Cheng Hoa Kiam - 295

Diposting oleh Saiful bahri dari situbondo pada 00:12, 26-Mei-15

Cerita Silat | Cheng Hoa Kiam | By Kho Ping Hoo | Cheng Hoa Kiam | Cersil Sakti | Cheng Hoa Kiam pdf

Raja Petir ~ Asmara Sang Pengemis Raja Naga ~ Bunga Kemuning Biru Pendekar Rajawali Sakti - 188. Warisan Terkutuk Jaka Sembung ~ Menumpas Gerombolan Lalawa Hideung Pendekar Gagak Rimang ~ Siasat Yang Biadab

rsila dan bersikap seperti orang bersama dan Kun
  Hong lalu membuang semua bangkai ular dan melenyapkan tanda-tanda adanya pertempuran di tempat itu. Ia
  menyimpan bangkai Ang-siauw liong ke dalam saku bajunya, lalu berlari ke pantai. Seperti yang ia duga, di
  pantai tidak ditinggal kosong. Para gadis penjaga tadi setelah pergi meninggalkan kemah ternyata masih ada
  empat orang berjaga di pantai.
  "Kenapa kalian masih di sini?” tegur Kun Hong. "Bukankah Tok-ong sudah bilang kalian harus pergi semua dan
  tempat ini Tok-ong dan aku yang menjaga?"
  "Kami menjaga perahumu," jawab seorang di antara para penjaga cantik itu sambil tersenyum manis.
  Kun Hong menghampiri gadis ini dan mencubit pipinya penuh sikap mencumbu. "Manis sekali kau!" Tentu saja
  gadis itu menjadi girang dan aksinya makin menjadi.
  "Manis, kelak aku akan menyediakan waktu untukmu. Sekarang aku perlu bantuanmu. Kau dan kawan-
  kawanmu ini pergilah mencari nona Cheng In dan Ang Hwa, suruh mereka ke sini, penting sekali. Akan tetapi
  jangan sampai terlihat oleh orang lain, juga jangan diketahui Siansu. takut Siansu marah melihat dalam
  keadaan berjaga aku mau bersenang-senang."
  Gadis penjaga itu cemberut. "Aku di depanmu tapi pikiranmu melayang kepada enci Cheng In dan Ang Hwa!"
  Kun Hong tersenyum. "Eh. manis. Apa kau sudah mulai cemburu?"
  "Iih, siapa yang cemburu?" tukas gadis itu genit.
  "Sudahlah, lekas kau lakukan permintaanku itu. Penting sekali, sekarang juga mereka suruh datang berdua.
  Kutunggu di sini."
  Dengan muka kecewa gadis gadis itu lalu pergi mendayung perahu dan lenyap ditelan gelap malam. Kun Hong
  menanti dengan hati berdebar, mengatur siasat. Apa Cheng In dan Ang Hwa mau membantunya? Apakah dua
  orang gadis itu dapat disadarkan dari pada jalan sesat dan kejahatan yang selama ini menyelubungi kehidupan
  mereka? Ia maklum bahwa pada hakekatnya dua orang gadis muda itu, seperti juga yang lain lain, tidaklah
  jahat dan keji Hanya karena lingkungan mereka yang kotor maka mau tidak mau mereka terbawa juga,
  terpercik kekotoran yang melingkungi mereka. Karena pengaruh Thai Khek Sian. Seperti halnya dia sendiri.
  Dahulu ketika dekat dengan Bu-ceng Tok-ong. Tok-sim Sian-li kemudian dekat dengan Thai Khek Sian, ia
  mempunyai sifat tak perdulian. Dahulupun mata hatinya terbuka dan ia mengakui bahwa perbuatan-perbuatan
  mereka itu rendah, kotor, dan busuk. Akan tetapi entah mengapa, ia tidak perduli, malah ia ikut-ikut pula,
  merasa ketinggalan dan bodoh kalau tidak meniru mereka!
  Lama ia duduk melamun dalam gelap setelah mengatur siasat. Dosaku terlalu banyak. Aku harus menebusnya
  di saat ini. Orang-orang kang ouw yang gagah perkasa terancam bahaya, terancam bencana di tempat ini.
  Hanya dia yang tahu akan datangnya bencana itu, bagaimana ia bisa diam saja tidak turun tangan mencegah?
  Baru lamunannya buyar ketika ia melihat sebuah perahu kecil meluncur datang dan terdengar seruan girang
  Ang Hwa.
  "Kun Hong.........!"
  Dua orang gadis cantik itu, Cheng In dan Ang Hwa, melompat ke darat dan Kun Hong menyambut mereka
  dengan senyum, mencekal lengan mereka dengan sikap mencinta. Ia harus bisa mengambil hati mereka kalau
  ia menghendaki mereka mendengarkannya. Ia membawa mereka ke tempat gelap dan di situ mereka bicara
  kasak kusuk lama sekali. Kun Hong membujuk mereka dengan kata- kata halus dan akhirnya ia menang.
  Terdengar kata-katanya terakhir, "Cheng In, Ang Hwa, renungkan baik-baik. Apa harapan hidupmu kalau kau
  selamanya seperti sekarang ini, menjadi barang permainan Thai Khek Sian, menjadi hambanya dan membantu
  segala perbuatannya yang busuk? Sekara ng kalian masih terlindung oleh kekuasaan Thai Khek Si an, akan
  tetapi ingat, dia sudah tua sekali dan tak lama kemudian kalau dia sudah mati. apa yang akan kau hadapi? Tak
  lain kutuk dan permusuhan para orang gagah. Nama kalian akan rusak dan hina untuk selamanya!"
  "Kun Hong.........!" Cheng In terisak. Gadis yang biasanya berhati keras ini mulai lumer dan mulai menangis. Juga
  Ang Hwa terisak mengingat nasib demikian buruk kelak menimpanya.
  "Aku tidak menakut-nakutimu. Kalian ini gadis gadis baik terjerumus ke dalam lumpur kehinaan. Cheng In, Ang
  Hwa. kalau kalian masih ingin keluar dari kehinaan, masih belum terlambat Sekaranglah waktunya."
  "Apa......... apa maksudmu? Kenapa kau bicara seganjil ini? Apa kau tidak membantu gurumu.........?" tanya dua
  orang gadis itu saling sambung.
  "Dengar baik-baik. Keadaankupun tiada bedanya dengan kalian. Aku terseret ke jurang kesesatan oleh mereka,
  maka sekaranglah saatnya aku menebus dosa-dosaku. Cheng In dan Ang Hwa, tahukah kau bahwa Thai Khek
  Sian bersama kaki tangannya sedang merencanakan kekejian luar biasa, yaitu dalam pesta ulang tahunnya ia
  hendak membinasakan semua tokoh kang ouw? Ia telah bersekongkol dengan orang-orang Mongol untuk
  membasmi semua orang gagah agar kelak kalau tentara Mongol bergerak ke selatan, mereka tidak akan
  menemui banyak perlawanan."
  Baik Cheng In maupun Ang Hwa tidak perduli dengan berita ini, mereka sudah biasa mendengar kekejian-
  kekejian yang dilakukan oleh golongan mereka. Malah mereka memandang heran kepada Kun Hong.
  "Habis kau mau apa?" tanya Ang Hwa penuh kesangsian
  "Kita harus halangi ini! Mari kita perlihatkan kepada dunia bahwa kita masih dapat memperbaiki diri. Bantulah
  aku, adik-adikku yang manis. Bu-ceng Tok-ong sedang merencanakan untuk membunuh semua undangan
  dengan arak beracun. Aku hendak menghalanginya, dia melawan dan akhirnya dia tewas oleh senjatanya
  sendiri."