Sepasang Mata Iblis - 23

Diposting oleh Saiful bahri dari situbondo pada 23:54, 20-Nov-14

Cerita Misteri | Sepasang Mata Iblis | by Abdullah Harahap | Sepasang Mata Iblis | Cersil Sakti | Sepasang Mata Iblis pdf

Mahkota Cinta - Habiburrahman El-Shirazy Josep Sang Mualaf - Fajar Agustanto Namaku Izrail ! - Atmonadi Keluarga Flood - Tetangga Menyebalkan - Colin Thomphson Kumpulan Dongeng Anak

Kemana gerangan Supandi. larut malam
  begini?
  Sambil memikirkan hal itu, ia nnenutupkan
  pintu kembali, dan mcmbiarkannya tidak terkunci.
  ia kemudian menyalakan lampu yang telah
  padam, meletakkannya di atas meja tamu yang
  rendah, dan duduk di sebuah kursi rotan berkaki
  pendek. Diam. Menunggu.
  000
  ROSELA tidak dapat memicingkan mata
  sekejappun. Mungkin karena pengaruh kopi kental yang ia minum ketika tadi ia membaca sebuah
  novel pop yang ia bawa dari kota, di ruang baca di
  wawali. Padahal pak Sasmita sudah memperingatkan
  "Sebaiknya juragan tidur saja. malam sudah
  larut. Biar saya sendiri yang akan menunggu sampai Tuan pulang."
  Tetapi novel itu terlalu asyik untuk dilewatkan.
  Suaminya memang tahu selera Rosela. Ia selalu
  membelikan novel-novel pilihan untuk pengisi
  waktu sang isteri yang teramat sering ia tingggal
  sendirian di rumah. Memang Rggela sering mengikuti suaminya yang antropoloog itu berkeliling keberbagai daerah. ke luar masuk tempat-tempat
  peninggalan kuno, melihat bangunan-bangunan
  masa silam, benda-benda peninggalan bersejarah.
  sekedar untuk dapat menyesuaikan diri dengan
  l38
 
  http://cerita-silat.mywapblog.com

Sepasang Mata Iblis

 
  tugas, tepatnya jalan hidup sang suami yang sangat
  tertarik terhadap ilmu purbakala itu. Namun tidak
  selamanya apa yang menarik hati suaminya, juga
  menarik hati Rosela. Sebagai misal saja: suaminya
  lebih suka menekuni buku-buku lama. sedangkan
  Rosela menghabiskan waktu senggang dengan
  membaca novel-novel pop.
  Sebagai seorang ilmuwan yang pengabdi, gaji
  suaminya sebagai seorang dosen di berba gai fakultas tidaklah seberapa. Namun dari hasil perjala nan
  yang mereka sering lakukan. Rosela berusaha
  memisahkan beberapa buah barang antik yang
  dikumpulkan suaminya. Barang-barang itu ia jual
  dengan harga yang lumayan. Sayang suaminya
  tidak menyukai perbuatan Rosela itu.
  'Kalau kau butuh, Ella. kau tinggal minta."
  suaminya sering membujuk.
  Dan suaminya memang mengatakan yang
  sebenarnya. Baginya, uang tidak menjadi persoalan. Ia merupakan seorang pewaris tunggal
  sejumlah harta kekayaan berupa sawah dan
  perkebunan di kampung asal kelahirannya oleh
  karena itu Rosela pun tahu diri.
  "Jangan terlalu sering menjual harta warisan
  itu, sayang. Biarkanlah semua itu utuh sebagai
  bekal kita di hari tua bekal untuk anak-anak kita.
  sebagaimana leluhurmu meninggalkannya untuk
  bekal keturunan mereka..."
  Anak-anak! Wahai, impian kosong belaka,
  pikir Rosela dengan pikiran gundah seraya
  139
 
  http://cerita-silat.mywapblog.com
Sepasang Mata Iblis

  menatap langit-langit kamar yang sudah lapuk
  dimakan usia. Enam tahun sudah mereka
  berumah tangga. Dan entah berapa tahun lagi. keinginan yang tidak terbendung itu akan dikabulkan
  Tuhan. Keponakan Rosela memang banyak dan
  sering menginap di rumah mereka, di kota. Akan
  tetapi, anak-anak yang manis dan lucu-lucu itu,
  pada waktunya toh akan kembali ke orang tuanya
  masing-masing, Dan selalu Rosela kembali merasa
  kesepian.
  Ia memejamkan mata yang perih. _
  Apa sebenarnya yang mereka cari dalam hidup
  ini? Kebahagiaan? Untuk Rosela. memang
  jawabannya jelas: ya. Tetapi suaminya? Hendra.
  lebih menyukai pengabdian. Bukan pada keluarga.
  'Tetapi pada ilmu. Sampai kadang-kadang Rosela
  takut sendiri menghadapi suaminya yang sering
  tampak asing di matanya. Terutama setelah
  suaminya berusaha memperdalami ilmu kebatinan, yang katanya akan lebih mendekatkan dirinya
  pada usaha untuk mempelajari lebih banyak
  kehidupan nenek moyang mereka di jaman dahulu
  kala.
  tak jarang Hendra berkata;
  'Konon di antara leluhur. ada yang ahli
  kebathinan. Mengapa aku tidak bisa?”
  Untunglah tugasnya sebagai seorang dosen,
  membuat Hendra tidak punya banyak waktu mendalami ilmu kehathinan itu, dengan ambil
  beberapa misalnya, atau- astaga !- memuja
  140
 
  http://cerita-silat.mywapblog.com
Sepasang Mata Iblis

 
  kuburan keramat! Tetapi masa libur panjang yang
  mereka jalani sekarang, tampaknya membuat
  kesempatan lebih banyak buat Hendra. la mengajak Rosela berlibur ke daerah kelahirannya. Hiruk pikuk kota besar yang membisingkan, tetapi
  mencekik di rumah sendiri. ada kalanya terasa
  membosankan. Oleh karena itu Rosela dengan
  senang hati memenuhi permintaan suaminya, dengan harapan udara pegunungan yang segar bisa
  menambah romantis hubungan mereka yang belakangan ini terasa agak dingin.
  Kenyataannya? '
  Rosela lebih banyak ditinggal sendirian di
  rumah.
  Hendra, dengan meninggalkan mobil di garasi."
  sering pergi berkeliling dengan menunggang kuda
  Katanya untuk mengujungi beberapa orang
  yang terhitung kaum kerabat, tetapi Rosela menduga, pasti mencari ahli kebathinan. Rosela dapat
  merasakan hal itu, ketika kemaren petang ia
  diajak berziarah ke kompleks pemakaman leluhur
  suaminya di puncak bukit. Tempat .itu sangat
  menyenangkan, dengan panorama yang indah kemanapun mata memandang, andai saja tidak ada
  kuburan-kuburan di dekat mereka. Dan beberapa
  di antara makam itu, termasuk makam yang sudah
  berumur seratus tahun, yang oleh Hendra
  dikatakan termasuk makam keramat.
  "Aku bermaksud menjajaki jalan hidup yang
  ditempuh leluhurku," kata Hendra petang itu,
  141
 
  http://cerita-silat.mywapblog.com
Sepasang Mata Iblis

  seraya memandang batu nisan makam satu persatu. Banyak tertulis nama-nama. tanggal-tanggal
  bahkan jabatan almarhum. Rosela masih ingat
  beberapa nama: Puradinata, sudah seratus sebelas
  tahun. hayati, seratus dua tahun. Kusumawanti,
  dalam kurung Ningrum, delapan puluh tahun usia
  makamnya. Beberapa tahun pula umur mereka
  semasih hidup? Ningrum itu misalnya, dan umur
  Pariman, yang konon menjadi leluhur langsung
  dari Hendra, dan konon punya sejarah tersendiri
  semasa hidupnya. Sejarah bagaimana, Rosela
  tidak begitu tertarik untuk mendengarnya, sama
  tidak tertariknya ia pada buku-buku tua suaminya.
  Dan Hendra sendiri tidak suka menceritakan,
  mungkin belum, atau lebih tepat mungkin pikirannya lebih tercurah pada hubungan bathinnya dengan leluhumya itu...
  Rumah tua ini juga punya sejarah sendiri, kata
  Hendra.
  Tentu saja, sering Rosela berpikir. Karena
  rumah ini termasuk rumah peninggalan jaman
  dulu. Usianya pasti sudah lebih dari satu abad.
  dibangun menurut konstruksi bangunan Belanda.
  Ruangan bawah untuk ruang tamu yang luas,
  ruang makan yang sama luasnya. kamar-kamar
  untuk pembantu, dan kamar-kamar tidur serta
  ruang perpustakaan di tingkat atas. Perabotannya
  kebanyakan antik, Rosela kadangkala berhitung-hitung di kepala. Berapa juta rupiah uang yang
  bakal masuk ke kantong kalau saja ia dan
  142
 
  http://cerita-silat.mywapblog.com
Sepasang Mata Iblis

  suaminya tidak sayang untuk melepaskannya. Bangunan itu sendiri, sebagian sudah miring mau
  runtuh. Hendra punya rencana untuk suatu ketika
  memugarnya. Tetapi dipugar atau tidak. dengan
  kondisinya yang sekarang, bangunan tua itu masih
  mampu menampung setengah lusin keluarga
  suami isteri, plus dua atau tiga anak tiap keluarga.
  Dan malam ini, hanya ada keluarga pak Sasmita di bawah. Dan ia sendirian.. di kamar utama
  di tingkat atas. Tiada televisi. Tiada aliran listrik.
  Tiada suara orang mondar-mandir. Sepi. Sunyi
  menyentak Kalau saja Rosela tidak sering mengikuti suaminya mengunjungi tempat-tempat
  keramat, terutama kalau saja ia baru pertama kali
  berdiam di rumah ini, pastilah Rosela tidak akan
  mau berpisah sejengkalpun dari sisi suaminya.
  Sekarang ia sudah merasa terbiasa, dan terutama.
  karena sore tadi, Hendra berkata bahwa ia diundang makan oleh salah seorang penduduk lama di
  balik bukit. Letaknya hampir lima belas kilo, dan
  tidak bisa ditempuh dengan mengendarai mobil.
  'Punggung kuda akan merontokkan pinggulmu
  yang indah," kata suaminya seraya tersenyum.
  "Tetapi kalau kau bersikeras..."
  'tidak. Aku tinggal saja di rumah," potong
  Rosela. 'Asal perginya tidak lama'
  Hendra berjanji akan pulang sebelum jam
  sembilan. Tetapi jam sudah menunjukkan pukul
  dua belas malam lewat beberapa menit ketika
  Rosela naik ke kamar tidur, Hendra belum
  l43
 
  http://cerita-silat.mywapblog.com
Sepasang Mata Iblis