Aku Sudah Dewasa - 23

Diposting oleh Saiful bahri dari situbondo pada 13:09, 03-Sep-14

Novel And Baby Makes Two | Aku Sudah Dewasa | by Dyan Sheldon | Aku Sudah Dewasa | Cersil Sakti | Aku Sudah Dewasa pdf

Solandra - Mira W Pendekar Sejati II - Gan KL Hunger Game 2 - Tersulut (Catching Fire) Topeng Sang Putri - Astrella Tarian Liar Naga Sakti III - Marshall

bakal langsung mengamuk seperti Hurricane Mitch.
  "Cukup," jawabku, meyakinkan dia. "Semuanya baik-baik saja. Sebentar lagi aku akan mendapatkan giroku yang pertama." "Dan bagaimana kabar Shinola?" "Dia juga baik-baik saja." Aku bisa mendengar suara ibuku mendesah. "Charley sedang mengerjakan proyek di Camden," lanjut ibuku. "Menurut kami, dia bisa menjemput kalian berdua dalam perjalanan pulang kapan-kapan, jadi kau bisa makan malam bersama kami di sini. Kalau mau, kau juga boleh menginap di sin i, atau dia bisa mengantarmu pulang ' sesudahnya." Lagi-lagi ironis. Wakm kami masih tinggal bersama dulu, ibuku selalu saja marah-marah dan menerialdku, tapi sekarang, setelah tidak tinggal lagi bersama kami, dia selalu saja menyuruhku datang ke rumah barunya. Duga-anku, dia cuma mau mengecek keadaanku saja. Tahu sendirilah, untuk memastikan bahwa aku tidak memukuli bayjku, memakai .narkoba, atau hal-hal negatif lain sema-camnya.
  "Sebenarnya kami mau saja," dustaku. 'Tapi minggu ini aku sibuk sekali." "Kalau begitu minggu depan." lihat dulu bagaimana keadaannya nanti." Ibuku terdiam selama beberapa detik. Kusangka di* menyerah kalah. Tapi ternyata tidak. Dia justru sedan menyusun kembali kekuatannya.
  Hillary Spiggs berdebam-deham. "Kata Mrs. Mugurdy dia beberapa kali melihat pacarmu datang." Mungkin ada baiknya juga aku jarang keluar. Mrs. Mugurdy mungkin punya kunci supaya dia bisa memeriksa isi flatku ketika aku sedang pergi, untuk memastikan bahwa aku tidak memorakporandakan tempat ini.
  'Mrs, Mugurdy seharusnya juga mengurus urusannya saja sendiri," tukasku sengit.
  "Dia bilang pacarmu kelihatannya sangat baik," kata ibuku.
  Aku tidak percaya mendengarnya. Mungkin dia rindu padaku atau mungkin hanya sekadar rindu pada flatnya tapi ibuku sudah siap berdamai denganku. Inilah caranya menyerah, Mrs. Mugurdy pasti melaporkan padanya bahwa Les ternyata bukan tipe cowok yang memakai anting-anting atau menunggang sepeda motor, tapi cowok yang memiliki mobil bagus, berpakaian rapi, dan sangat sopan. Hillary Spiggs lega.
  Tapi aku tidak mau terperangkap dalam jebakannya dan mengatakan sesuam tentang Les. Aku tahu bagaimana ibuku. Kalau aku menanggapi perkataannya barusan, dalam tempo lima menit dia pasti sudah langsung tahu siapa nama cowok itu, alamat rumahnya, dan nomor jarnjn sosialnya.
  Jadi aku hanya berkata, "Hm..." n . ^ "Kuharap dia ikut membiayai keperluan aoakmu, buku.
  Xku diam saja.
  desaknya "Apakah dia memberimu uang untuk keperluan anakmu?' 6 lcUk Kalau aku mengiyakannya, aku tidak akan bisa memi uang lebih darinya untuk keperluan yang tidak terd fapi bila kujawab tidak, dia akan lupa pada pujian ^ Mugurdy tentang betapa baiknya Les dan bakal memata* matai tempat ini untuk mengkonfrontir Les bila di" datang nanti.
  'Tentu saja," aku meyakinkan dia. "Dia kan bukan orang tolol." "Kalau im aku sudah tahu," sergah ibuku.
  Sunyi Sepi Sendiri AKU mulai merasa sedih saat bulan Desember tiba.
  Tiba-tiba saja, semua orang sibuk sekali. Sekarang, setelah menjadi manajer di entah planet mana nun jauh di sana, Les semakin jarang punya wakm luang dibandingkan sebelumnya. Shanee mulai berpacaran dengan cowok te-man kerjanya di toko, jadi dia juga tidak punya waktu kgi untukku. Charlene, yang selama ini memang tidak pernah punya wakm luang, sekarang semakin tidak punya wakm lagi karena sibuk mengorganisir bazar amal di sekolah untuk menyambut Natal. Dara sedang berada di New York.
  Nenekku, yang biasanya menelepon setiap satu atau dua hari sekali, sekarang sudah seminggu. tidak pernah lagi menelepon. Masa Natal adalah masa panen pesanan selimut tambal, jadi dia pasti sibuk sekali. Bahkan Hillary juga terlalu sibuk untuk sermg-sering mengecekku. Semua im membuatku merasa sangat kesepian, dengan hanya Shinola saja yang bisa diajak berbicara, hari derfli hari Dan hanya mengerjakan urusan-urusan yang berkaitafl dengan Shinola.
  Dan, seolah im semua belum cukup, keadaanku sekarang ini. juga tidak begim baik.
  Giro tunjanganku belum juga datang, dan aku mendapat surat dari kantor urusan perumahan yang mengingatkan Mrs. Spiggs bahwa behau masih menunggak uang sewa rumah. Aku hampir tidak punya uang lagi untuk mem-bayarnya. Aku sudah menghamburkan uang cukup banyak untuk membeli dua gaun beledu yang mahal sekali, untuk dipakai saat Natal nanti. Meski mahal, menurutku itu bukan masalah, karena kami akari mengenakannya untuk Les. Selain untuk membeh gaun-gaun im, aku tidak tahu lagi ke mana larinya semua uangku. Yang jelas, uang mengalir seperti air dari kantongku. Padahal, aku tidak bermewah-mewah.
  Selama ini saja aku bertahan hidup dengan makan makanan murah, seperti kacang panggang Kwik Save No Frills dan roti tawar Kwik Save No Frills. Sudah satu bulan aku tidak pernah lagi minum Coca-Cola.
  Untuk menghemat uang.
  Aku masih memutar otak mencari jalan untuk membayar tekening telepon wakm perawat di ldinik tumbuh kembang bayi memarahiku karena bokong Shinola merah-merah dan lecet-lecet sebab popoknya jarang diganti. Bia bahkan tidak memberiku kesempatan unmk menjelaskan bahwa alasan mengapa bokong Shinola terlihat seperti pisfga adalah karena aku bangkrut hingga terpaksa menghemat pemakaian popok sekali pakai. Dia terus saja mengoceh, membuatku merasa bersalah.
  "Kahan para ibu muda sepertinya menganggap bayi sebagai boneka," geramnya gusar. "Padahal kalau kaki bayi kalian patah, kahan tidak akan bisa memasangkannya "agi seperti memasang kaki boneka yang Sehari setelah itu, aku menemui petugas di kantor perumahan. Orang itu memiliki wajah kaku yang sepertinya tidak pernah tersenyum. Menanggapi permohonanku memiliki flat sendiri, dia malah berkata bahwa aku toh bukan tunawisma atau sangat membutuhkan rumah, bukan? Jadi, karena menurutnya aku tidak terlalu butuh, dia menempatkan namaku di urutan paling bawah. Dia juga berpesan untuk menghubunginya bila simasiku berubah.
  "Maksud Anda, menelepon Anda bila saya mati, begitu?" sergahku.
  "Semacam itulah." Setelah menemui petugas kantor perumahan, aku langsung pulang dan menangis. Aku terenyak di sofa sambil masih mengenakan jaket dan memangku Shinola yang mengisap jari tanganku dan menangis. Aku benar-benar berhatap Shanee mau datang lagi ke rumahku seperti dulu. Kami akan membeli sekantong keripik dan camilan lain, lalu nonton video dan bergadang semalam suntuk hanya untuk mengobrol. Tapi, pikiran tentang video malah membuatku menangis semakin keras. Selama beberapa menit aku merasa sangat mar ah. Begitu marahnya- sampai aku merenggut boneka jerapah Shinola yang menusuk-nusuk bokongku dan melemparkannya ke pesawat televisi.
  Tapi aku tidak tahu aku marah pada siapa. Bukan pada Shanee. Dan jelas bukan pada Les. Maksudku, bukan salah Les bila dia begitu hebat dalam pekerjaannya hingga diangkat menjadi manajer termuda di negeri ini, mungkin bahkan di seluruh dunia. Bukan salahnya bila dia dipin-dahkan ke cabang Finsbury Park. Bukan salahnya Hillary tidak meninggalkan cukup uang untuk bertahan hidup. Rasanya aku bisa mendengar Hillary Spiggs berkata, 'Tapi 914.
  gara-gara dia kau hamil." Saat im, aku tahu aku marah pada siapa.
  Bisa kulihat sekarang bahwa Hillary memang merenca-nakan semua ini. Dia tahu bagaimana rasanya punya bayi. Betapa beratnya mengurus anak sendirian tanpa ada orang lain yang membantumu atau menjaganya sesekali selama beberapa jam. Dia juga tahu betapa banyaknya biaya yang harus dikeluarkan untuk membeli semua keperluannya. Dia tahu wakm teman-temanku akan sangat tersita karena tugas-tugas sekolah sehingga mereka tidak akan punya waktu untukku. Dia memang menginginkan semuanya be-rantakan. Dia menunggu aku datang dan memohon-mohon agar dia kembali. Dia menunggu aku datang dan berkata bahwa dia benar dan aku salah. Tapi aku tidak akan melakukannya. Aku akan menguatkan diri dan maju terus. Yang kualami sekarang ini hanyalah kemunduran sementara, im saja. Kemunduran sementara yang .tidak berarti. Sam-satunya hal yang dapat menghancurkan ren-canaku hanyalah bila aku dan Les putus. Dan im tidak akan pernah terjadi.
  Tapi fldak punya uang adalah masalah besar. Padahal, aku harus membelikan hadiah Natal untuk sembilan orang, bdum termasuk Les dan Shinola. Aku tidak mau membuat Hillary tahu keuanganku morat-marit bila aku datang tanpa membawa hadiah apa pun.
  Aku mengambil sebutir Rolo lagi dari bungkusannya. Sebenarnya aku harus memakannya pelan-pelan, karena ini makanan istimewa. Semacam hadiah yang tidak terduga dari Tuhan. Ceritanya begini: tadi aku pergi ke kios koran dan majalah untuk membeli sekotak korek api karena Panantik api utama di kompor tidak berfungsi. Karena malas menaruh Shinola dalam kereta dorong, aku hanya menggendongnya saja ke. kios im. Kiosnya penuh pe-ngunjung dan, seperti biasa, Shinola merengek-rengek. Aku berusaha keras menghiburnya selagi kami mengantre untuk membayar dengan cara menunjukkan berbagai ma-cam permen yang dijual di konter.
  Kuguncang sekotak Maltesers. "Lihat," kataku. "Apa itu, Shinola?" Shinola tidak suka Maltesers.
  Kuambil sebungkus Smarties dan kuguncang-guncang. Shinola juga tidak suka Smarties.
  Aku baru saja mengambil sebungkus permen Rolos ketika seorang wanita tua muncul dari bagian belakang kios dan bertanya sekarang giliran siapa.
  Wanita yang berdiri di belakangku mendorong pung-gungku. "Giliranmu." Iftr "Saya mau beli sekotak korek api," kataku, lalu mema-sukkan tanganku ke saku untuk mengambil uang.
  Baru setelah meninggalkan kios im aku sadar bahwa pada saat yang sama sewaktu aku merogohkan tangan untuk mengambil uang, aku tanpa sengaja mefTjatuhkan permen Rolos im di antara aku dan Shinola.
  Kupandangi permen im sekarang seperti aku meman-danginya tadi. Dengan penuh rasa heran.
  Wakm itu,- aku bertanya-tanya dalam hati apakah aku harus mengembalikan permen im.
  Sekarang, aku malah bertanya-tanya dalam hati apakah aku bisa melakukannya lagi.
  Tidak butuh wakm lama bagiku untuk merencanakan bagaimana aku bisa melakukannya lagi. Dan lagi. Dan lagi.
  Asal tahu saja nih, melakukan hal itu ternyata jauh lebih mudah daripada menarik botol susu dari mulut bayi yang sedang kelaparan. Apalagi bila kau membawa bayi yang bisa membantumu.
  Dalam tempo tiga menit saja, aku langsung tahu paling mudah mengutil barang dari pasar swalayan.
  Dan karena sekarang menjelang Natal, jenis barang yang bisa dicomot juga banyak sekali. Hillary selalu berkeluh kesah setiap tahun karena pasar swalayan selalu mengubah letak barang jualan mereka untuk memberi tempat pada barang-barang yang hanya dijual pada masa Natal. "Di mana sih mereka meletakkan telur?" begim dia akan berteriak. "Mengapa tidak diletakkan di tempat biasa saja?" Tapi, lorong-lorong yang penuh berisi barang tambahan seperti hadiah kecil dan cokelat adalah jawaban doa-doaku. Bagiku, im bagaikan surga belanja sekali jalan "yang menyenangkan.
  Aku sangat berhati-hati, tenm saja. Aku jelas tidak mau tertangkap basah mengutil di pasar swalayan.
  Hillary Spiggs bakal ngamuk berat bila cucu perempuannya dijebloskan ke balik jeruji besi. Dia mungkin juga tidak bakal senang bila aku dipenjara. Salah sam kekurangan menjadi anak enam belas tahun yang belum pernah terpikirkan olehku kmgga saat ini adalah bahwa sekarang aku bisa dipidana.
  Shinola dan aku selalu pergi ke toko-toko langganan kimi. Semua orang di sana kenal kami karena aku selalu mengobrol dengan para kasir tentang Shinola, keadaan GHca, dan hal-hal semacam im. Hanya im satu-satunya ^empatanku mengobrol dengan orang dewasa, selain ^"gan Les dan sesekali mengobrol di telepon dengan Shanee atau ketabat dekat perempuan. Dalam perhitung-anku, mereka tidak mungkin mengawasi aku karena mereka kenal padaku. Paling-paling mereka akan berpilrir, oh im dia si ibu muda dengan bayinya yang lucu, dan tidak akan menaruh kecurigaan sedikit pun. Apalagi, karena aku memang selalu membeli sesuam. Dengan begitu, kalau toh aku kepergok mengutil, mereka akan percaya padaku bila kubilang bahwa im tidak disengaja. "Oh, Tuhan!" aku akan memekik. "Aku lupa sama sekali pada barang im Ternyata jatuh dan tertutup selimut bayi." Dan kami tidak pernah pergi ke toko yang sama dua kali berturut-turut Kami menyebar ke toko-toko lain.
  Dalam wakm kurang dari satu minggu, aku sudah berhasil mendapatkan hampir semua hadiah yang kubu-tuhkan. Cokelat untuk Nenek dan anak-anak Charlene, aftershave lotion untuk para lelaki, minyak mandi untu