Anak Rajawali - 38

Diposting oleh Saiful bahri dari situbondo pada 22:37, 23-Agu-16

Cerita Silat | Anak Rajawali | Karya Chin Yung | Anak Rajawali | Cersil Sakti | Anak Rajawali pdf

Rajawali Emas - 45. Lingkaran Kematian Serial Rajawali Emas II Dewi Ular - 42. Wanita Penjinak Hantu Rajawali Emas - 46. Panah Cakra Neraka Dewi Ular - 50. Ciuman Neraka

juk sambil berseru: “Paman Hok lihat!” Hok An melihat ke arah tempat yang ditunjuk si Giok, di atas tumpukan salju terlihat seekor burung menggeletak diam. Karena bulunya yang berwarna putih, maka tidak mudah dilihat begitu saja. Ternyata burung yang menggeletak di atas tumpukan salju tersebut tidak lain dari burung rajawali berbulu putih itu.
  Bagaikan terbang Hok An mengajak si Giok menghampiri burung rajawali putih tersebut. Dan setelah berada di dekatnya, ternyata burung rajawali tersebut dalam keadaan terluka yang parah sekali.
  Diam-diam Hok An jadi terheran-heran. Waktu tadi terluka oleh serangan burung rajawali hitam, luka burung rajawali putih ini tidak demikian hebat. Sekarang tampaknya benar-benar dia tertuka parah sekali. Segera Hok An memeriksanya.
  Burung rajawali putih itu belum mati, sayapnya masih bergerak perlahan-lahan. Waktu melihat Hok An dan si Giok, tampaknya burung rajawali putih tersebut terbangun semangatnya dan girang, dia mengeluarkan suara memekik yang perlahan dan lemah.
  Hok An segera bertanya: “Siapakah yang telah melukaimu lagi?!” Burung rajawali itu hanya memekik dan menggerakkan sayapnya menunjuk ke arah tebing jurang di sebelah kanannya, dia seperti menunjuk ke arah sana.
  Hok An memandang ke arah jurusan yang ditunjuk oleh burung rajawali itu. Dia melihat sebuah goa yang sangat besar sekali.
  “Disana? Yang melukaimu berada di sana......?!” tanya Hok An.
  Burung rajawali putih itu memekik perlahan dan lemah sekali, seperti juga dia membenarkan perkataan Hok An.
  Cepat-cepat Hok An menoleh kepada si Giok, katanya: “Kau tunggu disini Giok..... Temanilah burung rajawali itu, agar dia tidak beku kedinginan.....!” Si Giok mengiyakan dan duduk di sebuah batu yang saljunya telah disingkirkannya, kemudian Hok An menggendong burung rajawali tersebut yang diletakkan di dekat si Giok, agar memperoleh hawa hangat.
  Si gadis dengan penuh kasih sayang merangkul burung rajawali tersebut. Hok An juga telah mengeluarkan obat bubuk yang kemudian ditaburkan ke seluruh luka-luka di tubuh burung rajawali tersebut.
  Burung rajawali putih itu seperti juga mengerti bahwa ke dua manusia ini tidak bermaksud jahat padanya, dia rebah diam saja.
  Selesai mengobati luka burung rajawali itu Hok An berkata kepada Si Giok: “Aku ingin pergi ke sana buat memeriksa keadaan di dalam goa itu..... Aku akan segera kembali, kau tunggu saja di sini.....” Si gadis cilik mengiyakan.
  Hok An segera mempergunakan ginkangnya buat pergi ke goa itu. Dia memang memperoleh banyak kesulitan, sebab dinding dari tebing yang terselubung oleh salju itu licin dan sulit sekali didaki, hanya dengan mengandalkan ginkangnya yang cukup tinggi, Hok An berhasil juga mencapai pintu goa tersebut, setelah mendaki memakan waktu yang cukup lama.
  Ternyata goa tersebut sangat lebar dan besar sekali, liangnya sampai sebesar rumah.
  Dengan hati berdebar-debar Hok An memasuki goa tersebut, karena hatinya menduga mungkin goa tersebut merupakan goa atau sarangnya burung rajawali hitam.
  Ketika melihat keadaan, di dalam goa, dia bertambah heran. Di goa itu tidak terdapat binatang apapun juga, malah di atas tanah tampak legokan yang cukup dalam, seperti juga di tempat itu telah dilalui oleh sesuatu yang berat.
  Dengan hati masih bertanya-tanya Hok An memasuki terus goa tersebut, sampai akhirnya dia tiba di sebuah ruangan, yang luas dan lebar sekali.
  Yang membuat Hok An bertambah heran, sebelum dia sampai di ruangan dalam goa itu, dia telah melihat sinar yang bercahaya terang dari dalam ruangan itu.
  “Apakah di dalam goa ini ada seseorang manusia sakti yang hidup menyendiri?” pikir Hok An yang melihat api penerangan di dalam ruangan itu.
  Akan tetapi waktu Hok An telah tiba di depan ruangan dalam itu, dia jadi berdiri menjublek.
  Apa yang dilihatnya? Ternyata cahaya terang yang berada di dalam ruangan tersebut bukan berasal dari sinar api lilin, melainkan cahaya sinar yang kemilau dari kepala seekor ular yang berukuran besar sekali.
  Ular itu memiliki lingkaran tubuhnya dua kali paha manusia, dengan panjangnya mungkin duapuluh meter, tengah melingkar di dalam ruangan tersebut dan mengawasi ke arah mulut ruangan itu menatap tajam sekali kepada Hok An.
  Cepat-cepat Hok An mundur, karena dia kuatir ular itu akan menyerangnya.
  Ular raksasa tersebut berdiam diri saja. Sama sekali dia tidak bergerak dari tempatnya itu. Dia hanya mendesis perlahan.
  Hok An mengintai dan melihat dengan teliti, dia ingin mengetahui apa yang ingin dilakukan ular itu. Namun melihat ular itu berdiam diri saja Hok An tambah heran.
  Biasanya makhluk berbisa seperti ular ini, terlebih lagi ular raksasa, jika melihat mangsanya niscaya akan segera menyerang buat dijadikan santapannya. Tetapi mengapa ular raksasa tersebut malah berdiam diri saja, dan cuma mengeluarkan suara mendesisnya belaka? Setelah mengawasi sekian lama, akhirnya Hok An memberanikan diri buat muncul di ambang pintu ruangan itu lagi. Dan ular itu mendesis pula, namun tetap tidak menyerang, hanya matanya mengawasi tajam.
  Di atas kepalanya seperti juga ada mahkota yang di tengah-tengahnya terdapat batu permata yang bersinar terang sekali! Ternyata, setelah Hok An memperhatikan sekian lama, mahkota yang berada di atas tumpukan kepala ular itu merupakan salju yang telah mengeras dan menjadi semacam batu! Mungkin terlalu lamanya es itu berada di kepala ular raksasa itu, sampai menjadi batu! Hok An segera dapat menduganya, mungkin juga ular raksasa ini telah bertapa lama sekali, dengan tidak bergerak-gerak, sampai salju yang menutupi kepalanya itu berobah menjadi batu, dan mungkin juga, batu permata yang bersinar kemilau di atas kepalanya itu, merupakan inti es yang telah berobah menjadi batu, sehingga memancarkan sinarnya yang begitu terang kemilau.
  Diam-diam Hok An jadi bertanya-tanya di dalam hatinya, apa yang dilihatnya seperti juga berada dalam dongeng-dongeng belaka, seoker ular yang bertapa, dengan batu permata yang kemilau.
  “Jika demikian, di dalam dunia ternyata benar-benar terdapat ular naga.....?” berpikir Hok An di dalam hatinya.
  “Jika ular raksasa ini tidak bisa disebut seekor naga, karena dia tidak bertanduk..... dia hanya seekor ular belaka.....!” Ular raksasa itu mendesis lagi dengan suara perlahan, tubuhnya bergerak, bukan buat menyerang Hok An, hanya memperbaiki lingkaran tubuhnya itu.
  Hok An sendiri yang melihat ular raksasa itu menggerakkan tubuhnya bagian atasnya cepat-cepat bersiap hendak mengelakkan diri dari pintu ruangan tersebut, karena dia kuatir ular raksasa itu mendadak sekali menyerangnya Waktu itu tampak ular tersebut telah memejamkan matanya seakan-akan tidak mau memperdulikan Hok An pula.
  Hok An juga merasa ngeri jika harus berada lama-lama di dalam goa tersebut. Setelah menguasai dirinya beberapa saat segera dia keluar dari goa itu, dan kembali ke tempat si Giok berada.