Pemberontakan Taipeng - 11

Diposting oleh Saiful bahri dari situbondo pada 23:38, 30-Jun-16

Cerita Silat | Pemberontakan Taipeng | Karya Kho Ping Hoo | Pemberontakan Taipeng | Cersil Sakti | Pemberontakan Taipeng pdf

Boma Gendeng 1 Suka Suka Cinta Pedang Bintang Dewa Linglung 1 Raja Raja Gila Dewi Sri Tanjung 1 Jasa Susu Harimau Dewi Ular 30 Tumbal Cemburu Buta

agai seorang yang mewarisi harta benda yang banyak, dia hidup sebagai seorang yang kaya raya, membangun perkampungan itu dan biarpun dia belum juga beristeri, namun sebagai seorang pria yang mata keranjang, di dalam gedungnya terdapat puluhan orang pelayan wanita muda-muda dan cantik-cantik yang selalu siap melayaninya karena mereka itu menjadi pelayan merangkap selir. Juga untuk memperkuat diri, Lee Song Kim mengumpulkan orang-orang muda yang memiliki ilmu silat, bahkan dididiknya, sebanyak tiga puluh orang lebih yang menjadi anak buahnya dan tinggal di dalam rumah-rumah yang mengelilingi gedungnya di dalam perkampungan itu.
  Lee Song Kim adalah seorang yang memiliki ambisi besar. Pernah dicobanya belasan tahun yang lalu untuk mencari kedudukan dan kemuliaan melalui Kerajaan Ceng. Dia bahkan pernah mengabdikan dirinya kepada penjajah, mengkhianati para pejuang. Akan tetapi akhirnya ia gagal dan sebaliknya dikejar-kejar oleh pemerintah ! Dia tidak sanggup lagi mencari kedudukan melalui pangkat, maka kini ambisinya mencari cara lain. Dia ingin menjadi seorang yang akan disebut Thian-he Te-it Bu-hiap (Pendekar Silat Nomor Satu di Dunia) ! Karena itu, dia menggembleng diri setiap hari dengan ilmu-ilmu dari semua aliran. Bahkan kitab-kitab yang telah dicuri gurunya untuk dirinya, dari perkumpulan-perkumpulan besar seperti Bu-tong-pai, Kun-lun-pai, Kong- tong-pai dan lain-lainnya, masih belum memuaskan hatinya. Dia berpikir bahwa untuk dapat menjadi jagoan nomor satu di dunia, dia harus menguasai semua ilmu silat dari aliran manapun juga agar dia dapat menghadapi dan menguasai jago-jago dari semua aliran silat yang ada ! Dan diapun perlu menguji ilmu-ilmu yang sudah dipelajari dan dikuasainya itu, untuk melawan tokoh-tokoh dari aliran-aliran itu sendiri.
  Baru setelah dia memiliki secara lengkap ilmu berbagai aliran itu dan merasa yakin akan mampu mengalahkan semua tokohnya, dia akan mengumumkan bahwa dialah Thian-he Te-it Bu-hiap ! Dan untuk pengangkatan diri menjadi jagoan nomor satu di dunia itupun sudah dia dapatkan lambangnya, yaitu Giok-liong-kiam ! Ya, tidak keliru dugaan Tang Ki. Lee Song Kim inilah pencuri Giok-liong-kiam ! Setelah dia mendengar berita bahwa Giok-liong-kiam terjatuh ke tangan Ong Siu Coan sebagai pimpinan pemberontak Tai Peng, dia lalu mengirim anak buahnya melakukan penyelidikan tentang Ong Siu Coan. Dan ketika dia mendengar laporan anak buahnya betapa istana Ong Siu Coan di Nan-king tidak terjaga dengan ketat, dia lalu turun tangan sendiri, pergi ke Nan-king dan berhasil mencuri Giok-liong-kiam dengan amat mudahnya.
  Akan tetapi dasar mata keranjang dan cabul, setelah berhasil mencuri pedang pusaka itu, dia tidak segera pergi melainkan menyingkap kelambu untuk melihat sepasang manusia yang tidur di balik kelambu. dan melihat wanita yang pernah menjadi sumoinya, yang pernah dicintanya, tidur terlentang dalam pakaian yang tipis, dia tidak dapat menahan diri dan meraba pahanya membuat wanita itu terbangun dan menyerangnya, juga membangunkan Ong Siu Coan yang menyerangnya. Namun, dengan kepandaiannya yang tinggi, dia mampu meloloskan diri.
  Kalau dia menghendaki, tentu saja dia akan mampu membunuh Ong Siu Coan dan Tang Ki selagi mereka masih tidur. Akan tetapi dia tidak mau melakukannya. Hal itu tentu akan menimbulkan geger besar dan kalau sampai dia dimusuhi oleh Tai peng, celakalah dia ! Dia cukup cerdik untuk menggunakan kedok sehingga suami isteri yang berhasil menjadi raja kaum Tai peng itu tidak melihat bukti bahwa dia pencurinya.
  Sore hari itu, Lee Song Kim makan minum ditemani tiga orang pelayan wanita yang paling cantik dan yang menjadi tiga orang kesayangannya. Tiga orang wanita muda yang cantik- cantik ini seperti berlomba untuk mengambil hati kongcu mereka, bersikap manis dan genit, menemaninya makan minum sambil bersenda gurau. Lee Song Kim minta disediakan masakan-masakan yang serba istimewa karena dia hendak merayakan keberhasilannya mencuri Giok-liong-kiam, walaupun hal itu masih dirahasiakannya, baik terhadap anak buahnya sekalipun. Belum tiba saatnya untuk menyiarkan bahwa dia kini yang memiliki Giok-liong-kiam, karena hal itu selain akan memancing datangnya banyak tokoh yang tidak ditakutinya, namun juga memancing datangnya Ong Siu Coan dengan pasukannya yang sama sekali yidak boleh dipandang ringan.
  Selama beberapa bulan ini, dia sudah mengalahkan banyak ahli silat dari berbagai aliran, dengan mempergunakan ilmu silat dari aliran itu sendiri dan hal ini menambah kegembiraan hatinya. Hanya aliran- aliran silat yang besar-besar saja yang belum dicoba ilmu silatnya.
  Setelah merasa kenyang, Lee Song Kim melanjutkan pestanya di dalam kamarnya, minum arak ditemani tiga orang kekasihnya. Dua orang memijit-mijit seluruh badannya, memilih otot-otot yang kalau dipijit dapat melenyapkan rasa lelah, sedangkan seorang pelayan lain duduk di atas pangkuannya, tertawa-tawa ketika dibelainya.
  Tiba-tiba daun pintu diketuk orang dari luar dan terdengar seorang anak buah minta diterima menghadap karena ada laporan penting. Pelayan wanita yang duduk di atas pangkuan Lee Song Kim segera meloncat turun dan atas isyarat majikannya ia membuka pintu, Lee Song Kim mengerutkan alisnya, memandang kepada anak buahnya itu dengan hati tak senang karena dia merasa terganggu selagi bersenang-senang dengan tiga orang kekasihnya.
  “Ada urusan penting apakah yang mendorongmu untuk menemuiku ?” tanyanya, siap untuk marah-marah kalau pemuda yang bermuka hitam itu tidak memiliki alasan yang kuat.
  “Harap kongcu suka memafkan saya,” kata pemuda itu.
  “Akan tetapi mentaati perintah kongcu, saya melapor bahwa di kaki bukit ada dua orang tosu tua yang berjalan menuju perkampungan kita. Melihat sikap dan dandanan mereka, juga bahwa seorang dari mereka membawa pedang di punggung, saya dapat menduga bahwa mereka bukan tosu-tosu biasa, Karena itu saya cepat lari untuk melapor kepada kongcu.”
  Wajah yang tadinya membayangkan kemarahan kini berubah cerah gembira.
  59 “Bagus, aku harus menemui mereka !” katanya dan diapun sudah meloncat turun dan membereskan sebatang pedang di balik jubahnya dan berkelebat keluar. Gerakannya cepat sekali seolah-olah dia mempergunakan ilmu terbang saja.
  Dua orang tosu itu berusia kurang lebih enam puluh tahun. Seorang di antara mereka bertubuh kurus tinggi dan membiarkan rambutnya tergerai di kedua bahunya. Di punggungnya nampak sebatang pedang bersarung butut, dan jubah tosu yang menutupi tubuhnya berwarna kuning lusuh.
  Wajahnya agak muram dan jarang senyum, wajah yang kurus nampak lonjong, sesuai dengan tubuhnya yang tinggi kurus. Adapun tosu kedua bertubuh gendut, tidak setinggi temannya, juga jubahnya kuning dengan bagian dada terbuka. Agaknya dia selalu kegerahan. tidak nampak dia membawa senjata dan wajahnya yang bundar itu selalu dihias senyum, sepasang matanya yang lebar bersinar dan berseri. Mereka melangkah tanpa berkata-kata.
  Lee Song Kim memperhatikan mereka. Pengetahuannya tentang tokoh-tokoh berbagai aliran silat memang luas. Walaupun dia belum pernah bertemu sendiri dengan dua orang tosu ini, namun menurut hasil penyelidikannya selama beberapa tahun ini, sejak dia masih hidup di Pulau Naga bersama Hai-tok, membuat dia tahu bahwa dua orang ini adalah dua tokoh Kun-lun-pai tingkat tiga yang memiliki ilmu kepandaian tinggi ! Bukan main girang rasa hatinya. Terbuka kesempatan baginya untuk menguji ilmu silatnya yang didapat dari kitab pelajarannya ! Diapun cepat keluar menghadang perjalanan dua orang tosu itu.
  Ketika si tempat sunyi itu tiba-tiba muncul seorang laki-laki tampan yang berpakaian mewah seperti seorang pelajar kaya, dua orang tosu itu memandang heran dan memperlambat langkah mereka karena laki-laki itu berdiri di tengah jalan, nampaknya sengaja menghadang mereka.
  “Jiwi totiang (bapak pendeta berdua), harap perlahan dulu berjalan, karena saya ingin sekali bicara dengan jiwi (anda berdua),” kata Lee Song Kim dengan sikap sopan dan ramah.
  Tosu tinggi kurus yang berwajah muram itu diam saja, akan tetapi tosu gendut tertawa ramah. “Ha-ha, ada keperluan apakah si-cu (orang gagah) menahan perjalanan dua orang tosu seperti kami ?”
  Diam-diam Song Kim memuji ketajaman mata tosu gendut ini. Begitu bertemu tosu ini sudah dapat melihat bahwa dia bukan seorang pelajar biasa, melainkan pandai ilmu silat maka tosu itu menyebut “sicu”. Akan tetapi Song Kim memperlihatkan wajah biasa saja.
  “Totiang, kalau saya tidak salah duga, ji-wi totiang adalah tokoh-tokoh dari Kun-lun-pai, bukan ?”
  Dua orang tosu itu saling pandang dan kerut di antara kedua alis tosu kurus menjadi semakin dalam. Akan tetapi tosu gendut segera menjawab sambil tertawa, “Siancai ...... pinto berdua hanyalah tosu-tosu perantau biasa saja ...... ”
  Song Kim tersenyum. “Totiang tidak perlu merendahkan diri. Bukankah totiang berjuluk Tiong Gi Tojin dan totiang yang kurus ini adalah Tiong Sin Tojin? Tokoh-tokoh Kun-lun-pai tingkat tiga yang berilmu tinggi dan lihai sekali !”
  Dua orang tosu itu kini nampak terkejut, bahkan tosu gendut kehilangan senyumnya. “Sicu, siapakah engkau dan apa kepeluanmu menghadang perjalanan kami, apalagi setelah engkau mengenal siapa adanya kami ?”
  tanya tosu gendut, wajahnya serius.