Hijaunya Lembah Hijaunya Lereng Pegunungan - 295

Diposting oleh Saiful bahri dari situbondo pada 20:00, 28-Peb-15

Hijaunya Lembah Hijaunya Lereng Pegunungan - Serial Pelangi Di Langit Singosari 5 - SH Mintardja.jpegCerita Silat | Hijaunya Lembah Hijaunya Lereng Pegunungan | Serial Pelangi Di Langit Singosari | Hijaunya Lembah Hijaunya Lereng Pegunungan | SH Mintardja | Hijaunya Lembah Hijaunya Lereng Pegunungan pdf

Cersil Kembalinya Si Manusia Rendah Sai-Jin-Lu The Godfather - Mario Puzo - Sang Godfather Fifty Shades of Grey Bag I Fifty Shades of Grey Bag II Cersil Zuber Usman - Damar Wulan

Mahisa Bungalan menarik nafas dalam-dalam. Ia menjadi bimbang. Apakah ia dapat meninggalkan Pangeran Singa Narpada dengan benda yang paling berharga itu. Apalagi keadaan Pangeran Lembu Sabdata yang tidak dapat dianggap wajar.

Namun Pangeran Singa Narpada kemudian berkata, “Pergilah. Mungkin kedua adikmu itu memang memerlukanmu.”

Mahisa Bungalan pun kemudian bangkit. Sambil memandang berkeliling ia bergumam, “Baiklah Pangeran. Aku tidak akan pergi terlalu lama.”

“Tetapi sementara ini, biarlah aku memersilahkan adimas Lembu Sabdata untuk tidur,” berkata Pangeran Singa Narpada sambil mendekati Pangeran Lembu Sabdata yang duduk memandang kehijauan dedaunan dengan tatapan mata yang kosong.

“Marilah,” berkata Pangeran Singa Narpada, “tidurlah.”

Kata-kata itu seakan- akan merupakan perintah yang tidak terlawan. Bahkan kemudian sebuah sentuhan telah membuat Pangeran Lembu Sabdata benar-benar tertidur.

Mahisa Bungalan pun menjadi agak tenang melihat Pangeran Lembu Sabdata yang telah tertidur. Dengan demikian jika terjadi sesuatu, Pengeran Singa Narpada dapat memusatkan perhatiannya kepada benda yang paling berharga di Kediri itu, sehingga ia akan dapat menjaganya dengan sebaik-baiknya. Karena sebenarnyalah Mahisa Bungalan mempunyai perhitungan tersendiri.

“Pangeran,” berkata Mahisa Bungalan, “Aku mohon diri. Tetapi aku mempunyai dugaan bahwa mungkin sekali seseorang memang telah memancing salah seorang diantara kita untuk pergi.”

“Aku mengerti,” berkata Pangeran Singa Narpada, ”Kita akan sangat berhati- hati.”

Demikianlah, maka Mahisa Bungalan pun kemudian meninggalkan tempat itu. Langkahnya perlahan-lahan. Rasa-rasanya kedua kakinya masih dibebani oleh keragu-raguannya, sehingga ia tidak meloncat dan melangkah dengan cepat.

Namun akhirnya langkahnya itupun semakin lama menjadi semakin cepat. Ketika ia berpaling dan tidak lagi melihat Pangeran Singa Narpada, maka iapun berjalan semakin cepat.

Ketika Mahisa Bungalan meloncati sebatang sungai kecil dan turun di sebuah jalan sempit, langkahnya terhenti. Ia ragu-ragu memilih arah. Apakah sebaiknya ia ke kiri atau kekanan.

Tetapi selagi ia masih ragu-ragu, maka dilihatnya dua orang yang berjalan tergesa-gesa ke arahnya. Keduanya ternyata adalah Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.

Mahisa Bungalan menarik nafas dalam-dalam, sementara kedua adiknya yang melihatnya justru telah mempercepat langkah mereka.

“Kalian terlalu lama pergi,” desis Mahisa Bungalan ketika kedua adiknya menjadi semakin dekat.

Mahisa Murti lah yang kemudian berceritera apa yang telah terjadi atas mereka. Sehingga akhirnya ia berkata, “Ternyata bahwa orang bertubuh kecil dan bertongkat panjang itu telah meninggalkan gelanggang. Kami semula memang berusaha untuk memburunya. Namun dengan ilmunya, orang itu berhasil lolos dari tangan kami dan meningggalkan kami semakin jauh. Cahaya yang seakan-akan meloncat dari ujung tongkatnya itu banyak menghalangi kami, apalagi kami memang merasa bahwa jika kami terlalu lama pergi, kami akan dapat menggelisahkan kakang dan Pangeran Singa Narpada.”

Mahisa Bungalan mengangguk-angguk. Namun tiba-tiba ia berkata, “Jika demikian, kita harus cepat kembali. Mungkin Pangeran Singa Narpada harus menghadapi orang itu.“

“Tetapi apakah orang itu mengetahui tempat kita berhenti dan beristirahat?” bertanya Mahisa Pukat.

Mahisa Bungalan mengerutkan keningnya. Namun iapun kemudian meloncat sambil berkata, “Kita harus cepat kembali.” p>

Kedua adiknya pun cepat menyusulnya. Ketiganya pun kemudian berloncatan diatas tanah berbatu. Kemudian mereka menyusup gerumbul-gerumbul kecil sehingga akhirnya mereka sampai ke tempat Pangeran Singa Narpada menunggu.

Ketiga orang itu menjadi berdebar-debar. Ternyata Pangeran Singa Narpada telah berdiri berhadapan dengan orang bertubuh kecil dan bertongkat panjang. Sambil memegang Mahkota yang dibungkusnya rapat-rapat, Pangeran Singa Narpada siap menghadapi segala kemungkinan.

Tetapi orang bertubuh kecil itu kemudian berkata, “Aku tidak akan berbuat sesuatu.”

Pangeran Singa Narpada masih berhati-hati. Sementara Mahisa Bungalan dan kedua adiknya telah datang mendekat.

“Nah,” berkata Mahisa Pukat, “Kita bertemu lagi. Marilah. Kita akan melanjutkan permainan kita. Jika kau masih mampu melontarkan ilmumu yang nggegirisi itu, maka aku pun masih mempunyai paser-paser kecil. Bahkan sebagian yang telah kami lontarkan telah dapat kami pungut kembali.”

Tetapi orang itu menggeleng. Katanya, “Tidak. Melawan kalian berdua aku ternyata sudah kalah. Apalagi disini ada empat orang yang tentu memiliki ilmu yang seimbang. Bahkan aku yakin, bahwa yang lebih tua memiliki pengalaman yang lebih luas.”

“Lalu apa maksudmu datang kemari?” bertanya Mahisa Pukat.

Orang itu termangu- mangu, sementara Mahisa Murti berkata kepada Mahisa Bungalan, “Orang inilah yang telah aku katakan itu kakang.”

Mahisa Bungalan memang sudah menduga ketika ia melihat orang bersenjata tongkat itu. Selangkah ia mendekati orang itu sambil berkata, “Kedua adikku sudah berceritera tentang kau Ki Sanak. Tentang kemampuan ilmumu yang sangat tinggi.”

“Ah,” desah orang itu, “Keduanya tentu hanya sekedar memuji. Ternyata bahwa aku tidak mampu melawan mereka berdua.” p>

“Kau tentu mengalah. Tetapi apakah maksudmu sebenarnya?” bertanya Mahisa Bungalan.

“Aku tidak mengalah,” jawab orang bertongkat panjang itu, “Aku memang kalah. Karena itu, maka aku telah melarikan diri dari medan dan langsung menuju kemari.”

Mahisa Bungalan mengangguk-angguk, sementara orang bertubuh kecil itulah yang kemudian bertanya, “Jadi kedua orang anak muda itu adalah adikmu?”

“Ya,” jawab Mahisa Bungalan, “Keduanya adalah adikku. Anak ingusan yang baru dapat bermain kucing-kucingan.“ Namun segera Mahisa Bungalan melanjutkan, “Tetapi bukan berarti bahwa kakaknya mampu lebih baik dari keduanya.”

“Tentu,” sahut orang itu, “Aku yakin bahwa kakaknya akan dapat berbuat lebih dari kedua adiknya. Tetapi siapakah sebenarnya kalian?”

“Untuk apa kau bertanya tentang kami,“ Pangeran Singa Narpada lah yang menyahut, “Kami adalah orang kabur kanginan. Berkandang langit, berselimut embun.”

“Ah, sebutan bagi mereka yang sengaja merendahkan diri,” berkata orang itu, “Tetapi apakah aku boleh mengetahui, siapakah kalian.”

Pangeran Singa Narpada menggeleng sambil menjawab. “Tidak ada gunanya. Siapapun kami dan siapapun kau, akan sama saja artinya dalam hubungan kita.”

Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya, “Aku telah mulai dari sudut yang keliru. Aku tidak dapat menyalahkan kalian jika kalian tidak lagi merasa perlu untuk mengetahui siapa aku, dan tidak lagi menganggap ada gunanya jika aku menanyakan siapakah kalian.”

“Aku tidak tahu apa yang telah terjadi. Tetapi menilik kehadiranmu dan sikap kedua anak muda itu, maka begitu, kau bukan seorang yang dapat dianggap tidak bermaksud apa- apa.”

“Itulah yang aku maksudnya, bahwa aku telah mulai dari satu sudut yang salah dalam usahaku mendekati kalian.” berkata orang bertubuh kecil itu.

“Nah,” berkata Mahisa Bungalan, “Sebaiknya kau menyebut saja, apa maksudmu. Kau sudah menyerang kedua adikku dan bertempur melawan mereka. Jika kau benar-benar mengaku kalah, kau tentu tidak akan datang kemari. Karena itu, agaknya kau ingin memilih lawan yang mungkin kau anggap lebih tua dari sekedar anak- anak yang terlalu muda.”

“Tidak,” jawab orang itu, “Aku benar-benar merasa kalah. Tetapi aku merasa wajib untuk datang menemui kalian.”

Kerut di dahi Mahisa Bungalan menunjukkan gejolak di hatinya. Namun orang bertubuh kecil itupun kemudian berkata, “Baiklah, aku ingin minta maaf kepada kedua anak muda itu. Aku mungkin telah menyakiti hati mereka dan mengganggu mereka.”

“Katakan, apa maksudmu,“ geram Mahisa Pukat, “Kami sudah terlalu letih menunggu pembicaraan yang berputar-putar ini.”

Orang bertubuh kecil dan bertongkat panjang itu menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian katanya, “Baiklah. Aku akan berterus terang. Aku tahu bahwa kedua orang anak muda itu termasuk dua orang diantara kalian berempat. Karena itu, aku memang ingin menjajagi kemampuan mereka. Sebenarnya yang aku inginkan bukan keduanya. Tetapi siapapun diantara kalian.“ orang itu berhenti sejenak, lalu, “Ternyata bahwa kemampuan kedua anak muda itu, dan tentu juga kalian berdua yang lebih tua, jauh lebih tinggi dari dugaanku.”

“Hanya sekedar menjajagi tanpa maksud yang lain?” bertanya Mahisa Murti.

Orang itu termangu- mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Ki Sanak. Sebenarnyalah aku memang terlalu banyak mencampuri persoalan orang lain. Sebenarnya aku tidak berkepentingan apapun juga dengan kalian. Sebenarnyalah kita hanya berpapasan saja di jalan. Jika aku tidak berpaling kepada kalian dan kalian tidak berpaling kepadaku, maka tidak pernah akan timbul persoalan. Tetapi dalam pengembaraan ini, tiba-tiba saja hatiku telah digelitik oleh satu keinginan untuk mengetahui, apakah yang sebenarnya terjadi. Ternyata bahwa benda yang aku cemaskan itu dikawal oleh orang-orang yang memiliki kemampuan yang sangat tinggi, sehingga tidak perlu dicemaskan akan jatuh ke tangan orang lain. Tetapi tentu aku ingin meyakinkan, bahwa benda itu sekarang telah berada di tangan orang yang benar dan berhak.”

“Benda apa yang kau maksud Ki Sanak?” bertanya Mahisa Bungalan.

“Jangan terlalu memperbodoh orang lain,” berkata orang bertubuh kecil dan bersenjata tongkat panjang itu, “Meskipun kau bungkus dengan seribu lembar kain, namun cahaya tejanya tidak akan tertutup karenanya. Menurut pengamatanku, teja yang memancar dari benda yang kau bawa itu adalah teja dari benda yang sangat berharga bagi Kediri. Teja itu pernah aku lihat memancar di atas gedung perbendaharaan di Kediri. Warna dan jenisnya. Tiba-tiba saja aku melihat cahaya itu di sini. Bukankah dengan demikian hal ini sangat menarik perhatian?”

Pangeran Singa Narpada menarik nafas dalam-dalam. Sementara Mahisa Bungalan bertanya, “Kau melihat teja memancar?” p>

“Ya. Mungkin memang tidak setiap orang melihatnya. Tetapi adalah kebetulan bahwa aku mendapati kurnia penglihatan mata batin untuk dapat menangkap cahaya teja yang memang tidak setiap saat memancar,” jawab orang bertongkat itu.

Mahisa Bungalan memandang orang itu dengan tajamnya, sementara Pangeran Singa Narpada bergeser selangkah maju. Dengan nada datar Pangeran Singa Narpada bertanya, “Ki Sanak. Apakah kau yakin bahwa memang melihat teja sebagaimana kau lihat di atas gedung perbendaharaan?”

Orang bertubuh kecil dan bersenjata tongkat itu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Aku adalah orang kebanyakan sebagaimana orang lain yang dapat berbuat salah. Tetapi menurut penglihatanku, apa yang aku lihat di sini adalah apa yang pernah aku lihat di gedung perbendaharaan itu.”

Pangeran Singa Narpada mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Baiklah Ki Sanak. Seandainya kau benar, apakah yang akan kau lakukan selanjutnya? Apakah kau menginginkan benda yang memancarkan teja itu?”

“Tidak Ki Sanak. Tidak,” jawab orang itu dengan serta merta, “yang ingin aku yakini, apakah benda itu tidak berada di tangan orang yang salah.”

“Orang yang salah bagaimana maksudmu?” bertanya Pangeran Singa Narpada.

“Orang yang mempunyai pamrih dari tuah yang ada di dalam pusaka itu,“ jawab orang bertubuh kecil itu, “Sehingga dengan demikian maka benda yang sangat berharga itu berada di tangan orang yang tidak berhak.”

Pangeran Singa Narpada menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada datar ia bertanya, “Bagaimana kau dapat mengetahui bahwa orang yang membawa benda ini orang yang berhak atau bukan?”

“Aku mengandalkan penglihatan mata batinku atas orang itu,“ jawab orang bertubuh kecil itu. “Karena itu, maka aku memerlukan bertemu dengan orang-orang yang bertanggung-jawab atas benda itu. Ketika aku bertemu dengan kedua orang anak muda itu, aku memang kurang yakin. Meskipun demikian aku memang berniat menjajagi kemampuan mereka.”

Pangeran Singa Narpada mengangguk-angguk. Lalu ia-pun bertanya, “Jika demikian, maka kau sekarang akan dapat mengatakan, apakah kau berhadapan dengan orang yang berhak atau tidak?”

Orang itu termangu- mangu. Namun kemudian katanya dengan nada dalam, “Sekali lagi aku katakan bahwa aku dapat saja berbuat salah. Tetapi setelah berbicara dengan kalian, maka aku berharap bahwa kalian adalah orang-orang yang memang berhak. Apalagi kalian ternyata memang memiliki kemampuan yang memadai untuk mengamankan benda itu.”

“Bagaimana jika kau salah menilai kami?” bertanya Pangeran Singa Narpada.

“Sudah aku katakan, bahwa mungkin sekali aku berbuat salah. Dan jika itu terjadi, apa boleh buat,” jawab orang itu, “Bukankah aku tidak akan dapat mengalahkan kalian? Sehingga seandainya aku salah menilai, maka aku tidak akan dapat menolong benda itu sekarang. Namun pertemuan ini akan dapat aku jadikan bahan dan petunjuk jika, pada suatu saat aku mendengar bahwa Kediri kehilangan benda yang sangat berharga dari gedung perbendaharaan.”

Pangeran Singa Narpada menarik nafas dalam-dalam. Namun dalam pada itu, orang bertubuh kecil itupun bertanya sambil menunjuk kepada Pangeran Lembu Sabdata yang terbaring diam-diam, “Siapakah orang ini?”

“Ia adalah adikku,” jawab Pangeran Singa Narpada.

“Kenapa? Menurut penglihatanku, orang itu pulas.”

“Kau benar,” jawab Pangeran Singa Narpada, ”Aku telah menidurkannya, karena hal itu akan sangat berarti baginya. Adikku memang mempunyai kelainan.”

Orang itu termangu- mangu. Dipandanginya Pangeran Lembu Sabdata yang tertidur nyenyak. Namun kemudian iapun mengangguk-angguk. Katanya, “Ki Sanak. Aku ternyata harus mempercayai kalian meskipun aku belum tahu dengan pasti, siapakah kalian. Namun justru karena itu, maka biarlah aku mengucapkan selamat bahwa benda itu sudah berada di tangan kalian. Mudah-mudahan penglihatanku atas kalian tidak salah.”

Pangeran