaliknya bila kubuat keadaan seperti ini . . . . . . . .. hahahaha..... aku masih tetap dapat menikmati betapa bahagianya ditandu gadis gadis cantik, sementara mereka yang menggotong tandu pun merasa gembira, tak akan menggerutu dalam hati, kamu senang, akupun senang.... nah, keadaan seperti inilah yang paling menyenangkan” Keterangan semacam ini nyaris belum pernah terdengar sebelumnya, atak heran kalau semua orang melongo dibuatnya. Sambil menggelengkan kepalanya berulang kali Yin Ping menghela napas panjang, katanya: “Setelah berpisah beasan tahun, meski kau masih tetap suka menikmati hidup tapi taraf kenikmatanmu benar benar telah mencapai suatu keadaan yang luar biasa” Semua orang yang hadir pun untuk sesaat seakan lupa dengan situasi yang sedang dihadapi, setiap orang nyaris dibuat kesemsem dan terperana oleh tindak tanduk serta penuturan manusia aneh itu. Suto Siau pun sadar bahwa manusia aneh itu memiliki kepandaian silat yang luar biasa, dia berharap orang itu segera membawa pergi perempuan cantik berbaju merah itu sehingga tidak mengganggu urusannya. Siapa tahu pada saat itulah tiba tiba manusia aneh itu berpaling, sorot matanya yang tajam mengawasi sekejap sekeliling tempat itu, ketika menatap wajah Thiat Tiong-tong, dia seakan mengawasinya berapa kejap lebih lama. Thiat Tiong-tong berdiri murung ditengah hujan, seluruh badannya basah kuyup, keningnya berkerut, namun pelbagai alasan yang menghinggapi dirinya tidak sampai melenyapkan kegagahan serta keperkasaan dirina. Sementara kawanan gadis cantik itupun diam diam saling berbisik sambil melempar kerlingan mata dan senyuman manis ke arah pemuda itu. “Apakah orang orang itu sahabatmu?” tanya manusia aneh itu kemudian sambil berpaling. Yin Ping tertawa terkekeh. “Hanya pemuda yang menarik perhatian adik adik kecilmu itu saja yang kukenal, menurut pendapatmu, dia termasuk manusia berbakat kelas berapa?” Manusia aneh itu ikut tertawa tergelak. “Hahahaha..... kalau kawanan budak itupun sampai ikut terpikat, tentu saja dia termasuk orang yang hebat, hanya sayang wajahnya murung dan penuh kesedihan sehingga tercermin kalau jiwanya sedikit agak sempit” Thiat Tiong-tong hanya mengawasi orang itu sambil tertawa hambar, dia seakan tak ingin menjawab tanggapan itu. Manusia aneh itu sama sekali tidak memperhatikan kawanan jago lainnya, mendadak ia melompat turun dari tandunya, kemudian sambil menjura berkata: “Hujin, silahkan naik tandu!” Pundaknya tidak nampak bergerak, ujung lengan bajunya sama sekali tak bergoyang, tahu tahu badannya sudah melayang maju ke depan, hal ini memperlihatkan kalau ilmu meringankan tubuh yang dimilikinya luar biasa sekali. “Kau suruh aku menaiki tandu semacam itu?" terdengar Yin Ping berteriak sambil tertawa, “terima kasih, aku mah tak sudi untuk menaikinya” “Hahahaha . . . . .. kenapa kau pun berubah jadi hidup sederhana? Tandu semacam ini belum tentu bisa kau naiki dihari biasa!” Yin Ping tertawa lebar, akhirnya dia berjalan menuju ke depan. Suto Siau menyangka mereka segera akan pergi, diam diam ia menghembuskan napas lega. Siapa tahu manusia aneh itu berjalan menghampiri tangga itu, sambil menengadah tegurnya: “Udara diatas dingin dan basah, kau tidak kedinginan dengan pakaian tipismu?” Sui Leng-kong menghela napas panjang, senandungnya : “Tiada hawa dingin dipuncak ketinggian, Apa nian keinginan anda?” “Hahahaha . . . . .. aku adalah seorang lelaki yang paling menyayangi gadis lembut, nona cantik wahai nona cantik, bersediakah kau kembali ke alam dunia?” “Dia tak bakal mau turun ke bawah!” bentak Suto Siau tib tiba. Sambil tertawa manusia aneh itu melirik sekejap ke arahnya, kemudian bertanya: “Darimana kau bisa tahu?” Buru buru Suto Siau menjura seraya berseru: “Cianpwee gagah dan perkasa, boanpwee yakin kau adalah seorang pertapa sakti yang tak suka mencampuri urusan keduniawian, bagaimana kalau boanpwee sekalian segera menghantar dengan hormat keberangkatan cianpwee turun dari gunung?” “Ehmmm, berapa patah katamu memang kedengaran sopan dan sedap didengar, baiklah, asal kau turunkan gadis itu, kami semua segera akan pergi dari sini” Suto Siau tertegun, dengan wajah berubah tanyanya: “Kenapa cianpwee ingin melepaskan dirinya?” Sebelum manusia aneh itu menjawab, Yin Ping sambil tertawa telah memotong duluan: “Kelihatannya penyakit lamamu kambuh kembali, asal melihat nona cantik lalu pingin membawanya pulang, bukan begitu?” “Hahahaha..... bagaimanapun kau tetap orang yang paling tahu dengan watakku, setelah bertemu gadis berbakat semacam ini, mana boleh kubiarkan dia hidup menderita dalam dunia persilatan? Tentu saja harus kubawa pulang” Begitu perkataan tersebut diutarakan, terjadi kegemparan diantara kawana jago itu. Suto Siau tak berani bertindak gegabah, sekalipun orang aneh itu berwajah putih tanpa jenggot, bertubuh gemuk pendek dan bicaranya semau sendiri, namun ia sadar kungfu yang dimilikinya luar biasa hebatnya. Oleh sebab itu dia segera menarik tangan Hek Seng-thian dan Pek Seng-bu sekalian untuk berunding. Diantara sekian jago yang hadir, sebetulnya Thiat Tiong-tong yang merasa paling gusar, tapi ingatan lain segera melintas dalam benakya: “Jika bukan orang itu yang turun tangan, siapa lagi yang bisa menurunkan Leng-kong dari atas sana? Bagaimana pun biar ia selamatkan Leng—kong terlebih dahulu Sebelum menolong dirinya” Berpikir sampai disitu dia pun mendongakkan kepalanya dan memberi tanda kepada Sui Leng-kong. Kebetulan Sui Leng-kong sedang menatap ke arahnya, sekalipun suasana sangat redup namun begitu sorot mata mereka berdua saling