Akademi Vampir II - 14

Diposting oleh Saiful bahri dari situbondo pada 20:10, 29-Agu-14

Cerita Misteri | Akademi Vampir | by Richelle Mead | Akademi Vampir | Cersil Sakti | Akademi Vampir pdf

Hex Hall - Rachel Hawkins Cinta Sepanjang Amazon - Mira W Topeng Hitam Kelam - Ambhita Dyaningrum Cinta Dalam Diam - ucu supriadi Fear Street : Ciuman Maut

jadi korban pesonanya yang kasar.
  Namun, saat merasakan isi hati Lissa, aku tahu semua itu bukan masalah untuknya. Tidak pada saat itu. Pada saat itu, yang ada hanya mereka berdua dan perasaan terhadap satu sama lain. Dengan kehidupan yang berisi lebih banyak masalah daripada yang seharusnya dialami orang seumurnya, saat ini Lissa benar-benar yakin akan apa yang sedang dilakukannya. Inilah yang diinginkannya. Yang sejak lama diinginkannya bersama Christian.
  Dan aku tidak berhak menyaksikannya.
  Memangnya aku sedang membodohi siapa? Aku tidak mau menyaksikannya. Aku sama sekali tidak mendapatkan kesenangan melihat orang lain melakukannya, dan sudah pasti aku tidak mau merasakan berhubungan seks dengan Christian. Rasanya seperti kehilangan keperawanan secara virtual.
  Tetapi astaga, Lissa tidak mempermudahku keluar dari dalam kepalanya. Dia tidak berniat melepaskan diri dari perasaan dan emosinya, dan semakin kuat emosinya, semakin kuat juga cengkeramannya pada diriku. Aku berusaha menjauhkan diri dari Lissa, dan memusatkan energi untuk kembali ke dalam diriku, berkonsentrasi sekuat mungkin.
  Semakin banyak pakaian yang terlepas &.
  Ayolah, ayolah, aku menyuruh diriku dengan galak.
  Kondomnya dikeluarkan & ih.
  Kau memiliki tubuh sendiri, Rose. Kembalilah ke dalam kepalamu.
  Tungkai mereka bertautan, tubuh mereka bergerak bersama &.
  Sial
  Aku terlepas dari Lissa dan kembali pada diriku sendiri. Aku kembali ke dalam kamarku, tetapi aku sudah tidak berminat mengemas ransel. Seluruh duniaku hancur berantakan. Aku merasa aneh dan dicurangi nyaris tidak yakin apakah aku ini Rose atau Lissa. Aku juga kembali merasa kesal pada Christian. Sudah pasti aku tidak mau berhubungan seks dengan Lissa, tetapi ada sesuatu yang terasa sakit di dalam diriku, perasaan frustrasi karena sekarang aku bukan pusat dunianya lagi.
  Aku meninggalkan ranselku, lalu pergi tidur sambil memeluk tubuh dan bergelung seperti bola, berusaha menekan rasa sakit di dalam dada.
 
  * * *
 
  Bisa dibilang aku langsung tertidur dan akibatnya bangun lebih awal. Biasanya, aku harus menyeret diri untuk turun dari tempat tidur dan menemui Dimitri, tetapi hari ini aku muncul lebih awal hingga berhasil mendahuluinya datang ke gedung olahraga. Saat menunggu, aku melihat Mason memotong jalan ke salah satu bangunan berisi kelas-kelas.
  Whoa, teriakku. Sejak kapan kau bangun sepagi ini?
  Sejak harus mengulang ujian Matematika, jawab Mason sambil berjalan ke arahku. Dia tersenyum nakal. Tapi aku rela melewatkannya demi menghabiskan waktu denganmu.
  Aku tertawa, tiba-tiba teringat pembicaraanku dengan Lissa. Ya, jelas ada hal-hal yang lebih buruk untuk kulakukan daripada bergenit-genit dan memulai sesuatu dengan Mason.
  Jangan. Kau bisa dapat masalah, dan kalau itu yang terjadi, aku tidak akan punya tantangan sejati di lereng salju.
  Mason memutar bola mata, tetapi masih tersenyum. Akulah yang tidak punya tantangan sejati, ingat?
  Apa kau sudah siap untuk mempertaruhkan sesuatu? Atau kau masih terlalu takut?
  Jaga mulutmu, dia memperingatkan, atau kubatalkan kado Natal untukmu.
  Kau menyiapkan kado untukku? Aku sama sekali tidak menduganya.
  Yap. Tapi kalau kau terus-menerus bicara tidak sopan, mungkin aku akan memberikannya pada orang lain.
  Misalnya pada Meredith? godaku.
  Dia bahkan tidak satu level denganmu, dan kau tahu itu.
  Sekalipun dengan mata lebam? tanyaku nyengir.
  Sekalipun dengan dua mata lebam.
  Tatapan Mason barusan tidak terlihat menggoda atau pun menjurus. Tatapannya terlihat manis. Manis, ramah, dan perhatian. Seolah dia benar-benar peduli. Setelah semua ketegangan yang kualami akhir-akhir ini, aku memutuskan aku suka diperhatikan. Dan dengan berkurangnya kepedulian Lissa, aku baru menyadari senang juga ada seseorang yang ingin memberikan perhatian lebih padaku.
  Apa rencanamu pada hari Natal? tanyaku.
  Mason mengangkat bahu. Tak ada. Tadinya ibuku mau datang, tapi dia membatalkannya pada saat-saat terakhir & kau tahu kan, dengan segala kejadian kemarin.
  Ibu Mason bukan pengawal. Ibunya seorang dhampir yang memilih menjadi ibu rumah tangga dan membesarkan anak-anaknya. Akibatnya, aku tahu Mason tidak bisa sering-sering menemuinya. Menurutku itu sangat ironis. Ibuku sendiri ada di sini, tetapi mengingat berbagai alasan dan tujuan, dia seperti berada di tempat lain.
  Ikut saja denganku, ucapku spontan. Aku akan menghabiskannya bersama Lissa, Christian, dan bibinya. Pasti menyenangkan.
  Benarkah?
  Sangat menyenangkan.
  Bukan itu yang kutanyakan.
  Aku menyeringai. Aku tahu. Datang saja, oke?
  Mason membungkuk bak kesatria seperti yang biasa dilakukannya padaku. Pasti.
  Mason pergi tepat saat Dimitri datang untuk memulai latihan kami. Mengobrol dengan Mason sudah membuatku merasa limbung dan bahagia. Ketika bersamanya, aku sama sekali tidak memikirkan wajahku. Tetapi saat bersama Dimitri, aku mendadak menjadi sadar diri. Aku tidak ingin terlihat kurang sempurna di hadapan Dimitri, jadi ketika kami berjalan ke dalam gedung olahraga, aku berusaha memalingkan wajah supaya dia tidak bisa melihat seluruh wajahku. Mengkhawatirkan hal itu membuat suasana hatiku menurun, dan ketika itu terjadi, hal-hal yang tadi membuatku kesal kembali bermunculan.
  Kami kembali ke ruang latihan yang dilengkapi dengan boneka, dan Dimitri berkata bahwa dia hanya ingin aku mengulang gerakan-gerakan yang kami latih dua hari lalu. Senang karena dia tidak mengungkit-ungkit pertarungan dengan ibuku, aku menjalankan tugasku dengan semangat berkobar. Aku memperlihatkan pada boneka-boneka itu apa yang akan terjadi jika mereka berani mencari masalah dengan Rose Hathaway. Aku sadar amarah bertarungku tidak hanya dipicu oleh hasrat sederhana untuk melakukan yang terbaik. Pagi ini perasaanku berada di luar kendali, berat dan tertekan setelah pertarungan dengan ibuku serta kejadian Christian dan Lissa yang kusaksikan semalam. Dimitri duduk santai sambil memperhatikan aku, sesekali mengkritik teknik yang kupakai dan menyarankan taktik-taktik baru.
  Rambutmu menghalangi, dia berkata suatu kali. Bukan hanya menghalangi pandangan ke sudut mata, tapi juga berisiko memberi musuh sesuatu untuk digenggam.
  Kalau benar-benar terlibat dalam pertarungan, aku pasti akan mengikatnya ke atas. Aku mengerang saat menusukkan pasak dengan cermat di antara tulang rusuk boneka. Aku tidak tahu terbuat dari bahan apa, tetapi tulang-tulang palsu ini sulit untuk ditaklukkan. Aku memikirkan ibuku lagi dan menambahkan tenaga ekstra ketika menusuk. Hari ini aku hanya ingin menggerainya, itu saja.
  Rose, kata Dimitri dengan nada mengingatkan. Aku mengabaikannya, dan kembali menusuk. Saat dia bicara lagi, suara Dimitri terdengar lebih tajam. Rose. Hentikan.
  Aku mundur menjauhi boneka, terkejut mendapati napasku terengah-engah. Aku tidak sadar sudah berlatih sekeras itu. Punggungku menghantam dinding. Karena tak ada tempat untuk melarikan diri, aku berpaling dari Dimitri dan mengarahkan mata ke lantai.
  Lihat aku, perintahnya.
  Dimitri
  Lihat aku.
  Apa pun yang diam-diam terjadi di antara kami, Dimitri tetap instrukturku. Aku tidak bisa menolak perintah langsung. Perlahan-lahan, dengan ragu, aku berbalik menghadapnya. Aku masih memiringkan kepala sedikit agar rambutku terurai menutupi sisi wajahku. Dimitri bangkit dari kursinya, berjalan menghampiri, lalu berdiri di hadapanku.
  Aku menghindari tatapan Dimitri, tetapi melihat tangannya terulur untuk menyapu rambutku ke belakang. Ketertarikan singkat yang terjadi di antara kami memang dipenuhi berbagai pertanyaan dan pengendalian diri, tetapi ada satu hal yang kutahu pasti: Dimitri dulu sangat menyukai rambutku. Mungkin sekarang pun masih. Harus kuakui, rambutku memang bagus. Panjang, halus, dan berwarna gelap. Dulu Dimitri selalu mencari-cari alasan untuk menyentuhnya, dan dia menasihatiku agar tidak memotong pendek rambutku seperti sebagian besar pengawal perempuan.
  Tangan Dimitri tetap berada di sana, dan dunia seakan berhenti saat aku menunggu apa yang akan dilakukannya setelah ini. Setelah beberapa saat yang terasa bagaikan berabad-abad, Dimitri perlahan menurunkan tangannya lagi. Kekecewaan menyapuku, namun pada saat yang sama aku juga menyadari sesuatu. Dimitri ragu-ragu. Dia takut untuk menyentuhku, yang mungkin hanya mungkin berarti dia masih ingin melakukannya. Dimitri terpaksa menahan diri.
  Perlahan aku menoleh sehingga kami bertatapan. Sebagian besar rambutku jatuh menutupi wajah tetapi tidak semua. Tangan Dimitri kembali bergerak, dan aku berharap dia akan mengulurkannya lagi. Tangannya terdiam lagi. Harapanku memudar.
  Apa rasanya sakit? tanyanya. Harum aftershave Dimitri, bercampur dengan keringatnya, menyapuku. Ya Tuhan, kuharap dia menyentuhku.
  Tidak, aku berbohong.
  Kelihatannya tidak terlalu parah, kata Dimitri. Lebamnya akan sembuh.
  Aku benci dia, kataku, terkejut saat menyadari betapa banyak racun yang terkandung dalam tiga kata itu. Bahkan saat mendadak merasa bergairah dan menginginkan Dimitri, aku masih tidak bisa mengubur dendam yang kurasakan pada ibuku.
  Tidak, kau tidak membencinya, Dimitri berkata lembut.
  Aku membencinya.
  Kau tak punya waktu untuk membenci siapa pun, Dimitri menasihati, suaranya masih terdengar manis. Setidaknya dalam profesi kita. Kau harus berdamai dengannya.
  Lissa pernah mengatakan hal yang persis sama. Murka menambah emosiku yang lain. Kegelapan di dalam diriku mulai membabar. Berdamai dengannya? Setelah dia sengaja membuat mataku lebam? Kenapa hanya aku yang bisa melihat betapa gilanya semua itu?
  Tentu saja dia tidak sengaja melakukannya, kata Dimitri, suaranya tegas. Tak peduli betapa kau membencinya, kau harus memercayai hal itu. Dia tak mungkin melakukannya, lagi pula aku melihat dia pada hari itu. Dia mencemaskanmu.
  Mungkin dia lebih khawatir kalau ada orang yang menuntutnya dengan tuduhan kekerasan pada anak, aku menggerutu.
  Bukankah ini momen yang tepat untuk memaafkan?
  Aku mendesah keras-keras. Ini bukan acara spesial Natal! Ini hidupku. Dalam dunia nyata, keajaiban dan kebaikan tidak terjadi begitu saja.
  Dimitri masih menatapku dengan tenang. Dalam dunia nyata, kau bisa menciptakan keajaibanmu sendiri.
  Rasa frustrasiku mendadak mencapai titik ledak, dan aku tak sanggup lagi terus-menerus berusaha mengendalikan diri. Aku sangat lelah selalu disuruh melakukan hal-hal yang praktis dan masuk akal setiap kali ada yang salah dalam hidupku. Aku tahu Dimitri hanya ingin membantuku, tetapi sekarang aku sedang tidak ingin mendengar kata-kata bijak. Aku ingin mendapat ketenangan setelah semua masalah yang kualami. Aku tidak mau memikirkan cara menjadi orang yang lebih baik. Aku hanya berharap Dimitri mau memelukku dan mengatakan semuanya baik-baik saja.
  Oke, sekali ini saja, bisakah kau menghentikannya? tuntutku, bertolak pinggang.
  Menghentikan apa?
  Semua omong kosong Zen yang mendalam ini. Kau tidak bicara denganku sebagai orang sungguhan. Semua yang kaukatakan itu hanya omong kosong mengenai pelajaran hidup yang bijaksana. Kau memang kedengaran seperti sebuah acara spesial Natal. Aku tahu tidak adil melampiaskan amarahku pada Dimitri, tetapi aku sadar bahwa aku sedang berteriak padanya. Sumpah, kadang-kadang kau sepertinya hanya ingin mendengar dirimu bicara! Dan aku tahu kau tidak selalu begini. Kau benar-benar normal saat sedang mengobrol dengan Tasha. Tetapi denganku? Kau tak pernah bersungguh-sungguh. Kau tak peduli padaku. Kau terjebak dalam peran bodohmu sebagai mentorku.
  Dimitri menatapku, tanpa terduga dia terlihat kaget. Aku tak peduli padamu?
  Tidak. Aku bersikap picik amat sangat picik. Dan aku tahu yang sebenarnya bahwa dia memang peduli dan lebih dari sekadar mentor untukku. Namun, aku tak sanggup menahan diri. Aku mendorong dadanya dengan jari. Aku hanya seorang murid biasa bagimu. Kau terus-menerus membicarakan nasihat kehidupan bodohmu itu sehingga
  Tangan yang semula kuharap akan menyentuh rambutku tiba-tiba saja terulur dan merenggut tanganku yang menunjuk dadanya. Dimitri menekannya ke dinding, dan aku aku terkejut melihat kobaran emosi yang terpancar pada matanya. Emosi itu tidak bisa disebut sebagai amarah & itu semacam rasa frustrasi.
  Jangan beritahu aku apa yang kurasakan, geramnya.
  Saat itu aku melihat setidaknya sebagian ucapanku tadi memang benar. Dimitri hampir selalu bersi