Cintaku Selalu Padamu - 10

Diposting oleh Saiful bahri dari situbondo pada 10:48, 23-Sep-14

Cerita Remaja | Cintaku Selalu Padamu | by Motinggo Busye | Cintaku Selalu Padamu | Cersil Sakti | Cintaku Selalu Padamu pdf

Love From My Heart - Endik Koeswoyo 1001 Hari di Hongkong - Lan Fang Alice in Wonderland - Lewis Carroll Baby on Loan - Bayi Pinjaman - Liz Fielding Badai-Badai Puber - Motinggo Busye

ama Salomon ", kata Joana.
" Sebentar ya zus . Biar saya catat ", kata suara penerima telpon itu. Dan dia mohon diulangi , dan Joana mengulangi pesannya itu.
Joana menghela nefas dalam - dalam . Fikirnya , memang untuk mendapat kan sesuatu yang luar biasa, memerlukan cobaan. Luar biasa ? Ya, ia mempunyai rencana luar biasa. Dia begitu histeris menghadapi Albert semalam, ingin mendapatkan yang satu jam , belum satu menit, belum tiga detik, belum memasuki pintu gerbang pun Albert telah gagal , ibarat peluru kendali angkasa luar yang meledak sebelum diluncurkan !
Ya, tak peduli Laila temannya , maka Joana berusaha mendapatkan suami Laila.
Dia telah berdusta akan mendatangi Daud Waitulo bersama suaminya. Maka ketika sekretaresse mempersilahkan Joana masuk ke kamar kerja Daud, Daud pun bertanya : " Lho, koq sendiri ? "
" Ya , sendiri ", kata Joana, sambil matanya melirik apakah kancing kemejanya sudah benar - benar terlepas apa belum . Ternyata sudah . Joana tak tunggu waktu, ketika Daud mempersilahkan duduk, Joana menundukkan kepalanya, dan agak lama membungkuk melihat vaas : " Vaasnya bagus ".
Dia melihat Daud, Daud memang ada melihat kancing baju yang lepas itu , dan warna putih buah dada merah jambu. Tapi Daud tampaknya tak jelas bagi Joana, apakah kerlingan sorot matanya tadi itu mengandung sikap terangsang ataukah belum.
" Saya sudah dengar dari Laila, anda berdua suami anda akan kesini", kata Daud.
" Ya ", kata Joana sambil memegang lagi vaas bunga itu.
Memang Daud melihat lagi untuk yang kedua kali .
" Kira - kira ada soal bisnis yang akan disampaikan ? " Tanya Daud.
" Tidak , soal yang sebenarnya merupakan penderitaan wanita. Tetapi saya senang menyampaikannya disini, saya takut nangis, nanti dikira yang bukan -bukan ".
" Sampaikan saja ", kata Daud. " Ah, kalau bisa ditempat lain ", kata Joana. " Tidak apa disini ", kata Daud.
Daud sebagai pria sehat untuk ketiga kalinya memang melihat lagi kesela kancing baju yang terlepas itu. Joana kini ingin menjebak tanpa proses berbelit, ia bertanya ; " Pak Daud, eh , mas Daud kalau urusan bisnis ada keluar kota ? "
" Ada, kadang - kadang, dan itu sering.....ke bandung. Kenapa Zuz ? ", Tanya
Daud
" Kapan ? ", Tanya Joana melihat inilah saat terbaik ikut dengan Daud ke Bandung dengan alas an mengurus textil dalam negri. " Dua hari lagi saya ke bendung ", kata Daud.
" Bisa saya ikut dengan mobilnya ? lagi pula diBandung saya ingin pertolongan dari mas Daud soal bisniz ", kata Joana yang kemudian cerita panjang lebar.
Pada saat itu : Daud terkecoh. Dan ia berkata : " Kalau memang penting, boleh ikut mobil saya. Nanti di Bandung saya ikut Bantu urusan zuz Joana ".
Joana puas . Tetapi saking puasnya dia mencoba membuat Daud tergiur, seolah - olah dia sebenarnya masih perawan semenjak dengan Salomon, karena Salomon impoten.
Cerita itu merangsang, maksudnya berusaha merangsang Daud . Tetapi Daud sebaliknya ngeri . Bahkan membatalkan rencananya ikut menemani Joana, kecuali kalau Joana mau dibantu pegawainya. Joana tidak tahu , ia gagal menjebak Daud gara - gara buntut ceritanya tadi, karena ia mengira, bahwa semua lelaki itu bisa terangsang dengan peragaan nobra atau kancing dilepas satu, atau cerita - cerita pancingan bahwa ia wanita haus.
Tidak semua lelaki bisa dipikat gaya begitu. Termasuk Daud !
Daud tak cerita cerita cabul Joana di rumah,.
Dia Cuma cerita Joana dating.
Malam itu Daud malah menyalurkan kejantanannya pada isterinya. Pagi - pagi Laila muntah - muntah . Laila berkata padanya: " Jelas aku telah hamil !"
Episode 23
MENDENGAR Laila telah hamil, Daud Waitulo sangat terkejut. Ia bukan saja terkejut, tetapi kegembiraannya tiada tertahan sehingga ia memeluk isterinya itu berkali - kali .
" Kau sungguh - sungguh telah hamil, Laila ? "
" Ya, mas Daud ", kata Laila.
Daud menyodorkan air segelas untuk kumur - kumur Laila. Kemudian menghapus keringat Laila yang membasahi kening dan leher. Dan kemudian dibimbingnya isterinya dari kamar mandi menuju kamar tidur.
Dibukanya lemari buru - buru dan di berikannya pakaian tidur untuk Laila. Laila merasa betapa besar cinta mas Daud kepada nya. Dia mendekapi suaminya. Dan sekali lagi didekapinya suaminya setelah salin pakaian . Lalu di
pegang nya pergelangan tangan kiri suaminya , dimana melilit jam tangan yang menunjukkan hampir jam tujuh pagi.
" Jangan sampai kau terlambat masuk kantor ", kata Laila.
" Tapi sebelum pergi, aku ingin Tanya pada mu , pesan kue apa ? "
" Aku belum ngidam ! " , kata Laila seraya tertawa.
" Tapi ini kue maksudku sekedar merayakan hari gembira ini ", kata Daud.
" Aku minta dibelikan kue bugis ", kata Laila.
" Semoga kue ini yang kau sukai sewaktu ngidam ", kata Daud seraya ketawa, " Kau tahu, ada anak buahku dikantor , istrinya ngidam minta dendeng kuping gajah ! Dimana bisa cari gajah di Jakarta ini kecuali dikebun binatang Ragunan ? ".
Mereka sama ketawa berderai . Tapi dengan telunjuknya menekan ke jam tangan Daud, Daud sadar apa maksudnya, : " Baiklah , aku pergi. Kue bugis tak akan kulupa ", dan Daud mencium pipi isterinya.
Lila berkata : " Aku tak kuat melangkah , jadi mas tidak sampai kuantar ke pekarangan ".
" Okey, kata Daud dan sekali lagi mencubit pipi isterinya dengan gemas. Kegemasan itu dilapisi oleh kebahagiaan yang tiada berperi. Betapa tidak ! Empat tahun telah menjadi suami isteri, namun tidak dikaruniai bayi !.
Dikantor Daud menceritakan kepada sekertarisnta :
" Aku harus pesta kecil siang ini untuk pegawai - pegawai "
" Ada apa Pak ? "
" Isteriku hamil ", kata Daud.
Sekertarisnya memberikan salam selamat . Tapi ia berkata : " Bagusnya bapak bersedekah pada orang miskin dari pada dipestakan untuk kami pegawai - pegawai. Tapi ini Cuma usul lho , Pak !".............................
Daud Waitulo meyadari
, bahwa selama ini ia dijakarta, ia tidak pernah memberikan sekeping uang logampun kepada fakir miskin. Kini sekertris nya mengingatkannya untuk berbuat begitu.
" Kenapa kau punya usul begitu ? " Tanya Daud.
" Mungkin Bapak belum tahu, kami dari keluarga miskin. Kalau ada pesta anak - anak orang kaya yang berulang tahun, kami hanya ngiler ingin bernyanyi bersama mereka, ingin makan kue - kue enak bersama mereka. Tetapi seya ketika itu berfikir : kenapa mereka menghambur - hamburkan uang dan makanan hanya untuk teman - teman mereka yang sama - sama kaya , yang saban hari sudah cukup puas dengan makanan begitu ? kenapa kue - kue itu tidak diberikannya kpd kami ? ".
Untuk pertamakalinya Daud Waitulo mendapatkan kembalai suatu arti dari kehidupan ini Ia mengeluarkan selembar uang 10.000 rupiah dan diberikannya kepada sekertarisnya seraya berkata : " Ambil uang ini untuk menebus kue - kue dimasa kecilmu. Ambil, saya tidak bergurau. Saya terma kasih kau ingatkan soal arti dari suatu kemelaratan ".
" Ikhlas nih , pak ? " kata sekertarisnya sembari tertawa.
" Anggap saja jumlahnya jutaan rupiah. Itu bukan uang , tapi makna dari kata - kata berharga ", kata Daud.
Dan dari sepuluh orang pegawai - pegawai yang jadi bawahannya, Daud pada waktu makan siang membagi - bagikan tiap amplop selembar uang 10.000 dengan catatan : " Untuk anak saudara dirumah ".
Tiap pegawai dikantor itu terheran - heran , dan mereka membicarakannya setelah jam kerja habis. Mereka semua tidak tau mengapa hari ini Pak Daud Waitulo demikian dermawannya. Mereka malahan jarang disapa, dan kali ini Pak Daud memerlukan makan bersama - sama di kantin kantor.
Dan, ketika pulang dari kantor, Daud khusus pergi ketoko makanan untuk membeli kue bugis. Bila kuweh itu dibawanya pulang, tampak Laila begitu senang dan ia sendiri menghabiskan sepuluh kuweh.
" Maaf, Laila seperti serakah . Soalnya setelah muntah tadi pagi saya tak mau makan lagi . Jadi ini karena kelaparan ", kata Laila.
Episode 24
Mendengar kata 'kelaparan " , Daud ingat bahwa ia lupa pada niatnya untuk bersedekah kepada fakir miskin yang lapar. Daud langsung menggenggam tangan Laila. Dan berkata sungguh - sungguh : " Maukah kau menemaniku ? "
" Kemana ? mas Daud belum tidur siang ! "
" Bawa diriku ketempat - tempat dimana orang - orang miskin tidak ada rumah dan pakaian ", kata Daud, " Aku ingin merayakan kembiraan kita berdua bersama orang miskin itu ".
Laila menganggap Daud seperti barusan bermimpi.
Daud tidak pernah punya niat ebaik ini . Maka Laila menyambut keinginan Daud itu dengan hati yang ikhlas pula.
Baru menjelang malam mereka pulang bersamadengan wajah cerah dan puas.
" Bila anak ini lahir ", kata Daud, " Kita harus hati - hati menjaganya ".
" Tentu saja ", kata Laila.
" Ia tidak boleh sakit ", kata Daud
" Bahkan tak boleh masuk angin ", kata Laila.
" Ia tak boleh terlambat menyusu, tak boleh terlambat makan ", kata Daud.
" Dan yang terpenting, ia tidak boleh ditinggalkan Papanya", kata Laila, yang membuat Daud heran bertanya : " Apa maksudmu Papanya tak boleh meninggalkannya ? "
" Laila menyembunyikan perasaan , dan ia tertawa mengikik : " Aku hanya bergurau ".
" Kau maksudkan aku kawin lagi ya ? ya ? " Tanya Daud seraya dengan lucu mengepalkan tinju dan akan meninju muka isterinya . Laila membalas lelucon itu dengan sikap " angkat tangan " tanda ia menyerah kalah.
Oh, tak pernah ada suami isteri didunia ini yang sebahagia Laila dan Daud pada detik - detik itu . Terlebih - lebih lagi , ketika diperiksa ke dokter , memang Laila telah hamil.
Kehamilannya makin lama makin ditandai dengan perut Laila yang semakin membesar. Pada saat - saat ini , mereka tampak tambah rukun . Mereka selalu tampak berdua berjalan - jalan dikala pagi. Dan tak lupa bila bertemu orang -orang miskin peminta - minta, mereka memberikan sedikitnya seratus rupiah.
Orang - orang disekitar tempat mereka seakan - akan saling berbisik : Alangkah bahagianya suami isteri itu . Bukan orang - orang saja barang kali . Mungkin juga batu - batu yang mereka pijak , mungkin juga rumputan liar ditepijalan, mungkin juga pohon - pohon dan bunga - bunga, merasa iri hati pada pasangan manusia yang berbahagia itu.
Kadang kala mereka terlalu gembira, sehingga mereka lupa bercanda terlau asik ketika mandi berdu, Laila tiba - tiba terpeleset. Ia pingsan seketika itu juga. Daud jadi panik . Lestina ikut membantu iparnya. Lestina ikut mengangkat bersama kakaknta Daud , sampai Laila sadar kembali diatas tempat tidur. Daud agak prihatin , karena dari selangkangan Laila mengalir darah segar.
Keguguran ! itulah yang dikuatirkan Dau seketika itu juga. Buru - buru ia membawa Laila kerumah sakit . Dokter biasanya selalu bilang " tidak apa - apa " . Tetapi mereka menahan agar Laila diopname dirumah sakit.
" Berapa lama ? "
" Kira - kira 2 minggu " , kata dokter.
" Apa penyakit isteri saya yang sebebetulnya , dokter ? "
" Tidak apa - apa . Cuma terlalu lelah saja ", kata dokter.
Dua minggu lamanya Daud setiap pagi dan sore menjenguk Laila dirumah sakit. Dua minggu kalau pagi ia mengambil pakaian kotor Laila dan mengantar pakaian bersihnya. Laila terharu sekali ketika mendengar ucapan Daud : " Aku sendiri yang mencuci pakaian - pakaian mu . Lestina memang minta membantu , tapi aku sendiri merasa senang mencucinya, karna aku merasa dekat denganmu kala itu ".
Laila meneguk nafas berbahagia , juru rawat, dokter - dokter, kadang kala suka meninggalkan mereka berdua apabila mereka mulai melihat Laila dan Daud remas - remasan tangan.
Dan Daud tidak melewatkan saat - sat mesra itu untuk mengecup isterinya.
" Kenapa matmu merah, mas ? " Tanya Laila, ketika Daud dantang pada hari terkhir Laila dirumah sakit.
" Kurang tidur " kata Daud.
" Tak percaya ", kata Laila.
" Ya, terpaksa aku ngaku. Aku menangis semalaman . Tetapi tangisan itu berupa perasaan syukur dan prihatin atas bayi yang dalam kandunganmu, yang telah selamat dari bencana keguguran".
Laila meremas jari - jari tangan Daud, dan menciumnya sepuas-puasnya.
Bila Laila telah dirumah kembali, dengan kandungannya yang sudah enam bulan itu , suasana rumah tampak cerah. Memang kecerahaan sebuah rumah terletak pada tangan halus wanita bila merika ringan tangan untuk menyusunnya.
Tetapi tanpa diduga, muncullah ayah dan ibu Daud. Mereka tidak dating berdua , tetapi bersama seorang gadis yang kira - kira berusia 18 tahun . Laila menyambut kedatangan mertuanya tanpa mengingat kata - kata yang melukai dulu, apalagi dengan sikap berddendam.
" Oh ya, ", Kata Oom Waitulo , ayah Daud . " ini saya hampir lupa memperkenalk