Suling Pualam dan Rajawali Terbang - 28

Diposting oleh Saiful bahri dari situbondo pada 11:12, 05-Jun-15

Cerita Silat | Suling Pualam dan Rajawali Terbang | oleh Peng An | Suling Pualam dan Rajawali Terbang | Cersil Sakti | Suling Pualam dan Rajawali Terbang pdf

Ternyata Tidak Mudah Menemukanmu - raspcake Have I Told You Lately That I Love You - raspcake Pendekar Rajawali Sakti - 194. Utusan Dari Andalas Satu Hati Tiga Sudut - Oleh KY U! - Karya Donna Rosamayna

  sedang menuntun suara seruling Tan Cee ke arahnya.
  Kim Tan yang memperhatikan suara seruling itu, segera dapat tahu bahwa suara seruling itu dari kamar depan
  datangnya. Ma Beng ketika mendapat dengar suara seruling itu mendadak ingat satu orang. Selagi hendak
  menanya, kakek nelayan itu dengan tangan membawa seruling besinya masuk ke kamar. Ma Beng mendapat
  lihat benda itu, segera tertawa bergelak-gelak.
  „Dengar kabar di daerah sekitar Kang-hway ini ada seorang nelayan yang bergelar nelayan berseruling besi,
  bukankah Lo-tiang adanya?”
  „Aku si tua bernama Kheng Ling, nelayan berseruling besi betul adalah gelarku. Barusan aku mendengar suara
  seruling, segera merasa gatal tanganku, harap jangan dibuat tertawaan. Aku ingin tanya, Lo-tiang bukankah
  orang yang disebut Ma Beng?”
  Nelayan berseruling besi ini setelah memperkenalkan dirinya, segera Ma Beng perkenalkan kawan-kawannya.
  „Kedua pemuda ini adalah Kim Tan dan Cu Ling Cie, dan ini adalah kawan yang baru kita kenal Tan Cee. Tidak
  tahu Lo-tiang, kali ini datang kemari ada keperluan apa?” demikian Ma Beng menanya.
  „Kedatanganku ini mungkin ada hubungannya dengan Ma Tay-hiap.”
  Ma Beng kaget mendengar pernyataan Kheng Ling ini. Ia ingin minta penjelasan, sebaliknya Kheng Ling
  membalas menanya: „Di dalam kaummu bukankah ada seorang yang bernama Tek Seng Hiong?”
  Kembali Ma Beng dibikin heran, dengan wajah muram ia menjawab: „Orang ini pada duapuluh tahun berselang
  karena melanggar peraturan kaum kita, telah memasuki golongan Goan-cin-siang-to. Toa-suheng Khau-sian
  Hiong Lip Khun, oleh karena soal ini, telah datang sendiri ke Goan-cin-koan, kepada Siok minta kembali orang
  tersebut.
  „Tidak dinyana Siok berpura-pura menyanggupi, lantas melakukan serangan menggelap, sehingga Toa-suheng
  terluka berat, dan bikin aku mesti melakukan perjalanan jauh ke Biauw-ciang, untuk mencari obat. Hampir saja
  aku mati ditelan ular kalau bukannya ditolong oleh Dewi tangan ganas Lie Hun Cun. Dan dengan
  pertolongannya pula baru aku dapat membunuh ular besar itu serta dapat menyembuhkan luka Toa-suheng.
  „Karena murka, Toa-suheng akhirnya mengasingkan diri untuk melatih ilmu Sao-yang-sin-kang sepuluh tahun
  lamanya, hendak bikin perhitungan dengan Goan-cin-siang-to, siapa nyana musuhnya sudah dikalahkan oleh
  Sam Hie To-tiang. Sekarang ini tidak tahu sudah sembunyi dimana. Tek Seng Hiong juga tahu sedang dikejar
  oleh kaumnya sendiri, kabarnya sekarang sudah masuk kaum Pek-kut-kauw. Kedatangan Kheng-heng kemari
  bukankah lantaran dia?”
  „Dua tiga bulan yang lalu, waktu Siau-tee pesiar ke An-khing pernah bertemu dengan penjahat itu, dan berjanji
  kepadanya, bahwa pada nanti tanggal sepuluh bulan delapan, kita bertemu di Shia-ling-kie untuk mendapat
  keputusan siapa yang menang dan siapa yang kalah. Kau ada mempunyai ganjelan hati dengannya, boleh
  kiranya kau nanti memberi sedikit bantuan padaku?”
  Ma Beng segera menyanggupi. Ia tidak nyana disini akan bertemu dengan si nelayan seruling besi, dan
  malahan mendapat kabar dimana adanya Tek Seng Hiong yang bertahun-tahun ia sedang cari. Maka ia bukan
  saja menyanggupi untuk memberi bantuan tenaga, malahan ia perkenalkan Kim Tan, Cu Ling Cie dan Tan Cee
  yang masing-masing mempunyai kepandaian tinggi. Dengan bantuan mereka bertiga, meski Tek Seng Hiong
  sudah masuk anggota Pek-kut-kauw dan akan dibantu olehnya, juga tak usah kuatir tidak bisa menangkap
  padanya. Tapi Kheng Ling yang melihat mereka masih sangat muda remaja, dalam hatinya masih sangsikan
  kepandaiannya.
  Dalam perjalanan ini, mereka lewatkan waktunya sambil mengobrol ke barat dan ke timur, tidak ketinggalan
  pula untuk membicarakan soal-soal ilmu silat. Dalam pembicaraan ini, Kheng Ling merasa sangat kagum
  kepada mereka yang ternyata mempunyai pemandangan sangat luas dalam ilmu silat hingga perasaan
  sangsinya lenyap seketika.
  Meski perjalanan dilakukan sangat lambat, tapi mereka telah sampai di Shia-ling-kie tepat pada waktunya,
  ialah pada tanggal sepuluh bulan delapan, tanggal yang telah dijanjikan oleh Kheng Ling dan Tek Seng Hiong.
  Tiba di tempat tujuannya, mereka memeriksa keadaan di sekitarnya. Tempat itu merupakan satu tanah datar
  yang sangat luas, di sekitarnya dikelilingi oleh pepohonan yang lebat. Tempo yang mereka janjikan ialah jam
  tiga malam.
  Meski baru jam satu tengah malam, tapi Ma Beng berempat masing-masing sudah memilih tempat di atas
  pohon besar untuk sembunyikan diri. Kheng Ling dengan seruling besinya di tangan, duduk di atas batu besar,
  untuk menanti kedatangan Tek Seng Hiong.
  Kim Tan dulu waktu mengambil mustika bersama Sam Hie To-tiang pernah makan obat mustajab, maka
  pemandangan matanya sangat tajam. Pada sebuah pohon besar kira-kira tiga-empat tumbak jauhnya, ada
  duduk seorang, sayang karena kealingan daun lebat, wajahnya tidak terlihat tegas. Tapi melihat tempat
  duduknya dan caranya naik turun dari pohon yang begitu gesit dan enteng, sungguh hebat ilmunya
  mengentengi tubuh. Sayang karena tidak jelas wajahnya, maka belum diketahui ia adalah kawan atau lawan.
  Jam dua lewat, dari sebelah timur mendatangi seorang yang berusia kira-kira empatpuluh tahun, wajahnya
  tirus panjang, di tangan kirinya menggendong sepasang tongkat besi tangan kanannya menuding Kheng Ling,
  berkata sambil tertawa berkakakan.
  „Kau tua bangka yang tidak tahu diri, tiga bulan yang lalu, kau telah merusak rencanaku. Sekarang masih
  berani datang kemari, kiranya sudah bosan hidup, di tempat ini adalah tempat bersemayammu untuk selama-
  lamanya.”
  „Jahanam, tahukah kau p