Pemberontakan Taipeng - 41

Diposting oleh Saiful bahri dari situbondo pada 12:07, 01-Jul-16

Cerita Silat | Pemberontakan Taipeng | Karya Kho Ping Hoo | Pemberontakan Taipeng | Cersil Sakti | Pemberontakan Taipeng pdf

Boma Gendeng 1 Suka Suka Cinta Pedang Bintang Dewa Linglung 1 Raja Raja Gila Dewi Sri Tanjung 1 Jasa Susu Harimau Dewi Ular 30 Tumbal Cemburu Buta

rid. Murid pertama adalah Koan Jit yang menjadi amat lihai dan mewarisi kejahatan gurunya, menjadi seorang tokoh yang ditakuti seperti iblis saking jahat, cerdik dan lihainya.
  Murid kedua adalah Ong Siu Coan yang sekarang menjadi pemimpin barisan pemberontak Tai peng yang amat terkenal dan telah menguasai seluruh Nan-king dan daerahnya itu. Murid ketiga adalah Gan Seng Bu. ternyata tiga orang murid itu mempunyai watak yang berbeda-beda. Koan Jit menjadi seorang yang jahat dan palsu di samping kelihaiannya. Ong Siu Coan menjadi seorang yang memiliki.ambisi besar ingin menjadi kaisar. Gan Seng Bu berwatak sederhana dan gagah perkasa. Biarpun gurunya seorang datuk sesat, namun dia sendiri menentang kejahatan dan menjadi seorang pendekar, bahkan pejuang yang gagah perkasa. di dalam perjuangannya ini, dia menyelamatkan Sheila yang kemudian menjadi isterinya.
  Ketika Koan Jit menyusup dan mengekor kepada bangsa asing kulit putih, menjadi seorang perwira dari orang barat, dia menggunakan muslihat untuk mendatangkan Gan Seng Bu dan Sheila yang sedang mengandung ke markas pasukan barat. Di sini Gan Seng Bu ditangkap dan dibujuk oleh orang kulit putih untuk membantu mereka seperti Koan Jit. Namun Gan Seng Bu tidak sudi dan akhirnya dia oleh orang kulit putih diserahkan kepada Koan Jit. Koan Jit mengajak sutenya itu mengadu kepandaian, Gan Seng Bu melawan, namun ketika Koan J it terdesak, dia mempergunakan pistol dan tewaslah Gan Seng Bu di tangan Koan Jit yang licik itu.
  “Demikianlah, anakku. Aku membawa jenazah ayahmu ke dusun dan engkau sudah melihat kuburannya,” kata Sheila menghentikan ceritanya. Han Le mengangguk-angguk.
  Kuburan itu sudah dikenalnya dengan baik, Kuburan ayahnya dan dalam benaknya, kalau dia mengingat tentang ayahnya, yang nampak hanyalah gundukan tanah itu saja.
  “Lalu bagaimana matinya Koan Jit manusia jahanam itu, ibu?” tanyanya dengan suara mengandung kebencian.
  Sheila menarik napas panjang. “Tuhan agaknya tidak menghendaki agar kita membalas dendam kematian ayahmu, Henry. Entah apa sebabnya, aku mendengar berita bahwa manusia jahanam itu telah berubah sama sekali. Dia bahkan membantu para pejuang, dan demi menyelamatkan para pimpinan pejuang yang tertawan, dia rela mengorbankan nyawanya. Dia tewas dalam usahanya yang berhasil, yaitu membebaskan para pimpinan pejuang yang tertawan musuh.”
  “Jadi kalau begitu, di antara tiga orang murid dari kakek Thian-tok itu, yang dua orang telah tewas dan tinggal seorang lagi yang bernama Ong Siu Coan itu, ibu? Kalau begitu, dia adalah paman guruku. Kaukatakan tadi bahwa dia telah menjadi pemimpin pasukan besar yang berhasil?”
  “Dia juga jahat sekali !” Sheila berkata. “Tahukah engkau siapa pasukan yang telah membuat kita lari mengungsi, bahkan yang hampir mencelakakan kita pada waktu kita lari mengungsi itu? Dan siapa pula orang- orang yang telah menyerang gurumu sehingga terluka? Mereka itu adalah pasukan Tai Peng, dan orang-orang yang menyerang gurumu itu adalah tokoh-tokoh Tai Peng, anak buah dari Ong Siu Coan itulah !”
  “Ahhh ...... !” Anak itu tebelalak, merasa kecewa sekali.
  “Kalau begitu, dua orang suheng dari mendiang ayah itu jahat semua, yang baik hanya ayah seorang, sayang dia telah meninggal dunia.”
  “Benar, anakku. Akan tetapi, sekarang ada suhumu, dia seorang yang berilmu tinggi dan berwatak baik sekali, Henry.
  Jadikanlah dia sebagai contoh, baik dalam belajar ilmu silat maupun wataknya. Bukankah kedua orang suhengmu itu juga menjadi pejuang-pejuang dan pendekar-pendekar yang gagah perkasa? Engkau bahkan harus dapat melebihi mereka, anakku, maka belajarlah yang giat dan taati semua perintah gurumu.”
  “Tentu saja, ibu, karena di dalam dunia ini hanya ada dua orang yang kutaati dan kucinta sepenuh hatiku, yaitu ibu sendiri dan suhu. Bagiku, suhu merupakan pengganti ayah dan aku selalu mentaatinya.”
  Sheila diam saja akan tetapi merasa betapa ada kebahagiaan menyelinap di dalam hatinya karena penyataan anaknya ini.
  Menjadi pengganti ayahnya ! Dan iapun memejamkan kedua matanya, melamun dan membiarkan semangatnya melayang-layang.
  Langit di barat itu merah sekali. Mugkin inilah yang menyebabkan bukit di mana tinggal Bu Beng Kwi itu olehnya diberi nama Bukit Awan Merah. Setiap senja, langit di barat menjadi merah seperti terbakar, membentuk segala macam bentuk aneh-aneh, dan warna merah itu dihias warna perak dan kebiruan di sana- sini, membat pemandangan yang luar biasa indahnya.
  Bu Beng Kwi seringkali menikmati senja di puncak uang amat sunyi, dimana terdapat lapangan rumput dihias batu-batu hitam menonjol di sna-sini. seperti biasa, dia duduk di atas sebuah batu yang halus dan datar, menghadap ke barat. Akan tetpi sekali ini, dia tidak menikmati keindahan matahari terbenam seperti biasanya, melainkan duduk melamun. telinganya masih berdengung dan suara Sheila dan puteranya masih bergema di dalam telinganya, yaitu percakapan yang dilakukan ibu dan anak iru beberapa hari yang lalu. Dan sejak mendengar percakapan itu, Bu Beng Kwi lebih banyak termenung di puncak ini, seperti orang kehilangan semangat. dan seperti juga hari-hari kenarin, setiap kali duduk termenung seorang diri di tempat itu, dia seperti orang linglung, bicara sendiri dan kadang-kadang mengepal tinju dan memukul tanah di depannya ! “Harus, aku harus !” Dia menggumam. “Soalnya hanya ada dua, gidup atau mati ! Hasil atau gagal ! Aku tidak boleh menjadi seorang pengecut selama hidupku!”
  Demikianlah, Bu Beng Kwi bicara seorang diri, tanpa memperhatikan pemandaangan yang amat indahnya di kaki langit sebelah barat saja. Akan tetapi ketika ada bayangan orang mendaki buki menghampirinya, dia dapat melihatnya dan seketika sikapnya berobah. Dia cepat membereskan pakaiannya, duduk di atas batu bersila dan bersikap biasa, walaupun dia merasa betapa jantungnya berdebar keras sehingga terdengar nyaring berdegup di telinganya.
  “Taihiap, kenapa masih di sini? Sejak tadi makanan malam telah saya persiapkan, juga kemarin malam dan kemarin dulu malam, akan tetapi tauhiap selalu tidak menyentuh makanan itu. Sudah beberapa hari tauhiap tidak pernah makan. kenapakah, tauhiap? Apakah engkau masih sakit ?”
  “Tidak, nyonya. Saya sudah sembuh.”
  Sheila datang mendekat, dan duduk di atas batu yang lebih rendah tak jauh dari batu yang diduduki Bu Beng Kwi. Sejenak wanita itu nampak canggung dan ragu, akan tetapi ia selalu menelan ludah dan memaksa diri menyatakan isi hatinya.
  “Taihiap, maafkan kelancanganku, akan tetapi ...... aku merasa seolah-olah taihiap selalu menjauhkan diri dariku. Karena itu, timbul keraguan di hatiku, timbul perasaan takut kalau-kalau aku telah melakukan hal-hal yang tidak menyenangkan hatimu. Taihiap, katakanlah terus terang, apakah kehadiranku di tempat ini sebetulnya tidak kaukehendaki? Apakah ...... apakah sebetulnya taihiap membenci aku? Katakanlah terus terang, kebetulan kita mendapat kesempatan untuk bicara berdua di sini.”
  Semua ini memang sudah lama berkecamuk di dalam hati Sheila dan baru sekarang ua kemukakan karena ia merasa tidak tahan tersiksa oleh dugaan-digaan ini.
  “Dijauhkan Tuhan aku dari perasaan tidak senang, apalagi benci terhadap dirimu, Gan-toanio.”
  “Kalau begitu, kenapa engkau selalu menjauhkan diri dariku, seperti ...... seperti orang yang tidak suka bertemu denganku, taihiap? Padahal aku ...... aku ...... selalu berusaha untuk menyenangkan hatimu ...... ”
  Bu Beng Kwi turun dari atas batu itu dan diapun duduk berhadapan dengan Sheila, di atas batu yang rendah dan lebat. sepasang matanya yang mencorong sinarnya itu menatap wajah Sheila penuh selidik, akn tetapi Sheila juga memandang kepadanya, tanpa ragu-ragu dan tidak menundukkan pandang matanya. sejenak mereka saling pandang dan terdengar Bu Beng Kwi berkata, suaranya gemetar.
  “Gan-toanio, harap engkau suka berterus terang kepadaku. kenapa engkau ...... demikian baik kepadaku? Engkau bukan saja menyerahkn anakmu dengan tulus ikhlas, akan tetapi engkaupun bekerja mati-matian di sini untuk menyenangkan hatiku. bahkan ketika aku erluka, engkau ...... ah, tidakkuat aku menerima semua kebaikan itu. Kenapakah, toanio? Kenapa engkau lakukan semua kebaikan itu? Kenapa engkau begini baik terhadap diriku?”
  Sheila menghadapi pertanyaan ini dengan tabah dan iapun memandang dengan senyum dan wajah berseri, “Taihiap, mula-mula aku sendiripun tidak mengerti. Mula-mula karena aku berterima kasih kepadamu bahwa engkau telah menyelamatkan kami dari orang-orang Tai Peng itu. Kemudian, setelah berada di sini, aku merasa berterima kasih dan kagum kepadamu, dan akupun mersa amat iba kepadamu, taihiap. Rasa iba ini yang membuat aku mau melakukan apa saja untukmu karena aku ...... aku sayang kepadamu, aku suka kepadamu, aku kasihan kepadamu dan aku cinta kepadamu, taihiap.” Sebagai seorang wanita barat, walaupun merasa kikuk, Sheila tentu saja jauh lebih terbuka daripada wanita umumnya, dan dalam hal cinta mencinta, ia merasa berhak pula mengemukakan isi hatinya dengan terus terang.
  Ucapan terakhir itu seperti pukulan yang menghantam kepala Bu Beng Kwi. Dia tersentak dan kepalanya terdorong ke belakang, kedua matanya dipejamkan dan ada rintihan halus keluar dari dadanya, tertahan di kerongkongannya. sejenak dia memejamkan mata dan tidak menjawab. Sheila memandangnya dan wanita ini merasa terharu.
  “Taihiap, aku adalah seorang wanita asing, berkulit putih dan myngkin engkau berjiwa pejuang benci kepada kulit putih. Akan tetapi, kasihanilah aku karena di tempat ini aku menemukan kebahagiaan yang selama ini tak pernah kurasakan semenjak suamiku tewas. Aku merasa bahwa