Wanita Penjinak Hantu - 15

Diposting oleh Saiful bahri dari situbondo pada 19:54, 30-Jul-16

Cerita Silat | Wanita Penjinak Hantu | Serial Dewi Ular | Wanita Penjinak Hantu | Cersil Sakti | Wanita Penjinak Hantu pdf

Rajawali Emas - 43. Pelarian Pulau Neraka Pendekar Mabuk - 137. Duel Asmara Rajawali Emas - 44. Perjalanan Maut Dewi Ular - 18. Misteri Pohon Kematian Dewi Ular - 85. Misteri Pembunuh Hantu

sebagai pusat persekutuan yang tak boleh digunakan pihak lain, kecuali atas seizin mereka terlebih dulu,” gumam hati Luxy yang berdebar-debar, karena guncangan gedung itu makin kuat. Seluruh benda di situ bergetar menimbulkan suara gaduh. Luxy yakin, pihak mempelai pasti belum meminta izin secara gaib oleh para penghuni gedung itu. sehingga Tuan Besar dan sekutunya menjadi berang.
  ”Luxy...! Awas, mereka datang, Lux!”
  Sebuah suara ielaki terdengar berseru dan arah pintu samping. Luxy heran dan segera berpaling mencari si pemilik suara itu. la terkejut setelah tahu pemilik suara tadi adalah Niko Madawi. Pemuda tampan berkulit bersih itu sedang berlari dengan tegang ke arahnya. Ketika itu suara gemuruh mulai menggema, sepertinya ada rombongan pasukan berkuda yang masuk ke gedung itu dan ingin menyerang Luxy. Keadaan itu bukan hanya menegangkan Luxy saja, tapi di mata Luxy ekspresi wajah Niko tampak tegang sekali. Pemuda itu me nyambar tangan Luxy sambil tetap berlari.
  "Ayo, cepat: Hancurkan patung itu!" kata Niko seraya menuju ke arah koridor yang merupakan jalan menuju ruang belakang serta ke arah toilet. Di sana ada sebuah patung keramik berukuran satu meter tingginya, yang dijadikan hiasan koridor tersebut. Di sisi lain juga ada patung-patung keramik sebagai penghias dinding koridor, tapi agaknya patung wanita memeluk bunga itulah yang menjadi
  sasaran Niko. Patung itu berwarna kusam, menandakan usianya yang sudah tua dan jarang dibersihkan oleh si perawat gedung itu.
  "Hei, kenapa ambil bangku segala, Niko?!" Niko tidak banyak bicara, tapi langsung menghantam patung itu dengan ayunan bangku cukup kuat. Praaang...! Sekejap saja patung itu telah pecah menjadi serpihan keramik yang berserakan di lantai. Suara pecahannya menggema memenuhi gedung itu. Ketika gema tersebut hilang, ternyata suara gemuruh seperti pasukan berkuda tadi juga hilang. Kini suasana gedung itu menjadi lengang. Napas Luxy terengah-engah memandangi Niko yang tersenyum lega sambil meyakinkan telinganya bahwa suara gemuruh itu sudah tak ada. Mata pun memandang ke satu arah dengan bangga dan puas.
  "Mereka telah menjauh, Lux! Huhh... syukurlah kita nggak terlambat memecahkan patung ini!" Niko mendekat sewaktu Luxy masih terperangah memandanginya. ”Patung itu adalah sesembahan mereka, sangat mereka hormati. Sejak beberapa hari yang lalu kulihat mereka mengadakan upacara ritual di depan puing tadi. Mereka mendapat kekuatan gaib tinggi dari cahaya yang memancar lewat kedua mata patung tadi"
  "Dari mana kau mengetahuinya?” berapa hari yang lalu aku lewat depan gedung Ini dan dibawa masuk oleh penjaga gerbang depan. saat itu kulihat mereka bersujud berkali-kali.
  di depan patung itu. Katanya, patung itu adalah sumber kekuatan Ratu Penguasa Mistik wilayah sini. Aku sempat dibujuk-bujuk agar ikut bergabung dengan mereka, tapi aku bisa menolak secara halus. Cuma, waktu aku tadi melintas di jalan depan sana, aku melihat imam Agung dan para sekutunya tergesa- gesa menuju kemari menunggang kuda berkepala iblis, maka aku pun segera masuk kemari. ingin tahu apa y ang terjadi di sini. Ternyata kaulah yang akan dijadikan sasaran Imam Agung bersama para sekutunya itu. Unt ung aku tahu titik kelemahan mereka beberapa hari se belumnya, seandainya aku...”
  "Nik...!" potong Luxy yang mulai tersadarkan dari kecengangannya. la memegang pundak Niko, dan ternyata ia seperti memegang sekumpulan karet busa yang amat lembut. Semakin sadar Luxy terhadap sentuhan aneh yang sebenarnya sejak tadi sudah ia rasakan kejanggalannya, yaitu sejak ditarik oleh Niko dan dibawa lari. Hanya saja, karena suasana cukup memegangkan dan perhatiannya sempat menjadi panik, maka sentuhan tangan Niko tadi lidak digapai sama sekali. Baru sekarang Luxy merasakan kejanggalan yang ada pada diri Niko, lalu diyakinkan dengan cara mencekal pundak pemuda berambut cepak rapi itu. Ternyata terasa seperti memegang karet busa yang sangat lembut. luxy tahu, apa arti dari sentuhan anehnya itu.