Pendekar Seratus Hari - 178

Diposting oleh Saiful bahri dari situbondo pada 00:19, 06-Jul-15

Cerita Silat | Pendekar Seratus Hari | by S.D Liong | Pendekar 100 Hari | Cersil Sakti | Pendekar Seratus Hari pdf

The Propotition - Karya Katie Ashley The Proposal (The Proposition 2) - Karya Katie Ashley Eyes Wide Open (The Blackstone Affair 3) - Karya Raine Miller The Thrill of Chase - Karya Lynda Chance Pendekar Rajawali Sakti - 201. Pedang Kilat Buana

u.”
  Kelantangan Siau Lo-seng mengucap kata-kata itu telah mengetuk hati sekalian orang. Terutama Tay Hui Sin-ni,
  diam-diam ia memuji anak muda itu.
  “Penuh daya tarik dan memikat, tak heran kalau beberapa muridku telah terpesona kepadamu,” Jin Kian Pah-cu
  tertawa dingin.
  “Apa katamu?” teriak Siau Lo-seng.
  “Sudahlah, jangan banyak bicara, segera engkau bersiap untuk menyambut pukulanku yang ketiga ini!” dengus
  Jin Kian Pah-cu.
  “Silahkan!”
  Jin Kian Pah-cu mendengus pula.
  “Hm, budak, rupanya engkau sudah bosan hidup karena mempersilahkan aku menyerang dulu. Pada hal
  engkaulah yang harus menyerang dulu. Hanya ingat, kali ini aku takkan memberi ampun lagi. Engkau harus
  tanggung segala akibatnya sendiri.
  Walaupun tahu bahwa jurus yang ketiga dari Jin Kian Pah-cu itu tentu luar biasa ganas dan hebatnya, dan
  kemungkinan ia tak sanggup bertahan. Namun karena orang terlalu memandang rendah kepadanya, marahlah
  Siau Lo-seng.
  “Silahkan engkau menumpahkan seluruh kepandaianmu,” seru pemuda itu sambil tertawa dingin.
  Dalam pada berkata itu, iapun cepat maju ke muka, tangan kirinya menjulur untuk menutuk tiga buah jalan
  darah di dada wanita itu.
  “Bagus,” seru Jin Kian Pah-cu seraya mengisar ke samping.
  Tutukannya luput, Siau Lo-seng segera taburkan pedang dan tangan kirinya pun menyerempaki memukul
  beberapa kali.
  Jin Kian Pah-cu tertawa hina, serunya:
  “Aku hendak turun menyerangmu, hati-hatilah!”
  Entah bagaimana caranya bergerak. Jin Kian Pah-cu sudah menyurut mundur untuk menghindari pedang dan
  pukulan lawan. Kemudian tubuhnya berputar dalam bentuk setengah lingkaran, menggelincir sepanjang batang
  pedang dan berada di samping Siau Lo-seng.
  Gerakannya aneh, cepatnya bukan alang kepalang. Siau Lo-seng terkejut dan cepat lintangkan pedang ke
  muka dada seraya mundur tiga langkah.
  Tetapi Jin Kian Pah-cu tetap bergerak-gerak menerobos ke dalam sinar pedang dan secepat kilat jarinya
  menyulur ke dada Siau Lo-seng.
  Melihat itu Cu-ing menjerit keras lalu loncat menusuk punggung Jin Kian Pah-cu.
  Siau Lo-seng terkejut sekali. Serentak ia hantamkan tangan kirinya ke lawan.
  “Heh……” terdengar orang tertahan dan tahu-tahu tubuh pemuda ittu mencelat sampai dua tombak jauhnya.
  Pedang Ular Emasnya jatuh ke tanah.
  Dalam pada itu Cu-ing pun menjerit nyaring dan terhuyung-huyung sampai tujuh langkah. Pedangnyapun telah
  berpindah ke tangan Jin Kian Pah-cu.
  Jurus yang dimainkan Jin Kian Pah-cu itu benar-benar luar biasa sekali indahnya. Tiada seorangpun yang tahu
  bagaimana cara ia bergerak untuk melemparkan Siau Lo-seng dan merampas pedang Cu-ing.
  Tiba-tiba Jin Kian Pah-cu berpaling dan memandang ke arah Siau Lo-seng, menghela napas dan berseru,
  “Ombak sungai Tiang-kang, yang belakang tentu mendorong yang di muka. Boleh kuanggap, engkau adalah
  seorang tunas muda paling cemerlang yang pernah kujumpahi…… jangan berkeras kepala dan jangan bicara.
  Duduklah menyalurkan tenaga murni, mungkin tenagamu akan pulih kembali. Kalau tidak, ilmu kepandaianmu
  tentu hilang selama-lamanya……”