Strangers - 58

Diposting oleh Saiful bahri dari situbondo pada 12:09, 22-Okt-14

Cerita Cinta | Strangers | by Barbara Elsborg | Strangers | Cersil Sakti | Strangers pdf

Hilangnya Suzumiya Haruhi - Tanigawa Nagaru Ketika Flamboyan Berbunga - Maria A Sardjono Fade into You - by Kate Dawes Fade into Me - Kate Dawes Fade into Always - Kate Dawes

acuni, ditusuk, terkubur dalam gempa bumi dan kemudian tenggelam oleh gelombang pasang berikutnya. Dia mulai bergerak melewati Ethan dan kemudian berubah pikiran. Kate tidak perlu menamparnya untuk membalas perbuatannya.
  "Kau tahu, Mr. Silver, aku senang aku tidak ada di dalam duniamu jika itu diisi dengan orang-orang sepertimu, orang-orang yang tidak peduli tentang orang lain selain diri mereka sendiri, orang yang akan berbohong dan menipu untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Tidakkah kau bahkan peduli apa yang surat kabar cetak adalah kebenaran?"
  Ethan tertawa singkat. "Tapi mereka memang mencetak kebenaran." Kate meradang. "Aku ingin tahu apakah mereka akan tertarik pada kenyataan bahwa kau ingin memakai pakaian dalam wanita?"
  Kate merasakan kepingan kecil kesenangan karena menghapus senyum dari wajah Ethan.
  "Itu gila."
  "Aku tidak bodoh. Mengapa kau hanya ingin sampel dalam ukuran besar? Aku melihat caramu menyentuh barang-barangku dan sorot matamu."
  Ethan membuka mulutnya. Tapi Kate berbicara lagi sebelum Ethan bisa bicara.
  "Tapi aku bukan orang jahat. Aku tahu yang benar dari yang salah. Aku tahu bagaimana menyimpan rahasia. Aku mungkin bukan apa-apa dalam sudut pandangan duniamu tapi aku pantas mendapatkan rasa hormat seperti halnya orang lain. Dalam hidupku, aku belum pernah kejam pada siapa pun seperti kau kejam padaku." Kate berjalan pergi.
  ***
  "Keluar dari kamar mandi, Charlie." Jody terus menggedor pintu tapi Charlie tidak akan keluar sana sampai ia memakai pakaian kembali. Dia berpakaian cepat, berusaha mencari tahu apa yang baru saja terjadi. Dari mana sih Kate datang? Charlie hampir tidak pernah bisa mempercayai matanya. Karena itulah ia berdiri di sana melongo seperti orang idiot saat melihat Kate.
  Kate.
  Oh sial.
  Ya Tuhan, mata Kate ketika ia melihatnya dan Jody. Charlie duduk di tepi bak mandi, kepalanya di tangannya, mencoba untuk berpikir.
  "Charlie, buka pintu. Aku punya sesuatu yang ingin aku tunjukkan." Bagaimana Kate bisa masuk ke suite?
  "Charlie, keluarlah. Berbaringlah telungkup di tempat tidur dan aku akan menunjukkan padamu apa yang bisa kulakukan dengan seteguk bourbon."
  Semuanya mulai masuk akal. Charlie telah dipermainkan oleh seorang ahli. Dua orang ahli. Semua permainan dengan ceri-ceri sialan itu. Dia dijebak dengan sempurna. Itu semua dilakukan untuk menembus pertahanannya. Ceri sialan. Pasti Ethan yang memberikan kunci pada Kate. Bagaimana lagi caranya dia bisa masuk? Charlie menggertakkan gigi saat ia berpikir bagaimana Jody dan Ethan telah memanuver dirinya ke dalam situasi ini. Itulah apa yang mereka telah bicarakan saat Ethan menarik Jody ke samping, bagaimana mengatur semua ini. Jalang pembohong.
  Charlie memikirkan tentang wajah Kate saat ia berdiri untuk beberapa momen mengerikan di ambang pintu. Beberapa detik membentang menjadi jam. Dia melihat goresan panjang di pipi Kate, dan menyadari ia yang melakukan itu ketika ia melemparkan tasnya, tapi yang jauh lebih buruk adalah rasa sakit di mata Kate. Kate menyakitinya, tapi Charlie seharusnya tidak balas menyakitinya. Dia tidak akan menyakiti Kate seperti ini.
  "Charlie, apakah kau pernah mencoba cock ring (sejenis sex toys)?"
  Lebih parahnya lagi, seakan ada cacing picik kecil menggerogoti dirinya. Bagaimana jika Kate telah mengatakan yang sebenarnya? Bagaimana jika itu bu kan dia yang bicara pada pers? Bagaimana Kate bisa m emiliki keberanian untuk kembali dan menghadapinya s etelah semua hal mengerikan yang ia katakan pada Ka te, kecuali Kate tidak bersalah? Dan jika Kate tidak bers alah, apa yang baru saja Charlie lakukan?
  "Charlie? Apa kau baik-baik saja?"
  Charlie berdiri dan membuka pintu. Jody berdiri di sana, masih telanjang, tersenyum ke arahnya, dengan gigi yang dikikir, rambut dicat, payudara yang terlalu bundar, terlalu kencang, terlalu sangat sempurna. Senyumnya terhenti saat melihat wajah Charlie.
  "Ada yang tidak beres?" Tanya Jody.
  "Bagaimana kau bisa mengatur waktunya begitu tepat?"
  "Waktu apa?"
  "Melakukan seks denganku, dasar jalang manipulatif." Lanjut Charlie kembali ke kamar tidur.
  "Jangan marah. Ayo ke tempat tidur," kata Jody.
  "Enyahlah." Lampu samping tempat tidur baru saja melewatkan kepala Charlie saat ia berjalan keluar. Yang bisa ia pikirkan adalah Kate.
  ***
  Kate berjalan ke apartemennya dari stasiun Greenwich, para pasangan bahagia bergegas lewati berjalan sambil bergandengan tangan. Kate mendidih dengan kemarahan, subjek kemarahannya berubah bersamaan dengan setiap beberapa meter ia menghentakkan kaki. Marah dengan Jody, karena orang-orang seperti dia selalu mendapatkan apa yang mereka inginkan. Marah dengan Ethan, karena ia mepermainkan Kate seperti orang tolol. Dan marah dengan Charlie karena tidak memiliki keyakinan pada dirinya.
  Kate kembali pada tengah malam, denyut nadinya berpacu. Kepala Kate berputar, dia merasa gelisah, gugup, nyaris diambang berteriak. Lucy memintanya menelepon untuk membiarkan dia tahu bagaimana perkembangannya dengan Charlie, tidak peduli jam berapa. Hanya saja bagaimana Kate bisa? Lucy mengharapkan berita gembira.
  Kate mengambil tumpukan catatan Post-It yang telah Charlie tulis dan memasukkannya ke dalam saku, bersama dengan ponselnya. Mengambil kunci mobilnya, Kate melihat ke sekeliling rumah kecilnya untuk yang terakhir kali dan menutup pintu. Kate belum jauh mengemudi sebelum ia terpaksa berhenti.
  Dia berbelok ke pinggir jalan dan mematikan mesin, terengah-engah saat kepedihan datang bergelombang, melonjak dari hatinya, menimpa tubuhnya, membuat dirinya terguncang dan limbung. Kate ingin seseorang untuk memeluknya dan memberitahunya bahwa semua akan baik-baik saja, tapi tidak ada seorangpun.
  Charlie mencintainya, dia tahu Charlie mencintainya, tapi sekarang tidak. Sebaliknya, Charlie melakukan hal terburuk yang dia bisa untuk menunjukkan betapa ia membenci Kate. Kate menyandarkan kepalanya pada roda kemudi. Apa yang akan dia lakukan?
  Kate lelah untuk memulai dari awal lagi, mencoba merasa senang pindah ke bed-sit kotor (ruang duduk dilengkapi dengan akomodasi tidur dan beberapa fasilitas lain), ketika semua yang benar-benar dia lihat adalah berapa banyak usaha yang harus dilakukan untuk membuatnya merasa aman. Setiap kali Kate pindah untuk hidup di tempat lain, ia mencoba untuk memelihara rumahnya sendiri, seolah-olah itu adalah suatu gulma sakit-sakitan yang hanya membutuhkan air dan makanan untuk mengubahnya menjadi bunga yang indah. Dia melukis puluhan dinding, menjahit tirai dan bantal, tapi tidak pernah menata rumah.
  Apartemennya di Greenwich akan menjadi berbeda, tapi ternyata sama pada akhirnya. Ketika Kate mencoba untuk mengambil jalan yang berbeda ia terus di dorong ke jalan yang lain. Hanya saja kali ini, itu bukan salahnya. Kate bergoyang di kursinya.
  Ketika sudah menenangkan diri, Kate melaju keluar dari London tanpa tujuan di kepalanya. Dia pikir semakin jauh dia mengemudi, semakin baik pula perasanya, tapi hal itu malah menumbuhkan rasa kesia-siaan di hidupnya yang meratakan pikirannya. Mungkin memiliki rumah dan semua isinya tidak seharusnya menjadi jalan Kate yang lain. Dia tak pernah terlalu menghiraukan tentang harta karena itu menjebak atau memanjakanmu. Lebih baik untuk tidak memiliki apapun.
  Bahkan cinta sekalipun. Jika kau terikat pada sesuatu, itu hanya akan direnggut. Anak atau orang dewasa.
  Mainan atau orang. Tidak ada bedanya.
  Gagasan bahwa siapa pun pernah bisa mencintainya atau akan mencintainya, kemungkinannya sama seperti dirinya melakukan perjalanan ke ruang angkasa. Dia telah memberikan hatinya pada Charlie dan Charlie menghancurkannya.
  Dan ia marah pada Charlie karena itu seharusnya tidak seperti itu. Belum lagi, rasa sakit di dadanya yang membuatnya tidak mampu mengemudi. Dia tidak aman di jalan. Ia tidak ingin menyakiti siapa pun. Berhenti di tempat parkir Burger King, Kate meringkuk di kursi belakang, matanya terbuka lebar, takut bila dia tidur, dia mungkin tidak akan pernah bangun.
  ***
  Di pagi hari, Kate membeli sebotol air dari restoran dan membawanya kembali ke mobil. Tidak ada untuk dimakan. Tidak lapar. Kate mundur keluar dari tempat parkir, dan saat dia meletakkan kakinya di pedal gas dan bergerak maju, seorang anak berlari di depannya. Kate menginjak keras rem dan melihat mata gadis kecil itu menyadari apa yang akan terjadi.
  Mobil tiba-tiba berhenti, menghempaskan Kate ke depan. Anak itu menghilang. Pikiran bahwa ia membunuh gadis itu hampir menghentikan jantung Kate. Pikiran Kate sedang kacau, dia tidak memperhatikan. Apa yang telah ia lakukan?
  Semuanya tampak terjadi dalam gerakan lambat. Kate melihat seorang wanita dalam rok merah pendek berlari keluar dari restoran, mulutnya terbuka dan menjerit. Kate tidak bisa mendengar apa-apa. Seorang pria berambut gelap mengikuti wanita itu, wajahnya seperti awan abu-abu. Tapi ia menuju ke pintu mobil Kate.
  Jangan biarkan aku membunuh gadis kecil itu, pikir Kate. Bunuh aku. Tolong bunuh aku.
  Lalu ia melihat wanita itu berdiri dengan anak dalam pelukannya dan anak itu menangis, tapi masih hidup dan udara bergegas masuk ke paru-paru Kate. Pria itu membuka pintu dan Kate meringis, mengira ia akan memukul Kate.
  "Anda baik-baik saja?" Tanya pria itu. Wanita dan anak itu datang ke sisinya.
  "Saya sangat minta maaf," kata wanita itu. "Saya pikir Ruthie bersama kami. Kami hanya melepaskan pandangan kami darinya sebentar. Saya melihatnya lari ke depan mobil anda. Saya tidak tahu apa yang akan kami lakukan jika "
  Gadis kecil berbalik ke pelukan ibunya dan memandang Kate.
  "Syukurlah kau mengerem tepat pada waktunya," kata pria itu. "Apakah kau baik-baik saja?"
  "Ya," Kate berhasil untuk memaksa kata-kata keluar. "Aku senang dia baik-baik saja."
  Kate mengamati mereka bertiga berjalan kembali ke restoran. Lengan si pria di bahu istrinya, jari-jarinya di rambut indah putrinya. Dia menunduk dan mencium mereka berdua.
  Hidup itu berharga. Apakah itu pesan yang dikirimkan oleh seseorang yang Kate tidak punya kepercayaan padanya? Jika itu adalah salah satu tanda-tanda Charlie, Kate berpikir dia telah melewatkannya. Tidak ada yang tersisa di dalam dirinya sekarang tidak ada kemarahan, tidak ada kesedihan, tidak ada harapan. Kate keluar dari mobil dan berjalan pergi.
  ***
  Strangers Bab 31
 
  Dan tiba-tiba berhenti ketika melihat seorang pria aneh keluar dari apartemen Kate.
  "Siapa kau? Dimana Kate?" Tanyanya.
  "Jon Chadwick. Saya dari Locton and Moore."
  "Apa kau seorang agen real estate? Kate menjual apartemennya? Apakah dia di dalam?"
  "Apartemen ini akan dijual, ya. Penjualannya sedang ditangani melalui pengacaranya. Tidak, dia tidak di dalam, tempat itu kosong. Well, hampir. Sebagian kecil perabot masih tertinggal."
  Dan bergegas ke Rachel dan dia memanggil Lucy.
  "Apa yang akan kita lakukan?" Tanya Rachel.
  Lucy menarik jari-jarinya melalui rambutnya. "Kupikir sekarang semuanya akan baik-baik saja setelah dia memiliki surat dari Nick. Dia tidak menelepon, tapi kukira dia bersama Charlie."
  "Yah, mungkin semuanya baik-baik saja, " kata Dan. "Dia bisa kembali bersama Charlie. Jika dia pindah, dia tidak perlu tempat ini lagi."
  Ketiganya menatap satu sama lain. "Apa kau berpikir bahwa itu apa yang terjadi?" Tanya Rachel.
  Dan ingin menjadi optimis tapi tahu wajahnya mengungkapkan perasaan yang sebenarnya.
  ***
  Charlie membaca koran sambil duduk di luar di terasnya. Jody telah terbang kembali ke Amerika Serikat. Charlie berharap tidak pernah melihatnya lagi. Ia sudah pasti tidak akan pernah setuju untuk bekerja dengannya pada pekerjaan lain, dengan asumsi dia akan pernah bekerja lagi. Tangannya bergetar saat dia memegang koran. Judulnya adalah PENGEJAR STORM. Itu bukan halaman besar seperti yang mereka lakukan pada dirinya, hanya satu halaman berhadapan dengan sebuah artikel tentang beberapa anjing yang bisa menggonggong lagu kebangsaan.
  Penulis itu membuat Kate terlihat seperti seorang penggemar selebriti gila. Mereka bahkan akan menyarankan insiden Tiffany dipentaskan. Charlie menelan ludah. Semakin banyak dia membaca, semakin dia merasa sakit. Minggu lalu mereka mengkritiknya dengan kejam, sekarang mereka sudah mengkritik Kate dengan kejam karena mengenalnya.
  Mereka mewawancarai ayah Kate. Ada sedikit gambar Jim dengan salah satu lukisannya. Cerita tentang malam ketika ibunya meningg