Tikam Samurai - 246

Diposting oleh Saiful bahri dari situbondo pada 23:59, 01-Agu-15

Cerita Silat | Tikam Samurai | Karya Makmur Hendrik | Tikam Samurai | Cersil Sakti | Tikam Samurai pdf

Pendekar Rajawali Sakti - 208. Ancaman Dari Utara Jelihim Sang Pembebas - Syam Asinar Radjam Gokil ! Sebuah Kompilasi Kedodolan - Miund Pendekar Rajawali Sakti - 210. Misteri Wanita Bertopeng Bag IV Hijaunya Lembah Hijaunya Lereng Pegunungan

“Apa salahnya, bukankah dia tak ikut secara langsung?”
  “Dia telah ikut menolongmu Zendo! Dan saya akan menolong Zato Ichi. Adil bukan?”
  “Apakah menolakkan ke dalam itu bisa dianggap sebagai pertolongan?”
  tanya Zendo.
  “Kenapa tidak. Maka sekarang, majulah…!!”
  “Hmm. Anak muda sombong. Kau sangka kami takut padamu? Jangan menyesal kalau hari ini nyawamu kusudahi..”
  Dan sehabis kalimatnya dia menyerang si Bungsu. dan anak buahnya juga ikut menyerang. Kali ini Zato Ichi benar-benar tak bisa membantu. Tenaganya yang sangat lemah, ditambah darah banyak mengalir dari pahanya yang menganga, membuat dia terduduk tak bisa bergerak.
  Namun si Bungsu sudah bertekad untuk membela Zato Ichi. Dia bertekad untuk membelanya sampai tetes darah yang terakhir.
  Karenya, begitu Zendo menyerang, dia tak mau kasih hati. Dia melangkah dua langkah. Dan samurainya bekerja. Yang kena justru tiga orang anak buah Zendo yang tadi mengetatkan kepungannya.
  Mereka tak menduga kalau anak muda ini melangkah surut dan memutar samurai sehingga memakan diri mereka.
  Kemudian si Bungsu melangkah lagi kedepan. Tegak kembali di depan Zato Ichi. Zendo kembali kaget dengan kecepatan anak muda asing ini. Namun dia terlalu bernafsu untuk menyudahi perkelahian ini.
  Bukankah dalam jumlah mereka lebih banyak? Meski tiga orang sudah tumbang, kini mereka masih tinggal lima orang.
  Dengan tenaga lima orang mustahil mereka tak bisa menyudahi anak bawang ini.
  Dengan pikiran begini, dia berteriak memberi isyarat pada anak buahnya yang empat orang lagi untuk menyerbu bersama.
  Keempat orang anak buahnya segera mendesak maju. Sementara Zendo sendiri sambil menyerang si Bungsu tetap saja mencari kesempatan untuk membabatkan samurainya kearah kepala Zato Ichi yang tertunduk lemah.
  Bukan main tersiksanya Zato Ichi saat itu. Belum pernah seumur hidupnya merasa tertekan bathin seperti saat ini. Bayangkan, musuhnya datang dalam jumlah banyak. Tapi saat itu pula dia tak berdaya. Usianya yang tua membuat dirinya lekas lelah. Dan di depan matanya, anak muda yang harus dia bunuh untuk membalas budi orang lain, kini berjuang membela nyawanya.
  Dia menunduk. Dia bukannya tak tahu bahwa Zendo berusaha mencelakainya. Tapi kalaupun itu terjadi dia takkan coba buat melawan. Hatinya sangat terpukul.
  Namun di pihak yang berkelahi, meski dikeroyok lima orang, si Bungsu bukannya tak tahu bahwa Zendo mencari kesempatan untuk menyudahi nyawa Zato Ichi. Karena itulah pertarungan ini agak seret.
  Dia tak bisa segera menyudahinya karena dia harus membagi perhatiannya antara menyerang dengan mempertahankan Zato Ichi.
  Dan akibatnya segera terlihat, yaitu suatu saat samurai Zendo memakan rusuk si Bungsu. darah mengalir.
  Telinga Zato Ichi yang tajam mendengar suara kain dimakan mata samurai.
  Darah membasahi kimono si Bungsu. namun hal itu menyebabkan dia seperti singa yang luka. Dengan menggertakkan gigi, dia menggeram, dan terdengar dia membentak.
  Bentakkannya demikian keras.
  Begitu suara bentakkannya terdengar tubuhnya berputar amat cepat. Mula-mula berputar dua kali.
  Lalu bergulingan di lantai batu, sebelum kelima orang itu sadar apa yang akan diperbuat anak muda ini, dia sudah bangkit persisi di dekat dua orang penyerangnya.
  Dia bangkit dengan bertumpu di lutut kanan. Dan samurainya terhayun setengah putaran ke atas.
  Itulah loncat tupai yang tersohor itu. Kelima orang itu masih melongo ketika samurainya bekerja.
  Kedua anak buah Zendo yang ada dijangkauan ujung samurainya terpekik. Meraba dada dan rubuh.
  Si Bungsu tak hanya sampai disana, dia menggebrak lagi. Tapi ketiga lawannya termasuk Zendo sudah melompat mundur empat langkah.
  Mereka bertatapan.
  Zendo seperti tak yakin akan yang dia lihat. Perlahan dia menyarungkan samurainya kembali. Tindakannya ini diikuti oleh kedua temannya yang masih hidup.
  “Benar-benar luar biasa. Cerita orang tentang dirimu ternyata bukan semata bualan, Indonesia-jin.
  Engkau memang hebat. Baik, kali ini kami mengaku kalah. Dan kami akan pergi. Tapi urusan saya dengan Zato Ichi tak hanya sampai disini. Suatu saat kita akan bertemu lagi. Percayalah…”
  “Tunggu….!” Si Bungsu mencoba menahannya. Tapi Zendo sudah membungkuk memberi hormat.
  Kemudian memberi isyarat pada kedua temannya. Mereka lalu cepat-cepat meninggalkan tempat itu.
  Angin masih bersuit kencang.
  Rambut si Bungsu yang gondrong berkibar diterpa angin. Samurainya masih terhunus. Menghadap ke bawah dengan darah menets diujungnya.
  Tujuh mayat bergelimpangan lagi.
  Dan tiba-tiba si Bungsu sadar pada keadaan Zato Ichi.
  “Ichi-san…’ katanya sambil membantu Zato Ichi bangkit.
  Pendekar tua itu tak bicara. Dan si Bungsu tak sempat melihat, betapa pipi pahlawan Samurai Tua itu basah oleh air mata.
  Lelaki buta itu menangis. Dia dibawa si Bungsu kembali ke rumah papan di belakang kuil tua itu.
  Dan semalam itu si Bungsu meramu kembali obat-obatan untuk Zato Ichi. Dia juga memasak bubur dan memanggang kembali dendeng kering untuk makan.
  Dua hari dia merawat Zato Ichi dengan tekun. Dan selama dua hari itu pula Zato Ichi tak pernah bicara sepatahpun. Si Bungsu tahu, lelaki itu amat terpukul perasaannya.
  Tapi dia tak tahu dengan pasti apa benar yang memukul perasaan lelaki tua itu.
  Dan hari ketiga dia agak terlambat bangun. Ketika dia bangkit, ternyata Zato Ichi sudah bangun lebih dulu. Tempat tidurnya sudah kosong. Si Bungsu bangkit.
  Mengeliat.
  Membuka jendela. Kemudian berjalan ke pintu. Dan saat itulah dia merasa keanehan menyelusup.
  Rumah ini terlalu sepi terasa. Dia coba menperhatikan dengan seksama. Apakah yang ganjil? Dia tatap ruangan itu dengan cermat. Tak ada sesuatu yang harus dicurigai. Tapi kenapa perasaannya tak sedap? Sekali dia mengamati kamar itu.
  Selain ketidakhadiran Zato Ichi, tak ada yang harus dia curigai. Tapi… Zato Ichi! Kemana dia? Suatu firasat tak sedap menjalari pembuluh darahnya. Merayap ke sudut jantungnya. Dia segera ke pintu. Namun sudut matanya menangkap sesuatu di meja. Dia berbalik lagi.
  Melangkah perlahan ke meja dan di sana ada sepucuk surat.
  Sebenarnya tak dapat dikatakan surat. Sebab yang terlihat adalah secarik kain putih dengan coretan merah. Dan dia segera mengetahui bahwa tulisan itu ditulis dengan darah manusia.
  Bulu tengkuknya merinding.
  Tulisan itu jelas ditujukan untuknya. Perlahan dia mendekat tanpa meraihnya dia dapat membaca dengan jelas: Bungsu-san, Sebagai orang Jepang saya merasa hina berdiri di sisimu. Sebagai Zato Ichi saya tak pantas berhadapan muka dengan engkau.
  Engkau korbankan segalanya dalam membela orang Jepang. Kau lupakan dendammu. Kau lupakan dendam terhadap bangsa yang telah menjahanamkan negeri dan keluargamu.
  Engkau pertaruhkan nyawamu untuk membela anak-anak Jepang yang teraniaya.
  Engkau bela orang yang engkau ketahui dengan pasti akan membunuhmu. Ah, saya tak ada harga untuk terus bersamamu anak muda.
  Engkau membalas kejahatan dengan kebaikan yang ikhlas. Seharusnya saya harakiri. Tapi usia saya yang renta ternyata membuat saya jadi pengecut. Barangkali masih ada gunanya saya hidup. Yaitu untuk mengetahui lebih banyak tentang perobahan zaman.
  Hari-hari terakhir saya bersamamu membuat saya sadar, bahwa dunia telah jauh berbeda. Saya pergi tanpa mengucapkan Sayonara padamu. Itu bukan berarti saya tak menyukaimu.
  Tidak. Soalnya saya, tak kuasa bicara dihadapanmu.
  Saya pergi. Biarlah saya dikatakan orang tak membalas budi karena tak membunuhmu. Membunuhmu? Apakah Zato ichi, perantau samurai Jepang yang kini telah tua renta harus berhadapan dengan seorang pemuda Indonesia bernama si Bungsu? Ah, dunia akan mentertawakan diriku.
  Saya bangga, engkau memiliki kemahiran bersamurai. Memiliki kepandaian leluhurku. Meskipun kepandaian itu kau peroleh melalui darah keluarga dan dendam yang membara.
  Tapi saya banggsa. Percayalah, untuk saat ini tak ada seorangpun manusia di Jepang ini yang mampu menandingi kecepatan dan kehebatan samuraimu anak muda. Tidak juga sepuluh Zato Ichi! Saya pergi. Barangkali saya harus mengembara lagi dari hutan ke hutan mencari kedamaian seperti puluhan tahun terakhir ini. Di kota manusia telah berobah menjadi buas.
  Kota telah menjadi rimba raya yang tak bersahabat dengan manusia seperti saya. Rimba justru tetap bertahan dalam damai.
  Bungsu-san.
  Ada seorang gadis yang saat ini mencarimu. Dia sangat mencintaimu.
  Saya yakin itu. Dan saya juga yakin engkau mencintainya. Saya berdoa kalian dijodohkan Tuhan. Gadis itu adalah Michiko. Anak Saburo Matsuyama. Dia sangat menderita karena kematian ayahnya. Tapi penderitaannya yang paling utama adalah karena dia engkau tinggalkan.
  Ah, saya akan puas untuk mati kalau kelak mendengar kalian menikah.
  Sayonara.
  Zato Ichi.
  Si Bungsu tertegak diam. Tanpa dapat dia tahan, matanya jadi basah. Dia teringat pada Zato ichi selama dua hari ini. Betapa pahlawan samurai itu tak sepatahpun mau bicara sejak dia menyelamatkan nyawanya dalam pertarungan melawan Zendo.
  Kini dia telah pergi.
  Perlahan si Bungsu membuka pintu.
  Angin musim dingin menerpa masuk. Meniup rambutnya yang gondrong. Menerpa mukanya yang urung.
  Seorang sahabat telah pergi. Dia merasa sepi. Tak pernah dia mimpikan akan bisa bertemu muka dengan pahlawan samurai yang kesohor itu. Dan tak pula terbayangkan olehnya, bahwa dia seorang anak dusun dari gunung Sago, suatu saat akan ditakdirkan membela nyawa pahlawan samurai dari negeri yang tentaranya pernah merobek-robek kampung halamannya.
  Dia menarik nafas panjang. Kini dia sendiri lagi. Perlahan dia berbalik, masuk lagi ke kamar. Mengambil buntalan kainnya. Mengambil samurainya. Menatap kamar itu sekali lagi. Lalu melangkah keluar.
  Di luar dia menutupkan pintu.
  Lalu melangkah menjauh. Di halaman dia menoleh sekali lagi kerumah tua dibelakang kuil itu.
  Seperti menatap untuk terakhir kalinya. Kemudian berbalik.
  Melangkah di jalan berkerikil.
  Terus ke jalan raya.