Ksatria Panji Sakti - 13

Di posting oleh Saiful bahri dari situbondo pada 04:03 PM, 05-Mar-14

Cerita Silat | Ksatria Panji Sakti | oleh Gu Long | Ksatria Panji Sakti | Cersil Sakti | Ksatria Panji Sakti pdf

Imam Tanpa Bayangan II - Xiao Say Pendekar Pulau Neraka - 50. Bidadari Penyambar Nyawa Ksatria Panji Sakti - Gu Long Animorphs 17 Menembus Gua Bawah Tanah Pendekar Perisai Naga - 5. Siluman Kera Sakti

Hutan itu gelap lagi lembab, setelah menempuh perjalanan sekian waktu, ia baru menyadari akan kesalahan tersebut, tapi sayang keadaan sudah terlambat. Mendadak dari balik pohon meluncur datang tiga batang panah yang tajam disertai desingan angin tajam. Buru buru Thiat Tiong-tong membungkukkan badan, anak panah itu meluncur lewat melalui atas punggungnya, Sambil mengambil segenggam pasir dan disebarkan ke sisi kiri, tubuhnya menyusup ke arah kanan untuk melanjutkan larinya. Sambil melompat untuk menghindar, dia mulai periksa sekeliling tempat itu, terlihat ada sebatang pohon besar dengan daun yang amat lebat tumbuh dihadapannya, ia tahu tempat semacam ini paling cocok untuk digunakan bersembunyi, maka tanpa ragu dia segera melompat ke situ. Biarpun sudah terjebak dalam situasi kritis, jalan pemikiran pemuda ini masih tetap tenang dan jelas, dia masih mampu menganalisa dan menyimpulkan segala sesuatu secara jelas. Baru saja tubuhnya bersembunyi dibalik dedaunan, suara ujung baju yang tersampok angin telah berkumandang dari bawah pohon, untung dia bertindak cepat, coba terlambat sedikit saja pasti akan bertemu dengan orang orang itu. Ternyata dua sosok bayangan manusia yang bergerak mendekat adalah Leng It-hong serta Pek Seng—bu. Sambil memeriksa sekeliling tempat itu terdengar Leng It-hong bergumam: “Aneh, dengan jelas kulihat dia kabur menuju kemari, kenapa tak nampak bayangan tubuhnya?” Pek Seng-bu ikut menghentikan langkahnya sembari tertawa dingin. “Hmm, sekalipun gerakan tubuh bajingan itu sangat cepat, memangnya dia bisa terbang ke langit atau menyusup ke dalam tanah?” serunya, “mustahil bayangan tubuh mereka bisa lenyap dengan begitu saja, saudara Leng, jangan jangan kau salah lihat” “Mana mungkin . . . . . ..” seru Leng It-hong gusar. Belum selesai ia berkata, tiba tiba terlihat Pek Seng-bu sedang mengerdipkan mata memberi tanda Sambil berkata: “Barusan siaute mendengar disebelah kiri ada suara, coba kita periksa dulu ke arah situ” “Betul, mungkin saja mereka berubah arah” Leng It-hong segera mengubah nada bicaranya. Kedua orang itu membalikkan badan dan beranjak pergi. Thiat Tiong-tong yang bersembunyi diatas pohon menghembuskan napas lega, diam diam ia bersyukur karena sekali lagi berhasil lolos dari kesulitan. Siapa tahu baru saja ingatan tersebut melintas lewat, mendadak terdengar suara tertawa mengejek bergema dari arah belakang tubuhnya. Terdengar si pendekar berlengan tiga Pek Seng-bu tertawa tergelak Sambil mengejek: “Kusangka kau benar benar memiliki kemampuan untuk terbang ke langit atau menyusup ke dalam tanah, rupanya hanya bersembunyi diatas pohon” Ditengah gelak tertawa tubuhnya sudah melompat naik ke atas pohon, Sambil menyingkap dedaunan dengan senjata sianjin-ciang nya, disertai desingan tajam ia serang bahu dan punggung Thiat Tiong-tong. Dalam terkesiapnya Thiat Tiong-tong tak berani melancarkan serangan balasan, tubuhnya segera melompat turun ke bawah. Siapa tahu rupanya Leng It-hong sudah menunggunya dibawah pohon, begitu dia melompat turun, Sambil tertawa dingin jengeknya: “Mau kabur ke mana lagi kau?” Sepasang kepalannya diayunkan bergantian langsung menghimpit tubuh Thiat Tiong-tong serta Im Ceng yang berada dalam gendongannya. Dengan tangan kirinya masih menggendong Im Ceng, buru buru Thiat Tiong-tong memutar badan sambil mengayunkan kakinya menendang iga Leng It-hong, arah serangannya ditujukan ke bagian mematikan sehingga memaksa musuh harus segera melindungi diri. Buru buru Leng It-hong menarik kembali serangannya sambil melindungi diri, telapak tangannya dibabat ke bawah membacok kaki pemuda itu. Pada saat yang bersamaan Pek Seng-bu telah melompat turun dari atas pohon, senjatanya disertai angin serangan menyapu ke pinggang Thiat Tiong-tong. Dalam posisi membopong orang, menghadapi pula serangan dari depan dan belakang, boleh dibilang pemuda itu sudah terjebak dalam situasi yang sangat berbahaya. Sekalipun ia berhasil meloloskan diri dari serangan pertama, namun serangan demi serangan kembali dilancarkan Leng It-hong dan Pek Seng-bu, dengan andalkan sebelah tangan, mana mungkin ia sanggup menahan diri? Dalam situasi yang amat kritis itulah tiba tiba ia membentak keras, berbareng dengan bentakan itu tubuhnya langsung menerjang ke muka dan menumbuk dada Leng It-hong dengan kepalanya. Jelas gerakan ini merupakan jurus serangan nekad, jauh diluar peraturan pertarungan yang berlaku. Biarpun Leng It-hong banyak pengalaman dan berilmu tinggi, dia dibuat gugup juga Setelah menghadapi jurus serangan yang belum pernah dilihat sebelumnya ini, buru buru badannya berkelit ke samping lalu melayangkan telapak tangannya menyapu bahu anak muda itu. Sambil menggertak gigi Thiat Tiong-tong manfaatkan kesempatan itu untuk menerjang ke muka. “Mau kabur ke mana kau!” hardik Pek Seng-bu sambil tertawa dingin, bahunya bergerak dan siap melakukan pengejaran. Tiba tiba Thiat Tiong-tong membalikkan badan Sambil membentak nyaring: “Kena!” Leng It-hong maupun Pek Seng-bu tidak tahu senjata rahasia apa yang dilepaskan pemuda itu, serentak mereka melompat ke samping untuk menghindarkan diri. Tak dinyana ternyata serangan itu hanya sebuah serangan tipuan, biar sudah ditunggu sesaat pun Leng It-hong maupun Pek Seng-bu tidak melihat ada senjata rahasia yang menyambar tiba, menanti mereka sadar kalau tertipu, Thiat Tiong-tong sudah menggunakan kesempatan itu melarikan diri. Padahal semua akal muslihat yang digunakan anak muda itu hanya tipuan paling rendah kwalitasnya, tapi apa mau dikata tipuan yang paling sederhana itu justru berhasil menipu habis habisan dua orang tokoh persilatan yang berpengalaman itu. Dengan perasaan mendongkol Leng It-hong menghentakkan kakinya ke tanah, serunya penuh rasa dendam” “Sialan, lagi lagi termakan tipuan bajingan itu!” “Sekeliling hutan sudah berada dalam kepungan, masa dia bisa kabur dari kepungan kawanan jago?” “Aku tahu, bajingan itu memang mustahil bisa lolos, tapi yang membuatku jengkel adalah berulang kali ia berhasil menipu lohu dengan tipuan kanak kanak!” “Disinilah letak kelicikan bajingan itu, sudah tahu kalau kita tak bakal memperhatikan tipuan kanak kanak, maka dia sengaja menggunakannya untuk menghadapi kita” “Manusia semacam ini hanya akan menjadi bibit bencana bila dibiarkan hidup terus, untung dia kabur ke arah wilayah yang dijaga pendekar pedang berhati ungu serta Seng Toa-nio!” Setelah melarikan diri sejauh puluhan depa, Thiat Tiong-tong tak berani lari terlalu cepat, sambil bungkukkan badan dia bergerak lambat dan penuh kewaspadaan. Ia tak berani mengeluarkan suara, asal ada sedikit gerakan angin dihadapannya, serta serta dia berganti arah. Kini dia sudah berada dalam kondisi yang tidak fit, selain luka bakar ditubuhnya, bahunya juga termakan sebuah pukulan, dalam keadaan begini nyaris dia sudah tak mampu lagi bertarung melawan orang. Oleh sebab itu dia meningkatkan kewaspadaannya dan berjalan sangat lambat, betul saja, dengan seringkali berganti arah sepanjang jalan dia tidak menjumpai rintangan. Tampaknya asal berjalan berapa saat lagi mereka segera akan lolos dari hutan belantara itu. Mendadak dari atas kepalanya terdengar seseorang mengejek Sambil tertawa dingin: “Hati hati kalau berjalan, jangan sampai terjerembab!” Thiat Tiong-tong terkesiap, ia tak berani mendongakkan kepalanya, dengan cepat tubuhnya meluncur ke depan. Terdengar desingan angin bergema dari atas kepala disusul dua sosok bayangan manusia melayang turun ke bawah, satu didepan yang lain di belakang serentak mencegat jalan kaburnya. Mereka tak lain adalah Seng Toa-nio dan Seng Cun-hau. Seng Cun—hau sambil melintangkan pedangnya berdiri menghadang di depan jalan, sementara Seng Toa-nio berada disudut yang lain dan berdiri penuh senyuman. Belum sempat mereka bicara, Thiat Tiong-tong telah menghela napas duluan sambil berseru: “Bagus sekali!” Kemudian bukannya melarikan diri dia malah duduk bersila, sikapnya amat santai seperti orang yang sedang beristirahat, seolah olah baru saja ia bertemu dengan orang sendiri saja. “Apanya yang bagus?” tak tahan Seng Toa-nio menegur, “kenapa kau malah senang bertemu aku?” Kembali Thiat Tiong-tong menghela napas panjang. “Sebenarnya aku sedang mencari kalian berdua, untunglah setelah bersusah payah lari kesana lari ke sini akhirnya Thian memang maha bijaksana, perjalananku jadi tak sia sia” “Ada urusan apa kau mencari aku?” timbul rasa ingin tahu dalam hati Seng Toa-nio. Seng Cun—hau sendiri termasuk type orang yang tak gemar banyak bicara, dia hanya melintangkan pedangnya Sambil mengawasi anak muda itu. Mendadak Thiat Tiong-tong membungkukkan tubuhnya dan mulai berteriak kesakitan. \\ ey, kenapa kau?” “senjata rahasia” sahut Thiat Tiong-tong gemetar, II \\ ada orang..... “Kau tak perlu bermain gila dihadapanku” tukas Seng Toa—nio gusar, “lo-nio tak bakalan tertipu olehmu!” Sekalipun bicara begitu tak urung dia membungkukkan badannya juga untuk memeriksa apakah benar terdapat senjata rahasia. Diam diam Thiat Tiong-tong melirik sekejap, begitu melihat perempuan tua itu mulai membungkukkan badan, diapun berpikir sambil tertawa dingin: “Hmm, akhirnya kau tertipu juga oleh siasatku!” Secepat kilat dia menyebarkan segenggam pasir ke wajah nenek itu, sementara tubuhnya melejit sekuat tenaga ke udara dan melepaskan serangkaian tendangan berantai ke wajah Seng Toa-nio. Tergopoh—gopoh Seng Toa—nio melompat mundur sembaari berteriak: “Cun—hau, jangan biarkan dia kabur!” Seng Cun—hau segera melepaskan sebuah tusukan kilat, gerakan pedangnya bagaikan bianglala, cepat dan mematikan. Thiat Tiong-tong segera berseru lantang: “Pedang tak akan dipakai untuk membunuh musuh bertangan kosong, kalau kau ingin membunuh ayoh silahkan bunuh!” Dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya, dia kabur menuju ke samping kiri. Betul saja, begitu mendengar teriakan itu, buru buru Seng Cun—hau menarik kembali serangannya, dia menarik tusukannya persis disaat Thiat Tiong-tong bergerak melalui sisi tubuhnya. Meskipun ujung pedangnya berhasil merobek punggung lawan hingga berdarah, namun ia menghentikan langkahnya seketika Sambil berpikir: “Aaai.... mengingat kaupun seorang lelaki sejati, cepatlah kabur! Jangan sampai terkejar lagi oleh orang lain” Begitu ingatan tersebut melintas, tanpa ragu dia segera membuka sebuah jalan kehidupan bagi lawannya. Saat itu Seng Toa-nio belum mampu membuka matanya karena kemasukan pasir, tapi dia tetap mengayunkan tangannya melepaskan segenggam jarum perak. Terlihat kilatan cahaya perak menerobos di angkasa dan seolah olah punya mata saja, langsung mengejar ke arah Thiat Tiong-tong. Perlu diketahui, Seng Toa—nio sudah puluhan tahun lamanya mendalami ilmu melepaskan senjata rahasia, bukan saja ia bisa menentukan sasaran berdasarkan arah angin bahkan senjata rahasia itu dapat diarahkan sekehendak hati, seolah olah benda berjiwa saja. Thiat Tiong-tong tahu kalau Seng Cun—hau berniat melepaskan dia, maka pemuda ini lari sekuat kuatnya menjauhi tempat itu, namun baru kabur sejauh puluhan depa, tiba tiba lututnya terasa kesemutan, tiga batang jarum gadis langit yang lembut bagai bulu tahu tahu sudah bersarang telak ditubuhnya. Rasa sakit yang merasuk hingga ke tulang sumsum membuat