Jiwa Ksatria - 204

Diposting oleh Saiful bahri dari situbondo pada 13:25, 18-Jul-15

Cerita Silat | Jiwa Ksatria | Saduran OPA | Jiwa Ksatria | Cersil Sakti | Jiwa Ksatria pdf

101 Dating Jo Dan Kas - Asma Nadia Biru Laut - Asma Nadia Inn-nu-woh Si Kepala Suku - Karl May Dikawasan Singa Perak - Karl May Anak Pemburu Beruang - Karl May

11.64. Bersatu menghadapi Musuh Bersama
  “Ayah benar-benar keterlaluan, mengapa ia tidak menunggu kita?” berkata Hoa Khiam Hong.
  Tiat Ceng lalu tertawa:
  “Bukankah ayahmu pernah berkata, bahwa kau sudah dewasa, bukan lagi gadis cilik yang perlu rawatannya
  lagi. Ia sebetulnya ingin meninggalkan kau di tempat ayah sana, supaya ia bisa pergi sendirian untuk mencari
  kawan-kawannya. Mungkin karena ia setelah bertemu muka dengan Can toako, maka segera pergi seorang
  diri.”
  “Tetapi seharusnya ia juga berkata dulu kepadaku.”
  Lam Chiu Lui yang mendengar pembicaraan-pembicaraan mereka yang sangat mesra dalam hati sedikit
  banyak merasa cemburu. Tetapi karena didikan keras dari ibunya, sifatnya tidak begitu liar seperti Liong Seng
  Hong atau Thie Po Leng, yang mudah kentaraan.
  Tiat Ceng di waktu masih kanak-kanak juga pernah main bersama-sama dengan persaudaraan Lam itu, tetapi
  setelah berpisahan sekian tahun lamanya, maka dengan Lam Chiu Lui nampaknya malah seperti asing. Ia juga
  tidak tahu apa yang dipikir oleh Lam Chiu Lui.
  Ketika melihat subonya ada di situ, setelah berkata beberapa kata dengan Hoa Khiam Hong, tidak sempat
  berbicara dengan persaudaraan Lam segera menghampiri Sin Cie Kow untuk memberi hormat, kemudian
  bertanya:
  “Subo, kemana suhu?”
  “Hem, suhumu juga aneh dia bertempur setengah harian dengan ayah nona Hoa, sekarang juga pergi
  mengejarnya,” jawab Sin Cie Kow.
  Tiat Ceng terperanjat, ia bertanya pula:
  “Apakah suhu sudah bertanding dengan Hoa lo-cianpwee?”
  Hoa Khiam Hong makin terkejut, dalam hati berpikir: Apakah ayah dikalahkan oleh Khong-khong Jie?
  Bagaimana Khong-khong Jie pergi mengejar?
  Can Pek Sin segera menerangkan duduk perkaranya ia berkata sambil tertawa:
  “Kalian berdua tidak perlu khawatir, suhumu dengan ayahnya, benar-benar tidak akan mengenal satu sama
  lain apabila tidak mengadakan pertandingan tadi. Mereka bertanding hampir setengah hari, yang satu kata kau
  yang menang, tetapi yang lain berkata aku yang kalah, satu sama lain sama-sama merasa sayang kepandaian
  masing-masing. Oleh karena itu, maka suhumu hendak menyusul Hoa lo-cianpwee, maksudnya ialah hendak
  menahannya untuk merundingkan ilmu silat, bukanlah akan bertanding lagi.”
  Chiu Tong yang hendak menghadapi tantangan, Touw Goan dan Soa Thiat San justru membutuhkan orang-
  orang kuat. Kedatangan Hoa Ciong Tay dan Khong-khong Jie, baginya benar-benar sangat menggirangkan. Ia
  takut apabila kedua orang itu pergi, maka lalu berkata:
  “Mari kita pergi mencari. Sungguh tidak mudah untuk mengundang Khong-khong Jie cianpwee, aku seharusnya
  juga pergi menyambut sendiri .”
  <>
  Mari sekarang, kita balik, kepada Khong-kbong Jie yang pergi menyusul Hoa Ciong Tay.
  Lari kira-kira tigapuluh pal baru dapat melihat bayangan Hoa Ciong Tay, bahkan bukan Hoa Ciong Tay seorang
  saja. Karena pada saat itu Hoa Ciong Tay sedang bertempur sengit dengan seorang yang bertubuh pendek kecil
  tetapi kekar.
  Khong-khong Jie senang sekali menyaksikan pertandingan silat dari orang-orang terkuat, maka begitu
  melihatnya tangannya sudah merasa gatal, lalu tertawa terbahak-bahak kemudian berkata:
  “Hoa laoko, kiranya kau masih belum puas bertempur setengah harian, di sini kau berkelahi lagi.”
  Dengan sangat gembira ia lari menghampiri tetapi setelah berada dekat ia sangat terperanjat.
  Sebab Hoa Ciong Tay yang sedang bertempur dengan orang pendek kecil itu, nampaknya dalam kedudukan
  hanya dapat mempertahankan dirinya saja.
  ◄Y►
  Keduapuluh Empat
  Kekuatan tenaga dalam Hoa Ciong Tay masih di atas Khong-khong Jie, itu sudah diketahui send iri olehnya,
  maka pertama kali ia melihat Hoa Ciong Tay bertempur dengan orang pendek kecil itu sedikitpun tidak merasa
  khawatir, meskipun ia juga dapat menduga bahwa orang pendek kecil itu berani mengadu kekuatan dengan
  Hoa Ciong Tay, pasti bukan orang sembarangan.
  Tak disangka setelah berada dekat, ia segera dapat melihat bahwa serangan tangan orang itu bagaikan
  serangan golok, ilmu kin-na-chiu-hoat juga sangat ganas, gerak tipunya bagus sekali, semua itu belum pernah
  disaksikannya oleh Khong-khong Jie.
  Bukan hanya itu saja, Khong-khong Jie yang masih terpisah tiga tombak juga dapat merasakan hembusan
  angin yang keluar dari serangan tangannya itu. Sebagai satu ahli ilmu silat yang sudah ulung, sudah tentu
  Khong-khong Jie diam-diam merasa terkejut.
  Khong-khong Jie diam-diam lalu berpikir: Apabila hanya mengadu kekuatan tenaga, aku sendiri juga belum
  tentu dapat mengalahkan orang itu. Hoa Ciong Tay dirugikan karena tadi ia sudah bertempur setengah harian
  denganku. Apabila bertempur terus, mungkin sangat berbahaya baginya.
  Di lain pihak, orang itu juga sangat khawatir. Ia takut Khong-khong Jie akan membantu Hoa Ciong Tay, maka
  ia mendesak dengan hebat, supaya dapat merobohkan Hoa Ciong Tay sebelum Khong-khong Jie bertindak.
  Hoa Ciong Tay yang belum dapat kesempatan untuk beristirahat, kekuatan tenaganya saat itu hanya tinggal
  limapuluh persen saja, ia hanya mengandalkan sepasang senjatanya yang luar biasa itu untuk
  mempertahankan dirinya.
  Khong-khong Jie ia sudah merasa gatal tangannya. Ia ingin sekali mengadu kepandaian dengan orang itu,
  tetapi mengingat kedudukannya sendiri, sudah tentu tidak baik baginya kalau bersama-sama Hoa Ciong Tay
  mengeroyok satu orang.
  Sebelum Khong-khong Jie dapat mengambil keputusan Hoa Ciong Tay sudah mengalami serangan berbahaya.
  Orang itu menggunakan ilmunya Kin-na-chiu-hoat mengancam tujuh bagian jalan darah Hoa Ciong Tay. Khong-
  khong Jie terkejut, dengan tanpa sadar melangkah maju dua tindak