Sang Penyihir Beraksi - 2

Di posting oleh Saiful bahri dari situbondo pada 02:42 PM, 01-Aug-14

Cerita Misteri | Sang Penyihir Beraksi | by Vivian Vande Velde | Sang Penyihir Beraksi | Cersil Sakti | Sang Penyihir Beraksi pdf

The Spiderwick Chronicles 5 Amarah Mulgarath Berkeliling Dunia Di Bawah Laut - Jules Verne Sisi Merah Jambu - Mira W Kelelawar tanpa Sayap - Huang Ying Misteri Empat Jam Yang Hilang - L. Ron Hubbard

sang penyihir menggumamkan mantra yang mengubah penampilannya menjadi pria tua yang terlihat seratus tahun lebih tua dan yang mengganti pakaian kerjanya dengan jubah dan topi kerucut bertabur motif bintang yang selalu ia kenakan saat berada di depan umum. Kalau ia tidak berpenampilan seperti itu, sepertinya tak seorang pun akan percaya kalau ia benar-benar seorang penyihir.
  Ia menjulurkan lengan ke arah si gagak yang segera hinggap sambil mengepakkan sayap hitamnya. Kemudian, burung itu mengangkat ekor dan buang kotoran di lengan bajunya.
  "Dasar bodoh," gumam sang penyihir.
  Tapi seketika itu juga, mereka sudah pindah ke lumbung Petani Seymour, di
  mana ada seekor kuda betina berperangai buruk yang disewakan si petani dengan harga selangit, kapan pun sang penyihir membutuhkan tunggangan.
  Setelah berkuda selama dua hari, si burung gagak akhirnya memandu sang penyihir ke sebuah kastil kecil yang dikelilingi oleh sebuah kota kecil, di tengah-tengah sebuah lembah nan hijau dan damai.
  Dan di sana, si ibu tiri kejam (sang penyihir yakin itu orangnya) dan saudari tiri buruk rupa sedang berjalan santai di sebuah jalan besar dari arah kastil.
  Sang ibu berperawakan tinggi, kurus, dan berpakaian serba hitam. Matanya, pikir sang penyihir, tampak seperti musang jahat. Si ibu dan anak berjalan terus- sambil melihat ke kiri dan kanan-memerhatikan serta menilai segala yang terjadi di sekitar mereka.
  Sang anak adalah versi muda dari sang ibu. Namun, pakaiannya berwarna-warni terang dan suara tawanya yang keras mengingatkan sang penyihir pada suara babi yang menguik.
  Sang penyihir tidak ingin masuk ke kastil secara terang-terangan karena ia tidak tahu bagaimana si ibu tiri kejam akan bereaksi-ibu tiri kejam biasanya tak bisa ditebak. Lebih baik ia mengitari kastil dan masuk lewat jalan belakang. Jadi, dengan memasang tampang yang menurutnya terlihat acuh tak acuh serta agak bosan, ia berkuda melewati orang-orang yang sedang berkumpul di sekitar kedua wanita itu.
  Akan tetapi, tampaknya burung gagak yang membawa pesan Putri Rosalie tak mengerti tindakan sang penyihir. Saat melihat sang penyihir melenceng dari jalan masuk kastil, si gagak terbang dari tempatnya bertengger-di atas pantat kuda- dan mulai mengitari kepala sang penyihir sambil berkaok kalut.
  "Shhh!" sang penyihir mengibas-ngibaskan tangan di depan wajahnya agar si gagak tidak terbang terlalu dekat.
  Burung itu menukik ke arah kepala sang penyihir, lalu berhenti ketika nyaris menabraknya dan memekik marah. Kemudian, ia kembali membumbung ke udara dan menukik lagi ke arah sang penyihir. Dan lagi. Dan lagi.
  Orang-orang memerhatikan mereka. Sang ratu yang kejam dan anak perempuannya, para pejalan kaki, para pedagang di kedai masing-masing-semuanya berhenti untuk memerhatikan sang penyihir dan si gagak. Seorang pesulap jalanan, yang merasa terganggu, menjatuhkan salah satu tongkat lemparnya. Ia kemudian memasukkan semua tongkatnya ke balik lengan baju satinnya yang berwarna merah hijau. Ia tidak ingin bersaing mencari perhatian dari kerumunan orang yang bertambah ramai dalam waktu singkat.
  "Hentikan!" desis sang penyihir pada si gagak.
  Ia menelungkupkan bahunya dan membungkuk ke sadel kuda agar dirinya tidak begitu kelihatan. Namun, hal itu malah membuat anak-anak di antara kerumunan menunjuk ke arahnya dan berteriak, "Lihat, si bungkuk dan burungnya yang terlatih!"
  Sang penyihir menghentakkan kakinya ke perut si kuda, tapi binatang pemarah itu malah melonjak-lonjak dan berusaha menggigitnya. Ia menggerakkan kakinya ke belakang agar jauh dari gigi-gigi besar milik si kuda. Usahanya sia-sia karena kuda itu terus berusaha menggigitnya. Binatang itu berputar-putar seperti seekor anjing yang sedang mengejar ekornya sendiri atau seperti si burung gagak, yang masih saja berulang kali menukik ke arahnya. Akhirnya, ia mengangkat dan menyilangkan kedua kakinya di atas sadel.
  Orang-orang yang berkerumun bertepuk tangan sebagai tanda kagum.
  Sang penyihir melepaskan topi dan berusaha menangkap si gagak dengan topi itu. Ia hampir saja jatuh dari kuda. Setelah mencoba tiga kali, ia akhirnya berhasil menangkap burung itu. Dengan cepat ia
  menggerakkan tangan untuk menutup topinya dari atas.
  Kerumunan orang bersorak. Sang penyihir mendengar seseorang berterima kasih pada sang ratu karena telah memberikan atraksi yang sangat menghibur pada hari itu.
  Sambil memegang topi yang berguncang hebat dan mengabaikan jeritan penuh kemarahan dari dalam topi itu, sang penyihir berusaha sebisa mungkin tersenyum dengan tenang dan manis. Ia membungkuk ke arah para penonton yang sangat terhibur. Ia memandang sekilas ke arah sang ratu. Wanita itu memicingkan matanya sehingga yang tampak hanya sepasang garis tipis. Ia juga mengernyitkan alisnya sehingga tampak seram. Sambil menahan napas, sang penyihir berbisik pada kudanya, "Cepat jalan, kuda bodoh."
  Bagaikan sebuah pawai, sekarang sang penyihir dibuntuti oleh serombongan anak kecil. Mereka terus mengikutinya sampai jauh dari kastil. "Tuan!" mereka terus berteriak memanggil. "Hei, Tuan! Apa lagi yang akan Tuan lakukan dengan burung itu?
  Tapi akhirnya, setelah hampir satu mil jauhnya dari rumah terakhir di kota itu, karena ia tetap diam dan tidak memberikan tontonan, anak-anak itu satu per satu berhenti mengikutinya.
  Ketika sudah tidak ada seorang anak pun yang mengikutinya, ia memegang ujung topinya dan menggoyangkannya. Si burung gagak menjerit marah dan melesat terbang ke arah kastil.
  Sang penyihir segera membaca mantra untuk mengubah wujudnya menjadi seekor burung.
  Kuda milik Petani Seymour pasti merasa merinding akibat kekuatan sihir yang menyertai mantra itu. Binatang itu meringkik dan pandangannya menjadi liar seperti yang selalu terjadi bila ia ingin menggigit sang penyihir. Akan tetapi, pada saat itu sang penyihir sudah terbang menjauh ke arah kastil.
  Kalau aku beruntung, pikirnya, kuda itu akan berlari pulang sebelum aku kembali.
  Sang penyihir hanya bisa bertahan dalam wujud yang berbeda untuk beberapa saat. Dan sekarang, bahunya sudah terasa pegal karena terus dikepakkan untuk terbang. Si gagak yang diikutinya seolah tahu penderitaan sang penyihir dan dengan kejam sengaja mengitari kastil itu sebanyak dua kali sebelum akhirnya terbang masuk melalui sebuah jendela di menara yang tinggi. Dengan sisa kekuatannya, sang penyihir mendarat di tubir jendela dan mengubah diri ke wujud aslinya secepat kilat sehingga hampir terjatuh.
  Seseorang di dalam ruangan itu menjerit.
  Sang penyihir mencengkeram pinggiran jendela dan melompat masuk.
  Ruang itu adalah sebuah kamar tidur seorang wanita; dan meskipun saat itu sudah sekitar jam dua siang, wanita yang dimaksud sedang berbaring di tempat tidur.
 
  Ia mencengkeram seprai di sekitar lehernya dan tampak siap untuk menjerit lagi.
  "Tolong, jangan lakukan itu," sang penyihir memohon sambil menutup telinga dengan kedua tangannya. Wanita itu sangat besar-dan suaranya juga besar.
  Tapi ia menjadi heran karena wanita itu segera menjadi tenang. Ia bisa melihat bahwa mulut wanita itu bergerak, tapi untuk berbicara, bukan untuk menjerit.
  "Maaf. Apa katamu?" tanya sang penyihir sambil secara perlahan melepaskan tangannya dari telinga.
  Wanita itu menaikkan seprai untuk menutupi bagian terbawah dagunya yang berlipat-lipat. "Aku bilang, Anda sang penyihir, bukan?'" Ia tak menunggu jawaban sang penyihir, tapi malah menarik seprai ke atas dengan satu tangan untuk menutupi wajahnya, dan dengan tangan lain melepas topi tidurnya serta mengembungkan rambutnya yang berwarna gelap. Ia mengambil sebuah cermin dari meja kecil di samping tempat tidur, dan-masih sambil bersembunyi di balik seprai-mulai merapikan diri.
  "Jangan repot-repot," sang penyihir bergumam. "Aku hanya sekedar lewat."
  Tanpa memedulikan ucapan sang penyihir, wanita itu menjelaskan, "Aku tidak tahu kalau Anda akan datang secepat ini. Kalau tahu, aku pasti bisa bersiap-siap."
  "Begini," lanjut sang penyihir seakan-akan tak mendengar wanita itu, "Aku tadi sedang mengikuti burung gagak ini. Ia terbang masuk ke sini-kau pasti melihatnya tadi, bukan?" Ia melirik burung kejam itu. Makhluk tersebut sedang bertengger di salah satu tiang tempat tidur sambil membelalak marah. "Dan aku tadi tidak sadar kalau ini adalah kamar tidur seseorang. Aku benar-benar minta maaf. Aku akan segera pergi dari sini sekarang."
  Sambil terus mengabaikan kata-kata sang penyihir, wanita itu terus berbicara, "Tadinya kupikir mungkin harus ada sesuatu atau mungkin selembar layar untuk menyekat ruangan ini pada saat kita bertemu pertama kali sebelum aku menjelaskan apa yang telah terjadi."
  "Begini, aku sedang ada urusan penting ...."
  "Tapi ternyata begini jadinya. Tolong tunggu sebentar saja ya ...."
  "Aku harus menyelamatkan seorang putri-"
  Wanita itu muncul dari balik seprai sambil tersenyum dan mengenakan sebuah mahkota. "Beginilah."
  "Putri Rosalie," sang penyihir menyelesaikan kalimatnya.
  "Ya," kata wanita itu sambil agak menundukkan kepala seperti layaknya seorang bangsawan.
  Sang penyihir, yang sudah memegang gagang pintu, tertegun. Ia menatap wanita yang tampak hampir sebundar bola itu, kemudian melihat ke arah pintu, dan kemudian ke arah wanita itu lagi. Ia men-deham. "Putri Rosalie?" ulangnya pelan.
  Kesabaran wanita itu akhirnya habis. "Kalau ini benar-benar membuat Anda
  terkejut, bayangkan bagaimana perasaanku," kata wanita itu dengan ketus.
  "Maaf, maksudmu?"
  "Kutukan itu, Penyihir, ini adalah kutukan saudari tiriku yang buruk rupa."
  "Oh!"
  Putri Rosalie kembali mengambil cermin. "Apakah benar-benar seburuk itu?" Ia menatap bayangannya di cermin, dan kemudian menyeka air mata yang menitik.
  "Tidak," s ang penyihir cepat-cepat menimpali. "Tidak, sungguh." Wanita itu memang besar, tapi wajahnya sebenarnya l umayan manis. Walau begitu, ia merasa wanita itu tida k akan senang bila ia mengungkapkan hal itu.
&n bsp; Putri Rosalie menggapai sandaran kepala tempat ti dur perunggunya dan memukulkan pinggiran cermin ke dinding. "Bernard!" teriaknya. Kemudian, ia berkata pad a sang penyihir, "Kalau menurut Anda keadaanku ini bu ruk, tunggu sampai Anda melihat Pangeran Bernard."
  Sebelum sempat berpikir untuk memberikan tanggapan, sang penyihir mendengar suara garukan di pintu.
  "Bisa tolong buka pintunya?" kata sang putri sambil menunjuk ke arah pintu.
  Secara perlahan dan hati-hati, sang penyihir membuka pintu itu dan seekor anjing Saint Bernard yang sangat besar melompat masuk serta mendorongnya sampai terjatuh.
  "Pangeran Bernard, ini adalah Tuan Penyihir," sang putri memperkenalkan keduanya. "Tuan Penyihir, ini adalah Pangeran Bernard."
  "Ah paling tidak, ia cukup ramah," ia akhirnya berkata, sementara anjing itu duduk di dadanya dan menjilati wajahnya.
  Putri Rosalie mulai meratap dengan keras.
  Seolah ingin menghibur sang putri, Pangeran Bernard mendekat dan mulai menjilati tangannya, tapi sang putri mendorongnya dengan kasar. "Lihatlah dia! Dan air liurnya. Dan kutu-kutunya."
  Tanpa menghiraukan perlakuan sang putri, pangeran berwujud anjing itu duduk sambil mengibaskan ekorny a di lantai.
  "Aku mengerti masalahmu." San g penyihir kembali berdiri. "Katamu tadi, saudari tirimu y ang melakukan ini?"
  "Ya," jawab Putri Rosa lie kesal. "Dan sekarang ia beserta kekasihnya yang jah at itu berkomplot dengan ibu tiriku untuk mengurungku di sini."
  Sang penyihir baru saja mau menj elaskan bahwa melawan kekuatan sihir milik seseoran g yang tidak mau sihirnya dilawan adalah pekerjaan te ramat sulit-tapi ia akan berusaha sebisanya-ketika ia m endengar ada yang datang.
  Putri Rosalie juga mendengarnya. Dengan tergagap ia berkata, "Mereka datang! Cepat, sembunyi!"
  Sang penyihir melihat sekilas ke sekeliling ruangan, sementara Pangeran Bernard tetap tenang dan menggaruk bagian belakang telinganya.
  "Cepat!" teriak sang putri.
  Sang penyihir membuka pintu sebuah lemari besar, tapi lemari itu penuh sesak dengan gaun, sepatu, dan topi berbulu sehingga tak ada ruang bagi dirinya dan si anjing untuk bersembunyi.
  "Oh, ya ampun!" Putri Rosalie melempar selimutnya ke samping dan melompat dari tempat tidur. Akan tetapi, ia malah mengambang di udara-secara perlahan- ke langit-langit. Sang penyihir menganga tak percaya. Sang putri menendang dinding dengan putus-asa dan melambung anggun menjauhi dinding.
  Pangeran Bernard mendongak dan mulai melolong.
  "Apa yang kaulakukan?" tanya sang penyihir.
  "Ini aki