Harga Sebuah Kepala - 16

Diposting oleh Saiful bahri dari situbondo pada 20:43, 01-Mar-15

Cerita Silat | Harga Sebuah Kepala | Serial Pendekar Rajawali Sakti | Harga Sebuah Kepala | Cersil Sakti | Harga Sebuah Kepala pdf

Cersil Zuber Usman - Damar Wulan Bag III Hijaunya Lembah Hijaunya Lereng Pegunungan Pendekar Rajawali Sakti 105.- Istana Gerbang Neraka Pendekar Rajawali Sakti 106.- Dewa Racun Hitam Pendekar Rajawali Sakti 110.- Sekutu Iblis

"Aaa...!"
  "Hih!"
  Darah seketika muncrat keluar dari punggung Ki Tunggul Santak, begitu Pranggala mencabut pedangnya kembali. Dan tanpa membuang-buang waktu lagi, Pranggala mengibaskan pedangnya ke leher disertai pengerahan tenaga dalam penuh dan tinggi.
  "Hiyaaat..!"
  Cras!
  "Akh!"
  Hanya sedikit saja terdengar pekikan tertahan, lalu kepala Ki Tunggul Santak langsung terpenggal buntung. Darah kontan muncrat berhamburan dari leher yang sudah tidak berkepala lagi itu. Hanya sebentar saja tubuh tua berjubah putih itu masih bisa berdiri, kemudian limbung dan ambruk menggelepar di tanah. Sementara, kepalanya menggelinding jauh dari tubuhnya. Pranggala berdiri tegak memandangi tubuh Ki Tunggul Santak yang menggeletak berlumuran darah tanpa kepala menempel di lehernya lagi.
  Pendekar Rajawali Sakti hanya membiarkan saja Pranggala yang melampiaskan dendamnya. Sedangkan Pandan Wangi yang sudah mengakhiri pertarungan, langsung cepat membereskan tiga orang lawan Pranggala tadi. Tidak perlu waktu banyak karena sebentar saja ketiga lawannya sudah ambruk tak bangun-bangun lagi, terbabat kipas bajanya.
  Sementara itu sambil menghembuskan napas panjang, Pranggala melangkah dan mengambil kepala Ki Tunggul Santak. Sebentar dipandanginya kepala yang masih mengucurkan darah segar itu, kemudian diletakkan kembali di tanah. Lalu pandangannya langsung beredar ke sekeliling. Kini, tidak ada lagi seorang pun yang hidup di sekitarnya. Dan saat itu juga, Pranggala jadi tersentak....
  "Eh, ke mana mereka...?"
  Pranggala jadi celingukan sendiri, mencari Rangga dan Pandan Wangi yang sudah lenyap, begitu tidak ada lagi lawan yang dihadapi. Entah pergi ke mana kedua pendekar muda dari Karang Setra itu.
  "Kalian benar-benar pendekar sejati. Terima kasih, atas bantuan kalian...," gumam Pranggala perlahan.
  Sebentar pemuda itu memandangi mayat- ma-yat yang bergelimpangan saling rumpang tindih di s ekitarnya. Kemudian kakinya terayun melangkah menin ggalkan tempat ini. Saat itu, matahari sudah benar-ben ar hampir tenggelam di cakrawala. Cahayanya yang m emerah jingga menyemburat di sebelah barat mayapad a ini. Dan Pranggala semakin jauh melangkah, terus me ninggalkan Desa Salak Rejeng yang kini banjir darah.
   
   
  SELESAI