Sang Broker - 20

Diposting oleh Saiful bahri dari situbondo pada 00:04, 28-Nov-14

,Cerita The Broker | Sang Broker | by John Grisham | Sang Broker | Cersil Sakti | Sang Broker pdf

Mahkota Cinta - Habiburrahman El-Shirazy Josep Sang Mualaf - Fajar Agustanto Namaku Izrail ! - Atmonadi Keluarga Flood - Tetangga Menyebalkan - Colin Thomphson Kumpulan Dongeng Anak

tama
  I dalam bahasa Italia, Ermanno sesekali mengoreksi I dengan halus, walaupun ia
  terkesan juga dengan I persiapan yang telah dilakukan muridnya. Kosa I kata
  telah dihafalkan dengan baik, tapi aksennya 1 perlu diperbaiki. Satu jam
  kemudian, Ermanno I mulai menuding benda-benda yang ada di sekitar I
  ruangan-karpet, buku, majalah, kursi, selimut I
  I perca, gorden, radio, lantai, dinding, tas ransel-dan I Marco menimpalinya
  dengan mudah. Dengan aksen I yang semakin disempurnakan, ia menuntaskan
  de-[ ngan cepat seluruh isi daftar sapaan sopan-selamat f siang, apa kabar,
  baik terima kasih, tolong, sampai < jumpa, selamat tinggal, selamat malam-
  dan tiga puluh lainnya. Pelajaran pertama selesai hanya dalam waktu dua jam
  dan Ermanno bertanya apakah mereka perlu istirahat. "No." Mereka pun
  membuka I pelajaran kedua, dengan kosa kata baru yang j sudah dikuasai
  Marco dan percakapan lain yang di-I lafalkannya dengan amat mengagumkan.
  "Kau sudah belajar," gumam Ermanno dalam [ bahasa Inggris.
  "Non inglese, Ermanno, ,0, inglese" Marco mengoreksinya. Permainannya
  kini sudah berubah- siapa yang lebih tekun. Pada tengah hari, sang gum sudah
  kecapekan dan siap beristirahat, dan mereka sama-sama lega mendengar
  ketukan di pintu dan suara Luigi di lorong luar. Luigi masuk dan melihat kedua
  orang itu duduk berseberangan di meja kecil yang berantakan, seolah sudah
  berjam-jam mereka main panco.
  "Come va?" tanya Luigi. Bagaimana? Ermanno menatapnya dengan
  pandangan lelah dan menjawab, "Molto intensp. | Sangat intens.
  "Vorrei pranzare," ujar Marco, dan dengan lambat berdiri. Aku ingin makan.
  Marco mengharapkan makan siang yang meft nangka* dengan sedikit bahasa
  Inggris ^ lebih meringankan ,luasi dan mungkin ^ melepaskan ketegangan
  mental karena beru^ menerjemahkan setiap kata yang didengar-Akan tetapi,
  secelah mendengar penjelasan ringj^ Ermanno yang penuh pujian mengenai
  sesi pela. jaran pagi, Luigi ingin melanjutkan penyerapan bahasa selama makan
  siang, atau paling tidak pada awalnya ia berusaha, Menunya tidak
  mencantumkan separah Iran pun dalam bahasa Inggris, dan setelah Luigi
  menjelaskan setiap hidangan dalam bahasa Italia yang tidak dapat dimengerti,
  Marco mengangkat kedua tangannya dan berkata* "Cukup sudah. Aku tidak mau
  bicara ataupun mendengar bahasa Italia selama satu jam mendatang."
  "Bagaimana dengan makan siangmu?" J
  ^ *** makan punyamu." Diteguknya anggur
  merah dan ia berusaha santai
  --*, santai. ,ke' kalau beg
  Inggris selama satif^ bisa berban:m
  "Grazte,- Uca ..
  )am.
  ,nya
  9
  Pada pertengahan sesi pelajaran pagi keesokan harinya, tiba-tiba Marco
  mengubah arah pembicaraan. Di tengah-tengah percakapan yang
  membosankan, ia meninggalkan bahasa Italia dan berkata, "Kau
  bukan mahasiswa."
  . Ermanno mendongak dari bukunya, terdiam sejenak, lalu berkata, "Non
  ingUst, Marco. Sokanto
  Italiano" Hanya bahasa Italia.
  "Aku sedang bosan berbahasa Italia, oke? Kau
  bukan mahasiswa."
  Berbohong bukan keahlian Ermanno, dan ia terdiam agak terlalu lama. "Aku
  mahasiswa." ujarnya, sama sekali tidak meyakinkan.
  "Tidak, kurasa kau bukan mahasiswa. Jelas-jelas kau tidak kuliah, karena
  kalau kuliah kau pasti
  tidak akan menghabiskan waktu sepanjang hari
  mengajarku." "Siapa tahu aku mengambil kelas malam? Mcnga-pa hal itu penting?"
  "Kau tidak kuliah di mana pun. Di sini tidak ada buku, tidak ada koran
  mahasiswa, tidak ada sampah seperti yang bisa ditinggalkan mahasiswa di
  segala tempat."
  "Mungkin sampah itu ada di ruangan lain."
  "Aku mau lihat."
  "Kenapa? Kenapa itu penting?"
  "Karena menurutku kau dan Luigi bekerja untuk orang-orang yang sama."
  "Memangnya kenapa kalau benar begitu?" I
  "Aku ingin tahu siapa mereka."
  "Bagaimana kalau aku tidak tahu? Mengapa kau peduli? Tugasmu adalah
  mempelajari bahasa ini."
  "Sudah berapa lama kau tinggal di sini, di apartemen ini?"
  "Aku tidak harus menjawab pertanyaan."
  "Masalahnya, menurutku kau baru pindah ke sini minggu lalu. Ini semacam
  rumah persembunyian atau apa, dan kau tidak mengatakan yang sebenarnya
  tentang dirimu."
  "Kalau begitu kita sama." Ermanno tiba-tiba berdiri dan berjalan melewati
  dapur yang sempit ke arah b
  http://cerita-silat.mywapblog.com

Sang Broker - John Grisham

  elakang apartemen. Ia kembali $ambil membawa
  beberapa lembar kertas yang
  I diangsurkannya ke arah Marco. Ternyata paket formulir pendaftaran dari
  Universitas Bologna, de-ngan label surat menyatakan bahwa dokumen itu
  [ditujukan kepada Ermanno Rossini, dengan alamat apartemen tempat mereka
  berada saat itu.
  "Aku akan kembali kuliah dalam waktu dekat," Ermanno menjelaskan. "Kau
  mau kopi lagi?"
  Marco mengamati formulir-formulir itu, cukup memahami maksudnya. "Ya,
  mau," jawabnya. Ini cuma dokumen biasa-mudah dipalsukan. Tapi kalaupun
  palsu, ini dokumen aspal yang bagus. Ermanno menghilang ke dapur dan mulai
  membuka keran air.
  Marco mendorong kursinya ke belakang dan berkata, "Aku mau berjalan-jalan berkeliling blok. Aku perlu menjernihkan pikiran."
  Rutinitas mereka berubah pada saat makan malam. Luigi menjumpainya, di
  depan toko rokok yang menghadap ke Piazza dei Signori, dan mereka menyusuri
  jalan yang padat sementara para penjaga toko mulai menutup toko-tokonya.
  Saat itu hari mulai gelap dan cuaca sangat dingin, dan para pekerja yang
  terbungkus dalam pakaian tebal yang necis bergegas-gegas pulang ke rumah,
  kepala mereka tertutup topi dan syal. Luigi membenamkan kedua tangannya
  yang ter-bungkus sarung tangan di saku mantel woJ selutut yang tampak kasar, yang
  barangkali telah diwariskan oleh kakeknya atau dibeli minggu lalu di Milan, di
  butik perancang yang mahal. Bagaimanapun, Luigi
  mengenakan mantelnya dengan gaya, dan sekak' lagi Marco iri melihat gaya
  elegan-kasual petugas yang menanganinya ini.
  Sepertinya Luigi sedang tidak terburu-buru dan tampak menikmati cuaca
  dingin itu. Ia mencoba melontarkan komentar-komentar dalam bahasa Italia,
  tapi Marco menolak ikut serta. "Bahasa Inggris, Luigi," ujarnya unruk kedua
  kalinya. "Aku perlu bahasa Inggris." "Baiklah. Bagaimana hari kedua
  pelajaranmu?" "Baik Ermanno lumayan juga. Tidak punya selera humor, tapi ia
  guru yang cukup andal." "Ada kemajuan?"
  "Bagaimana mungkin tidak ada kemajuan?" "Ermanno bilang, kau cepat
  menguasai bahasa itu."
  "Ermanno tidak pintar bohong, dan kau tahu itu. Aku bekerja mati-matian
  karena Taruhannya besar. Aku dicecar olehnya enam jam sehari, lalu
  menghabiskan tiga jam pada malam hari mencerna semuanya. Tidak mungkin
  tidak ada kemajuan."
  "Kau bekerja mati-matian," ulang Luigi. MeOr dadak ia berhenti dan melihat
  sesuatu yang tampak seperti deli kecil. "Marco, inilah makan malam kita."
  Marco memandang tidak setuju. Bagian depan toko itu tidak lebih dari lima
  meter lebarnya. Tiga meja berdesak-desakan di dekat jendela dan tempat itu
  sepertinya penuh orang. "Kau yakin?" tanya
  i Marco.
  "Ya, enak juga kok Makanan yang lebih ringan, sandwich dan sebagainya.
  Kau akan makan sendiri. Aku tidak ikut masuk."
  Marco menatap Luigi dan sudah hampir memprotes, tapi kemudian menahan
  diri dan rersenyum, seolah menerima tantangan tersebur.
  "Menunya ada di papan tulis di atas kasir, tanpa bahasa Inggris. Pesan dulu,
  bayar, lalu ambil makananmu di ujung konter sebelah sana, tempat yang
  nyaman untuk duduk kalau kau tidak dapat bangku. Harganya sudah termasuk
  tip."
  Marco bertanya, "Apa hidangan spesial tempat ini?"
  "Pizza ham dan artichoke-rxyz enak. Panim-nyz juga. Aku akan menemuimu
  lagi di sana, di dekat air mancur, satu jam lagi."
  Marco mengenakkan rahang dan memasuki kafe, merasa amat kesepian.
  Sambil mengantre di belakang dua wanita muda, dengan putus asa ia membaca
  papan tulis, mencari-cari sesuatu yang bisa diucapkannya. Tak usah pedulikan
  rasa. Yang penting adalah memesan dan membayar. Untungnya, petugas kasir
  adalah wanita separo baya yang
  153
  senang tersenyum. Marco melontarkan "Buona seni" yang ramah, dan
  sebelum wanita itu sempat membalas, ia memesan satu "pan i no prosciutto t
  formavgio"-roti ham dan keju-dan Coca-Cola.
  Coca-Cola yang setia. Sama pengucapannya dalam semua bahasa.
  Mesin kasir berderak dan berdenting, wanita itu menyemprotkan rentetan
  kata tak jelas yang tidak mpahaminya. Tapi ia tetap tersenyum dan berkata,
  'S,,"lalu mengulurkan selembar uang pecahan dua puluh euro, yang pasti cukup
  untuk membayar semua dan memberinya uang kembalian. Berhasil. Ber
  http://cerita-silat.mywapblog.com
Sang Broker - John Grisham