Pertempuran Labirin - 10

Diposting oleh Saiful bahri dari situbondo pada 19:19, 30-Sep-14

Cerita Misteri | Pertempuran Labirin | Seri Percy Jackson and the Olympians | Pertempuran Labirin | Rick Riordan | Pertempuran Labirin pdf

Century - Sarah Singleton Cintaku Selalu Padamu - Motinggo Busye Sandra Brown - Dalam Derai Hujan - Bittersweet Rain 2 Perbedaan 1 Hati - Omiyan Cinta Tak Semudah Kata CINTA - Azizah Attamimi

ris sebelum dia membelot. Dia mengenal Chris jauh lebih baik daripada yang kusadari. Dan sekarang Chris gemetaran di ruang bawah tanah yang gelap, takut gelap, dan berceloteh tentang seseorang bernama Mary. Pantas saja Clarisse tidak mau berurusan dengan Labirin. Apa yang terjadi pada Chris di dalam sana?
  Aku mendengar keriut dari atas seperti pintu loteng yang terbuka dan aku berlari ke pintu depan. Aku harus keluar dari rumah itu.
 
  Sayangku, kata Chiron. Kau berhasil.


  Annabeth berjalan masuk ke arena. Dia duduk di bangku batu dan menatap lantai.
  Jadi? tanya Quintus.
  Annabeth pertama-tama memandangku. Aku tidak tahu apakah dia mencoba memperingatkanku, atau apakah tatapan di matanya cuma rasa takut semata. Lalu dia memusatkan perhatian pada Quintus. Aku mendapat ramalan. Aku akan memimpin misi untuk menemukan bengkel kerja Daedalus.
  Tidak ada yang bersork. Maksudku, kami semua suka Annabeth, dan kami ingin dia mendapat misi, tapi yang ini berbahaya sekali. Setelah aku melihat keadaan Chris Rodriguez, aku bahkan tak mau berpikir soal Annabeth yang turun ke dalam labirin aneh itu lagi.
  Chiron menggesekkan kaki kudanya ke lantai tanah. Apa bunyi ramalan itu tepatnya, Sayangku? Kata-katanya penting.
  Annabeth menarik napas dalam-dalam. Aku, ah ... yah, katanya, Kau akan masuk ke dalam kegelapan labirin tanpa akhir ....
  Kami menunggu.
  Yang mati, yang berkhianat, dan yang hilang pun kembali hadir.
  Grover berseru girang. Yang hilang! Maksudnya pasti Pan! Hebat!
  Soal yang mati dan yang berkhianat, tambahku. Tidak bagus, tuh.
  Dan? tanya Chiron. Selanjutnya apa?
  Di tangan sang raja hantu kebangkitan atau kegagalanmu ditentukan. kata Annabeth, Pertarungan terakhir anak Athena menanti.
  Semua orang melihat ke sekeliling, merasa tak nyaman. Annabeth adalah putri Athena, dan pertarungan terakhir kedengarannya tidak bagus.
  Hei ... kita seharusnya tidak menyimpulkan begitu saja, kata Silena. Annabeth bukan satu-satunya anak Athena, kan?
  Tapi siapa sang raja hantu? tanya Beckendorf.
  Tidak ada yang menjawab. Aku berpikir tentang pesan-Iris yang di dalamnya kulihat Nico memanggil arwah orang mati. Aku punya firasat buruk bahwa ramalan tersebut ada hubungannya dengan itu.
  Ada baris lain lagi? tanya Chiron. Ramalanya terdengar belum lengkap.
  Annabeth ragu-ragu. Aku tidak ingat tepatnya.
  Chiron mengangkat alis. Annabeth dikenal akan ingatannya. Dia tidak pernah melupakan sesuatu yang didengarnya.
  Annabeth bergeser di bangkunya. Sesuatu soal ... Hancur beserta napas terakhir seorang pahlawan.
  Dan? tanya Chiron.
  Annabeth berdiri. Dengar, intinya adalah, aku akan masuk. Akan kutemukan bengkel kerja itu dan menghentikan Luke. Dan ... aku perlu bantuan. Dia menoleh kepadaku. Maukah kau ikut?
  Aku bahkan tidak ragu-ragu. Aku ikut.
  Dia tersenyum untuk pertama kalinya setelah berhari-hari, dan itu membuat segalanya bernilai. Grover, kau juga? Dewa alam liar sedang menunggu.


  Grover tampaknya lupa betapa dia membenci bawah tanah. Bait tentang yang hilang telah sepenuhnya menyulut energinya. Aku akan mengepak tampahan barang-barang yang bisa didaur ulang untuk kudapan.
  Dan Tyson, kata Annabeth. Aku bakal memerlukanmu juga.
  Asyik! Waktunya meledakka barang-barang! Tyson bertepuk tangan keras sekali sampai-sampai dia membangunkan Nyonya O Leary, yang sedang berleha-leha di pojok.
  Tunggu, Annabeth, kata Chiron, Itu bertentangan dengan peraturan kuno. Seorang pahlawan hanya boleh ditemani dua rekan.
  Aku perlu mereka semua. Dia berkeras. Pak Chiron, ini penting.
  Aku tidak tahu kenapa dia yakin sekali, tapi aku senang dia menyertakan Tyson. Aku tidak bisa membayangkan meninggalkan Tyson. Dia besar dan kuat, dan jago mengutak-atik barang-barang mekanis. Tidak seperti satir, Cyclops tidak keberatan berada di bawah tanah.
  Annabeth. Chiron mengedikkan ekornya dengan gelisah. Pertimbangkan baik-baik. Kau akan melanggar hukum kuno, dan untuk itu selalu ada konsekuensinya. Musim dingin lalu, lima orang pergi dalam sebuah misi untuk menyelamatkan Artemis. Hanya tiga yang kembali. Pikirkan itu. Tiga adalah angka keramat. Ada tiga Moirae, tiga Erinyes, tiga putra Olympia Kronos. Itu angka bagus yang kuat kukuh melawan banyak bahaya. Empat ... ini berisiko.
  Annabeth menarik napas dalam-dalam. Aku tahu. Tapi kita harus mengambil risiko. Kumohon.
  Aku tahu Chiron tidak menyukainya. Quintus memperhatikan kami, seakan dia sedang mencoba memutuskan yang mana di antara kami yang bakal kembali hidup-hidup.
  Chiron mendesah. Baiklah. Mari kita tutup pertemuan ini. Para anggota misi harus mempersiapkan diri. Besok saat fajar, kami kirimkan kalian ke dalam Labirin.
  ***
  Quintus menarikku menepi saat sidang bubar.
  Aku punya firasat buruk soal itu, dia memberitahuku.
  Nyonya O Leary datang menghampiri, mengibaskan ekornya kegirangan. Dia menjatuhkan perisainya di kakiku, dan aku melemparkan perisai itu untuknya. Quintus memperhatikannya melonjak-lonjak mengejar perisai itu. Aku ingat apa yang Juniper katakan soal Quintus yang menelaah labirin. Aku tidak memercayai Quintus, tapi saat dia memandangku, aku melihat kekhawatiran sungguhan di mataya.
  Aku tidak suka membayangkan kalian pergi ke bawah sana, katanya. Yang mana pun dari kalian. Tapi kalau kalian harus ke sana, aku ingin kau mengingat sesuatu. Labirin itu ada untuk mengakalimu. Labirin itu akan mengalihkan perhatianmu. Itu berbahaya bagi blasteran. Perhatian kita mudah dialihkan.
  Anda pernah ke sana?
  Dulu sekali. Suaranya parau. Aku hampir saja kehilangan nyawaku. Sebagian besar yang masuk ke sana tidak seberuntung itu.
  Dia mencengkeram bahuku. Percy, ingat-ingatlah apa yang paling penting. Kalau kau bisa melakukan itu, kau mungkin bakal menemukan jalan. Dan nih, aku ingin memberimu sesuatu.
  Dia menyerahkan tabung perak kecil kepadaku. Rasanya begitu dingin sehingga aku hampir menjatuhkannya.
  Peluit? tanyaku.
  Peluit anjing, kata Quintus. Untuk Nyonya O Leary.
  Eh, makasih, tapi
  Bagaimana peluit ini akan bermanfaat di dalam labirin? Aku tidak seratus persen yakin akan ada manfaatnya. Tapi Nyonya O Leary anjing neraka. Dia bisa muncul saat dipanggil, tidak peduli seberapa jauhnya dia berada. Aku akan merasa lebih baik, tahu bahwa kau menyimpan ini. seandainya kau benar-benar perlu bantuan, gunakan, tapi hati-hati, peluit ini terbuat dari es Stygian.
  Es apa?
  Dari Sungai Styx. Sangat sulit diukir. Sangat rapuh. Peluit ini tidak bisa meleleh, tapi ia akan hancur waktu kau meniupnya, jadi kau hanya bisa menggunakannya sekali.
  Aku memikirkan Luke, musuh lamaku. Tepat sebelum aku pergi menjalani misiku yang pertama, Luke juga memberiku hadiah sepatu ajaib yang dirancang untuk menyeretku ke kematianku. Quintus tampaknya baik sekali. Peduli sekali. Dan Nyonya O Leary menyukainya, yang pastinya berarti. Nyonya O Leary menjatuhkan perisai berlendir di kakiku dan menggonggong penuh semangat.
  Aku merasa malu karena aku bahkan bisa-bisanya berpikir soal tak memercayai Quintus. Tapi tentu saja, aku dulu pernah memercayai Luke.
  Makasih, kataku pada Quintus. Aku menyelipkan peluit beku itu ke dalam saku, berjanji kepada diriku sendiri bahwa aku tidak akan menggunakanya, dan aku melesat untuk mencari Annabeth.
 
  Selama aku berada di perkemahan, aku tidak pernah m asuk ke dalam pondok Athena.
  Pondok Athena berupa bangunan keperakan, tidak mewah, dengan tirai putih sederhana dan ukiran burung hantu dari batu di atas ambang pintu. Mata oniks di burung hantu seakan mengikutiku saat aku berjalan mendekat.
  Halo? Aku berseru ke dalam
  Tidak ada yang menjawab. Aku melangkah masuk dan menahan napas. Tempat itu adalah bengkel kerja bagi anak-anak pintar. Semua tempat tidur susun didorong merapat ke satu dinding seolah tidur tidak terlalu penting. Sebagian besar ruangan dipenuhi bangku dan meja kerja serta seperangkat peralatan dan senjata. Bagian belakang ruangan berupa perpustakaan besar yang disesaki gulungan tua dan buku bersampul kulit dan bersampul kertas. Ada meja gambar arsitek dengan berbagai penggaris serta busur derajat, serta beberapa model bangunan 3D. Peta-peta baju zirah digantung di bawah jendela, pelat-pelat perunggunya berkilat diterpa matahari.
  Annabeth berdiri di bagian belakang ruangan, membongkar gulungan-gulungan lama.
  Tok, tok, tok? kataku.
  Dia menoleh sambil terkesiap. Oh ... hei. Aku nggak dengar.
  Kau nggak apa-apa?
  Dia mengerutkan kening ke arah gulungan ditangannya. Cuma mencoba meneliti. Labirin Daedalus besar sekali. Tidak ada hal yang sama dari setiap kisah. Peta-peta cuma mengarah dari antah berantah ke antah berantah
  Aku memikirkan apa yang dikatakan Quintus, bagaimana labirin mencoba mengalihkan perhatian. Aku bertanya-tanya apakah Annabeth sudah tahu.
  Kita akan memecahkannya, janjiku.
  Rambutnya telah terlepas dan terurai membentuk pirang kusut di sekeliling wajahnya. Mata kelabunya kelihatan hampir hitam.
  Aku ingin memimpin misi sejak umurku tujuh tahun. katanya.
  Haslnya bakalan hebat.
  Dia menatapku penuh terima kasih, tapi kemudian menunduk, memandangi semua buku dan gulungan yang telah dikeluarkannya dari rak. Aku khawatir, Percy. Mungkin aku seharusnya tak memintamu melakukan ini. Atau Tyson, atau Grover.
  Hei, kami teman-temanmu. Kami tidak mau ketinggalan.
  Tapi .... Dia menghentikan dirinya.
  Apa? tanyaku. Ramalan itu?
  Aku yakin ramalan itu tidak kenapa-napa, katanya dengan suara pelan.
  Apa bunyi baris terakhirnya?
  Lalu dia melakukan sesuatu yang betul-betul mengagetkaku. Dia berkedip untuk mengenyahkan air mata dan mengulurkan tangannya.
  Aku melangkah maju dan memeluknya. Perutku mulai mulas teraduk-aduk.
  Hei, nggak ... jangan khawatir. Aku menepuk-nepuk punggungnya.
  Aku sadar sepenuhnya akan segalanya dalam ruangan itu. Aku merasa seperti bisa membaca cetakan terkecil pada buku manapun di rak. Rambut Annabeth berbau bagaikan sabun lemon. Dia gemetaran.
  Chiron mungkin benar, gumamnya. Aku melanggar peraturan. Tapi aku tidak tahu harus melakukan apa lagi. Aku perlu kau di sana. Rasaya memang harus seperti itu.
  Makanya, jangan khawatir soal itu, aku berhasil berkata. Kita pernah menghadapi banyak masalah sebelumnya, dan kita memecahkannya.
  Ini beda. Aku tidak mau apa pun terjadi pada ... satu pun dari kalian.
  Di belakangku, seseorang berdeham.
  Rupanya salah satu saudara tiri Annabeth, Malcolm. Wajahnya merah menyala. Eh, sori, katanya. Latihan memanah sudah mulai, Annabeth. Chiron menyuruhku mencarimu.
  Aku melangkah menjauh dari Annabeth. Kami cuma melihat-lihat peta, kataku bodoh.
  Malcolm menatapku. Oke, deh.
  Beri tahu Chiron aku akan segera ke sana, kata Annabeth, dan Malcolm pun pergi terburu-buru.
  Annabeth menggosok-gosok matanya. Kau duluan saja, Percy. Lebih baik aku siap-siap untuk panahan.
  Aku menggangguk, merasa lebih bingung daripada yang pernah kurasakan seumur hidupku. Aku ingin lari dari pondok ... tapi tentu saja aku tidak melakukannya.
  Annabeth? kataku. Mengenai ramalanmu. Baris tentang napas terakhir seorang pahlawan
  Kau bertanya-tanya pahlawan yang mana? Aku tak tahu.
  Bukan. Sesuatu yang lain. Kupikir baris terakhir biasanya berima dengan baris sebelumnya pertarungan terakhir anak Athena menanti. Apa ada hubungannya apa baris terakhir diakhiri kata mati?
  Annabeth menunduk memandang gulungannya. Kau sebaiknya pergi, Percy. Bersiap-siaplah untuk misi. aku aku akan menemuimu besok pagi.
  Aku meninggalkannya di sana, menatap peta-peta yang mengarah dari antah beranta ke antah beranta; tapi aku tidak bisa mengenyahkan firasat bahwa salah seorang dari kami tak bakalan kembali hidup-hidup dari misi ini.[]
  BAB LIMA
  Nico Membeli Happy Meal untuk Orang Mati
  Paling tidak aku tidur nyenyak semalam sebelum misi, benar, kan?
  Salah.
  Malam itu dalam mimpiku, aku berada dalam kamar utama Putri Andromeda. Jendela-jendela terbuka, menunjukkan laut yang diterangi cahaya bulan. Angin dingin berdesir di tirai beledunya.
  Luke berlutut di permadani Persia, di hadapan sarkofagus emas Kronos. Diterangi cahaya bulan, rambut pirang Luke terlihat amat putih. Dia mengenakan chiton Yunani dan bimation putih, semaca m jubah yang melambai ke bawah bahunya. Pakaian p utih membuatnya terlihat kekal dan tidak nyata