Unforgiven Hero - 21

Diposting oleh Saiful bahri dari situbondo pada 19:48, 15-Jan-15

Cerita Dewasa | Unforgiven Hero | by Santhy Agatha | Unforgiven Hero | Cersil Sakti | Unforgiven Hero pdf

Pasir Maut - Karl May Si Pemaki Tuhan - Karl May Surat Kecil Untuk Tuhan Perserikatan Naga Api - Stevanus S.P Going to Heaven - Mohammad Ikhsan Kurnia

lena melangkah menuju dapur. Mengenalkannya dengan Alfred yang sedang memanggang roti di sana. Alfred lelaki tinggi dari perancis, berusia enampuluh tahun tetapi masih tampak bugar, wajahnya tampak dingin. Tapi Elena melihat sinar hangat di matanya ketika memeluk Rafael dan Elena bersamaan dengan lengannya yang besar dan mengucapkan selamat datang kepada mereka.
 
  ***
 
  Ponsel Elena bordering ketika dia sedang menata pakaian-pakaian mereka di lemari di sebuah kamar indah yang terletak di lantai dua rumah ini. Kamar ini memiliki balkon dengan anjungan yang menjorok ke pantai. Kalau kita berdiri di ujung balkon itu, kita akan bisa melihat pemandangan luas tanpa batas langit dan laut yang berwarna biru, berpadu di pisahkan oleh garis cakrawala yang menakjubkan. Sementara di bawah ombak tampak indah bergulung-gulung seolah-olah memanggil-manggil untuk berenang.
  Elena membiarkan pintu kaca besar yang membatasi kamar mereka dengan balkon membuka sehingga udara laut yang sejuk dan kering bisa mengal iri kamar. Dengan setengah melompat, Elena menuju m eja di samping tempat tidur besar, tempat ponselnya dil etakkan. Ada nama Donita di sana. Diangkatnya ponsel itu.
  "Halo Donita... aku harap kau sehat-sehat saja."
  "Aku sehat-sehat saja Elena." Suara Donita tampak ceria dan haru, "Aku mau mengabarkan bahwa aku sudah melahirkan putri kecilku semalam, dia sangat sehat dan gemuk."
  "Ah, Selamat Donita... maafkan aku, aku benar-benar lupa..." Semua peristiwa yang dialaminya dengan Rafael membuatnya lupa menelpon Donita untuk menanyakan kondisi kehamilannya, "Aku ingin sekali menengok putri kecilmu itu."
  "Aku mengerti Elena sayang, tidak apa-apa kok. Dan aku menelponmu untuk mengucapkan selamat juga." Elena bisa merasakan Donita mengedipkan matanya nakal di seberang sana. "Teman-teman kantor datang untuk menengokku di rumah sakit, dan ternyata gossip bahwa kau dinikahi oleh bos kami dan dibawa kabur ke pulau pribadinya menyebar cepat di sini. Benarkah itu Elena? Wow kau bahkan tidak menunjukkan ketertarikan kepada Mr. Alex dan tiba-tiba
  saja 'boom' kalian saling j atuj cinta dan menikah? Lalu bagaimana dengan Edo?" Donita langsung memberondongnya dengan berbagai pertanyaan.
  Elena tertawa, lalu dengan singkat menjelaskan insiden yang dialaminya bersama Edo. Sejenak dia ragu menjelaskan alas an mereka menikah. Dan memutuskan tidak menjelaskannya kepada Donita,
  "Yah begitu saja. Aku sangat kecewa dengan Edo. Dan kebetulan Rafael sangat baik... jadi tiba-tiba saja kami sudah menikah."
  Donita tergelak di seberang sana, "Mungkin itulah yang disebut kemauan Tuhan. Kita sudah berencana dengan yang lain, tiba-tiba Tuhan memberikan jalan untuk bersatu dengan orang yang selama ini tidak pernah kita duga. Meskipun kabar ini masih membuatku shock, tetapi aku menyadari bahwa kalian adalah pasangan yang cocok. Semoga berbahagia Elena, telpon aku kalau kau kesepian di pu lau pribadi itu." Suara Donita terdengar ceria membuat Elena tertawa geli,
  "Pasti, Donita. Dan segera setelah aku pulang nanti, aku akan langsung menengokmu dan putri kecilmu."
  "Janji ya, aku tunggu." Donita tertawa cerita, "Selamat menikmati bulan madumu Elena."
  Elena masih tersenyum ketika menutup ponselnya. Bulan madu. Kini dia dan Rafael pasangan pengantin baru. Rafael sedang pergi dengan Pak Mizan untuk menengok perkebunan, Katanya dia akan kembali sebentar lagi.
 
  ***
 
  Ketika kembali, Rafael langsung menggandeng Elena mengajaknya ke pantai pribadinya.
  "Kau akan senang melihat bagian pantai yang ini." Rafael mengajak Elena menuruni tangga putih lingkar yang ternyata ada di bawah balkon mereka, dan merekapun turun di sebuah anjungan pantai pribadi yang dikelilingi tembok dan tanaman untuk menjaga privacy.
  "Aku sering berbaring di pantai, dan merenung di sini sendirian, tidak ada yang bisa melihat kita dari sini. Satu-satunya akses adalah dari tanggal di balkon kamar kita. Dan tidak ada yang berani kemari kalau tidak kuperintahkan." Rafael mengedipkan matanya pada Elena, "Di sini benar-benar privacy untuk kita."
  Pipi Elena memerah menyadari arti di balik kata-kata Rafa
  http://cerita-silat.mywapblog.com

Unforgiven Hero - Santhy Agatha

  el itu. Privacy untuk mereka..... apakah Privacy untuk
  bercinta? Elena menggeleng-gelengkan kepalanya berusaha mengusir pikiran aneh di benaknya. Rafael dan aura sensualnya sepertinya telah mempengaruhi Elena sedemikian rupa.
  Lelaki itu menggandeng Elena ke sisi pantai yang sejuk di bawah tanaman palem dan kelapa. Tempat mereka rupanya telah disiapkan, ada sebuah gazibu kecil yang nyaman di sana, beralaskan karpet lembut berwarna cokelat muda dan bantal-bantal hitam eksotis yang berserakan di sana. Gazebu itu berhiaskan tirai-tirai putih yang menjuntai, tampak begitu indah tertiup angina pantai. Satu sisi gazibu itu terbuka, langsung mengarah ke pemandangan pantai nan luas dan indah dengan warna langit yang mulai jingga, pertanda matahari hampir tenggelam. Lampu kecil di pilar gazibu menyala dengan sinar kuning yang hangat, seakan disiapkan untuk pasangan yang akan melalui malam sambil menatap bintang-bintang di langit.
  Rafael mengajak Elena ke gazibu dan duduk di karpetnya yang empuk, bahkan makananpun sudah disiapkan di sana, seperti magic. Kue-kue kecil yang menggiurkan tersaji di nampan perak yang berkilauan. Dan dua botol anggur disiapkan di ember perak kecil yang berisi es, serta dua gelas minuman dingin berwarna orange segar. Ini benar-benar tempat yang menyenangkan untuk duduk sambil memandang matahari tenggelam. Rafael merangkul Elena, dan mereka termenung menatap ke arah matahari tenggelam dalam keheningan. Menyaksikan cakrawala perlahan menelan bulatan orange yang bersinar orange kemerahan itu. Hingga akhirnya hanya tersisa seberkas cahaya jingga di batas cakrawala.
  Suasananya begitu sacral dan intim hingga Elena takut merusaknya. Dia melirik ke arah Rafael, dan melihat siluet lelaki itu. Rafael benar-benar tampan, dan lelaki itu adalah suaminya. Elena merasakan perasaan hangat membanjirinya. Dia merasa begitu dekat dengan Rafael, seakan sudah mengenal lama, seakan Rafael mengerti apapun yang dia inginkan. Mungkin mereka memang ditakdirkan ber sama.
  "Elena." Suara Rafael terdengar serak, dan dari jarak dekat, di bawah sorot lampu temaram, Elena bisa melihat mata Rafael memancarkan gairah, "Kau sudah bisa...?"
  Ah. Lelaki ini begitu sopan, begitu baik dan perhatian. Bahkan dalam gairahnya Rafael sempat menanyakan kesiapan tubuh Elena untuk bercinta. Elena sungguh tersenyum. Dia tidak berkata apa-apa, hanya menatap Rafael penuh arti.
  Rafael membalas senyum itu, lalu dengan lembut menundukkan kepalanya dan mengecup bibir Elena lembut. Elena membalas kecupan itu. Membiarkan Rafael merasakan kelembutan bibirnya. Lelaki itu lalu melepas ciumannya dan mereka bertatapan. Senyum Rafael malam itu tidak akan pernah Elena lupakan, senyum itu begitu lembut, begitu penuh haru, dan entah kenapa membuat dada elena sesak oleh suatu perasaan yang tidak dapat digambarkannya.
  Jemari Elena bergerak ragu dan menyentuh pipi Rafael, lelaki itu menempelkan pipinya di sana dan memejamkan matanya, jarinya meraih jari Elena dan mengarahkannya ke bibirnya, Rafael lalu mengecup telapak tangan Elena dengan lembut. Mereka bertatapan dengan tatapan yang hanya bisa dimengerti oleh satu sama lain, dan kemudian bibir mereka menyatu dalam sebuah ciuman lembut.
  Kali ini ada yang berbeda. Kali ini ada rasa sayang dalam ciuman ini. Ada perasaan lembut yang mengembang dalam pagutan bibir mereka. Rafael melumat bibir Elena, mencecap seluruh rasa bibirnya, seakan tidak pernah puas. Tangannya menyentuh pinggul Elena dan dengan gerakan ahli melepaskan celana dalam Elena di balik roknya, menurunkannya dan membiarkannya menggantung di salah satu paha Elena. Lelaki itu lalu membuka kancing celananya dan menurunkan resletingnya, kejantanannya sudah tegak, menunjukkan betapa bergairahnya dia kepada Elena,
  "Naik ke atasku, sayang." Suara Rafael bagaikan perintah mistis yang membuat tubuh Elena dibanjiri oleh dorongan sensual yang aneh. Dengan hati-hati Elena naik ke pangkuan Rafael. Lelaki itu membimbingnya untuk menyatukan tubuh mereka perlahan, karena hal ini masih baru bagi Elena, ketika tubuh mereka menyatu sepenuhnya, Rafael menghela napas pendek-
  http://cerita-silat.mywapblog.com
Unforgiven Hero - Santhy Agatha